New Age Movement (Bahasa)


Oleh: Herlianto,M.Th

New Age Movement (NAM /Gerakan Zaman Baru) adalah nama yang berkembang untuk memberi ciri pada gerakan pada tahun 1960-an sebagai subkultur yang melanda seluruh dunia. NAM sebenarnya merupakan kebangunan kembali faham kuno yang sudah dikenal dalam agama yang animistik, dinamistik, mistik (timur), dan juga gnostik yang secara turun-temurun dikenal dan dipraktekkan dalam budaya tradisional yang prinsipnya  bersifat pantheistik yaitu bahwa alam adalah realita utama (macro cosmos) dan manusia adalah bagian dari realita itu (micro cosmos).

Kecenderungan Mistik (monisme) juga mempengaruhi banyak  aliran kultus/sekte kristen abad-19 dimana keberadaan Allah sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi (theisme) yang berpribadi direndahkan sekedar sebagai realitas tidak berpribadi bernama roh/tenaga/kekuatan tunggal dan manusia ditinggikan sebagai bagian dari realitas itu. Manusia dengan pikirannya adalah micro cosmos dan pusat semesta (macro cosmos).

Faham Mistik Masuk Dunia Kristen

Sebagai reaksi terhadap rasionalisme yang materialistis, pada abad-19 berkembang aliran mistik modern yang menekankan kekuatan batin. Aliran New Thought dirintis Phineas P. Quimby yang beranggapan bahwa ‘penyakit itu adalah kelemahan batin dan penyembuhannya harus melalui pikiran’ (mind cure). Ajaran mind cure mempengaruhi Mary Baker Eddy yang membentuk aliran Christian Science (CS) yang ‘tidak mengakui hakekat materi dan mempercayai realitas segala sesuatu adalah roh termasuk penyakit karena itu penyakit yang bersifat rohani itu harus disembuhkan melalui pikiran. Charles Filmore murid Mary mengaku: “I am the Christ of God. … kesempurnaan saya sekarang dibentuk dalam pikiran ilahi (divine mind).

Faham tentang realita tunggal (monisme) dan ucapan Filmore memberi gambaran utuh bahwa ‘Realitas Allah yang berpribadi disitu digantikan dengan realitas roh/tenaga yang tidak berpribadi, demikian juga kemuliaan Yesus Kristus sebagai Tuhan (kristosentris) dan Juruselamat yang menjadi pusat ibadah sekarang tertuju kepada diri (self) manusia (antroposentris)’ seperti ucapan Filmore “I am the Christ of God” dan tokoh NEW AGE Shirley McLaine yang mengaku “I am God.” Manusia mengaku sebagai Allah (band.Kej.3:5).

Dari Mind Cure ke Positive Thinking

Penyembuhan melalui pikiran (mind cure) kemudian berkembang dalam faham Positive Thinking di abad-20. Perkembangan ini banyak didongkrak ahli jiwa masa itu. William James (1842-1910) menyebut bahwa: “manusia menyadari bahwa dirinya bisa diperluas ke bawah sadarnya dan kehidupan berkelimpahan bergantung dari keterbukaan kita akan dimensi bawah sadar itu.” Sigmund Freud (1856-1939) menyebut bahwa “bawah sadar merupakan bejana tak terhingga yang menampung tenaga dinamis yang bekerja dalam jiwa manusia.” Carl Jung (1875-1961) menganggap: “Seseorang dapat masuk ke dalam realita roh/dunia dalam (bawah sadar kolektif) melalui imajinasi/visualisasi kreatif,” ini disebut ‘realisasi diri.’ Abraham Maslow (1908-1970) mengembangkan teori motivasi yang menggambarkan proses perkembangan pribadi dari kebutuhan dasar kepada yang lebih tinggi, ini disebutnya ‘aktualisasi diri’ yaitu pemenuhan potensi manusia yang tertinggi.

Mind cure dan jiwa bawah sadar yang ibarat bejana harta tak terhingga itu kemudian digali secara praktis untuk kalangan bisnis dan masyarakat umum dengan tehnik positive thinking. Dale Carnegie menekankan Yesus sebagai model eksekutif dan ia mendorong orang menjadi manusia baru yang memiliki kualitas sukses.” Napoleon Hill memberikan harapan sukses dalam pergaulan dan bisnis melalui pemikiran yang positip: “Dalam diri manusia ada getaran akan kemakmuran, kesehatan, dan kekayaan dan kebahagiaan.” Manusia dapat menyelaraskan diri dengan getaran kemakmuran dengan cara berulang-ulang melakukan pengakuan akan sukses dan kemakmuran.” Para pendeta seperti Norman Vincent Peale menyebut: “Kekristenan terapan ditujukan untuk menolong manusia menggali kekuatan batin (inner power) dalam dirinya … dengan cara menyatukan dirinya dengan kekuatan yang lebih super dan Tuhan adalah ‘kekuatan batin’ itu dimana manusia tinggal menggalinya.” Peale mengembangkan kekuatan sugesti pikiran manusia yang yang menjadi judul buku ‘Positive Thinking.’ Ini diteruskan Robert Schuller dengan nama ‘Possibility Thinking,’ ia mendorong pendengarnya untuk: “berfikir secara positif untuk mencari kemungkinan baru demi mencapai sukses duniawi.” Ide ini direalisasikan dalam pembangunan gereja mewah Crystal Cathedral di LA-USA dengan pengkotbah pertama Peale (Pada Desember 2010 CC dinyatakan bangkrut). Ajaran sukses kemudian diteruskan Kenneth Hagin yang mempopulerkan ‘Word of Faith Movement’ untuk mencapai ‘health & wealth gospel” dan Jonggi Cho mempopulerkan ‘Dimensi ke-Empat’ melalui berfikir positif, visualisasi, dan kata-kata iman.” Kemudian dipopulerkan banyak pendeta/penginjil sukses lainnya. Benny Hinn & Morris Cerullo dll. mempopulerkan ‘manusia sebagai little gods’ (ingat ucapan Filmore & McLaine).

Human Potentional Movement

Mind Cure dan positive thinking diteruskan dalam Human Potential Movement (gerakan pengembangan diri) melalui pelatihan motivasi yang belakangan ini banyak diadakan di kalangan bisnis dan bahkan masuk kegereja, ini menggeser berita ‘Injil Salib’ kearah ‘Injil Sukses’ dan menggeser berita yang berpusat Yesus Kristus menjadi berpusat diri manusia. Popularitas New Age yang masuk ke gereja-gereja juga didukung penerbit kristen. Banyak buku Pengembangan Pribadi diterbitkan penerbit kristen dan dipromosikan radio maupun buku/majalah kristen, dan kotbah motivasi makin sering didengar melalui mimbar gereja.

Gejala New Age yang menggeser titik berat dari kristosentris menuju antroposentris dapat dilihat pada pernyataan beberapa motivator kristen. Seorang pendeta yang ditahun 1990-an menggebu-gebu mempopulerkan ‘Lawatan Roh Allah yang mendatangkan kuasa,’ di tahun 2000-an mengikuti pelatihan motivasi dan kemudian berkomentar: “Saya sekarang merasakan kuasa sebagai pengkotbah setelah saya mengikuti pelatihan potensi diri.” Ini menunjukkan dengan jelas pergeseran dari keterergantungan kepada ‘Roh Allah’ ke ‘Diri Sendiri.’ Seorang mahasiswa dikala menjadi mahasiswa mempelajari ‘Etos Kristus’ setelah lulus bergabung dengan pelatihan positive thinking. Pemuda yang semula rendah hati itu kemudian terbentuk dirinya sebagai entusias yang duduk di kursi bos, kemudian mengaku sebagai ‘Mr. Etos’ dan ujung-ujungnya mengangkat diri sebagai ‘Guru Besar Etos.’ Ini menggambarkan dengan jelas betapa New Age telah mengubah seseorang yang semula berpusat kemuliaan ‘Kristus’ menjadi berpusat kebanggan ‘Diri’ (self) (band.Gal.2:20). Motivator kristen lainnya menulis buku ‘Reach Your Own Potential’ dan dengan ‘guru besar’ diatas sering diundang berbicara di gereja-gereja dan tulisannya dipopulerkan majalah ‘Inspirasi’ yang diterbitkan penerbit kristen. Seorang motivator kristen berucap ‘Bila kita berfikir positip maka sedikit-demi-sedikit pikiran negatif kita akan hilang dan pikiran kita menjadi positif’ dan motivator lainnya menanamkan sugesti kepada pendengarnya dengan ucapan berbunyi ‘If It’s to be it’s up to me.’

Faham New Age Mormon abad-19 mengenai ‘kehendak bebas manusia dan kebebasan memilih jalan hidup untuk mencapai hasil’ (dalam agama Mormon: menjadi ilah-ilah) dituliskan dalam buku pelatihan ‘The Divine Center’ (1987) oleh penatua Stephen Covey untuk para misionari Mormon, namun karena buku itu diminati kalangan bisnis tahun berikutnya diubah menjadi ‘The 7 Habits of Highly Effective People’ yang laris manis di seluruh dunia. Tidak urung rektor sebuah sekolah teologia injili di Jateng terpengaruh mengajarkannya sepenuhnya sebagai bagian kuliah manajemen kepemimpinan kepada mahasiswa doktoral, seorang ketua sinode menjadikan 7th Habits bahan rujukan dalam bukunya ‘Kepemimpinan Yang Dinamis,’ bahkan Jaringan Doa Nasional juga pernah mengadakan pelatihan motivasi itu untuk dosen-dosen universitas dipimpin motivator kristen yang adalah associate trainer ‘Covey Leadership Center.’

Selain melalui pelatihan motivasi yang semakin banyak diadakan di gereja-gereja, gejala masuknya faham New Age bisa dilihat pada kasus-kasus berikut. Seorang dosen teologi secara eksplisit pengaku keyakinan gnostik yang diyakininya sehingga di non-aktifkan sebagai dosen dan dipensiun dini sebagai pendeta karena pandangan teologi radikalnya yang menyangkal Yesus adalah Allah dan menempatkan diri sebagai gantinya. Bentuk umum lainnya adalah kotbah KKR yang biasanya menawarkan pemulihan, kemakmuran, sukses, hidup berkelimpahan, dan jargon-jargon lainnya tentang keberhasilan hidup didunia ini yang lebih banyak menggeser berita tentang salib yang diajarkan firman Tuhan.

Pengaruh New Age juga masuk juga melalui MLM. Selain cacat bawaan yang dikandung MLM (sedikit sekali yang beruntung menikmati kerugian yang ditanggung sebagian besar peserta) sehingga menjadikannya dijuluki ‘Menipu Lewat Menjual’ (‘MLM sells not soap but hoax’ karena menipu dengan mimpi semua bisa kaya), MLM merupakan alat efektif penyebaran faham New Age melalui pelatihan motivasi yang biasa dilakukan untuk mendongkrak semangat para distributor. Yang perlu disadari, banyak tokoh MLM adalah tokoh gereja yang banyak mendukung pendanaan gereja dan sekolah teologia tertentu dengan status mereka sebagai ‘puncak piramid’ yang untung besar dalam sistem bisnis dengan cacat bawaan dan tipuan itu.

Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa kekristenan historis yang berpusat Kristus (Christ centered) dengan kotbah-kotbah yang alkitabiah sekarang banyak dipengaruhi semangat New Age yang pelan-pelan menggesernya menjadi pemusatan kepada diri sendiri (self) / manusia (Self centered) dengan kotbah-kotbah dan ceramah bernuansa motivasi ke arah sukses. Artikel ini bertujuan menyadarkan umat kristen agar berhati-hati menghadapi pengaruh New Age yang menarik hati yang mempengaruhi lingkungan iman dan gerejanya dan agar mendengarkan nasehat rasul Paulus:

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kolose 2:8).

Tuhan Yesus berfirman kepada murid-murid-Nya:

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24)

Amin.