Kebangkitan Kristus — Kisah Kebohongan Sepanjang Masa?


Oleh: Ev. Otniol H. Seba

Apakah reaksi Anda tatkala mendengar seseorang berkata bahwa dia bertemu dan berbicara dengan orang yang telah 3 hari meninggal dan bangkit kembali? Mungkin Anda akan berkata kepada orang itu, “Kamu telah membohongi saya dengan cerita itu,” atau Anda akan berkata, “Mungkin itu adalah hantu! Mana mungkin orang yang telah meninggal bisa bangkit kembali. Itu mustahil!”

Namun itu terjadi di dalam diri Yesus Kristus dari Nazaret itu. Dalam sepanjang sejarah manusia, tidak pernah terjadi hal yang demikian penting. Tidak ada orang yang telah mati dan bangkit kembali pada hari yang ketiga. Ini adalah mujizat terbesar dalam sejarah hidup manusia! Terlepas dari asumsi dan pandangan orang bahwa “Itu hanya sekadar kisah mitos yang tidak pernah terjadi,” atau “Itu rekayasa dari murid-murid yang ingin mencari popularitas,” kenyataannya: Dia sudah bangkit! Yesus Kristus telah bangkit.

Menolak Kebangkitan Kristus

Pengakuan orang percaya bahwa Kristus telah bangkit mengundang kontroversi dari berbagai kalangan, baik pada masa itu maupun pada masa kini. Mereka yang menolak pengakuan ini membuat bantahan-bantahan yang sekiranya dapat menggugurkan dan menenggelamkan fakta kebenaran ini. Beberapa pandangan yang menolak kebangkitan Kristus, di antaranya:

1. Pada masa itu (setelah Yesus Kristus bangkit), prajurit-prajurit Roma dan para imam kepala berserta dengan tua-tua, bersepakat membuat berita palsu dan mengatakan bahwa murid-murid Yesus bersekongkol untuk datang mencuri mayat-Nya (Mat. 28:11-13). Philip Yancey mengatakan hal ini demikian: Tentu saja sebenarnya ada persekongkolan, tapi bukan yang digerakkan para murid Yesus, melainkan oleh penguasa yang harus menghadapi fakta yang memalukan kuburan kosong. Mereka bisa saja menghentikan semua desas-desus liar tentang kebangkitan dengan sekadar menunjuk kuburan yang dimateraikan atau menunjukkan mayat. Tapi materai dipecahkan, dan mayat-Nya tidak ada, jadi diperlukan keterangan (palsu) resmi. (1)

2. Kemudian ada yang pendapat lain mengenai alasan mengapa kebangkitan Kristus itu tidak benar. Alasannya yaitu karena para wanita yang datang ke kubur Yesus pada waktu hari gelap, ternyata mendatangi “tempat yang salah.” (2)

3. Yang lain mengatakan bahwa Yesus tidak benar-benar mati, Dia hanya mengalami “ketidaksadaran atau keadaan koma di dalam kubur”. Setelah sadar, Dia bangkit dan melewati para penjaga, kemudian pergi kepada murid-murid-Nya. Murid-murid-Nya menyimpulkan bahwa Dia telah bangkit dari kematian. Dia (Yesus Kristus) mati tidak lama setelah peristiwa itu. Pandangan ini dianut oleh Albert Schweitzer’s dalam bukunya, “The Quest of The Historical Jesus in The English Translation”. (3)

4. D.H. Lawrence mengemukakan teori yang sama sekali berbeda mengenai Yesus Kristus tidak mengalami kematian. Lawrence percaya bahwa Yesus pergi ke Mesir dan jatuh cinta dengan pendeta wanita Isis. (4)

5. Pandangan yang lain menyebutkan bahwa para murid mengalami halusinasi tentang kebangkitan-Nya. Mereka sebenarnya tidak benar-benar melihat Yesus. Itu hanya pengalaman mereka dan bukan fakta yang sesungguhnya. Pandangan ini dianut oleh Hugh Schonfield dalam bukunya, “The Passover Plot”, terbitan tahun 1966, yang mengatakan: “We are not dealing in the Gospels with hallucinations, with psychic phenomena or survival in the Spiritualist sense” (hal. 159). Lebih jauh lagi dia mengatakan: “What emerges from the records is that various disciples did see somebody, a real living person. Their experiences were not objective” (hal. 173). (5)

6. Spinoza, salah satu filsuf abad 17, adalah seorang yang sangat rasionalis. Dia tidak percaya akan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Kristus dianggap sebagai peristiwa yang tidak logis. Baginya, kekristenan merupakan agama yang non-proporsional, agama tanpa dasar kepercayaan. Dia menyimpulkan bahwa kekristenan Ortodoks berpijak kepada Paulus yang telah menjadi bagian dari kebenaran kebangkitan Kristus, yaitu agama tanpa pengharapan. (6)
7. Bultmann dengan teologi “Demitologisasi”-nya, juga menolak peristiwa kebangkitan Kristus. Baginya, kebangkitan Kristus itu terjadi di dalam mitos, namun faktanya tidak pernah terjadi. Mujizat dan kebangkitan Kristus bukanlah sebuah peristiwa “historis”, melainkan “super-historis.” Di antara sekian banyak pandangan yang dituliskan ini, masih ada pandangan yang lain yang tidak dibahas di dalam artikel ini. (7) Namun penulis yakin argumentasi-argumentasi yang dituliskan di dalam bagian ini umumnya dipakai untuk menentang kebenaran kebangkitan Kristus.

Bukti-Bukti Kebangkitan Kristus

Setelah keberatan-keberatan ini diajukan, apakah kisah kebangkitan Kristus menjadi suatu kisah kebohongan sepanjang masa? Justru dengan banyaknya keberatan-keberatan ini diajukan, orang-orang dari berbagai kalangan, baik itu para sarjana modern, jurnalis, atau hakim, tertantang untuk menyelidiki dan membuktikan kebenaran kisah ini. Beberapa di antaranya adalah Frank Morrison, Sir Norman Anderson, dan Lee Strobel.

Frank Morrison, seorang wartawan yang agnostik, telah berusaha menulis sebuah buku yang bertujuan untuk membantah fakta kebangkitan Kristus. Setelah melakukan penyelidikan, pandangannya berubah; dia tidak lagi menyangkali fakta kebangkitan Kristus, tetapi justru membela peristiwa kebangkitan itu. Dia kemudian menjadi percaya kepada Kristus. Bukunya yang sangat terkenal ialah “Who Moved The Stone” (terbitan Zondervan Publishing House: Michigan, 1971), menjadi buku yang sangat terkenal pada saat itu.

Sir Norman Anderson, seorang yang dianugerahi gelar “profesor seumur hidup” di bidang hukum dan melayani sebagai dekan pada fakultas hukum di University of London, menyimpulkan bahwa kubur yang kosong menjadi bukti teori kebangkitan (Kristus) yang rasionalistik.

Lee Strobel, editor dari “Chicago Tribune”, yang pernah menempuh pendidikan di Yale Law School yang belatar belakang ateis, meneliti bukti-bukti tentang Yesus Kristus. Semula dia bukanlah seorang yang percaya kepada Kristus, namun di akhir penelitiannya, dia menjadi sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. (8) Bukti-Bukti yang lain tentang kebenaran kebangkitan Kristus yang secara langsung maupun tidak langsung dapat kita temukan, antara lain:

Bukti-Bukti Langsung

a. Kubur yang kosong.
• Perjanjian Baru memberikan laporan tertulis tentang peristiwa kebangkitan Kristus: Mat. 28:11-15; Mrk. 16:1-8; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:11-18; Kis. 2:29; dan 1Kor.15:3-8.
• Jika kita menerima asumsi bahwa Injil Markus ditulis paling awal, yaitu antara tahun 36-38, maka kisah naratif kebangkitan Kristus akan menjadi bukti yang sangat bagus untuk kubur yang kosong. (9)

b. Batu yang terguling.
Ada dugaan dari mereka yang skeptis, bahwa murid-murid Yesus menggeser batu penutup kubur dan mencuri mayat-Nya. Namun argumentasi ini tidak berdasar, karena: (1) yang pertama kali mengunjungi kubur Yesus adalah para wanita (Yoh. 20:1-2). Perhatikan bahwa batu ini cukup besar dan berat. Para wanita ini takkan sanggup menggesernya; (2) para penjaga ada di tempat itu. Mereka bersiaga penuh. Para penjaga atas perintah Pilatus menjaga kubur itu dengan baik sekali (Mat. 27:66). Bagaimana para murid dapat menggeser batu itu untuk mencuri mayat Yesus, sementara para prajurit tidak tahu? (10)

c. Penampakan kepada para murid-Nya.
• Penampakan kepada sejumlah murid, para wanita, dan sekitar 500 orang di tempat yang berbeda, membuktikan bahwa peristiwa kebangkitan Kristus adalah fakta yang sesungguhnya. Jika mereka berhalusinasi, maka tidak mungkin terjadi kepada sekian banyak orang.
• Peristiwa Tomas menusukkan jarinya ke lambung dan tangan Yesus (Yoh. 20:27-28) dan Yesus makan bersama murid-murid (Luk. 24:30; Yoh. 21:12-13), membuktikan bahwa itu bukan halusinasi. Jika kebangkitan dan penampakan Kristus benar, maka kekristenan adalah kepercayaan yang dapat diterima dengan akal dan memberikan jaminan pasti di masa depan. (11)

d. Perubahan dalam diri para murid Yesus.
Peristiwa penderitaan dan kematian Yesus membuat mereka menutup diri dan bersembunyi. Mereka diam di rumah-rumah mereka dengan pintu dan jendela tertutup rapat (Yoh. 20:19). Mereka semua kehilangan harapan. Namun setelah Yesus bangkit, ada perubahan yang terjadi dalam diri mereka. (12) Mereka menjadi berani untuk bersaksi tentang Yesus yang mati dan bangkit (bdk. Kis. 2:22-24).

Bukti Secara Tidak Langsung

a. Pertobatan para skeptik.
Banyak di antara orang-orang yang menolak kebangkitan Kristus kemudian menjadi percaya akan berita itu. Ini dapat kita lihat pada diri Yakobus dan Paulus (1Kor. 15:7-8), dan pada diri orang-orang zaman sekarang, seperti Frank Morrison, Lee Strobel dan yang lainnya.

b. Mati demi kepercayaan mereka.
Setelah kebangkitan Kristus, para murid mulai bersaksi tentang Dia. Bahkan ketika diperhadapkan dengan kematian, mereka tidak gentar karena percaya dengan apa yang mereka lihat. Strobel mengutip Moreland dalam wawancaranya, demikian: “Jika mereka sama sekali tidak yakin, mereka tidak akan membiarkan diri mereka disiksa sampai mati karena memproklamasikan bahwa kebangkitan Kristus telah terjadi.” (13)

c. Minggu sebagai hari penyembahan yang baru.
Sabat (Sabtu) Yahudi dianggap sebagai hari di mana umat Israel menyembah kepada Allah. Namun kebangkitan Kristus telah mengubah konsep ini. Kristus bangkit pada hari pertama minggu itu (Mrk. 16:2; Luk. 24:1). Selanjutnya hari itu (Minggu) dijadikan hari di mana orang yang percaya beribadah kepada-Nya. (14)

d. Sakramen Perjamuan dan Baptisan.
Perjamuan dan Baptisan adalah bukti secara tidak langsung dari peristiwa kebangkitan Yesus Kristus. Mereka berkumpul secara teratur untuk mengadakan perjamuan makan dengan alasan untuk mengingat bahwa Yesus telah dibunuh di depan umum dengan cara yang aneh dan memalukan. Kegiatan ini dilakukan dengan satu keyakinan yang jelas, bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian. (15) Perjamuan dan Baptisan sampai hari ini masih dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya.

e. Berdirinya Gereja.
Bukti lain tentang kebangkitan Kristus adalah berdirinya Gereja. Gereja berdiri dan runtuh terletak pada kematian dan kebangkitan Kristus. Selama Yesus Kristus di dalam dunia, bahkan saat menghadapi kematian di atas kayu salib, Dia tidak pernah mendirikan sebuah institusi. Namun setelah kebangkitan-Nya, banyak orang yang menjadi percaya; mereka mendirikan tempat untuk bersekutu bersama. Walaupun ada penganiayaan, mereka tetap memiliki keyakinan kepada Kristus yang bangkit. (16)

f. Tema khotbah dan Pemberitaan Injil.
Bukti lain dari kebangkitan Kristus adalah pemberitaan para rasul sendiri tentang Dia yang telah mati dan bangkit (Kis. 1:22; 2:22-40; 3:14, 26; 4:10); dan bertambahnya jumlah orang yang percaya kepada Kristus, melalui khotbah para rasul (Kis. 2:41, 47; 4:4; 6:1) dengan kuasa Roh Kudus. (17) Sampai hari ini, kekristenan telah berkembang luas hampir di seluruh dunia, memasuki berbagai budaya dan menciptakan umat Allah yang memiliki semangat untuk bersaksi memberitakan kebenaran itu. (18)

Bukti-bukti ini tidak dapat dibantah oleh para skeptis dan ateis. Mereka harus memberikan bukti-bukti yang lebih logis dan masuk akal untuk menghancurkan bukti tentang kebangkitan Kristus. Ini mustahil untuk dilakukan!

Implikasi Kebangkitan Kristus Bagi Orang Percaya

Kebangkitan Kristus tidak hanya terjadi pada masa itu (sekitar tahun 33), tetapi kebangkitan itu memiliki dampak bagi orang percaya dalam segala zaman.

1. Kebangkitan Kristus menyatakan kuasa dari Allah yang benar.
Efesus 1:19-21 menyatakan dengan jelas kepada kita tentang kuasa Allah yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri Yesus Kristus, dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dengan membangkitkan Yesus dari kematian telah membuktikan bahwa Allah sungguh-sungguh berdaulat atas segala hal, termasuk kematian. (19)  

2. Kebangkitan Kristus menyatakan identitas-Nya sebagai Allah.
Roma 1:4 dengan jelas menyatakan bahwa Yesus Kristus yang telah dibangkitkan adalah Anak Allah. Dia memiliki kuasa setara dengan Allah Bapa. P.G. Matthew menyimpulkan, “Kebangkitan Yesus Kristus menyatakan kepada kita bahwa apa yang dikatakan-Nya benar, bahwa Dia adalah Allah.” (20)

3. Kebangkitan Kristus menjamin keselamatan kita.
Paulus dalam Roma 10:9 untuk menunjukkan kepada kita bahwa percaya kepada Kristus, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, merupakan jaminan akan keselamatan dari Allah. Bob Deffinbaugh menyimpulkan demikian: “Personal faith in the resurrection of Christ is therefore necessary because it is a vital element in a faith that leads to salvation.” (21)

4. Kebangkitan Kristus menjamin regenerasi kita.
Petrus dalam suratnya (1Ptr. 1:3) menghubungkan kebangkitan Kristus dengan kelahiran baru setiap orang percaya. Seseorang tidak dapat lahir baru ketika dia menjadi Kristen. Kelahiran baru hanya mungkin terjadi melalui karya Kristus, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya. Grudem menyimpulkan: “Thus, it is through His resurrection that Christ earned for us the new kind of life we receive when we are born again.” (22)

5. Kebangkitan Kristus menjamin pembenaran kita.
Paulus di dalam surat Roma (Rm. 4:25) menjelaskan bahwa kebangkitan Kristus berkaitan dengan pembenaran orang percaya. Allah menerima pembenaran kita di hadapan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Pembenaran orang percaya menjadi sempurna ketika Kristus telah dibangkitkan. Charles L. Feinberg menuliskan hal ini demikian: “The resurrection of Christ proves beyond a doubt that God has accepted His death for humankind as the full satisfaction of His claims for human justification.” (23)

6. Kebangkitan Kristus menjamin pengudusan kita.
Dalam Roma 6:4 Rasul Paulus menjelaskan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita (orang percaya) akan hidup dalam hidup yang baru. Dalam proses kehidupan di dalam Dia, kita mungkin lemah dan bisa jatuh dalam dosa. Namun Dia yang hidup akan memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Hal dapat terjadi, karena kita telah disatukan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. (24)

7. Kebangkitan Kristus memberi harapan untuk kebangkitan orang percaya di akhir zaman.
Kebangkitan Kristus meyakinkan kita bahwa suatu hari kelak kita akan dibangkitkan. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15 menjelaskan bagian ini dengan tepat sekali. “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (ay. 20). Kebangkitan Kristus akan menjadi dasar dari kebangkitan orang percaya pada akhir zaman. (25)

8. Kebangkitan Kristus menyatakan tentang penghakiman-Nya.
Secara tidak langsung, kebangkitan Kristus menyatakan tentang penghakiman-Nya atas manusia, yaitu orang berdosa akan dihukum, orang percaya akan diselamatkan. Selama ada di dalam dunia, Dia telah berbicara tentang penghakiman Allah atas dosa, namun dunia menolak Dia dan membunuh Dia. Yesus Kristus yang telah mati karena dosa-dosa manusia dan telah dibangkitkan oleh Allah, ditentukan untuk menjadi hakim atas dunia ini (Kis. 17: 31; Ibr. 9:26-28). Boice menyimpulkan demikian: “Christ spoke a final judgement when He was on earth, claiming that He would be the judge. The fact that God raised Him from dead is proof of His claims. It is a pledge that the judgement day is coming.” (26)

9. Kebangkitan Kristus juga menyatakan kemuliaan-Nya.
Kebangkitan Kristus tidak saja menunjukkan kuasa Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Dengan menunjukkan kuasa-Nya yang membangkitkan Kristus, Allah juga menyatakan kemuliaan Kristus melalui gereja-Nya (Ef. 1:19-23). Paulus menyatakan melalui bagian ini bahwa Kristus tidak saja hanya merendahkan diri-Nya dan menderita demi keselamatan manusia, tetapi Dia juga ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah. Feinberg berkata: “God not only raised Christ from the dead, but He also entroned Him in unique authority as Head of the church.” (27)

Kesimpulan

Kebangkitan Kristus adalah fakta sesungguhnya dari iman Kristiani. Peristiwa itu sendiri terjadi di dalam sejarah, dan sampai hari ini bukti-bukti terus berbicara dan membuat para skeptik dan ateis berbalik untuk mempercayai-Nya. Walaupun ada sekian banyak orang yang terus menentang dan menolak kebangkitan Kristus, perlahan tapi pasti mereka akan menemukan kebenaran sejati itu. Tanpa peristiwa kebangkitan Kristus, kekristenan akan kehilangan esensi dari suatu keyakinan iman yang sejati.

Dengan melihat bukti dan dampak dari kebangkitan Kristus yang dialami oleh orang-orang percaya, mari kita membaharui komitmen kita untuk hidup bagi Dia, melayani seperti Dia, dan memuliakan Dia di dalam dan melalui hidup kita. “Christos Anesti” (28) (Kristus sudah Bangkit)! •

Footnotes
1/ Philip Yancey, Bukan Yesus Yang Saya Kenal (Jakarta: Professional Books), 1997, hal. 252.
2/ Dikutip dari Josh McDowell, More Than A Carpenter (Illinois: Tyndale House Publishers’s), 1973, hal. 93. Josh McDowell juga membantah teori ini.
3/ Pandangan ini dikutip dari Robert L Raymond, The New Systematic Theology of The Christian Faith (Nashville: Thomas Nelson Publisher’s), 1998, hal. 256. Robert Raymond sendiri tidak setuju dengan pandangan ini.
4/ Dikutip dari buku karangan Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus (Batam: Gospel Press), 2002, hal. 249. Menurut penulis, ini teori yang paling menyesatkan seputar bantahan tentang kebangkitan Kristus.
5/ Pandangan ini dikutip dari artikel: Easter: Myth, Hallucination or History, oleh Edwin M. Yamauchi. Dia adalah seorang profesor sejarah di Miami University, Oxford, Ohio. Artikel ini, yang digunakan seizin pengarangnya, pertama kali muncul dalam 2 seri di Christianity Today, tanggal 15 dan 29 Maret 1974 (www.monergism.com).
6/ Lihat argumentasi Spinoza dalam buku Norman Geisler, Miracle And The Modern Mind: A Defense of Biblical Miracle (Michigan: Baker Book House), 1992, hal. 15-17. Spinoza adalah salah seorang filsuf rasionalis yang sangat brilian. Dia memegang paham panteisme, di mana Allah dianggap sama dengan alam semesta. Dia menolak pandangan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta, karena alam semesta adalah esensi dari diri Allah sendiri. Dia menolak kebangkitan Kristus, karena dianggap sebagai hal yang tidak masuk akal dan bergaya mistik.
7/ Beberapa argumen yang menolak kebangkitan Kristus di antaranya adalah: Argumentasi Antinatural dan Argumentasi Irrasional. Kedua argumentasi ini dapat dibaca dalam tulisan Norman Geisler, Miracle And The Modern Mind, 1992.
8/ Lee Strobel, seorang master di bidang hukum dari Yale Law School, adalah seorang jurnalis pemenang penghargaan selama tiga belas tahun di Chicago Tribune dan beberapa surat kabar lain. Dia adalah seorang ateis, sampai Tuhan mengubahnya melalui penyelidikannya tentang kebenaran Kristus. Bukunya yang sangat terkenal, The Case for Christ, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pembuktian Atas Kebenaran Kristus: Investigasi Pribadi Seorang Jurnalis Atas Bukti Tentang Yesus. Buku ini telah mendapat penghargaan internasional “The Gold Medallion Book Award”.
9/ J.P. Mereland, Scalling the Secular City: A Defense of Christianity, (Michigan: Baker Book House), 2003, hal. 165.
10/ Josh McDowell, Evidence For Resurrection (artikel), http://www.Trinity Foundation.org.
11/ James Montgomory Boice, Foundations of The Christian Faith: A Comprehensive And Readable Theology (England: Intervarsity Press), 1986. hal. 358.
12/ J. Hampton Keathley, III. Evidence For The Resurrection (artikel), http://www.bible org.
13/ Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, hal. 322.
14/ Boice, Foundations of The Christian Faith. hal. 359.
15/ Moreland, Scaling The Secular City, hal.180.
16/ Ibid, hal. 180-181.
17/ Norman Geisler, Evidence For The Resurrection, part two (artikel), http://www.monergism.com.
18/ John Piper, Desiring God: Meditations of A Christian Hedonist (Oregon Multnomah Books), 1996, hal. 273.
19/ Daniel B. Wallace, The Resurrection of Christ: Theological Implications (artikel), http://www.bible.org. Wallace mengatakan: “But if Christ is raised from the dead, then God is sovereign over all things, even death.”
20/ P.G. Matthew, The Resurrection of Jesus Christ (artikel), http://www.monergism.com.
21/ Bob Deffinbaugh, The Significance of The Resurrection (artikel). http://www.bible.org.
22/ Wayne Grudem, Bible Doctrine: Essential Teachings of The Christian Faith (edit), Jeff Purswell (Michigan: Zondervan Publishing House), 1999, hal. 264.
23/ Charles L. Feinberg, Pauline Theology Relative to The Death And Ressurection of Christ, In Vital Christology Issues (edit), Roy B. Zuck (Michigan: Kregel Resources), 1997, hal.154.
24/ Boice, Foundations of The Christian Faith, hal. 345.
25/ George Eldon Ladd, Theology of The New Testament (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing House), 1974, hal. 369-370.
26/ Boice, Foundations of The Christian Faith, hal. 347.
27/ Feinberg, Pauline Theology Relative to The Death And Resurrection of Christ, hal. 157.
28/ Istilah ini diucapkan pada perayaan Paskah oleh Gereja Yunani Ortodoks.

Advertisements