Coram Deo


Oleh: Pdt. Liem Kok Han, S.Th

Matius 6:1-6, Matius 15:7-9, Lukas 18:9-14

Orang Kristen kadang-kadang memiliki konsep bahwa hari Minggu adalah hari “mencharge batere”. Karena hari Sabtu batere sudah mulai kedip-kedip dan mau mati, maka hari Minggunya di“charge” di gereja. Betulkah konsep ini? SALAH! Mengapa? Karena seharusnya setiap hari kita mengisi batere kita sendiri dengan pembacaan firman Tuhan dan doa. Lalu hari Minggu datang beribadah dengan antusias ingin memberi segala syukur dan kemuliaan untuk Tuhan. Bukan sudah lowbat, lalu pergi ke gereja dan disiram firman lalu segar kembali. Akhirnya kita menjadi orang yang sekarat secara rohani di tiap akhir pekan. Seharusnya setiap hari kita memiliki persekutuan yang indah dan yang hidup dengan Tuhan, serta ada antusias rohani sehingga sepanjang Minggu dapat mengalami hadirat Tuhan. Inilah konsep ibadah yang benar. Namun sering orang yang ke Gereja datang dengan keletihan pikiran, ingin mencari istirahat dan hanya ingin menikmati Khotbah yang enak. Akhirnya Gereja hanya dijadikan tempat entertain belaka. Seharusnya kita sadar bahwa saat kita beribadah, kita sedang menghadap Tuhan dan ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk Tuhan agar Tuhan yang menikmati ibadah kita dan bukan kita yang menikmati Tuhan. Konsep ini jangan sampai terbalik. Seorang Hamba Tuhan, Richard Pratt berkata jangan sampai kita terjebak dengan ibadah yang sifatnya up-side-down worship. Maksudnya ibadah yang arahnya terbalik dimana Tuhan tidak lagi menjadi pusat ibadah.

Pdt Dr Stephen Tong pernah mengatakan kata-kata yang cukup membuat saya shock. Ia berkata, “Terkutuklah manusia yang tidak mencintai Tuhan!”. Kata-kata tersebut kedengarannya sadis, sekaligus membuat saya menyelami alasannya. Akhirnya saya menyimpulkan kata-kata itu adalah wajar. Mengapa? Jika ada seorang anak yang tidak mencintai orang tuanya dan tidak mau berbakti kepada orang tua, maka anak itu dapat disebut sebagai anak durhaka. Demikian juga antara manusia dengan Tuhan. Jika manusia tidak mencintai Tuhan yang telah menciptakannya dan tidak mau untuk menyenangkan Tuhan maka orang itu tidak layak disebut manusia. Maka manusia yang sudah mengenal Tuhan dan mengalami penebusan Kristus seharusnya mencintai Tuhan sampai akhir hidupnya. Amin? Semakin mengenal Tuhan maka hati akan semakin digerakkan untuk mencintaiNya.

Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp. 1:21). Seorang hamba Tuhan pernah berkata, “Di dalam dunia ini engkau boleh tidak memiliki apapun, tetapi jika engkau memiliki Kristus, cukup!” Pengertian ini sangatlah dalam. Paulus berkata, “Aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Flp. 3:8). Paulus yang telah mengalami kebesaran Tuhan rela meninggalkan seluruh yang ia miliki, bahkan nyawanya untuk Kristus. Mengapa? Karena cinta Tuhan yang membuatnya demikian tertarik untuk hidup menyukakan hati Tuhan. Biarlah kita yang sudah ditebus semakin hari dapat semakin mengenal dan mencintai Tuhan. Dalam Reformed terdapat istilah Coram Deo yang akan kita bahas dalam Khotbah kali ini, yaitu hidup mengalami suatu hidup ibadah yang benar dan kesalehan yang benar untuk menyenangkan hati Tuhan.
Ayat bacaan diambil dari Mat. 6:1-6. Ini merupakan bagian pengajaran Tuhan saat Yesus di bukit. Di Mat. 5, Tuhan Yesus memberi pengajaran yang mengoreksi hidup kaum Farisi dan ahli Taurat. Yesus mengatakan, “Jika kehidupan agamamu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga”. Istilah kehidupan agamamu dalam bahasa Inggrisnya, your righteousness. Maksudnya di dalam mengaplikasikan firman Tuhan harus melampaui kesalehan orang Farisi dan Ahli Taurat. Orang Farisi dan Ahli taurat melakukan puasa 2x seminggu, berdoa 3x sehari, memberikan perpuluhan dan sedekah. Adakah dari kita yang memenuhi setiap hal itu? Mereka melakukan kewajiban-kewajiban agama yang demikian kompleks dengan sangat teliti bahkan dapat dibilang sempurna. Mereka tidak mau sampai lalai dan bertele-tele. Setiap hari mereka memikirkan hanya hal-hal agamawi, memikirkan cara agar firman Tuhan dapat tetap berjalan dengan konsisten. Yesus menuntut agar kita dapat hidup melebihi mereka. Tuhan Yesus tidak mengukur dengan hal yang bersifat kuantitas (banyaknya) dan frekuensi (seringnya), tapi Tuhan Yesus menekankan kualitas iman kita. Di bagian lain Tuhan Yesus berkata, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu dihadapan orang supaya dilihat mereka” (Mat. 6:1) Artinya di dalam kita menerapkan firman Tuhan, jangan ditujukan untuk dilihat orang lain melainkan ditujukan kepada Bapamu yang di sorga. Kehidupan agamawi orang Farisi ditujukan agar dilihat oleh manusia sehingga orang yang melihat menjadi terkesan dengan hidup mereka. Kesalehan mereka bukan keluar dari hati yang mencintai Tuhan. Mereka sedang mengadopsi tingkah laku agamawi. Istilah yang lebih tepat adalah Hypocrite. Maksudnya seperti seorang bintang film dalam memerankan peran yang begitu baik sampai orang terkagum-kagum kepadanya yang sebenarnya tidak memiliki realitas di dalamnya. Mereka melakukan keagamaan yang semu (pseudoreligiosity) yang ditujukan untuk dilihat manusia belaka. Yesus mengecam, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku” (Mat. 15:8). Tuhan Yesus mengatakan bahwa yang mereka lakukan hanyalah perintah manusia dan bukan sedang meresponi firman Tuhan. Secara fisik atau fenomena memang mereka seperti sedang menaati firman Tuhan, namun kenyataannya firman Tuhan sudah turun derajatnya dan dianggap sebagai tradisi dan perintah manusia saja.

Yesus menggambarkan kehidupan agama pada waktu itu seperti dua orang yang pergi ke Bait Allah, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi datang dan berdoa, “Tuhan aku bersyukur kepadaMu karena aku tidak seperti orang berdosa yang lain. Aku tidak lalim, bukan pezinah, dan bukan pula pemungut cukai.” Sedang si pemungut cukai menepuk dada dan berdoa, “Tuhan kasihanilah aku orang berdosa ini”. Yang satu mengatakan ia cukup setia pada firman Tuhan namun sebenarnya hidupnya jauh daripada Tuhan. Saudara, pandangan Tuhan sungguh berbeda, banyak hal yang mengejutkan dalam penilaian Tuhan. Orang yang kita kira sangat rohani, di hadapan Tuhan adalah nothing. Namun orang yang dianggap sampah oleh masyarakat, tidak berguna dan begitu rendah justru adalah orang yang berkenan di hati Tuhan.

Coram Deo, kita harus senantiasa menyadari bahwa kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan. Semakin mengenal Tuhan maka semakin tidak menegakkan diri atau menonjolkan diri. Pengenalan kita akan Tuhan sangat mempengaruhi hidup ibadah, hidup kesalehan dan hidup aktivitas rohani kita. Coram Deo adalah istilah besar, kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan, Allah yang Mahahadir dan yang Mahatahu. Saat hidup dalam dunia ini, kita harus menyadari bahwa hidup kita sedang dilihat Tuhan. Apapun yang sedang kita kerjakan kita harus sungguh menyadari bahwa kita sedang melakukannya di hadirat Tuhan, Pemilik alam semesta ini.

Salah seorang teman saya yang adalah Rektor Sekolah Teologi suatu hari diundang oleh Alm. Mantan Presiden Soeharto ke Istana Negara. Ia sangat senang akan bertemu Presiden dan sharing ke dosen lain serta mahasiswanya. Sebenarnya ia hanya satu dari seribu orang yang diundang tetapi senangnya bukan main. Ia pun tiba di Istana Negara dan antri untuk menyalami Presiden. Saat giliran ia mendekati Presiden dan menjabat tangan, ia menyalami Beliau dengan membungkuk. Ia membungkuk karena menyadari kebesaran Soeharto saat itu. Itu baru kepada Soeharto saja gentarnya bukan main dan merasa kagum, apalagi kepada Tuhan empunya semesta alam. Seharusnya sikap hati ini dimiliki orang Kristen saat datang menyembah Tuhan. Sikap hati demikian akan membuat kita tidak berani datang terlambat beribadah, tidak berani bermain-main saat ibadah. Seperti penulis kitab Pengkhotbah yang menyadari bahwa dirinya ada di bumi dan Tuhan di surga, ada perbedaan kualitas yang terlampau besar. Namun, seringkali kita mengganggap Tuhan equal dengan diri kita dan bisa memperlakukan Tuhan dengan semau kita.

Dalam kehidupan ibadah, kita dapat terjebak dalam dua hal. Pertama, terjebak dengan rutinitas. Rutinitas menjadikan kita lama-lama terbiasa dan lama-lama bosan. Pikiran sudah men-setting bahwa hari Minggu harus ke gereja, lama-lama merasa bosan dan akhirnya terpaksa ke gereja karena ada rasa guilty feeling. Sehingga pergi ke gereja hanya untuk menutupi rasa guilty feeling saja. Tidak mempedulikan khotbah apa yang didapat. Sehingga bertahun-tahun ke gereja sama saja hidupnya, karena tidak ada firman yang mengubah. Inilah gambaran rutinitas yang mematikan. Jika dihitung, persiapan seseorang sampai dengan pulang Gereja memakan waktu 4-5 jam. Betul? Lalu memberikan persembahan pula. Saudara telah mengeluarkan tenaga, waktu, uang untuk pergi beribadah sehingga kadang terlintas pikiran egois yang positif, yaitu ingin mendapatkan keuntungan rohani dari ibadahnya. Rata-rata orang Kristen ada tuntutan, kerinduan atau passion agar ibadah dihadiri oleh Tuhan. Namun terkadang Tuhan melihat hal itu dan menjawab, “Aku muak dan jenuh dengan persembahanmu.” Saudara bayangkan, saudara sudah rasa berkorban tetapi Tuhan datang lihat dan bilang jijik. Parahnya, kita tidak menyadari hal itu maka kita sebenarnya idiot secara rohani. Inilah kecelakaan paling besar jika kita menganggap ibadah sebagai rutinitas ritual. Berada dalam gereja dengan sikap yang tidak panas dan tidak dingin, Allah pun muak melihatnya. Kita pun sudah terjebak dengan rutinitas agama yang palsu. Gereja-gereja di seluruh dunia pun banyak yang tanpa sadar sudah terjebak dengan rutinitas ini dengan tidak menyadari bahwa seharusnya ibadah diarahkan untuk Tuhan. Istilah ibadah dalam bahasa Inggris sungguh baik, yaitu Sunday Service (Minggu Melayani). Kita sedang melayani Raja di atas segala Raja dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk menyenangkanNya? Sudah seharusnya anak-anak tebusan Tuhan yang telah menikmati berkat Tuhan datang dengan penuh rasa syukur. Ada satu cerita tentang sepasang suami istri yang belasan tahun hidupnya harmonis. Suaminya sangat romantis. Setiap istrinya ulang tahun maka ia selalu memberi seikat bunga mawar merah. Istrinya sangat senang dan bertanya, “Kok kamu selalu romantis sih memberikan bunga mawar ini setiap aku ulang tahun?”. Sang suami menjawab, “Ah nggak repot koq mam, aku cuman suruh atur sekretaris dan pembantu untuk melakukan semua itu”. Mendengar itu istrinya lemas dan sedih karena merasa sudah tidak ada desire dan love dalam setiap pemberian suaminya karena sudah dianggap hal yang rutin. Janganlah kita sampai terjebak dengan rutinitas karena hal itu menyedihkan hati Tuhan. Tuhan sangat mencintai kita, Ia telah memberikan yang terbaik bagi kita. Ia rela datang dalam dunia dan mati untuk kita, maka sudah sepantasnya jika Tuhan dilayani dengan cinta kasih. Amin saudara? Saat kita merasa jenuh dan bosan maka lambat laun akibatnya kita akan menjadi bersungut-sungut. Kalau sudah bersungut-sungut maka keluar sungut/tanduknya dan berani melawan Tuhan. Seperti Bangsa Israel yang tegar tengkuk. Sudah dikeluarkan dari rumah perbudakan di Mesir untuk menjadi Tuan tanah di tanah Kanaan yang makmur, namun masih saja bersungut-sungut. Padahal Tuhan sudah memiliki master plan yang bagus sekali. Tuhan memanggil Israel keluar supaya bangsa itu beribadah dan melayani-Nya, itu saja. Mereka beribadah, maka sisanya adalah bonus. Bonusnya adalah Tanah Kanaan yang sangat makmur. Tuhan tidak kurang baik tapi memang Israel yang kurang ajar. Sewaktu perjalanan di padang gurun Tuhan menyiapkan tiang awan di siang hari agar mereka tidak kepanasan, dan tiang api di malam hari agar tidak kedinginan, Tuhan menyiapkan mata air yang keluar dari batu yang sangat jernih dan bebas polusi, Tuhan juga menyiapkan manna. Mereka minta daging, Tuhan kirim burung puyuh. Namun bangsa Israel justru mengatakan, “Apakah di Mesir tidak ada kuburan, sehingga kami harus mati di padang gurun ini?” Saudara coba bayangkan perasaan Tuhan yang sudah memberikan perhatian terbaik justru malah dituduh ingin mencelakakan.

Kedua, terjebak menjadi orang munafik. Jika yang pertama adalah rutinitas sehingga tidak ada semangat, namun orang munafik justru bersemangat sekali. Banyak aktifitas rohani yang dilakukan dan sangat rajin. Namun Tuhan berkata, “Kerajinannya bukan untuk menyenangkan Aku, tapi hanya untuk dilihat dan dipuji oleh manusia.” Motivasi kegiatan rohaninya adalah untuk mendapatkan respek dan apresiasi dari manusia. Saat dipuji ia menjadi bangga. Sehingga jika dibiarkan tanpa disadari kita sedang melakukan tindakan-tindakan yang sedang mencuri kemuliaan Tuhan. Sering saya temui orang Kristen yang dualisme. Di dalam Gereja ia menjadi orang yang nampak saleh, dermawan, suka membantu orang, suka menyumbang tetapi di dalam keluarga atau lingkungan sehari-harinya sangat berbeda. Saya pernah diminta istri saya mengantarnya belanja ke pasar. Dengan sikap bos saya memberikan waktu 1 jam kepadanya untuk membeli semua keperluan. Istri saya pun stress diberi waktu yang sempit. Saat saya menunggu istri saya dalam mobil, saya menyadari bahwa saya kurang sabar terhadap istri tapi saya dapat sabar dengan jemaat. Saya menyesal dan minta ampun kepada Tuhan. Demikian pula dalam membagi waktu dengan anak saya. Padatnya jadwal KKR membuat saya letih dan ingin sekali beristirahat namun ketika anak saya mengajak bermain, saya belajar melupakan rasa capek saya dan akhirnya memberi waktu kepada anak-anak. Selain capek fisik terkadang masih capek pikiran karena ada orang yang salah mengerti maksud saya dan menyalahkan saya. Kadang saya benar-benar merasa letih dan mengaduh minta Tuhan untuk berhenti saja. Namun suara hati langsung mengingatkan “Tidak boleh berpikir seperti itu. Orang lain bicara apa, tidak usah dipedulikan. Kamu harus tetap setia melayani Tuhan”. Saat melayani Tuhan dan melakukan kehendakNya kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Yang penting adalah Tuhan senang, terserah orang lain menjadi tersanjung atau tersinggung. Saudara, kadang kita terjebak dalam hidup yang hypocrite seperti lagunya Ahmad Albar, “Dunia ini panggung sandiwara. Semua mudah berubah, dst” Jadi hidup ini ibarat sandiwara. Orang yang hidup benar dan tidak bersandiwara tidaklah gampang. Menjadi orang yang baik dan orang yang benar lebih susah mana saudara? Orang benar. Mengapa? Karena kita harus selalu menyampaikan kebenaran meskipun orang tidak menyukai tetap harus kita jalankan demi kemuliaan Tuhan. Amin?
Saudara hendaklah jangan menjadi orang munafik karena kita hanya menipu diri, menipu orang lain dan sedang melecehkan Tuhan. Allah adalah pribadi yang Mahahadir dan Mahatahu, ia tahu segala kepura-puraan kita. Jika masih berpura-pura itu artinya kita sedang melecehkan Tuhan. Sekarang di Jakarta ini ada trend baru. Orang yang suka mejeng tidak perlu repot membeli tas atau sepatu impor karena sudah ada penyewaan tersendiri. Bisa ganti-ganti penampilan tanpa bayar mahal untuk memberi kesan bahwa dirinya orang mampu. Itu bukanlah cerminan hidup yang original karena hanya untuk menimbulkan kesan orang saja. Orang yang hypocrite seperti ini sibuk buka lubang tutup lubang untuk menutupi kekurangannya, pura-pura punya uang padahal tidak punya uang. Demikian pula yang terjadi dalam pekerjaan Tuhan, kita hanya mencari kesan dari orang lain dan bermain play safe menyukakan hati semua orang di lingkungan Gereja.

Untuk menjembatani kedua ekstrim di atas maka kita harus hidup sesuai dengan semangat Reformed, Coram Deo. Terus hidup dalam hadirat Tuhan, terus hidup meminta belas kasihanNya. Coram Deo berarti kita mau hidup saleh. Hidup saleh yang bagaimanakah yang diperkenan Tuhan? Saleh, bahasa Inggrisnya: Pity, pietis. Istilah your righteousness, artinya melihat kebenaranmu. Orang saleh adalah orang yang hidup dalam hadirat Tuhan yang menyadari bahwa seluruh tindakannya adalah respons kepada Tuhan. Tuhan yang berdaulat atas hidupnya dan apa yang dilakukannya adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan. Amin? Coram Deo artinya menyadari bahwa Tuhan Mahahadir dan Mahatahu sehingga kita jujur dengan Tuhan, jujur dengan diri dan menjadi orang yang berintegritas di lingkungan sekitar. Tidak bermuka dua namun bermuka satu. Kehidupan saleh adalah hidup yang terus bergaul dengan Tuhan. Maksudnya mengikuti Tuhan kemana Tuhan pimpin, dan mengikuti setiap pembentukan Tuhan dengan setia. Seperti seorang budak yang terus mengikuti tuannya dan ia peka dengan kemauan tuannya, merespon apa yang menjadi kesukaan tuannya dengan tidak tunggu diperintah. Alkitab katakan, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal…” (1 Tim. 4:8). Jadi kita perlu melatih ibadah. Dulu saya pernah menjadi atlet. Bagi seorang atlet olahraga bukan lagi menjadi sekedar hobi atau untuk kesehatan saja melainkan demi sebuah prestasi. Melatih diri melakukan yang terbaik untuk menjadi juara utama. Saya melakukan olahraga untuk memelihara stamina supaya dapat menjadi seorang juara. Demikian juga dengan hidup saleh. Kita bukan hidup rutin saja dengan tidak ada visi dan antusias. Kita seharusnya melatih ibadah untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Dalam Alkitab, Daniel adalah seorang yang melatih ibadah dengan tekun dan disiplin, sehari berdoa tiga kali. Doa sudah menjadi lifestyle-nya dan komitmennya mengakui Tuhannya lebih berdaulat dari pemerintahan rajanya. Baginya, ibadah sudah menjadi prime time yang tidak dapat diganggu gugat. Apakah kita sudah menempatkan Tuhan seperti itu? Atau masih menomor-duakan Tuhan? Sudahkah kita mendisiplin hidup untuk mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya? Saya tidak habis pikir Martin Luther sehari berdoa 3-4 jam. Kira-kira apa yang didoakan? Saudara kalau berdoa sehari berapa jam? Saudara kalau sempat pelajarilah Doa Bapa Kami. Saya meneliti Doa Bapa Kami dan pembahasannya sangat lama, bisa berjam-jam. Waktu menyebut kata Bapa, ini adalah satu hak yang sangat special. Hanya orang yang sudah ditebus dan dibenarkan menjadi anak Allah memiliki hak untuk menyebut Tuhan adalah Bapa. Ini anugerah yang spesial dan harusnya Saudara bangga dan terharu. Bapa kami, berarti yang menyebut Bapa bukan hanya saudara tetapi anak Tuhan yang lain juga dapat memanggil. Kita sudah masuk dalam family of God, memiliki banyak saudara seiman dalam satu keluarga besar Allah. Kalimat “Bapa Kami di dalam Sorga” artinya saudara sedang mewakili orang lain berdoa, saudara sedang mewakili kami-kami yang lain. Maka sewaktu berdoa jangan hanya memikirkan diri sendiri tapi harus mewakili orang lain berdoa syafaat kepada Bapa di Sorga. Indah bukan? Ini sudah dieksposisi berjam-jam dan jika saya ingat dan merenungkan kalimat Bapa Kami di Surga saja, sudah memiliki satu kesukaan dan kebangunan tersendiri dalam doa.

Kita sebagai anak-anak Tuhan saat menjalankan hidup ibadah janganlah jatuh menjadi orang hypocrite yang hanya untuk dilihat dan menyenangkan manusia, namun dilihat oleh Tuhan. Mari belajar mendisiplinkan diri seperti Daniel yang 3x berdoa, menikmati interpersonal fellowship with God. Jangan berdoa cepat-cepat ingin langsung amin. Saudara bayangkan jika orang berbicara kepada Saudara tapi tidak memperhatikan Saudara, perhatiannya kemana-mana, bagaimana reaksi Saudara. Sambil bicara seharusnya kita menikmati persekutuan dengan Tuhan, berlama-lama denganNya. Ada seorang ayah yang memiliki anak di Singapore. Ayahnya berkata, “Liburan kali ini papa tidak datang ke Singapore, ayah kirim uang saja. Kamu mau pergi tour kemana silahkan tinggal bilang, nanti uangnya papa transfer.” Anak ini menjawab, “Aku tidak mau uang papa, aku mau liburan dengan papa. Aku tidak mau tour tapi inginnya kumpul dengan papa.” Kadangkala kita lebih suka dengan berkat Tuhan daripada menikmati Tuhannya sendiri. Allah adalah Allah yang berpribadi, jangan hanya mencari berkatNya. Tuhan berkata, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu“. Jadi, saat saudara berdoa dalam tempat yang tersembunyi, Allah yang invisible akan memberi yang saudara perlukan untuk kemuliaan Tuhan. Jika saudara sudah aktif melayani tetapi orang tidak mengingatnya, jangan merasa kecewa atau sedih karena memang pelayanan saudara ditujukan untuk Tuhan. Jika orang tidak respect atau bahkan disalah-mengerti lalu saudara mundur, berarti saudara Hypocrite karena hanya ingin mencari perkenan manusia. Tuhan ingin kita menjadi orang yang jujur dan selalu sadar bahwa dirinya sedang beribadah kepada Tuhan. Mari siapkan waktu untuk membaca firman dan berdoa setiap hari. Jika perlu berikan waktu untuk break dari segala aktifitas untuk diam dalam hadirat Tuhan, minta dibangunkan lagi hidup spiritualitas saudara sehingga dapat memberi persembahan yang terbaik untuk kemuliaanNya. Amin? Biar Tuhan yang menolong dan memberkati firmanNya.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Coram Deo

  1. kevin says:

    Terima kasih, sungguh tulisan yang luar biasa.
    Tetap semangat melayani Pak Liem.
    Tuhan memberkati.

  2. Jose Tambunan says:

    Manusia lebih mudah lupa. Dan juga mudah terdistraksi oleh apa yang kelihatan, sementara kita tahu bahwa hal-hal rohani yang bernilai luhur justru tidak terlihat mata.
    Sangat banyak ayat Alkitab yang mengajar kita untuk: Fokus pada teladan Yesus, memikirkan perkara yang di atas, memperhatikan yang tak kelihatan, dll..
    namun kembali lagi.. manusia sering mudah lupa..
    Agar tidak lupa maka harus menjadikan semua itu sebuah kebiasaan.

    Kita adalah warga kerajaan Sorga dan harus membiasakan diri dengan semua itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s