Kepercayaan Situasional vs Biblikal


Peristiwa penderitaan dan penyaliban Yesus telah menghancurkan segala harapan yang ada di dalam hati para murid-Nya. Mereka yang percaya bahwa Yesus lah Mesias yang dijanjikan, yang telah melihat mujizat Yesus, yang hidup bersama-Nya, dan yang menikmati kasih dan perhatian-Nya, serta didikannya, kini menjadi orang yang paling malang dalam dunia ini! Mereka melihat Yesus Kristus, Tuhan dan Sang Guru, harus mati di atas kayu salib. Itulah sebabnya, para murid kembali kepada profesi mereka yang lama, yang mereka telah tinggalkan. 

Salah satu peristiwa kekecewaan para murid yang dicatat dalam Kitab Injil Lukas adalah dua orang murid Tuhan yang pergi ke Emaus (Lukas 24:13-35). Mereka ke Emaus karena Sang Guru telah tersalib dan mati. Harapan mereka pun pupus dalam penderitaan dan penyaliban Sang Guru. Mungkin kita berkata, “Wajar saja mereka sedih, karena kehilangan Sang Guru, yang mati di atas kayu salib!”Kehilangan Sang Guru tentu membuat mereka sedih, itu benar! Tetapi, apakah ini yang Tuhan Yesus kehendaki dari para murid-Nya? Jelas tidak! Perjumpaan Yesus dengan dua orang murid-Nya tersebut menjelaskan, bahwa selama itu, para murid memiliki kepercayaan kepada Yesus bersifat “situasional,” yaitu ketika Yesus sanggup mengatasi masalah mereka dan menyatakan kuasa-Nya, mereka mau percaya dan setia pada-Nya. Namun sebaliknya, ketika segalanya berjalan tidak sesuai dengan harapan kita; masihkah kita percaya kepada-Nya?

Inilah yang Tuhan Yesus ingin ajarkan kepada para murid-Nya, yakni agar kepercayaan mereka tidak dibangun berdasarkan situasi yang mereka rasakan ataupun alami; tetapi dibangun di atas kebenaran dan janji firman Tuhan. Jika firman Tuhan tinggal dalam hati kita dan melandasi kepercayaan kita, maka hati kita akan berkobar-kobar; sekalipun situasi hidup kita tidak cukup baik; seperti perkataan para murid: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara kepada kita… Dan… menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Luk. 24:32). “Kobaran inilah yang membuat mereka kembali ke Yerusalem, untuk meneruskan perintah Tuhan.

Bagaimana dengan Anda? Dalam memperingati Hari Paskah 2013 ini, kita semakin bertumbuh di dalam firman-Nya, sehingga kuasa kebangkitan-Nya sungguh dapat kita hayati dan rasakan dalam hidup kita hari lepas hari. Bangunlah iman Anda bukan di atas situasi hidup, tetapi dibangun di atas firman Tuhan yang hidup.

“SELAMAT HARI PASKAH 2013, TUHAN MEMBERKATI KITA.”

Sumber: Editorial  GKA Gloria, Maret 2013

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Devotional. Bookmark the permalink.