Refleksi Perjuangan Gerakan Reformed terhadap Gerakan Oikumene (In Indonesian)


Oleh: Pdt. Nico Ong

Pada jaman yg sudah semakin membingungkan, yang seharusnya manusia lebih harus peka & menyadari perubahan tersebut. Tetapi realitanya manusialah yang membuat kebingungan ini semakin membingungkan. Apalagi dengan adanya hati & hasrat ingin mengemas, memadukan semua konsep , ajaran dan berbagai suasana dlm satu wadah. Tanpa disadari ini sudah termasuk gejala menodai identitas diri dan orang lain. Karena setiap identitas itu menentukan jati diri seseorg, ini penting dan sgt bernilai adanya. Kalau ditelusuri , dipelajari dan dianalisa dgn kecermatan, kesadaran dan pikiran yang tajam & bertanggungjawab ; maka kita harus sadar bahwa dlm DUNIA INI TDK ADA YG SAMA ! Apalagi sejak dunia diciptakan MANUSIA SDH MEMILIKI IDENTITAS YG BERBEDA.

Secara logika : Saat kita melakukan aktifitas hidup kita di dunia ini sehari-hari, identitas itu secara tidak langsungnya sering dipertanyakan & ini menentukan jati diri kita. Misalnya ke dokter , jenis kelamin itu perlu & penting, meskipun yg ke dokter itu adalah sama-sama manusia ( dan yang jelas bukan ke dokter hewan ). Maka sekali lagi identitas itu yang ditanyakan dan mohon diperjelas ! Bukannya dikaburkan ! Jangan sampai diri kita dikaburkan oleh orang-orang yang suka mempermainkan kata–kata yang tidak jelas identitasnya. Yang mungkin saja kalau dipertanyakan identitas dirinya, dirinya juga tdk jelas & sadar identitas dirinya. Kasihan sekali ! Padahal manusia diciptakan ada laki – laki dan perempuan. Bukankah hal ini suatu kejelasan, bukannya suatu pengkaburan.

Sama halnya dgn suatu gereja atau persekutuan yg akan dibentuk
Ada org yg suka mengatakan bahwa gereja / persekutuan mereka “ kembali kepada Alkitab ”…Hati – hati, ini kemasan racun rasa coklat ! Kelihatannya manis tapi bisa membinasakan jiwa ! Kelihatannya benar tapi itu sesat dan tdk bertanggungjawab.

Namanya gereja / persekutuan org Kristen, YA SUDAH PASTI KEMBALI KEPADA ALKITAB , apa yang terjadi kalau mereka berkumpul , beribadah tanpa kembali kepada Alkitab ! Bukannya ini suatu KEANEHAN ! dan suatu KEBODOHAN !

Mengapa kita harus teliti sesuatu sebelum kita menikmatinya dan berbagian dengan mereka yang tidak ada kejelasan dalam identitas diri mereka ? Pertama, sebenarnya orang-orang begini kasihan sekali ! karena mereka dalam kebingungan , berdiri di perempatan jalan tanpa arah & tujuan yang jelas. Seperti Tom Hank yg berlari terus tanpa berhenti & tidak ada arahnya ( Forest Gump ). Karena mereka bisa dikatakan dan digolongkan sebagai golongan yang tidak mau belajar dengan dalam & teliti, tetapi sebaliknya berkeinginan besar sekali untuk membuat gereja / persekutuan yg bisa dinikmati oleh semua lapisan aliran dan golongan. Padahal mereka sudah lupa , kebahayaan ini sudah mereka miliki & akan hadapi. Permasalahannya , “ Apakah mereka dapat memberikan penjelasan yang akurat dengan eksistensi perbedaan identitas ini ? Yang sebenarnya sudah real, nyata, sejak nenek moyang kita ?? Kok begitu mudah ! Ibaratnya diri kita ini dianggap anak kecil, yang bisa diberi permen, mainan…untuk kemudian disuruh kumpul dan mengakui kebersamaan identitas ! Wah…gawat ini ! Apalagi dengan adanya aturan yang sering terjadi yaitu para anggota , peserta atau jemaat tidak boleh bertanya mengenai perbedaan ini ? Sekali lagi kasihan mereka !

Kedua, mereka mengatakan berdasarkan Alkitab.
Ini lagi suatu penyakit yang sdh eksis sejak dulunya. Dlm sejarah Tuhan mewahyukan kepada para rasul & nabi dan kemudian adanya catatan dari bapa – bapa gereja, para reformator dll. Apakah yg sudah Tuhan kerjakan dalam sejarah dunia & gereja ini dianggap tidak bermakna ?

Dengan gaya yang arogannya , mereka berteriak “ Alkitabiah ”, apakah ini suatu konsep yg benar? Secara logikanya setiap orang dapat menyuarakan dan memutlakkan bahwa pendapatnya itu yang benar , karena alkitabiah ( berdasarkan alkitab ); tetapi yang perlu dipertanyakan , itukan anggapan / pendapat dari diri seseorang / golongan saja. Itu merupakan unsur subyektifitas pribadinya sendiri. Cara inilah yang sering disodorkan & ditawarkan oleh orang-orang yang berkeinginan untuk membentuk persekutuan / gereja yg Oikumene. Yang tanpa dirasakan mereka menawarkan kepada orang awam tentang asas kesatuan utk semua aliran , tetapi tanpa disadari oleh kaum awam , mereka akan dibawa ke dalam aliran hasil cetusan orang-orang yang suka mengatakan Alkitabiah, tidak membedakan aliran dan golongan gereja ; asal dengan catatan para kaum awam mau dibawa ke dalam isme “ pokoknya sama & satu , jangan dibeda-bedakan”. Mana mungkin hal ini bisa terjadi, bukankah hal ini suatu kesia-siaan aja dimana berlari – berlari terus…yang pada akhirnya tidak ada arah & tujuan , tidak ada fondasi yang memberikan pegangan kepada umatnya. Itulah kebingungan seseorang yang berdiri di perempatan jalan…KASIHAN.

Pada waktu orang oikumene atau yang sering didengar bahwa persekutuan / gereja interdenominasi ; sebetulnya mereka sudah mencetuskan diri mereka sebagai satu aliran dari banyaknya aliran yang sudah ada. Jangan mudah tertipu dengan gaya ditambah kemasan iklan mereka, apalagi yang sering dibumbui dengan acara sharing , renungan dari Alkitab ; dimana pemimpinnya masih perlu dipertanyakan “ sudahkah membayar harga dengan sekolah teologia dan belajar lebih baik ?”. Karena kalau sharing yang selalu disertakan ayat – ayat alkitab ( istilah yg lebih keren “ Asal Comot ”) maka ini sgt berbahaya. Inilah permainan dari org – org yg suka menyamakan segala konsep & aliran dengan memakai tameng Alkitabiah ( berdasarkan Alkitab ).

Untuk mengantisipasi gejala & gangguan akibat serangan virus yg suka memakai kedok kekristenan& tawaran surga yaitu semua kristen & gereja sama …yang penting bersatu …itulah golongan oikumene ; maka sebagai org kristen harus sadar utk lebih belajar teologia dan realita sejarah gereja yg benar. Dari sana kita semakin terbuka utk melihat realita perbedaan. Kalau memang gereja / persekutuan di tengah dunia ini dapat disamakan & disatukan, dunia sdh damai. Coba renungkan & lihat realitanya ! Sekali lagi jangan terjebak dgn tawaran mereka, dimana mereka yg suka berimajinasi, berkhayal, mimpi yg indah ; tapi SAYANGNYA itu hanya angan-angan semu belaka. Seperti diri kita lagi bermain di Disney Land , bukankah hal itu sangat menyedihkan dan membuang segala usaha & konsentrasi diri kita selama ini.

Apa gunanya bersatu secara fenomenanya saja yaitu bisa berkumpul bersama, tetapi banyak sekali pertanyaan dlm hati & perbedaan konsep yg ingin ditanyakan, tetapi karena satu aturan dari golongan mereka ( tidak boleh menyinggung, tdk boleh tanya ) …Dgn berat hati , mulut para jemaat ( kaum awam ) sekali lagi hrs dibungkam dan secara tidak langsung hrs menerima ketidak jelasan konsep Oikumene. Ibaratnya : Apa gunanya suami istri tidur satu ranjang, namun mimpi & keinginan mereka berbeda ( tidak sama ). Yang harus menjalankan waktu tidurnya dengan segala kepahitan, kehancuran dan tetesan air mata yang tidak ada maknanya.

Sadarlah dan lebih waspada terhadap tawaran mereka.

Catatan: Dengan pertimbangan tertentu, judul artikel ini sudah dirubah dari aslinya tetapi isinya sama sekali tidak dirubah. Harap maklum.