Tindakan dan Orientasi Homosex


Read  also:

Is Homosexuality Natural?

“This is the Way God Made Me”: A Scientific Examination of Homosexuality and the “Gay Gene”

Dalam membicarakan mengenai homosex biasa dibicarakan juga mengenai perbedaan antara perbuatan dan orientasi. Beberapa pendapat pribadi (jadi pandangan di bawah ini belum tentu adalah pandangan resmi denominasinya) dari beberapa pendeta/teolog di bawah ini sebagai contohnya:

Bishop R Stewart Wood J (Episkopal),”No. Our sexual orientation is a given, something we discover about ourselves — some might say “a gift from God”.”

Rabbi Jeffrey Lazar (Reformed Judaism),”I do not know what God thinks. In my opinion, homosexuality is not a sin, but an alternate lifestyle. In my opinion, homosexuality by itself is not immoral.”

Rev Dr George R Edwards, PhD (Presbyterian),”God does not regard homosexuality as a sin any more than heterosexuality. … the Scriptures are old, thousands of years old, written even before the word “homosexual” existed. Nor do the Scriptures seem to understand what we mean today by “sexual orientation”. Sexual acts which are injurious, disrespectful, or unloving toward the other person are wrong. So I believe that the Scriptures approve of homosexuality and even homogenital acts that are kind, generous, loving, and respectful of the other person, just as in the case of heterosexuality or heterogenital acts.”

Harry L Holfelder (Presbyterian), ”I do not think that God regards homosexuality as a sin. I believe that one’s sexual preference is first and foremost a matter of biology (creation) and only secondarily a matter of choice (responsibility). Since I also believe that all God creates is good, I conclude that human sexuality (not a matter of choice for anyone) is good, whether that sexual expression be heterosexual or homosexual.”

Melvin Wheatley Jr (United Methodist),”Of course not! The preponderance of evidence now available identifies homosexuality to be as natural a sexual orientation for a significant percentage of persons as heterosexuality is the natural sexual orientation for the majority of persons. Homosexuality is an authentic condition of being with which some persons are endowed (a gift from God, if you please), not an optional sexual lifestyle which they have willfully, whimsically or sinfully chosen. Certainly one’s sexuality — heterosexual or homosexual — may be acted out in behaviors that are sinful: brutal, exploitative, selfish, superficial. But just as surely, one’s homosexual orientation as well as another’s heterosexual orientation may be acted out in ways that are beautiful: tender, considerate, mutual, responsible, loyal, profound.”

William R Stayton (Baptist),”Absolutely not! There is nothing in the Bible or in my own theology that would lead me to believe that God regards homosexuality as sin… There is nothing in the Bible regarding homosexual orientation. In fact, the Bible does not concern itself with sexual orientation. ”

Saya pribadi tidak setuju dengan pendapat di atas. Banyak orang homosex akan berkata, ”Saya lahir sebagai seorang homosex — Tuhan yang menciptakanku demikian, maka itu, pikiranku, hasratku dan gaya hidupku seharusnya tidak dikutuk.” Jika seseorang terlahir dengan kecenderungan terhadap tingklah laku homosex, apakah dengan demikian nafsu homosex dan tingkah lakunya bisa diterima oleh Tuhan? Absolutely not!

Doktrin Alkitab mengenai dosa asal mengajarkan bahwa semua manusia terlahir dengan natur berdosa atau bertabiat dosa. Manusia pertama, Adam, adalah kepala perjanjian dan representasi dari seluruh umat maniusia di hadapan Allah. Ketika Adam berdosa, perasaan bersalah dan polusi dosa menjalar kepada seluruh manusia (Roma 5:12,17,19). Setiap manusia (kecuali Yesus Kristus yang dikandung daripada Roh Kudus) lahir dengan natur berdosa. Maka salah jika berkata, ”Tuhan menciptakanku sebagai homosex (atau pembohong atau pembunuh),” karena dosa bukan berasal dari Allah melainkan bersama dengan manusia.

Fakta semu umat manusia terlahir dengan orientasi (atau kecenderungan) terhadap dosa tidaklah menjadi pembenaran untuk melakukan nafsu dosa dan kebiasaan berbuat dosa. Alkitab mengatakan bahwa semua orang terlahir sebagai pendusta (Maz 58:3). Alkitab juga menyatakan bahwa berdusta adalah dosa (Kel 20:16; Ul 5:20); lebih jauh dikatakan bahwa pendusta tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah (Wah 21:27).

Jika beberapa orang lahir dengan kecenderungan terhadap pencurian, homosexual, pembunuhan, berhubungan sex dengan binatang, mutilasi, dll, ini entah bagaimana mungkin membenarkan tingkah laku/tindakan demikian. Argumentasi bahwa orientasi homosexual tidaklah berdosa dan entah bagaimana bisa diterima oleh Allah akan mengakibatkan dosa atau dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan dosa. Argumentasi demikian menghancurkan tanggung jawab pribadi; hal ini menjadikan hukum Allah tidak bermakna dan keselamatan melalui Yesus Kristus menjadi tidak lagi diperlukan. Semua manusia harus dan mempunyai tanggung jawab di hadapan Allah untuk setiap pikiran berdosa, perkataan dan perbuatan tanpa memedulikan orientasi orang per orang. Menyalahkan Allah untuk tindakan dosa seseorang mungkin akan membuat seorang homosexual feel better, tapi hal itu tidak akan berguna pada hari penghakiman nanti, ketika semua homosexual yang tidak bertobat akan dijebloskan ke dalam neraka (1 Kor 6:9-10; Wah 21:27).

Di dalam 1 Kor 6:9:

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? ….. penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit. Pemburit dalam Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan Homosex

dan 1 Tim 1:10

bagi orang cabul dan pemburit, …dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat.

Kata Homosex (pemburit) diterjemahkan dari bahasa Yunani arsenokoites [Arsen (laki) dan Koite (ranjang)] yang secara etomology artinya pergi ke ranjang (ML) bersama dengan seorang laki-laki. Penyelidikan lebih lanjut kata arsenokoites ini ternyata mempunyai makna lebih luas, tidak hanya artinya tindakan homosex. James B. De Young mengatakan, ”It cannot be limited to pederasty or ‘active male prostitutes’; nor can it be limited to acts. It must also include same-sex orientation or condition.” Maka konsekuensinya, berlawanan dengan beberapa sarjana Alkitab, orientasi dan tindakan homosex bersamaan dengan incest (see Is Incest Okay?) dan perzinahan dikutuk sebagai dosa.

Lebih jauh Alkitab mengajarkan bahwa manusia tidak bisa menyalahkan Allah atas tindakan dosa manusia, karena Allah tidak mencobai manusia. Manusia ditarik oleh nafsunya sendiri (Yak 1:13-15).

Beberapa orang mengusulkan bahwa tindakan homosexual memang immoral, tetapi perasaan, hasrat, orientasi homosexual dan bagi beberapa orang merupakan pembawaan lahir oleh karena itu tidak mungkin dihindari maka bukanlah dosa. Alkitab mengajarkan bahwa pencobaan bukanlah dosa. (Kristus pernah dicobai namun Ia tidak melakukan dosa apapun – Ib 2:18). Adalah dosa ketika seseorang diam saja atas apa yang menggoda dia dan malah menikmatinya. Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa bukan baru berdosa ketika melakukan perbuatan jahat, namun juga berdosa jika mempunyai hasrat, nafsu dan pikiran yang immoral.

Yesus di dalam Mat 5:27-29 melarang nafsu heterosexual. Yesus berkata bahwa,”Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”Pemikiran yang hanya mengutuk tindakan lahiriah namun tidak tindakan yang kelihatan adalah ajaran dari orang Farisi yang di mana Yesus dengan keras mengutuknya sebagai ajaran sesat (Mat 5:21-22;15:19-20). Paulus melarang semua pemikiran duniawi seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat (unholy desires) dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.

Paulus mengatakan bahwa orang Kristen harus disucikan pikirannya (Fil 4:8). Yakobus berkata bahwa jika nafsu/orientasi tidak dikendalikan, maka dosa akan mengikuti (Yak 4:1). Secara lahiriah, homosexual dikutuk dalam Roma 1:24,26,27. Nabi Yesaya berkata,”Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.”(Yes 55;7). Karena Alkitab mengutuk nafsu berdosa dan tindakan berdosa maka itu tidak ada yang namanya  Homosex Kristen atau pembunuh Kristen atau pencopet Kristen. Jika seorang homosex menjadi Kristen, ia harus meninggalkan baik tindakan homosex-nya dan juga pikiran/orientasi homosex-nya; maka ketika ia menjadi Kristen ia harus berhenti menjadi seorang homosex. Dia mungkin masih bisa digoda dalam beberapa waktu namun ia akan menolak untuk tinggal/berkubang/menikmatinya untuk tidak melakukan hal keji tersebut. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Fil 4:8). “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,”(1 Kor 10:6).

transformational inclusion” NOT “affirmational inclusion