Mertuaku, menantuku


Ditulis oleh: Yohannis Trisfant, MTh

(Rut 1:16-17)

Pendahuluan

Dua perempuan setengah baya membawa seorang wanita muda ke hadapan Raja Salomo. Keduanya mengaku bahwa wanita itu adalah menantunya.  Salomo hening sejenak sebelum berkata, “Ambilkan pedangku dan aku akan membelah wanita itu menjadi dua. Kalian masing-masing akan memperoleh setengah darinya.”

“Ya benar, belahlah wanita ini,” kata salah seorang dari perempuan itu.

“Ampun Baginda. Saya mohon Baginda tidak melakukannya. Saya rela menyerahkan wanita ini kepada ibu itu, ” kata perempuan yang satu lagi.

Salomo berkata, “Kalau begitu berikan wanita itu pada ibu yang pertama.”

“Tetapi baginda, bukankah wanita itu yang meminta agar wanita itu dibelah saja?” Tanya penasihat raja. “

Justru karena itu saya tahu bahwa dialah mertuanya,” kata Salomo dengan penuh hikmat.

Teman, humor ini menunjukkan bahwa antara menantu dan mertua sering terjadi hubungan yang tidak harmonis.

Saya bahkan mendengar humor di seputar penciptaan Adam dan Hawa. Hawa, menurut humor di atas, dianggap sebagai wanita yg paaaaling berbahagia di dunia ini.

Saudara-saudara tahu alasannya kenapa? Karena Hawa tidak mempunyai mertua !

Sebuah pepatah mengatakan seperti ini:” “Setajam-tajamnya duri pohon lidah buaya masih lebih tajam lidah ibu mertua,” . Hubungan menantu perempuan dengan mertua perempuannya selalu digambarkan penuh konflik bagaikan hubungan kucing dan anjing, alias selalu digambarkan tidak akur. Jarang sekali digambarkan ibu mertua yang rukun dengan menantu perempuannya. sehingga bila ada seorang isteri yang menceritakan bila hubungannya dengan ibu mertuanya cukup harmonis, maka komentar yang muncul adalah, “Wah hebat, kasus langka!,” tetapi jika diceritakan tentang menantu perempuan yang sering konflik dengan ibu mertuanya, maka komentar yang akan keluar adalah “Ah itu sihBiasa!”.

Ada seseorang yang pernah berdoa demikian, “Tuhan, berikanlah aku seorang suami. Namun tolong agar suamiku itu sudah tidak punya orang tua lagi.” Mengapa berdoa demikian? Orang itu menjawab, “Karena saya sering menjumpai banyak keluarga yang mertuanya bersikap bukan sebagai penolong, tetapi perongrong.” Mungkin banyak menantu perempuan yang berdoa agar mertuanya cepat mati.

Sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan dengan menantu perempuan berada di dalam ketegangan.

Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik?

Alasannya sederhana saja. Ibu mertua merasa anak lelakinya “diambil” oleh menantunya. Selain itu sebagai Ibu kandung, sering kali ia merasa telah “disia-siakan” oleh anak lelakinya. Setelah bertahun-tahun membesarkan dan mendidik tiba-tiba saja anak lelakinya “dirampas” oleh si pendatang baru, seorang perempuan yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupan anaknya. Si Ibu merasa kehilangan. Apalagi kalau anaknya itu anak lelaki satu-satunya atau anak kesayangannya. Keadaan ini bertambah runyam jika sebelum menikah si putra adalah pencari nafkah utama (mungkin suami telah meninggal sehingga sang putra lah yang bertugas mencari uang). Sebelum menikah, mungkin sang putra lah yang selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan ibu kandungnya. Ibu kandungnya pun yang bertugas mengurus segala keperluan putranya tersebut. Tetapi ketika menikah, segala perhatian itu tentu saja ditumpahkan kepada istri dan anaknya. Si ibu merasa terhempas dan diacuhkan. Karena perasaan-perasaan itulah maka sering kali Ibu mertua bersikap “sinis”, “galak” dan selalu mengeritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai menantu perempuanyya itu dinilainya kurang. Ya, masakannya, sikapnya. Semua menurut ibu mertua tidak memenuhi kualifikasinya. Keadaan bertambah parah jika Ibu dan menantu perempuan tinggal bersama di dalam satu rumah. Apalagi tinggal di rumah milik suami atau suami masih tinggal di rumah orang tuanya. Urusan dapur pun menjadi masalah. Si Ibu mertua tidak mau “daerah kekuasaannya” diinvasi oleh menantu perempuanyya karena ia merasa dialah yang berkuasa di sana. Dia lah yang tahu selera makan anaknya.

Sementara itu istri merasa bahwa ibu mertua itu kadang suka ikut campur urusan rumah tangga mereka, selalu mengeritik pekerjannya, tidak pantas untuk anak lelakinya lah dan sebagainya. Apalagi jika ditunjang oleh sikap suami yang tidak mendukungnya. Misalnya mengeritik masakan istri tidak seenak masakan ibunya. Sikap Ibu mertua juga makin menjadi-jadi lagi jika dulu perkawinan anaknya tersebut tidak direstui olehnya. Misalnya karena perbedaan status, ekonomi atau lainnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi ibu mertua untuk “menjatuhkan” menantu perempuannya itu. Malangnya dalam kasus seperti ini sering kali menantu perempuan lah yang menjadi pihak yang “kalah”. Akibatnya menantu perempuan sering mengeluh, bahwa hidup dengan mertua perempuan bagaikan hidup dengan ibu tiri

Pertama adalah ketakutan yang berlebihan bahwa kuasanya atas anak lelakinya diambil oleh perempuan lain (menantu). Hal ini sama dengan dua wanita yang memperebutkan seorang pria. Mertua Takut kehilangan kasih, mertua merasa tersingkirkan daapt menimbulkan ketegangan hubungan dengan menantu perempuan. Tanpa disadari mungkin, kedua wanita itu berlomba mendapatkan perhatian dan kesetiaan dari pria yang sama. ibu mertua merasa telah menginvestasikan banyak dari diri mereka kepada anak-anaknya dans ekarang anak laki-lakinya itu lebih perhatian kepada wanita asing ini.

Mereka sama-sama ingin mendapatkan kasih sayang dari pria yang sama. Sang ibu merasa berhak mendapatkan curahan kasih yang paling besar karena dialah yang melahirkan anak itu. Sebaliknya, sang isteri merasa dialah yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari suaminya karena mereka telah dipersatukan menjadi satu daging.

Selain itu, kedua wanita ini, yakni mertua dan menantu saling bersaing untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada pria yang sama. Sang ibu ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada anak laki-lakinya, sedangkan sang isteri juga ingin memberikan kasih sayangnya kepada suami tercinta.

Kedua, ada perbedaan generasi antara mertua dengan menantu.

Wanita hari ini sangat beda dnegan wanita pada zaman nya mertua kita. Mertua hidup pada zaman batu, kita hidup pada zaman modern,. Mertua hidup pada zaman kompor minyak tanah, kita hidup pada zaman kompr gas dan listrik. Mertua dulu cuci baju di sungai, kita cucui baju di mesin cuci, Zaman dulu, wanita, sangat jarang ada wanita karier, teta;pi sekarang, wnakita karier ada dimana-mana. Karena wanita pada zaman sekarang berbeda dengan wanita zaman dulu, maka pasti banyak timbul konflik antara mertua dengan menantu.

Ketiga, Fakotr budaya. Orang tua merasa tetap bertanggung jawab walaupun anak mereka telah menikah. Orang tua khawatir anaknya tidak bisa mandiri, sehingga dia merasa perlu campur tangan. Pada sisi lain, anak dan menantu merasa sudah harus mandiri namun masih membuka celah untuk diintervensi, seperti masih bertanya dalam pengambilan keputusan penting.

Bagaimana menjalin sebuah hubungan yang baik? Apa yang mesti dilakukan oleh mnantu perempuan atau bagaimana sikapnya? Lalu bagaimana sikap suami?

Kita lihat dari teladan Ruth. Bagaimanakah sikap ruth terhadap mertuanya?

Ia menganggap mertua sebagai orang tuanya sendiri yang perlu ditemani, dirawat, dan dikasihi. Perhatikanlah perkataan Rut kepada Naomi, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut!” (Rut 1:16-17). Sikap Rut yang demikian manis kepada mertuanya itu diketahui dan dipuji-puji oleh banyak orang, termasuk oleh Boas (Rut 2:11).

Memang mertua ruth itu baik, enggak seperti kebanyakan mertua di dunia ini. Namun sikap yang menganggapo mertua sebagai orang tua sendiri perlu ditiru.

Jadi anggaplah ibu suamimu sebagai ibumu sendiri. Kasih ini harus Anda tunjukkan dengan secara teratur mengunjunginya dan menerimanya dengan ramah jika dia datang berkunjung. Dengan demikian, ibu mertua Anda tidak merasa disisihkan, apalagi disingkirkan. jika Anda mengalami masalah, terutama menyangkut kehidupan rumah tangga, cobalah mintalah nasihat kepada ibu mertua Anda. Tindakan ini akan membuat ibu mertua Anda merasa dihargai. Di sampingi itu, dengan berkonsultasi kepadanya, dijamin akan terjalin komunikasi yang indah dan harmonis, dan Anda bakal disayangi mertua sepe. Rut mau mendengar nasihat mertuanya. Sebagai seorang pendatang dari bangsa Moab, pastilah Rut kurang memahami adat istiadat orang Yahudi. Oleh karena itu, Naomi banyak membimbingnya, khususnya pada waktu ia mencari seorang penebusnya, yakni Boas. Respons Rut terhadap nasihat Naomi adalah: “Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan.” (Rut 3:5).

 Ingatlah bahwa mertuamu itu adalah orang yang sudah membesarkan suamimu. Oleh akrena itu berikan kepadanya penghargaan dan penghormatan bagaimanapun buruknya dia.

Kita harus menyadari bahwa orang tua sudah banyak berkorban, kita harus menghargai pengorbanan mereka. Misalnya, kita mengingat ulang tahunnnya, atau ada hari-hari khusus yang perlu perhatian dari anak/mantu mereka. Prinsipnya adalah buatlah hal-hal yang membuat mertua merasa dihargai. Begitu pula pasangan harus seimbang dalam memberi perhatian di mana menghargai keluarga besar pasangan masing-masing.

Bijaksanalah terhadap tuntutan mertua. Mungkin dia ada benarnya. Dia lebih banyak makan asam garam. Tuntutannya perlu dipertimbangkan. Dan kalua terjadi konflik, ingatlah bahwa dia itu bukan musuh. Dia adalah ibunya suami anda. Tidak mungkin terjadi hal yang seburuk yang anda duga.

Untuk mengurangi ketegangan, “Jangan mudah marah karena hal-hal remeh. Tunjukkan kepada ibu mertua penghormatan Anda melalui hal-hal kecil seperti memuji masakannya,”

Pelajarilah budaya dari keluarga suami. sejumlah penasehat keluarga dari Aware (asosiasi wanita untuk gerakan dan riset di Singapura) menyarankan kaum istri untuk mencari tahu sebanyak mungkin tentang keluarga suaminya dan peraturan-peraturan mereka yang tidak tertulis. Misalnya siapa yang biasanya makan lebih dahulu ketika akan makan bersama. Melanggar salah satu peraturan itu dapat meninggalkan kesan buruk.

Suami harus belajar mengambil keputusan sendiri dengan pasangannya. Menanyakan keputusan kepada orang tua hanya sebagai alternatif berikutnya. Yang paling penting adalah keputusan bersama suami istri.

Jangan percaya gosip dari pihak lain dan jangan mudah cerita masalah kita kepada sembarangan orang. Kebanyakan masalah keluarga termasuk antara mertua dan menantu adalah adanya laporan cerita-cerita yang disertai bumbu dari orang lain, misalnya ipar, atau keluarga lain atau juga tetangga. Mungkin kita lagi jengkel, sehingga kita ceritakan masalah kita kepada orang lain. Ini sangat berbahaya, karena ketika dilaporkan atau diceritakan kembali sudah berisi tambahan yang bisa memperuncing konflik. Itu sebabnya setiap pasangan agar tidak mudah percaya kepada cerita-cerita pihak ketiga tentang masalah internal keluarga.

Fokuskan perhatian ibu-ibu terhadap hal-hal yang baik yang ada dalam diri mertua. Hindarilah pikiran negatif mengenai dirinya Misalnya anda tahu ia adalah juru masak yang hebat. Anda dapat mengambil sisi positifnya, misalnya anda dapat belajar masak. Atau perhatiannya kepada anda. Misalnya ingat-ingat saja ketika anda sedang hamil anak pertama, ibu mertua lah yang memberi obat, mengajari anda memakai gurita dan nasihat tradisional lainnya.

Empati dengannya. Pada saat anda menikah, ibu-ibu telah memisahkan suami anda dengan ibunya. Coba bayangkan anda menjadi dia, tiba-tiba anak lelaki anda meninggalkan diri anda dan menikah serta mengasihi wanita lain. Jadi cobalah berempati terhadap dia. Resapi juga dalam hati bahwa suatu hari nanti pun ada akan menjadi “ibu mertua” juga bila anak anda kebetulan lelaki.

Bersabar dan berdoa. Ibu mertua tidak sungguh-sungguh ingin kejam terhadap anda. Koreksi diri juga penting. Mungkin selama ini ada sikap anda yang membuat ibu mertua tidak berkenan. Ingat, jika anda dapat bersabar, selalu memberi perhatian dan sikap positif terhadap ibu mertua , lama-lama ibu mertua pun akan lunak hatinya. Ingat saja, jika perilaku negatif dibalas negatif maka seringkali hasilanya tidak menggembirakan. Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah sikap Iblis. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sikap dunia. Tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sikap anak-anak Tuhan.

Lalu bagaimana posisi dari suami?. Bila terjadi konflik antara mertua dan menantu, bagaimana seharusnya suami bertindak? Di pihak mana suami kita berdiri? Apakah dengan orang tua atau pasangan? Jawabannya harus jelas bahwa suami harus berdiri di samping pasangannya. Loyalitas sudah harus berpindah dari orang tua ke pasangan. Artinya suami harus berpihak kepada istrinya lebih kepada orang tuanya. Alasannya adalah bahwa kedua pasangan yang sudah menikah sudah menjadi satu daging (Kej 2:24-25) dan dia sudah harus meninggalkan orang tuanya. Itu berarti prioritas ada pada pasangan dan bukan kepada orang tua. Ini tidak berarti kita tidak menghormati orang tua. Justru kita harus taat kepada Firman Tuhan daripada kepada manusia. Pasangan sudah menjadi satu dan bukan lagi dua. Bila salah satu dicubit, harusnya kita berdua merasakan sakitnya, bukan hanya seorang yang sakit (lihat Efesus 5: 28-29). Ia tidak akan membiarkan pasangannya disakiti, karena itu hakikat dari pernikahan Kristen.

Tegaskan kepada suami anda bahwa anak dan istri adalah prioritas utamanya walau bukan berarti ia mengacuhkan ibu kandungnya. Ibu kandung tetaplah ibu kandung. Namun jangan berlebihan. Katakan bahwa sekarang ia telah memiliki keluarga yang harus diurusnya dulu. Misalnya suami tetap mengutamakan kepentingan ibu kandungnya dahulu daripada anda. Sebagai istri anda wajib menegurnya. Tetapi jangan lalu bersikap “sewot” terhadap mertua. Jika kelakuan ibu mertua sudah terlalu jauh, misalnya sudah terlalu ikut campur urusan rumah tangga anda atau sudah keterlaluan mengata-ngatai anda maka kini saatnya lah anda minta suami anda untuk “menegur” ibu kandungnya. Tentu saja dengan kata-kata yang sesuai “ukuran timur”. Kalau anaknya sendiri yang mengatakan tentu si ibu mertua akan cepat memaafkan dan melupakannya. Lain halnya jika anda yang mengatakannya sendiri kepada ibu mertua. Kemungkinan hubungan anda dengan dia akan bertambah runyam dan kata-kata anda itu mungkin tak dapat dilupakannya.  Jika pertengkaran antara ibu mertua dan menantu perempuannya tak dapat dihindari, suami sebaiknya menjadi penengah yang adil. Katakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Misalnya, mertua perempuan mengatakan bahwa anda kawin dengan anaknya hanya untuk hartanya saja. Suami anda sebaiknya membela anda dengan mengatakan kepada ibunya bahwa hal itu tidak benar.  Ingatkan suami untuk selalu memperhatikan ibu kandungnya walaupun sekarang anda dan anak adalah prioritas utama suami. Mungkin dengan membelikan oleh-oleh yang sama nilainya jika suami bepergian dapat menjadikan hati ibu mertua senang. Misalnya , suami anda membelikan kain batik yang kualitasnya sama dengan yang dibelikannya untuk anda. Hitung-hitung juga suami membalas budi orang tuanya.