Siapa yang Dimaksud “Hamba Tuhan”?


Baca juga: Hamba-hamba Tuhan dan Keluarganya, Dewakah Mereka ?

Ditulis oleh: Oleh Grace Emilia

Ketika seseorang menyatakan bahwa ia dipanggil sebagai “hamba Tuhan” maka pada umumnya hal ini merujuk pada panggilan sebagai klergi. Para hamba Tuhan ini biasanya bergelar pendeta atau evangelis dan bertugas dalam kepemimpinan di institusi gereja serta terlatih dalam ilmu teologi. Sementara itu, istilah “pekerjaan pelayanan” pun seringkali terbatas pada tugas-tugas yang berhubungan dengan pekerjaan di seputar institusi gereja atau di badan-badan “pelayanan” atau organisasi non-profit. Hal-hal di luar itu (misalnya berdagang di pasar, bekerja sebagai akuntan, politikus, dsb) dianggap sebagai pekerjaan sekuler yang dilakukan oleh “kaum awam” dan bukan merupakan panggilan atau pelayanan dari para “hamba Tuhan”.

Hal ini berdampak pada terjadinya fragmentasi dalam menjalani kehidupan yang utuh sehari-hari. Orang-orang Kristen melayani dengan begitu luar biasa dalam berbagai pekerjaan pelayanan di hari Minggu di gereja, tapi menjadi begitu mengerikan pada hari Senin s.d. Sabtu di marketplace: di tempat kerja atau di rumah. Terjadi pemisahan antara pekerjaan kudus dan sekuler, yang sebetulnya merupakan warisan dari filsafat Yunani kuno (Plato) dan bukan dari Alkitab.

Dalam bukunya yang berjudul “The Other Six Days: Vocation, Work, and Ministry in Biblical Perspective”, R. Paul Stevens menjelaskan bahwa Istilah “kaum awam” (laypersons) yang dalam bahasa Yunani-nya disebut laikoi dipopulerkan oleh Clement of Rome pada akhir abad pertama. Namun Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa “kaum awam” ini berarti orang-orang Kristen kelas dua, tidak terlatih dan tidak dilengkapi. Dalam pemahaman yang biblikal, kaum awam (laos) berarti “umat Allah” (the people God) yang semuanya mendapat hak istimewa dan misi dari-Nya. 1 Petrus 2:9 menyatakan hal ini secara jelas: “tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat (laos) kepunyaan Allah sendiri…”

Sementara itu istilah “klergi”berasal dari bahasa Yunani kleros yang berarti mereka yang terpilih atau yang diperlengkapi. Istilah ini digunakan dalam Alkitab bukan untuk para pemimpin umat saja, tapi bagi seluruh umat Allah. Dengan kata lain, gereja terdiri dari para klergi yang diperlengkapi, diutus, dan dipilih oleh Allah untuk melaksanakan pekerjaan dan misi Allah di dunia.

R.Paul Stevens lalu menelurkan istilah “teologi umat Allah” yang disebutnya sebagai teologi dari umat Allah, untuk umat Allah dan oleh umat Allah (theology of the people, for the people and by the people). Teologi umat Allah ini tidak bersifat klerikal atau antiklerikal, namun klerikalisme, yaitu umat Allah tanpa perbedaan kecuali perbedaan fungsi. Ini juga berarti bahwa gereja bukan hanya merujuk pada umat Allah yang berkumpul (ekklesia), tapi pada umat Allah yang berdiaspora atau yang berdiam di dalam dunia (di marketplace: di pemerintah, sekolah dan rumah-rumah).

Pemahaman Stevens tentang hal ini sebetulnya bukan hal baru karena sudah dimulai di abad ke-16 ketika terjadi reformasi Protestan. Reformator Martin Luther menentang keras pemisahan antara pekerjaan yang rohani dan sekuler. Ia menyatakan:

“Ide bahwa pelayanan kepada Tuhan hanya berhubungan dengan altar gereja, menyanyi, membaca Firman, memberi persembahan di gereja dan sejenisnya, tanpa diragukan lagi merupakan trik terburuk dari iblis. Tidak ada cara yang lebih efektif daripada memiliki konsep yang sempit bahwa pelayanan kepada Tuhan hanya terjadi di dalam gereja … padahal seluruh dunia dipenuhi dengan kesempatan untuk melayani Tuhan, tidak hanya di gereja, tapi juga di rumah, di dapur, di tempat kerja, di ladang.”

Konsep panggilan di setiap bidang kehidupan juga sangat ditekankan oleh teolog John Calvin yang melahirkan tradisi reformed. Sebelum masa Luther dan Calvin, doktrin tentang vocation (pekerjaan sebagai panggilan) adalah area eksklusif milik para klergi. Namun Calvin mulai meruntuhkan hal itu dengan menekankan konsep tentang bekerja sebagai sesuatu yang kudus dan bermartabat. Bagi Calvin, berdagang di pasar sama kudusnya dengan berkhotbah di gereja. Bahkan dalam salah satu suratnya, John Calvin menyatakan: “Saya tidak pernah menjadi seorang lain kecuali kaum awam biasa (laicus).”

Karena itu, tugas dari para teolog profesional dan pemimpin gereja adalah memperlengkapi orang-orang kudus bagi “pekerjaan pelayanan” sesuai dengan Efesus 4:11 – 12 (Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,).

  1. Paul Stevens yang juga mendirikan Marketplace Institute di Regent College (Canada) menjelaskan lebih lanjut bahwa “memperlengkapi orang-orang kudus” bukan berarti melatih mereka untuk melakukan pekerjaan pelayanan di institusi gereja, namun untuk memperlengkapi mereka dalam melakukan pekerjaan pelayanan sesuai panggilan mereka masing-masing. Berdasarkan pemahaman ini, teolog profesional memegang peranan penting melalui riset dan perspektif historis yang dimiliki, mengingat godaan untuk mendistorsi kebenaran Injil selalu muncul.

Teologi Perlu Dipahami oleh Seluruh Umat Allah

Dengan demikian, mereka yang secara sempit disebut sebagai “kaum awam” pun harus memahami teologi karena pada dasarnya teologi bersifat praktikal. Teologi merupakan dasar dari tindakan yang berdasarkan pada iman dan menolong orang memahami kebenaran ilahi yang memampukan mereka untuk dapat mengenal Tuhan dan berelasi secara benar dengan dunia.

Dalam sejarah pendidikan teologi, teologi yang memisahkan teori dan praktek merupakan dampak dari pengaruh rasionalisme di periode Pencerahan pada abad ke-18. Edukator Edward Farley menyentak dunia pendidikan teologi global di tahun 1980-an dengan temuannya mengenai fragmentasi di pendidikan teologi sebagai dampak dari rasionalisme ini. Farley lalu menegaskan bahwa arti sesungguhnya dari teologi bukanlah “subjek akademis atau sekumpulan keyakinan, melainkan hikmat ilahi (divine wisdom) yang tersedia bagi setiap orang yang ingin menghidupi imannya secara nyata.”

Dalam bukunya yang berjudul “By the Renewing of Your Minds”, Ellen Charry menceritakan pengalamannya mempelajari berbagai tulisan para tokoh gereja seperti Paulus, Atanasius, Basil of Caesarea, Agustinus, Anselmus, dan John Calvin. Ia menyatakan bahwa setelah mendalami pemikiran mereka, ia melihat bahwa pemisahan ilmu dalam kurikulum pendidikan teologi modern menjadi semakin tidak masuk akal. Ia mendorong agar pendidikan teologi kembali menjadi “sapientia” di mana orang dapat semakin mengasihi Tuhan; dan juga agar pembelajar serta yang dipelajari dapat terkoneksi secara emosi. Martin Luther bahkan mengatakan “teologi yang sebenarnya itu praktis … teologi yang spekulatif merupakan milik iblis di neraka.”

Dari berbagai pemahaman ini, jelas bahwa teologi merupakan sesuatu yang perlu dipelajari oleh umat Allah (para hamba-hamba Tuhan) dalam arti yang sesungguhnya, dan bukan hanya mereka yang menjadi teolog profesional saja.**

Grace Emilia, M.Th. merupakan pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Bandung.

Sumber: Buletin ‘Euangelion’ Periode Februari-Maret 2015 Edisi 146 (atas seijin penulis)

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s