Doktrin Roh Kudus dan Kehidupan Orang Percaya (Ind)


Oleh: Pdt. Liem Kok Han, S.Th

I. Roh Kudus adalah pribadi Allah

Sebelum kita memulai membahas mengenai peran Roh Kudus dalam kehidupan kita, pertama-tama kita perlu mengetahui siapakah Roh Kudus itu, dan dimanakah dalam Alkitab tercantum ayat-ayat yang menjelaskan tentang pribadi Roh Kudus.

Roh Kudus bukanlah sekedar kekuatan atau kuasa yang tidak berpribadi.

Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Roh Kudus adalah suatu pribadi, dan Roh Kudus adalah Allah. Walaupun dalam bahasa Yunani kata ”roh” bersifat netral, tetapi Perjanjian Baru menyebut Roh Kudus dengan kata ”Ia/Dia” (he) dan tidak pernah ”ini/itu” (it). Sebutan ”ia/dia” biasanya diaplikasikan hanya kepada suatu pribadi (yang menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal) dan bukan kepada sekedar suatu kekuatan atau kuasa. (Bandingkan dengan Yoh 14:16, 17, 15:26, 16:7-14.) Ini menunjukkan Roh Kudus adalah pribadi yang sejati.

Roh Kudus menyatakan sifat-sifat sebagai pribadi.

Alkitab juga menyatakan bahwa Roh Kudus mempunyai sifat-sifat sebagai suatu pribadi yang utuh. Sifat-sifat yang dimiliki Roh Kudus yang menyatakan sebagi suatu pribadi antara lain:

1. Ia memiliki kecerdasan.
Ia mengetahui dan menyelidiki segala sesuatu yang dari Allah (I Kor 2:10-11). Ia memiliki pikiran (Rom 8:27). Dan Ia dapat mengajar (I Kor 2:3).
2. Ia memiliki perasaan.  Ia dapat berdukacita karena perbuatan-perbuatan dosa orang-orang percaya (Ef 4:4).
3. Ia memiliki kehendak.
Ia menggunakan kehendakNya untuk membagi-bagikan karunia-karunia kepada orang-orang percaya (I Kor 12:11). Dia juga membimbing kehidupan dan kegiatan orang-orang percaya (Kis 16:6-11, Rom 8:14-15).

Roh Kudus adalah pribadi yang sejati, karena Ia memiliki kecerdasan, perasaan dan kehendak.

Roh Kudus menyatakan perbuatan-perbuatan sebagai Pribadi.

Roh Kudus sebagai pribadi yang sejati, maka Ia dapat juga melakukan perbuatan-perbuatan yang menyatakan diriNya sebagai pribadi yang hidup. Perbuatan-perbuatan tersebut antara lain: mengajar, mengingatkan, bersaksi, menginsafkan, memimpin, berkata, memerintah, berdoa, dan lain sebagainya. (Yoh 14:26, 15:26, 16:7-14, Kis 16:6-7, Rom 8:26.) Roh Kudus sebagai suatu pribadi dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan pribadi-pribadi yang lain. Ia berhubungan dengan Allah Bapa, dengan Tuhan Yesus, dan dengan orang-orang percaya (Mat 28:19-20, Yoh 16:14, Kis 13:2, 15:28). Roh Kudus dapat melakukan perbuatan-perbuatan sebagi suatu pribadi dan dapat berhubungan dengan pribadi-pribadi yang lain, karena Ia adalah pribadi yang sejati.

Roh Kudus adalah pribadi ALLAH yang sejati.

Sebagaimana kita telah mengetahui bahwa Roh Kudus memiliki sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang menyatakan bahwa Ia adalah pribadi yang sejati, maka Alkitab juga menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang ada pada diri Allah. Karena itu jelas bahwa Roh Kudus adalah pribadi Allah yang sejati. Sifat-sifat Roh Kudus yang menyatakan bahwa Roh Kudus adalah Allah antara lain:
1. Ia mahatahu (Yes 40:13, I Kor 2:10-11)
2. Ia mahahadir (Mzm 139:7-10)
3. Ia mahakuasa (Ay 33:4, Luk 1:35)
Perbuatan-perbuatan yang menyatakan bahwa Roh Kudus adalah Allah antara lain:
1. Ia berkuasa mencipta (Kej 1:2, Ay 33:4)
2. Ia berkuasa memberi hidup (Ay 33:4, Yoh 6:63)
3. Ia berkuasa membangkitkan (Rm 8:11)
II. Kehidupan Orang Percaya

Pemahaman yang benar mengenai Roh Kudus seharusnya mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan orang percaya. Hal tersebut dapat kita saksikan melalui kehidupan orang-orang percaya pada gereja mula-mula. Berikut ini akan dibahas mengenai hal-hal yang dapat dilakukan orang-orang percaya terhadap pribadi Roh Kudus yang adalah Allah sendiri.

1. Mengabaikan atau menghormati (Kis 5:1-11)
Kehidupan orang percaya setiap saat dihadapkan pada dua sikap, yaitu mengabaikan atau menghormati Roh Kudus, yang adalah pribadi Allah sendiri, mahahadir, mahatahu dan mahakuasa. Alkitab memberi contoh dua orang yang mengabaikan Roh Kudus yaitu Ananias dan Safira. Petrus berkata kepada Ananias, ”… engkau mendustai Roh Kudus… mendustai Allah…” (Kis 5:3-4) Ananias dan Safira telah menjadi ”ateis praktis”, karena walaupun mereka percaya akan keberadaan Allah, tetapi dalam kehidupan mereka mengabaikan keberadaan Allah atau menganggap Allah tidak ada. Dalam segala aspek kehidupan orang percaya harus setiap saat menyadari keberadaan Roh Kudus dan menghormati Roh Kudus yang tinggal di dalam orang percaya (I Kor 3:16, 6:19, Ef 1:13-14).

2. Memadamkan/mendukakan atau menaati/menyenangkan Roh Kudus (I Tes 5:17)
Roh Kudus tinggal di dalam setiap orang percaya, dan Ia selalu aktif menggerakkan dan membimbing kehidupan orang-orang percaya untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan Firman Tuhan (Rm 8:14). Orang percaya dapat memadamkan atau menaati pekerjaan Roh Kudus. Memadamkan pekerjaan Roh Kudus berarti kita lebih memilih hidup menuruti keinginan daging, yaitu perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Menaati Roh Kudus berarti kita memilih hidup menuruti keinginan Roh Kudus, yaitu perbuatan-perbuatan yang sesuai Firman Tuhan. Perbuatan yang memadamkan Roh Kudus mengakibatkan kita mendukakan Roh Kudus, sedangkan perbuatan yang menaati Roh Kudus mengakibatkan hidup kita menyenangkan Roh Kudus (Ef 4:30). Supaya kita senantiasa hidup sesuai Firman Tuhan, maka setiap saat orang percaya perlu hidup dipenuhi Roh Kudus (Ef 5:18).

Dalam kehidupan orang percaya, kita perlu setiap saat menyadari keberadaan Roh Kudus dan menghormati Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri yang tinggal di dalam hidup kita. Kita harus senantiasa berusaha untuk menyenangkan Roh Kudus, dan setiap saat hidup dipenuh Roh Kudus, supaya hidup kita menghasilkan buah Roh Kudus (Gal 5:22-23) dan memuliakan Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus.

Advertisements