Positive Thinking


Positive Thinking makin populer akhir-akhir ini, bukan saja karena kata itu sendiri sudah memberi kesan positif tetapi juga karena menekankan kekuatan berfikir ‘think’ yang menjadikan gengsi generasi masakini. Buku-buku bertema positive thinking makin banyak diterbitkan dan seminar-seminar demikian ramai diadakan di perusahaan-perusahaan. Bukan hanya itu belakangan ini makin banyak pendeta mengikuti pelatihan positive thinking dan banyak gereja mulai mengundang para ‘positive thinkers.’ Di balik itu sudah mulai ada gereja-gereja yang menyadari bahwa pemikiran demikian sekalipun menarik membawa misi yang kontra produktif bagi iman kristen, itulah sebabnya YABINA dalam tiga bulan terakhir ini diundang banyak gereja untuk membahas masalah Positive Thinking itu.

PENGARUH ajaran positive thinking menyebar dengan luar biasa. Bila kita membaca koran, akan sering ditawarkan pelatihan-pelatihan dan seminar yang menonjolkan ‘Program Pengembangan Diri’ (self improvement program / human development program).

Berbagai istilah dipopulerkan dalam pelatihan/seminar demikian, seperti percaya diri, perbaikan diri, potensi diri, pencapaian diri, aktualisasi diri dan lainnya yang pada umumnya menekankan bahwa manusia memiliki kekuatan/ kuasa diri yang dapat dikembangkan demi mencapai sukses hidup.

DIRI (SELF)

Secara umum, diri (self) manusia dipercaya memiliki kekuatan atau kuasa yang sudah inheren di dalam diri manusia. Diri (self) manusia ini dianggap mengandung kekuatan yang bisa digali oleh manusia. Diri ini disebut dalam berbagai nama seperti potensi, kekuatan, daya batin, kuasa yang dalam serial film Star Wars dikenal sebagai The Force.

Dalam pelatihan/seminar pengembangan diri, memang nama ‘diri’ itu bisa dijumpai dalam berbagai sebutan yang menarik. Misalnya Anthony Robbins menyebutnya ‘the giant within you,’ HND-Training di Bandung menyebutnya ‘the diamond in you.’

Diri yang memiliki kekuatan ini dalam istilah mistik yang melatarbelakanginya disebut dalam berbagai nama, seperti chi (China), Kundalini/Prana (India), ki/reiki (Jepang), dan Tenaga Dalam/ sukma kawekas (Indonesia/Jawa) .

Sejalan dengan keyakinan mistik yang menganggap bahwa diri manusia itu bersifat ilahi atau bagian dari kekuatan keilahian (micro cosmos), maka sering diri manusia itu diidentikkan dengan ke ilahian dan juga dikaitkan dengan konsep theisme kristen.

Bebetrapa buku mengenai Gerakan Zaman Baru (new age) menyamakan Chi sebagai ‘ruach elohim,’ bahkan Carl Jung pakar psikologi yang terpengaruh ajaran mistik timur itu menyebut diri manusia sebagai ‘Imago Dei’ gambar Allah dalam diri manusia.

Tidak kurang beberapa pelatih pengembangan diri yang beragama Kristen mempopulerkannya sikretisme konsep diri mistik dengan kekristenan dan menyebutnya sebagai ‘the leader within you’ (John C. Maxwell), ‘the huge reservoir’ (Norman Vincent Peale), dan mendorong orang mengucap ‘My strength is made perfect in my strengths’ (Purpose Driven Life).

Paulus Winarto sering diundang gereja-gereja untuk membawakan pelatihan yang pernah ditulisnya dalam buku ‘reach your maximum potential’ dan tidak kurang tokoh persekutuan mahasiswa Kristen mengajarkan hal yang sama (Dale Carnegie) .

Secara umum pengidentifikasian konsep ‘Diri’ dengan ‘Tuhan’ menempatkan manusia setara dengan Allah. Salah seorang tokoh Gerakan Zaman Baru (new age) yaitu Shirley Mc.Laine menyebut dengan lantang: “I am god.”

SUKSES

Bila kita mengamati pelatihan/ seminar pengembangan diri itu, apakah itu dilakukan oleh seorang new ager maupun yang beragama kristen, umumnya yang ditawarkan adalah dengan kemampuan dalam diri seseorang bisa dicapai sukses dan kehidupan berkelimpahan.

Sukses disini yang dimaksudkan adalah sukses menurut ukuran dunia, jabatan tinggi dengan penghasilan yang tinggi pula.

Sumber: YABINA

MISI YABINA

Pengaruh yang begitu kuat pelatihan/seminar pengembangan diri yang menarik banyak orang dunia termasuk juga orang kristen yang bahkan mengadakan pelatihan/seminar yang sama di lingkungan gereja, tentu saja mendapat tanggapan dari banyak orang Kristen lainnya.

Advertisements

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s