Piety and Perspective (In Indonesian)


Oleh: Daniel Santoso

Melihat secara philosophical dan basis doktrinal dari Confucianism, Sebenarnya Confusius tidak menghubungkan ajaran dengan aspek spiritual dalam kehidupan manusia karena Confusius dikenal sebagai tokoh humanis yang menekankan “ capacity “ dan “ ability “ dalam pribadi manusia yang pada naturnya baik. Oleh karena itu Confusianism lebih menekankan “ Philosophy of Life “. Pendapat diatas dibangun bukan dari interpretasi-interpretasi kosong dari para scholar yang menolak pengajaran Confucianism tetapi pendapat tersebut dibangun dari perspektif Confusius sendiri “ If we know not life, why worry about death – if one could not even deal with the earthly life, one should not bother about the heavenly “. Menurut Daniel Tong, penulis buku “ A Biblical Aproach To Chinese Traditions and Beliefs “ bahwa perspektif di atas bukan berarti Confusius tidak percaya kepada supernatural tetapi memfokuskan diri pada “ here and now of the human life “. Pertanyaannya adalah bagaimana Confusius mengaktualisasikan fokus “ here and now of the human life “ dalam konteks keseharian manusia ?
Confucianism menegakkan sebuah keharusan ( necessity ) untuk memegang erat pentingnya “ The 4 Cardinal Virtues “ dan “ The 5 Cardinal Relationships “.

The 4 Cardinal Virtues
To Be Loyal to the ruler or state
To Be Filial to one’s parents
To Be Kind to people
To Be Faithful to ones friends

The 5 Cardinal Relationships
between ruler ( state ) and subject
between father and son
between husband and wife
between older and youngest
between friends

Jika manusia bisa melakukan poin “ virtues “ dan “ relationships “ dengan baik maka lahirlah sebuah masyarakat manusia yang patuh kepada pemerintah, hormat kepada orang tua, baik terhadap teman maupun orang lain. Sangat menarik, Dari semua pengajaran Confusius, salah satu kontribusi terpenting yaitu konsep “ filial piety “ dalam “ ancestral worship “.

Confucian Concept of Filial Piety
1. The Family unit is more important than the individual
2. The will of our ancestors is equated to the Mandate of Heaven that must be obeyed without question.
3. Five duties to perform
a. venerate parents in daily life
b. ensure their happiness
c. take extra care of them when they fall sick
d. show great sorrows at their death
e. offer sacrifieces to the deceased parents
4. provide an heir to continue the family name
5. resist when wrongly commanded

Maka Bagaimana kekristenan menanggapi budaya serta moral dari Confucianism tersebut ? Di dalam Alkitab, setiap manusia harus mengalami pembaharuan ( renewed and transformed ) dalam pemikirannya ( Roma 12:2 ) mulai dari natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa ( bukan karena lingkungan yang mempengaruhi natur manusia tetapi manusia sendiri yang mempengaruhi naturnya sendiri yaitu SELF – Kejadian 3, Roma 5:12-14, I Korintus 15:22 ). Confusius benar dalam mempercayai kebutuhan untuk mentransformasi pemikiran tetapi kesalahan fatalnya yaitu kepercayaan bahwa “ All are born with this pure sinless nature “, padahal sebelum kita mengajari anak kecil mengenai kejahatan, anak kecil sudah tahu bagaimana marah, bohong, iri hati maupun menutupi semua kesalahannya. Jika benar apa yang dikemukakan oleh Confusius maka bagaimana mungkin pengaruh buruk itu bisa ada tanpa pengaruh dari luar ?

 Reformed Theology kembali menekankan “ All are born with a sinful nature – Genesis 3 “ dan satu-satunya solusi dosa hanyalah melalui Yesus Kristus ( Yohanes 3:16, Roma 5:17 ) dan hanya Yesus menjadikan kita “ new creation – II Korintus 5:17 “ untuk memperbaharui pikiran kita ( renewing our minds – Roma 12:2 ) berdasarkan pimpinan Roh Kudus ( under the guidance of holy spirit – Yohanes 15:26-27)

Mengenai Filial Piety, Alkitab juga mengajarkan setiap manusia untuk menghormati orang tua :
menjaga orang tua ( Markus 7:9-13 )
menaati orang tua ( Efesus 6:1,4 )
jangan mengkerasi orang tua ( I Timotius 5:1,2 )
tidak boleh mengutuk orang tua ( Markus 7:10b )

Reformed Theology menegaskan bahwa “ filial piety “ hanya diberikan pada saat orang tua masih hidup bukan setelah mereka mati ( Ibrani 9:27 ) dan penyembahan ( worship ) hanya difokuskan kepada Tuhan dan Juruselamat yaitu Yesus Kristus. Kita harus mengingat bahwa kita harus menghormati orang tua dengan menaati mereka tetapi “ ultimate authority “ adalah Firman Tuhan ( II Timotius 3:16 ). Sebuah pertanyaan muncul yaitu Mengapa Allah menyoroti tugas untuk mengasihi dan menghormati orang tua ? J.I Packer memaparkan karena :
1. Keluarga = unit sosial yang dasar dimana kekuatan satu bangsa sangat ditentukan dari kehidupan keluarga.
2. Keluarga = basis unit spiritual dimana Allah menjadikan orang tua sebagai pendeta dan guru bagi mereka.
3. Anak-anak berhutang budi banyak untuk pemeliharaan mereka
4. Anak-anak butuh lebih banyak bimbingan dari orang tua.

Dari semua pemaparan di atas kita diajak bersama untuk menggumuli kehidupan sehari-hari kita yang akan bertemu dengan begitu banyak “ pemikiran-pemikiran moral “ yang kelihatannya baik tetapi bukan yang terbaik. Oleh karena perspektif manusia pasti gagal dalam menemukan secara “ perfectly “ konsep moral maupun piety sesungguhnya karena “ fallen into sin “ sehingga manusia perlu “ pertobatan perspektif “ di dalam Kristus untuk menemukan perspektif yang sesungguhnya dalam menilai konsep moral yang baik maupun yang terbaik yaitu “ Godly Perspective “.Inilah tantangan Apologetika Kristen terhadap Tantangan ” Cultures ” dan Agama dalam “ Piety “ dan “ Perspective “. Selamat Berjuang Menantang Zaman !