At The Cross


Oleh: Pdt Alex Lim

Hari “Kesengsaraan Tuhan Yesus” kita sebut “Jumat Agung”. Ada banyak orang memahami hari yang bersejarah bagi iman Kristen tersebut, tetapi adakah orang yang hadir pada hari yang Agung itu? Ketika Yesus disalib, orang-orang Yahudi, serdadu-serdadu dan prajurit-prajurit Romawi merayakan kemenangan kematian Yesus di atas kayu salib. Murid-murid merasa gagal dan sirna harapannya. Bagi Allah merupakan suatu kemenangan, rencanaNya yang dinubuatkan berabad-abad dan misi yang mulia dalam diri Tuhan Yesus sudah digenapi secara sempurna, maka Yesus berkata: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Bagaimanakah sikap orang-orang menyambut hari-hari kesengsaraan Yesus?

At the Cross (Mat. 27:27-31)

Ketika Yesus digiring serdadu-serdadu dan wali negeri ke pengadilan, namun tidak ada keadilan untukNya. Mereka melecehkan Yesus, pakaianNya dicopot satu persatu. Mereka mengenakan mahkota duri sebagai penghinaan dan penyiksaan. Mereka mengolok-olok Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahiNya dan mengambil bulu itu dan memukulkannya ke kepalaNya.” (Mat. 27:27-31). Lalu mereka keluar untuk menyalibkan Dia. Bukankah hari ini masih banyak orang turut melecehkan Kristus dan menyiksa pengikut-pengikutNya? Apa yang kita lakukan di samping salibNya?

Take Up the Cross (Mat. 27:32-44)

Dalam perjalanan menuju ke bukit Golgota, Yesus tidak kuat lagi memikul salibNya, mereka memaksa Simon untuk memikul salib Yesus (Mat. 27:32). Di manakah murid-muridNya tidak ada satupun yang datang ikut menggotong salib Yesus, di manakah penggemar/pengikut Yesus, yang pernah mengecap berbagai kesembuhan, orang buta, orang tuli, orang timpang, yang kerasukan, yang dikenyangkan oleh roti dan yang dibangkitkan dari kematian? TIDAK ADA SATUPUN yang menawarkan diri dengan sukarela memikul salibNya. Yesus pernah berkata, “Barang siapa tidak memikul salibNya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu.” (Mat. 10:38). Hari ini banyak orang tidak rela memikul salibnya sendiri jika ada itu karena terpaksa. Tuhan Yesus rela memikul salib untuk kita, hidup matiNya berarti bagi kita. Charles Spurgeon, berkata ”As long there is breath in our bodies, let us serve Christ; as long as we can thinks, we can speak, we can work, let us serve him with our last gasp, let set some work to glorify Him before we face dead.”

Die On the Cross (Mat 27:45-56)

Sesudah Yesus berteriak, “Eli, Eli lama sabakhtani” (Mat. 27:46) Lalu, “Yesus, berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya.” (Mat. 27:50). Inilah kematian yang paling besar, kematian di atas kayu salib bukan karena kejahatan diriNya. Selama berabad-abad hukuman perbuatan jahat/dosa oleh Romawi berakhir di kayu salib. Tapi Kematian Yesus adalah demi dosa-dosa manusia, bukan karena diriNya. Kematian yang sangat berarti dan mulia bagi kita semua.

Maynard Belt dalam khotbahnya “Anda Tidak Dapat Minum Anggur.” Ilustrasi ini memberi makna rohani yang dalam. Saat Perjamuan, Tuhan menggunakan dua simbol, yaitu makan roti dan minum anggur. Roti melambangkan tubuh Kristus; anggur melambangkan darahNya yang tercurah. Akan tetapi bagaimanakah anggur-anggur tersebut dapat menjadi minuman harum dan manis? Anggur yang matang dan lezat harus dihancurkan dan diperas seluruh airnya baru bisa menjadi minuman harum dan manis.

Untuk menggenapkan rencana Allah, Tubuh Yesus harus diremukkan, seperti yang dikatakan dalam Yesaya, “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia. Ia dihina dan dihindari orang…” (Yes. 53:2-3). Ia mati, darahNya yang tercurah untuk menebus dosa-dosa kita. Jumat Agung, karena ada karya yang Agung di hari Jumat. Adakah kita bersyukur dan mati untukNya?

Isaac Watts menulis sebuah lagu, “At the Cross” Ia menyadari kematian Yesus di atas kayu salib adalah karya terbesar. Kristus rela mati untuk kita yang tidak layak (seperti cacing).

Alas! And did my savior bleed And did my Sov’reign die?
Would He devote that sacred head For such a worm as I.
Was it for crimes that I have done He groaned upon the tree?
Amazing pity! Grace unknown! And love beyond degree!
At the cross, at the cross where I first saw the light, and the burben of my heart rolled away.
It was there by faith.
I receive my sight, and now I am happy all the way. 

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles, Devotional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s