Infant Salvation (Bahasa)


Hati orang tua manakah yang tidak galau ketika anaknya yang terkasih meninggalkan dunia ini dalam usia yang sangat muda? Ada anak yang meninggal ketika masih di dalam kandungan ada juga yang meninggal dalam usia yang relaif muda seperti umur dibawah 1 (satu) tahun (baru dilahirkan dan beberapa hari atau beberapa jam kemudian lalu meninggal). Begitu pula dengan anak yang mempunyai keterbelakangan mental tidak kalah membuat orang tuanya galau. Bagi yang anaknya meninggal dalam usia yang sangat muda akan mempunyai pertanyaan, “Dimanakah anakku bersama Tuhan sekarang?”  Begitu pula dengan orang tua yang mempunyai keterbelakangan mental akan bertanya, “Akankah anak ini pergi ke sorga ketika ia meninggal?”

Banyak jawaban yang bisa diberikan.

1. Perjanjian Keluarga (Family Covenant). Pandangan ini mengatakan bahwa jikalau bayi ini lahir di tengah keluarga yang percaya kepada Kristus, maka pastilah Allah memiliki perlakuan dan ketetapan khusus terhadap bayi itu.

2. Pemilihan. Pandangan ini menegaskan bahwa keselamatan bergantung pada pemilihan Allah di dalam kekekalan, termasuk bayi tersebut. Itulah sebabnya hanya bisa harapan yang di pegang atas keselamatannya.

3. Ada yang memberikan jawaban pasti bahwa bayi pasti masuk sorga karena mereka dilahirkan tanpa dosa, belum bisa melakukan perbuatan baik ataupun jahat.

4. Ada juga yang memberikan jawaban bahwa bayi, anak kecil dan anak atau orang terbelakang yang meninggal pasti masuk sorga karena Yesus Kristus sudah mati untuk semua umat manusia.

5. Ada pihak lain yang memberikan jawaban bahwa bayi, anak kecil dan orang terbelakang yang meninggal akan masuk sorga jika ia sudah dibaptis.

6. Ada juga yang memberikan jawaban untuk jangan khawatir akan itu semua, karena anak kecil dan orang terbelakang yang meninggal  yang belum sempat mendengar Injil bisa di Injili setelah kematiannya.

Dari berbagai pandangan di atas yang manakah yang konsisten? Untuk menjawab hal itulah maka artikel ini ditulis.

I. PENDAHULUAN

Alkitab memberitahukan bahwa sekalipun seorang bayi atau anak kecil tidak berbuat dosa secara pribadi, semua orang, termasuk bayi dan anak-anak bersalah di hadapan Allah karena dosa yang diwarisi dan diturunkan. Dosa yang diwarisi adalah yang peroleh dari orangtua kita. Dalam Mazmur 51:5 Daud menulis, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Daud mengenali bahwa bahkan saat masih dalam kandunganpun dia adalah orang berdosa. Fakta menyedihkan dari kematian bayi yang kadang terjadi sebetulnya membuktikan bahwa bayipun menerima dampak dari dosa Adam, karena kematian fisik dan rohani adalah merupakan akibat dari dosa Adam.

Setiap orang, bayi maupun orang dewasa, bersalah di hadapan Allah; setiap orang telah melukai kesucian Allah. Satu-satunya cara untuk Allah tetap adil dan pada saat yang sama membenarkan seseorang adalah kalau orang itu menerima pengampunan melalui iman dalam Yesus Kristus. Kristus adalah satu-satunya jalan. Yohanes 14:6 mencatat apa yang dikatakan Yesus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Demikian pula dalam Kisah 4:12 Petrus mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Keselamatan adalah pilihan pribadi.

II. PADA USIA BERAPAKAH SEORANG ANAK BISA MENGERTI (“UMUR PERTANGGUNGJAWABAN”) KESELAMATAN DALAM KRISTUS?

Mengacu pada usia kematangan moral dan spiritual seorang anak dimana ia mampu melakukan kebaikan atau kejahatan moral adalah usia yang dapat mencerna dan mengerti siapa itu Tuhan Yesus. 13 (Tigabelas) adalah umur yang paling umum disebutkan sebagai umur pertanggungjawaban berdasarkan kebiasaan orang Yahudi bahwa seorang anak menjadi orang dewasa saat berumur 13 tahun. Namun demikian, Alkitab tidak memberi dukungan langsung bahwa umur 13 selalu merupakan umur pertanggungjawaban. Kemungkinan hal ini berbeda dari satu anak ke anak lainnya. Seorang anak sudah melampaui umur pertanggungjawaban kalau dia sudah mampu memutuskan untuk menerima atau menolak Kristus.

Saya pribadi lebih menyetujui pendapat secara umum bahwa usia kematangan seorang bayi/anak sekitar 4 (empat) atau 5 (lima) tahun, maka pada usia ini seorang anak sesungguhnya telah dapat menentukan dan memutuskan untuk percaya pada Tuhan Yesus. Meskipun anak-anak seusia itu masih kelihatan begitu polos namun telah cukup dewasa untuk mengerti siapa itu Yesus dan apa yang telah diperbuat Yesus. Inilah usia yang paling baik untuk memperkenal Yesus dan menantang anak-anak untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Mungkin ada kebiasaan yang salah dimana di sebuah gereja ada suatu anggapan bahwa pada usia remajalah usia yang paling baik untuk ditantang percaya pada Yesus, tetapi ini merupakan pandangan yang keliru. Perhatikan apa yang terjadi di setiap gereja sekarang ini. Tanyakan pertanyaan ini, berapa banyakkah anak-anak sekolah minggu yang terus rajin ke gereja hingga masa remajanya? Pada umumnya jumlah anak-anak di kelas remaja semakin berkurang dan semakin jauh dari hal kerohanian. Ini adalah fakta di setiap gereja. Jika berita keselamatan itu baru diberitakan ketika usia remaja maka akan sangat sedikit yang akan mendengarkan Injil.

III. AJARAN SESAT DAN KELIRU TENTANG KESELAMATAN BAYI

Dalam perjalanan sejarah kekristenan ajaran Alkitab selalu dibayang-bayangi dengan ajaran sesat dan keliru. Bahkan setiap doktrin yang terdapat dalam Alkitab selalu ada yang disalahartikan baik sengaja maupun tidak. Ada banyak contohnya, namun dalam kesempatan ini saya hanya memberikan dua contoh saja yaitu dari pandangan kelompok Universalisme dan Pelagianisme.

A. Kelompok Universalisme

Ajaran ini mengatakan bahwa Kristus benar-benar mati bagi semua orang (dengan tujuan untuk menyelamatkan mereka) sehingga pada akhirnya, semua orang (di seluruh dunia, dari segala jaman, setiap individu) akan selamat (masuk surga). Sistem ini adalah, mungkin, yang paling dekat dengan keinginan hati kita tetapi sayangnya tidak Alkitabiah. Sistem ini sangat jarang dianut oleh suatu organisasi gereja Kristen, dan biasanya masuk kategori sesat.

Keberatan Terhadap Pandangan Ini:

Doktrin Allah Kasih Adanya

Dengan dalih bahwa Allah kasih adanya dan dilengkapi dengan ayat-ayat Alkitab sebagai pendukung, memberi gambaran bahwa dasar teologia mereka cukup mantap dan dapat dipertanggungjawabkan. Harus diakui bahwa ajaran Alkitab dengan pasti menyebutkan bahwa Allah itu kasih adanya, tetapi patut disesalkan bahwa penganut Universalisme melupakan bahwa Allah di samping kasih adanya, dan juga adil dan suci adanya.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah itu suci. Hal ini dapat kita lihat di dalam firman Allah: “Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu…” (Im 11:44); “Tidakkah kamu sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu…” (Yos 24:19); “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Pet 1:15-16) dan lain-lain.

Alkitab juga menyebutkan bahwa Allah itu Adil adanya. Hal ini dapat kita lihat di dalam ayat-ayat sebagai berikut: “…Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” (Ul. 32:4); “Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan…” (Maz. 11:7); “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan…” (Ibr. 1:9); “…Ia setia dan adil… (1Yoh. 1:9) dan sebagainya.

Adapula ayat Alkitab menyebut kesucian dan keadilan Allah secara bersamaan, di antaranya adalah: “Tetapi kamu telah menolak yang kudus dan benar (adil)…” (Kis. 3:14).

Ketiga sifat Allah ini tidak boleh saling bertolak belakang. Allah tidak dapat karena menitikberatkan pada kasih-Nya, lalu mengkhianati keadilan dan kesucian-Nya dan Ia tidak dapat pula menitikberatkan keadilan dan kesucian, lalu mengkhianati kasih-Nya. Memang kasih Allah menyebabkan Ia tidak mau menjatuhkan hukuman kepada manusia yang diciptakan-Nya, tapi kesucian dan keadilan Allah tidak dapat mentolerir adanya kesalahan dan dosa. Kesalahan dan dosa akan tetap dituntut dengan hukuman. Untuk mewujudkan ketiga sifat Allah di atas diri manusia yang berdosa, maka Allah perlu mengutus Putera Tunggal-Nya Yesus Kristus datang di dunia ini, dengan salah satu tujuan adalah: dengan kematian di atas kayu salib, Yesus Kristus menanggung hukuman dosa dan kesalahan manusia. Dalam hal ini tuntutan kesucian dan keadilan Allah sudah digenapi; dengan pengorbanan di atas kayu salib, Yesus Kristus juga menyatakan kasih Allah.

Karena Allah mengasihi umat manusia, telah menyediakan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Untuk terhindar dari hukuman akibat dosa dan kesalahan, maka manusia harus menerima keselamatan tersebut dengan jalan percaya kepada Yesus Kristus. Sebab itu, banyak ayat-ayat Alkitab yang menyatakan kebenaran ini. Di antaranya yang sangat tegas dan gamlang menyinggung tentang hal ini adalah yang berbunyi, “…supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.” (Yoh 3:16); “Barangsiapa percaya kepada-Nya (Yesus Kristus) ia tidak dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yoh 3:18); “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” (Yoh 3:36).

Namun jika secara jujur kelompok ini menyelidiki Alkitab, tidak bisa dielakkan bahwa mereka telah mempercayai suatu ajaran yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, karena dengan tegas Alkitab menegaskan akan adanya penghakiman bagi mereka yang tidak percaya. Khotbah Yesus di bukit sangat relevan di sini: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya, karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:13-14). Dengan jelas ayat ini menegaskan bahwa tidak semua orang akan masuk sorga dan diselamatkan. Bahkan mereka yang memanggil nama Yesus sekalipun belum tentu memperoleh hidup yang kekal dan hal ini ditegaskan Yesus sendiri ketika Ia berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namuMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Mat 7:21-23). Berhati-hatilah dengan kelompok universalisme!

B. Pelagianisme

Ya, inilah ajaran yang dimana hampir semua agama di dunia mengakui dan mengajarkan bahwa seorang bayi ketika lahir tanpa dosa, bagaikan kertas putih bersih yang belum ditulisi apapun demikianlah seorang anak lahir. Mereka belum bisa melakukan perbuatan yang baik maupun yang jahat. Ajaran ini diajarkan oleh seorang rahib Inggris yang bernama Pelagius,  yang datang ke Roma sekitar tahun 400 M, dan tinggal di Roma selama beberapa tahun. Ia sangat terkejut melihat moral yang begitu rendah di sana, dan ia mulai berusaha untuk mendesak Roma supaya memperbaiki diri mereka. Ia menekankan tanggung jawab dan kemampuan manusia. Ia menolak doktrin tentang dosa asal dan akibatnya pada manusia. Ia berpendapat bahwa semua manusia ada dalam kondisi seperti Adam yang mempunyai kebebasan untuk berbuat dosa atau tidak berbuat dosa. Ia percaya bahwa Allah tidak memilih (Predestinasi), kuasa memilih ada dalam diri manusia. Allah mengirimkan Yesus untuk menunjukkan jalan, dan semua manusia diberi Allah kekuatan sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikuti. Pelagius ‘memenangkan jiwa’ seorang yang bernama Caelestius.

Keberatan terhadap ajaran ini

Pada tahun 412 M ajaran ini dikecam sebagai bidat dan dikucilkan oleh Synod setempat, karena pandangan sesatnya yang menyatakan bahwa:

  • Dosa Adam hanya berakibat negatif pada dirinya sendiri dan tidak pada seluruh umat manusia.
  • Bayi yang baru lahir ada dalam keadaan seperti Adam sebelum jatuh ke dalam  dosa.
  • Bukan karena dosa atau oleh Adam maka seluruh umat manusia mati, dan bukan oleh kebangkitan (Yesus) maka semua dibangkitkan.
  • Taurat maupun Injil membawa manusia pada Kerajaan Allah. Sese-orang bisa masuk surga dengan mentaati hukum Taurat.
  • Bahkan sebelum Kristus, ada orang yang hidup suci/tanpa dosa

Suatu Synod di Yerusalem, kepada siapa persoalan ini disampaikan, tidak berbuat apa-apa kecuali menyerahkan persoalan ini ke Roma, dan pada tahun 415 M, suatu Synod di Diospolis (Lydda) di Palestina membebaskan Pelagius dari tuduhan. Tetapi pada tahun 416 M, Synod-Synod di Carthage dan Roma mengambil tindakan sebaliknya, dan bishop Roma mendukung mereka. Bishop Roma yang baru, yaitu Zosimus, mula-mula berpihak kepada Pelagius dan Caelestius, tetapi setelah pada tahun 418 M kaisar Honorius mengucilkan kedua orang ini, dan juga setelah mendapat desakan Agustinus, maka ia juga ikut mengecam mereka.

Pandangan Pelagius ini dikecam oleh Council of Carthage pada tahun 418 M. Tetapi Caelestius lalu pergi ke Timur dan ia lalu mendapatkan dukungan dari Nestorius (ini adalah bishop Constantinople, seorang pengajar sesat dalam Kristologi, yang mengajarkan Nestorianism, yang mempercayai bahwa Yesus Kristus mempunyai 2 pribadi). Dan pada tahun 431 M, Council of Ephesus, yang mengecam Nestorius, juga mengecam Pelagius, Caelestius, dan semua pendukungnya.

Klaim bahwa manusia terlahir tanpa dosa adalah secara tegas dan terang-terangan menolak ajaran Alkitab. Perhatikan beberapa contoh ayat-ayat di bawah ini.

a. 1 Raja-raja 8:46

LAI: “Apabila mereka berdosa kepada-Mu–karena tidak ada manusia yang tidak berdosa–Apabila mereka berdosa kepada-Mu–karena tidak ada manusia yang tidak berdosa

KJV: If they sin against thee, (for there is no man that sinneth not,)

NASB: When they sin against You, (for there is no man who does not sin)

NIV: “There is no one who does not sin”

b. Mazmur 143:2

LAI: “…di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu.”

NIV: “….No one living is righteous before you [God].”

NASB: “… For in your sight no man living is righteous.”

c. Amsal 20:9

LAI: Siapakah dapat berkata: “Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?”

NIV: “Who can say?, I have kept my heart pure; I am clean and without sins.”

d. Roma 3:10,12

LAI: Seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak…..Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.

NIV: “There is no one righteous, not even one …. there is no one who does good, not even one.”

e. Roma 3:23

LAI: Karena semua orang telah ber(buat) dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah

NIV:For all have sinned and fall short of the glory of God.”

Jadi, dari ayat-ayat di atas sudah dengan jelas kita diberi tahu bahwa tidak ada satu orangpun termasuk bayi dan anak-anak yang naturnya tidak tercemar oleh original sin.

Calvin: “… even infants themselves, while they carry their condemnation along with them from the mother’s womb, are guilty not of another’s fault but of their own. For even though the fruits of their iniquity have not yet come forth, they have the seed enclosed within them. Indeed, their whole nature is a seed of sin; hence it can be only hateful and abhorrent to God”

Alkitab berulang kali mengklaim bahwa semua manusia memerlukan pemgampunan dan keselamatan karena dosa bersifat universal. (Kis 4:12; Kis 17:30).

Bahkan melalui sebuah observasi kita bisa melihat sendiri kebiasaan/behavior seorang anak tanpa perlu diajari untuk berbuat dosa, dia sudah bisa berbuat dosa. Contoh: seorang anak mahir berbohong, padahal tidak ada yang mengajarinya, dll.

Jadi jelas dengan demikian ajaran yang mengajarkan bahwa seorang bayi atau anak lahir tanpa dosa merupakan ajaran yang tidak sesuai dengan Kekristenan.

IV. APAKAH BAPTISAN MENYELAMATKAN?

Ada sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh R.C.Sproul sebagai berikut,”Rev. Dr. John H Gerstner pernah diundang untuk menyampaikan firman Tuhan di sebuah gereja di kota tempat ia melayani. Ia disambut oleh para penatuagereja di pintu gereja, yang kemudian menjelaskan urutan liturgy ibadah untuk hari itu, yaitu suatu tata ibadah untuk baptisan anak-anak. Dr. Gerstner bersedia untuk melayani baptisan tersebut. Kemudian salah satu penatua gereja itu menjelaskan tradisi khusus gereja tersebut. Ia meminta Dr. Gerstner untuk memberikan setangkai mawar puith kepada setiap orang tua bayi sebelum baptisan berlangsung. Dr Gerstner memohon penjelasan mengenai arti dari mawar putih itu. Penatua itu menjawab, “Kami memberikan mawar putih itu sebagai symbol dari ketidakbersalahan bayi itu dihadapan Allah.” “O, begitu!”  tanggapan Dr. Gerstner. Kemudian ia bertanya: “Dan air itu melambangkan apa?””

Bayangkan kebingungan yang timbul pada diri penatua itu ketika ia mencoba untuk menjelaskan air baptisan sebagai symbol pembasuhan dosa bagi bayi yang tanpa salah.

Cerita di atas adalah salah satu contoh dari ketidaktegaan manusia untuk mengatakan bahwa bayi secara natur sudah terrcemar oleh dosa.  Di sini terjadi kontradiksi, satu pihak mengakui bahwa bayi tidak bersalah namun perlu di baptis padahal baptisan merupakan symbol dari pembasuhan dosa.

Bandingkan dengan The Westminster Confession of Faith Chapter XXV.III:

Baptism is a sacrament of the New Testament, ordained by Jesus Christ, not only for the solemn admission of the party baptized into the visible Churchb; but also, to be unto him a sign and seal of the covenant of grace, of his ingrafting into Christ, of regeneration, of remission of sins, and of his giving up unto God through Jesus Christ, to walk in the newness of life. Which sacrament is, by Christ’s own appointment, to be continued in His Church until the end of the world. (a) Matt. 28:19.  (b) I Cor. 12:13.  (c) Rom. 4:11 with Col. 2:11, 12.  (d) Gal. 3:27; Rom. 6:5.  (e) Tit. 3:5.  (f) Mark 1:4.  (g) Rom. 6:3, 4.  (h) Matt. 28:19, 20.

V. PANDANGAN ALKITAB MENGENAI KESELAMATAN DARI BAYI YANG MENINGGAL

Penjelasan dibawah ini secara khusus mengikuti penafsiran Alkitab dari sudut teologi Reformed.

Pada umumnya ada dua kelompok Reformed yang memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan keselamatan dibalik kematian bayi. Kebanyakan kelompok Reformed mempercayai bahwa setiap bayi yang meninggal  sebelum akal balik atau mencapai kematangan moral dan spiritual akan memperoleh keselamatan. Dasar Alkitabnya adalah Yeremia 1:5 dan Lukas 1:15.

Namun dipihak lain ada kelompok Reformed yang mempercayai bahwa hanya bayi keluarga Kristen yang meninggal sebelum mencapai kematangan moral dan spiritual yang akan memperoleh keselamatan. Dasar Alkitabnya adalah 2 Samuel 12:22-23.

Jika dicermati, kelompok pertama yang mengambil contoh Yeremia dan Yohanes Pembaptis sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kelompok yang mengambil contoh anak Raja Daud yang meninggal karena orangtua tua mereka (Yeremia dan Yohanes Pembaptis) adalah orang-orang percaya. Namun jika seandainya kelompok pertama diatas mengutip contoh-contoh dari keluarga yang tidak percaya namun dinyatakan sebagai orang-orang yang diberkati Allah, maka pandangan pertama ini akan memiliki kekuatan teologis yang luar biasa. Bagi kelompok ini setiap bayi yang meninggal apakah ia anggota keluarga orang percaya atau tidak akan diselamatkan. Hal ini didasarkan karena ketika hari penghakiman, Allah hanya menuntut pertanggungjawaban dari setiap manusia atas apa yang telah ia perbuat semasa hidupnya. Sementara bayi yang meninggal, semasa hidupnya belum mampu melakukan kebaikan atau kejahatan moral meskipun ia memiliki tabiat atau sifat berdosa. Dengan pertimbangan ini maka pandangan ini masih banyak diterima kelompok Reformed. Sementara pandangan bayi keluarga orang percaya (Kristen) yang meninggal akan ada di sorga menjadi suatu penghiburan yang luar biasa bagi keluarga Kristen yang sedang berduka. Kepastian keselamatan bayi yang meninggal akan menjadi suatu obat yang ampuh untuk menghibur dan mengobati luka dan duka keluarga yang kehilangan bayi mereka.

Bandingkan dengan The Westminster Confession of Faith Chapter X.III

Elect infants, dying in infancy, are regenerated, and saved by Christ, through the Spirit, who worketh when, and where, and how he pleaseth: so also are all other elect persons who are incapable of being outwardly called by the ministry of the Word.”

Sejumlah orang mencoba memakai kata-kata dalam pengakuan iman tersebut sebagai bukti bahwa pengakuan iman itu secara tidak langsung menyatakan bahwa ada sebagian anak-anak yang meninggal semasa bayi tidak dipilih sehingga tidak memiliki harapan untuk diselamatkan. Menurut saya ini logika yang buruk. Kalimat itu berbunyi,” Elect infants, dying in infancy, are regenerated, and saved by Christ…” Pernyataan ini jelas mengajarkan bahwa sebagian anak yang meninggal semasa bayi masuk sorga. Tetapi, tak satupun dalam pernyataan ini mengesampingkan kemungkinan bahwa SEMUA BAYI dipilih sehingga masuk sorga.

God has only one plan of salvation. It teaches that sinners are saved by God’s free and sovereign grace in Jesus Christ, totally apart from any works of righteousness they perform or any supposed virtue in them. Everyone who is saved — including all persons dying in infancy — is saved through being elected to salvation by God the Father, redeemed by the blood of Jesus Christ, and regenerated or born again by the Holy Spirit

VI. APA MANFAAT MENGETAHUI KESELAMATAN BAYI YANG MENINGGAL?

Bagi mereka yang belum memiliki pengalaman dimana bayi mereka meninggal, mungkin isu ini tidak begitu penting. Tetapi sebagai anggota gereja dimana setiap jemaat memiliki peran dan partisipasi dalam setiap program dan kegiatan dalam gereja, tidak ada salahnya untuk mendalami topik ini dengan baik. Jika dirasa hal itu tidak begitu berhubungan dengan diri sendiri, jadikan ini sebagai suatu pelajaran untuk bisa menghibur anggota jemaat yang memiliki pengalaman seperti ini nantinya. Perkataan dan nasihat dari firman Allah akan sangat dibutuhkan keluarga yang berduka.

Bagi mereka yang kehilangan bayi kesayangan mereka, untuk beberapa waktu mereka akan selalu ingin bertemu dengan anak itu. Rasa rindu dan ingin melihat dan memeluknya menjadi suatu pergumulan yang akan terus ada selama beberapa bulan pertama kepergiannya. Dan selama masa-masa itulah keluarga ini akan mencoba mencari informasi tentang keadaan anaknya yang telah mendahuluinya. Mereka ingin tahu dimana anaknya saat ini, apakah ia ada di sorga atau di tempat lain? Apakah mereka bisa bertemu dengannya kelak? Dan sebagainya. Keingintahuan keluarga yang kehilangan ini tentu merupakan hal yang wajar. Tetapi bagi mereka yang terbeban untuk menghibur mereka yang berduka atau mereka yang memiliki talenta untuk melayani dan menghibur mereka yang berduka harus mengetahui apa yang harus ia sampaikan kepada keluarga yang berduka. Perkataan yang salah dapat membuat keluarga yang berduka menjadi semakin sedih dan berduka. Dalam hal ini, bukan berarti hanya menjaga perasaan tetapi suatu fakta alkitabiah yang harus disampaikan bahwa bayi yang meninggal akan diselamatkan dan ada di sorga bersama Yesus Kristus. Suatu hari kelak orangtuanya bisa bertemu dengannya di sorga. Ia pergi mendahului mereka yang mengasihinya. Fakta ini akan sangat menghibur keluarga yang berduka.

VII. KESIMPULAN

Bayi dan orang cacat mental yang meninggal diselematkan karena Allah memilih mereka, Kristus menebus mereka dan Roh Kudus memperbarui mereka.