Membentuk Wawasan Kristiani


By. Rev. Hendra G. Mulia

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

2 Korintus 10:5 (LAI)
Ayat di atas adalah sesuatu yang dikemukakan oleh Paulus di abad pertama. Dari sini kita tahu bahwa Firman Tuhan tidak menjadi sesuatu yang basi, sesuatu yang out of date, sesuatu yang ketinggalan zaman. Karena apa? Karena pada zaman sekarang ini, justru kita melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Paulus tersebut: Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, adalah satu peperangan yang harus kita lakukan, dan peperangan itu harus dilakukan di sepanjang zaman. Sebenarnya sejak zaman dahulu, Paulus sudah melihat bahwa kita harus mengerjakan apa yang sekarang disebut Christian Mind. Kesadaran yang dimiliki di zaman ini adalah satu kesadaran yang baru muncul setelah beberapa waktu lamanya.Karena pengaruh zaman, selama ini kita berpikir bahwa pikiran kita memang tergantung pada zaman itu sendiri, yaitu zaman modern. Seseorang di dalam konsep modern, pada waktu melihat sesuatu, mereka melihat bahwa semua yang dilihat ini mesti merupakan sesuatu yang bersifat obyektif. Seorang penulis mengatakan bahwa modern itu di mulai pada tahun 1789, yaitu di saat Revolusi Perancis. Apa yang mereka lakukan pada waktu revolusi itu? Pada waktu itu, dengan Revolusi Perancis, penjara Bastile diserbu, kemudian raja diturunkan. Di saat itulah, dinaikkan apa yang disebut sebagai god of reason, rasio diangkat menjadi allah-allah rasio. Namun pengaruh itu bukan di mulai pada tahun 1789, tetapi tentu telah ada di waktu-waktu sebelumnya. Orang mengambil tahun 1789 supaya bagus; dan nanti post-modern dikatakan terjadi di tahun 1989, jadi genap 200 tahun. Apa yang terjadi di tahun 1989? Tembok Berlin runtuh. Apa artinya? Itu berarti tatanan komunisme yang telah dibangun selama 100 tahun, akhirnya bisa hancur dengan begitu saja tanpa pertumpahan darah. Jangka waktunya dari 1789 sampai 1989, 200 tahun, untuk menunjukkan apa? Untuk menunjukkan itulah masa modern.

Saya ingin mengajak Saudara melihat bagaimana orang modern berpikir. Pada waktu mereka meninggikan rasio daripada manusia. Mereka melihat: pada waktu saya berpikir, maka izinkanlah rasio manusia ini melakukan pemikirannya dan biarlah dia berpikir dengan bebas, janganlah pikiran manusia itu dikuasai oleh hal-hal di luar yang dibutuhkan pemikiran. Contohnya: Galileo menyelidiki apakah bumi itu geosentris atau heliosentris? Apakah sebenarnya kita ini berpikir bahwa kita melihat matahari sebagai pusat atau bumi sebagai pusat? Pada waktu terjadi perdebatan, ada satu perkataan yang diucapkan Galileo, bahwa sebenarnya sebagai seorang teolog misalnya, hanya mengetahui mengenai bagaimana kita ini go to heaven. Kita hanya mengajarkan bagaimana go to heaven, tetapi kita, sebagai seorang teolog, tidak mengajarkan how the heaven goes? Jadi sejak itu dimulai satu pemikiran untuk memisahkan pemikiran-pemikiran ilmu pengetahuan dengan pikiran-pikiran yang lain.

Pada waktu orang modern mulai berpikir, mereka melihat sesuatu, menyelidiki sesuatu dan sebagainya, maka mereka katakan, biarlah kita berpikir secara obyektif. Pada saat saya melakukan penyelidikan ilmu pengetahuan, jangan biarkan gereja mendikte saya, jangan biarkan teologia mendikte saya, jangan biarkan hal-hal yang tidak berkenaan dengan ilmu pengetahuan itu mendikte saya, maka saya mempunyai kebebasan dalam berpikir, saya mempunyai kebebasan dalam menemukan kebenarankebenaran yang ada di dalam dunia ini. Saya harus diberikan kebebasan, jangan didikte, mesti begini, mesti begitu. Pemikiran-pemikiran yang didikte tidak akan bisa mengalami kemajuan. Itulah pemikiran inti dari zaman modern, karena ada pengaruh-pengaruh filsafat dan sebagainya, tetapi pemikirannya adalah seperti demikian. Kita pun sebenarnya, sampai zaman ini, dididik dengan cara modern, meskipun sebenarnya post-modern sudah muncul, tapi guru-guru di sekolah-sekolah masih tetap berpikiran secara zaman modern. Jadi mungkin, misalnya belajar biologi, kata Alkitab kita diciptakan Tuhan, kata biologi kamu dari monyet! Jadi pemikiran itu tetap merupakan satu pemikiran yang modern. Artinya saya melihat sesuatu, maka izinkan saya melihat dengan obyektif. Jangan biarkan saya melihat sesuatu, lalu kemudian dipengaruhi oleh sesuatu yang lain di luar penyelidikan itu sendiri.

Sekarang muncul post-modern. Post-modern bertanya: pada waktu seseorang melihat sesuatu, apakah dia melihat segala sesuatu itu secara obyektif? Dari penemuan yang dilakukan tentang cara kita berpikir, maka mereka berkesimpulan bahwa kita tidak melihat dengan obyektif, tidak dengan 100% obyektif. Tetapi kata post-modern, justru kita harus berpikir secara subyektif. Bagaimanapun kita mencoba untuk berpikir secara obyektif, tetap selalu akan ada unsur subyektifnya. Satu contoh sederhana: ada seorang pengkhotbah yang sedang berkhotbah. Saya mau bertanya: Saudara tentukan benar tidaknya khotbah tersebut dari mana? Dari apa yang dia katakan? Tentunya semua mendengar apa yang ia katakan. Tapi apa yang ia katakan? Apa yang semua orang dengar? Apa yang dikatakan sama, bukan? Jadi apa? Semua mendengar apa yang ia katakan, bukan? Kalau ia berbicara benar, maka yang kamu dengar apa? Benar. Kalau ia berbicara salah, maka yang kamu dengar, salah. Itu modern bukan? Tapi tidak begitu! Maka, pada seseorang berbicara, saya misalnya, ada sebagian mungkin yang berpikir: “Oh, ini Pak Hendra yang berbicara, pasti benar!” Maka, kalau saya berbicara salah, buat orang tersebut benar atau salah? Pasti benar! Kenapa benar? Karena dia senang dengan saya! Jika ada seseorang yang sudah punya rasa dislike pada saya, maka meskipun saya berbicara yang benar, dia mendengarnya menjadi salah! Jadi kebenaran dan kekeliruan atau kesalahan tidak ditentukan secara obyektif. Kebenaran akan ditentukan oleh apa? Kebenaran itu akan ditentukan dengan persoalan apa? Dengan persoalan like dan dislike.

Jadi sebenarnya kebenaran itu adalah sesuatu, yang sudah dengan susah payah dicoba diberikan atau dipaparkan, dijelaskan tentang kebenaran itu, tetapi kebenaran itu tidak bisa 100% diberikan secara obyektif, sehingga setiap pemaparan yang sudah diberikan secara jelas, secara gamblang, secara betulbetul terperinci satu persatu dikemukakan, bagi dia tidak menjadi suatu kebenaran. Karena apa? Karena ada faktor subyektif, misalnya di dalam hal ini adalah soal like dan soal dislike. Kita melihat bahwa sebenarnya ketika seseorang berpikir, ia tidak pernah berpikir secara obyektif. Orang tidak pernah berpikir secara 100% obyektif, maka kita justru akan bertanya: pada waktu seseorang berpikir sebenarnya hal apa yang mempengaruhi pikiran saya? Kenapa seseorang ini ada unsur subyektifnya? Subyektifnya itu apa? Hal-hal apa saja yang membuat dia berpikir seperti demikian?

Oleh karena itu, pada zaman sekarang kita melihat bahwa sesuatu yang tanpa presaposition adalah sesuatu yang imposible, sesuatu yang tidak mungkin. Setiap orang, pada waktu dia berbicara, berpikir, belajar, mengemukakan pendapatnya; tidak ada satu orang pun yang bisa mengemukakan pendapatnya atau apapun, tanpa presaposisi – atau istilah lainnya asumsi, pre-unddeeerstanding, dsb. Mereka semua berpikir, sebenarnya ada satu landasan pikir. Nah, itulah yang kita pertanyakan. Kalau begitu, kalau saya tidak melihat sesuatu secara obyektif, tetapi saya melihat sesuatu itu secara subyektif, maka hal-hal apa saja yang mempengaruhi saya?

Kita akan membahas bagian ini. Kita akan melihat apakah culture mempengaruhi kita atau tidak. Ada dunia, ada culture. Apakah culture mempengaruhi saya atau tidak? Apakah kamu mendengar lagu pop? Sejujur-jujurnya, kalau mendengar lagu pop senang atau tidak? Karena itu adalah populer culture, maka umumnya pasti populer. Jadi culture berpengaruh atau tidak terhadap kita? Oh, jelas berpengaruh! Mungkin tanpa sadar culture itu mempengaruhi kita. Pada waktu kita setiap hari mendengar kalimat: ‘imagine there’s no heaven,‘ maka perlahan-lahan kita mempunyai satu pikiran yang dipengaruhi oleh culture ini. Culture itu akan menjadi satu bagian yang juga mempengaruhi pikiran kita, yang automatically juga akan membentuk kita, meskipun seharusnya kita sebagai anak-anak Tuhan dating dan menggarami culture ini sendiri, sehingga kemudian kita juga dapat berbicara mengenai culture tersebut.

Pada waktu saya belajar ekonomi, hukum, elektro, tehkik, kedokteran; apakah learning itu adalah sesuatu yang terpisah atau menjadi sesuatu yang integrated? Kita lihat lagi sebuah hubungan dengan learning, atau liberal-arts yang kita pelajari dalam perkuliahan, termasuk juga panggilan Saudara atau pekerjaan Saudara, semuanya dipertanyakan di sini. Maka kita bertanya: apakah waktu kita berpikir itu juga mempengaruhi timbal-balik terhadap pekerjaan saya? Apakah pemikiran itu, apakah Christian mind itu mempunyai pemikiran yang timbal-balik antara profesi saya, pekerjaan saya, kegiatan saya seharihari, ataukah itu merupakan sesuatu yang terpisah? Apakah yang namanya menjadi Kristen? Mungkin orang akan berpikir: saya menjadi Kristen itu kalau apa? Kalau saya ke gereja seminggu sekali, maka orang sudah menganggap saya Kristen. Tapi apakah kita betul-betul Kristen hanya dengan satu kali satu minggu pergi ke gereja? Tidak bukan? Maka apa yang kita lihat? Ada integrasi antara pikiran kita dengan learning kita. Kita harus mengintegrasikan seluruh pikiran dan tindakan yang kita buat sebagai sesuatu yang saling berkaitan. Kita tidak melakukan pemisahan ini: ini Christianity, ini liberal art’s, ini learning saya, ini occupation saya, di sini agama saya, agama saya adalah agama saya, pekerjaan saya adalah pekerjaan saya, sekolah saya adalah sekolah saya. Saya tidak membawa agama ke sekolah, seperti saya tidak membawa sekolah ke agama. Pada waktu saya belajar biologi, saya diajarkan tentang evolusi. Saya tidak membawa evolusi ke gereja, karena nanti takut pendeta marah, lalu saya tidak boleh ke gereja lagi. Saya juga tidak mengatakan kepada guru saya: “Kata pendeta saya, evolusi itu salah,” nanti saya bisa dikeluarkan. Maka demi keamanan dan kesejahteraan hidup di dalam dunia, sejahtera di sekolah dan sejahtera di gereja, saya bias sejahtera di surga, dan saya sejahtera di dunia, itu jalan yang paling baik, bukan? Tetapi kita tidak melakukan pemisahan seperti demikian. Karena apa? Karena seluruh pemikiran yang ada itu harus integrating ke dalam semua action kita sehari-hari.

Sekarang Thinking Christianly atau Christian Mind, atau beberapa orang misalnya memakai istilah yang lebih luas: Christian Worldview (wawasan kristiani), adalah sesuatu yang tanpa saya sadar mempengaruhi pikiran saya, memberikan suatu pemikiran yang bersifat subyektif. Pada waktu Saudara mendengar saya, Saudara mungkin berpikir, “Benar tidak, ya?” Sewaktu Saudara berpikir seperti itu, apakah sadar bahwa Saudara mempunyai satu faktor berpikir yang bercampur dengan pikiran Saudara? Mungkin setelah berbicara dengan yang lain, teman Saudara berkata, “Oh, dia ini berkata begini, begini…” Lho kok teman saya mengerti? Mengapa saya tidak, ya? Pada waktu itu dia baru sadar, kenapa temannya bisa menerima, bisa mengerti, kenapa dia tidak? Pada waktu kita berpikir seperti demikian, itu artinya kita berpikir dengan sub-consiously. Unsur-unsur yang membangun pikiran adalah sesuatu yang mungkin tidak saya sadari bahwa saya seperti demikian. Dalam membangun Christian Mind, kita harus secara sadar membangun Christian Mind itu, tetapi kita akan berpikir bahwa Thinking Christian (berpikir secara kristiani) mungkin tanpa sadar. Sebenarnya seperti demikianlah di dalam operatingnya.

Kita akan memikirkan: apakah isi sebenarnya? Apa yang harus kita isi dalam bagian ini supaya saya boleh berpikir secara Kristen? Kenapa saya harus berpikir secara kekristenan? Jelas! Sebab setiap orang tidak ada yang berpikiran obyektif. Jika demikian, saya adalah seorang Kristen, maka saya harus berpikir secara orang Kristen (thinking cristianly). Apakah ada kemungkinan lain? Misalnya: saya orang Kristen, tetapi saya thinking secularly? Bisa! Justru persoalannya adalah karena hal itu bisa terjadi. Kalau tidak bisa, maka hal ini tidak perlu kita bicarakan. Namun persoalannya justru karena seorang Kristen sangat mungkin berpikir tidak Kristen. Itu sebabnya Paulus katakan: kami menawan segala pikiran, kami menangkap segala pikiran, dan kami menaklukkannya kepada Kristus. Kita harus taklukkan pikiran mereka, kita harus tawan pikiran mereka, supaya pikiran mereka itu ditaklukkan ke bawah salib Kristus. Itu adalah perjuangan yang harus kita lakukan sebagai seorang yang Tuhan berikan kesempatan melayani di gereja. Itu yang harus perlu diperjuangkan seperti yang sudah Paulus katakana sejak abad pertama: kita harus menawan, kita harus menagkap dan harus menaklukkannya ke bawah Kristus. Itu yang harus kita kerjakan. Kita bertanya, “Kalau begitu bagaimana sebenarnya membentuk Christian Mind ini?” Dalam dua dekade ini sebenarnya banyak buku mengenai Christian Worldview, Transforming Our Worldview, dan sebagainya. Ada satu buku yang terkenal dari Blamire. Buku itu menjadi titik tolak, kemudian orang mulai berbicara mengenai Christian MInd, Christian Worldview dan sebagainya, tetapi buku-buku khusus membahas mengenai bagaimana ingredient atau faktor-faktor apa yang menjadi pembentuk Christian Mind ini, sampai saat ini merupakan sesuatu yang belum final.

Apa yang saya ingin kemukakan di sini adalah sesuatu yang saya pikirkan dan saya lihat. Beberapa orang mengemukakan faktor-faktor yang berbeda, maka saya tidak memaparkan lagi tetapi semua halhal yang saya kumpulkan ini akan menjadi faktor-faktor terpenting di dalam membina pikiran kita. Itu merupakan faktor-faktor terpenting yang perlu diperhatikan terutama pada waktu Saudara melakukan diskusi, atau kembali ke gereja masing-masing dan berpikir mengenai program masing-masing. Karena itu yang kita usahakan adalah supaya betul-betul dapat bekerja menawan, menangkap segala pikiran daripada mereka serta menaklukkannya kepada Kristus.

Protestan bermula dari satu titik, yaitu Reformasi. Satu motto dari Reformasi adalah Sola Scriptura. (Bedakan antara Reformasi dan Reformed. Reformasi adalah gerakan yang dipimpin oleh: Luther, Calvin, Zwingli, dsb. yang kita tahu adalah tokoh-tokoh Reformasi, tetapi kalau Reformed, khususnya adalah satu teologia yang tidak dikatakan sebagai teologinya John Calvin, lalu diikut. Saya mempunyai definisi Reformed sebagai a history christianity. Artinya reformed itu bukan sesuatu yang mutlak yang dikemukakan oleh John Calvin, sehingga buku John Calvin menjadi kitab suci yang kedua bagi orang Reformed, itu paling tidak Reformed artinya. Bukan seperti demikian. Reformed adalah a history christianity – kekristenan yang berjalan sepanjang sejarah – memang berdasarkan dari teologia John Calvin, terus berkembang sampai pada zaman sekarang ini dengan tokoh-tokoh Reformed-nya, misalnya Old Princeton, B.B. Wardfield, dan sebagainya, sampai kepada zaman sekarang dan sampai pada waktu yang akan datang di mana pikiran ini akan tetap berjalan sebagai satu christianity yang historis).

Di sini kita berpikir, yang pertama adalah Sola Scriptura, maka yang paling utama pada waktu berpikir pasti adalah bagaimanapun kita harus berpikir biblically – secara alkitabiah. Karena jelas bahwa dasar pada waktu Reformasi adalah Sola Scriptura, maka yang kita pelajari pertama-tama pasti harus berpikir secara biblically. Arti biblical adalah bahwa pemikiran saya adalah satu pemikiran yang harus dikuasai oleh Alkitab. Itulah sebabnya, kalau kita adalah seorang Kristen, tetapi buta Alkitab, kita menjadi sesuatu yang boleh diistilahkan sebagai biblical-illiteracy – tidak mempunyai pengetahuan Alkitab yannggg cukup. Buta Alkitab –biblical-illiteracy adalah satu skandal di dalam gereja. Kalau anak-anak Tuhan dibesarkan di dalam gereja tanpa mempunyai kesukaan, kecintaan kepada Firman Tuhan, maka itu adalah satu skandal di dalam gereja. Ingatlah hal itu! Kita kadang-kadang melaksanakan Persekutuan Pemuda, lebih banyak thinking ammusement – sesuatu hiburan, thinking entertaining – bagaimana menghibur; maka kalau Saudara memberi pengumuman: acara minggu depan, Pemahaman Alkitab, pembicara si-ini, lalu minggu depannya lagi pembahasan film “Bernafas dalam Lumpur” misalnya, yang mana yang akan lebih ramai? Yang ‘lumpur’ atau yang PA? Yang lumpur! Apa sebabnya? Sebab terus-terang, mereka itu kena pop culture! Maunya yang enteng, yang menghibur, yang enak, yang tidak berpikir. Banyak yang berkata: saya mau yang enak saja. Kenapa menyuruh saya bernyanyi, orang lain saja yang bernyanyi, saya mendengarkan. Maka akhirnya, seperti apa gereja berkembang? Kita mesti membuat yang menyenangkan, yang enak. Akhirnya kita membentuk pemudapemuda Kristen yang biblical illiteracy, yang tidak mengerti kebenaran-kebenaran Alkitab, tidak mengerti dasar-dasar Alkitab. Maka kita boleh yakin, kalau kita berpikir seperti demikian, jangan harap kita mempunyai pikiran yang kristiani. Kalau saya tidak mempunyai satu pergumulan dengan Firman Tuhan, maka jangan harap saya dapat thinking cristianly. Saudara bisa bayangkan, kalau saya berpikir seperti ini, kalau pemimpin-pemimpin gereja zaman sekarang, yang menjadi majelis gereja dan sebagainya, diperiksa, misalnya pengertian Alkitabnya, kemudian pengetahuan Alkitab mereka itu ternyata sangat kurang, apa artinya? Itu adalah skandal gereja. Karena apa? Karena pada waktu dia mengambil keputusan, apakah dia akan mengambil keputusan christianly? Tidak! Apa yang dia pakai? Unsur lain! Kalau dia rapat perusahaan, dia mungkin akan memakai pertimbangan economicaly, hitung untung dan ruginya secara ekonomi. Kalau yang dibawa adalah secular mind untuk mengambil keputusan di dalam keputusan-keputusan penting di dalam gereja, keputusan itu akan dipikirkan dan diputuskan secara secular pula. Jadi misalnya: pemuda mau kamp. Biayanya berapa? Wah, setiap kamp selalu disubsidi besar. Mungkin waktu gereja memutuskan boleh tidak diadakan kamp pemuda, dia akan pikir dari sudut apa? Dari sudut uang, bukan?

Oh, jangan deposito kita yang diambil dong! Bunga bank sedang besar, nih! Kalau mau kamp-nya tahun depan saja, kalau bunga bank sudah 5%, baru kamp pemuda. Sekarang bunga sedang bagus, 60%. Thinking-nya berdasarkan apa? Secara ekonomis, kan! Saya tidak bertaka bahwa kita boleh menghambur-hamburkan uang gereja. Tidak demikian! Maksud saya, pertimbangan yang kita pakai adalah satu pertimbangan yang harus dikuasai oleh Alkitab, maka bagaimanapun sebagai orang-orang Kristen, kita tetap akan bersandar kepada Alkitab. Apakah tidak terlalu sempit kalau kita hanya berpikir secara Alkitab? Tidak! Karena pada waktu kamu berpikir: kalau begitu mari kita berpikir tanpa Alkitab, itupun satu titik pijak yang baru, bukan? Jadi kita selalu ingin menghindar: sempit dong cuma Alkitab saja! Yang lain-lain ternyata juga benar! Mungkin ajarannya Konghucu bagus, begitu misalnya. Orang yang berpikir berdasarkan Alkitab dikatakan sempit sekali, bukan? Kalau kita tidak mau fanatik dan tidak mau terlalu tertutup, mari kita berpikir seusaut yang jangan hanya Alkitab. Ada satu buku yang berjudul “The Closing of the American Mind” Ini adalah buku yang sangat bagus. Tetapi satu prinsip tertulis: Amerika terbuka untuk segala pikiran. Sebab pada waktu mereka – kaum puritan – datang dari Inggris, mereka adalah orang-rang yang waktu itu ditekan di negara mereka, sehingga pada waktu mereka ingin membangun satu negara yang baru mereka katakan: this is a free country. Negara ini negara yang bebas. Kami semua bercita-cita bahwa setiap orang yang datang ke negara ini, dia bebas beragama, bebas menganut agamanya masingmasing, bebas untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing, sesuai dengan bagaimana dia. Kita rasa itu bagus, bukan? The opening mind, berpikir terbuka, berpikir tidak sempit. Tetapi justru dalam buku “The Closing of the American Mind” artinya berbeda. The Openness Means Closing. Apa artinya? Dengan terbuka terhadap semua, artinya justru menutup untuk kebenaran! Bukunya sangat bagus! Ini bukan buku Kristen. Dikatakan, keterbukaan sebenarnya adalah ketertutupan. Pada waktu kita mengambil satu fondasi Alkitab sebagai dasar, maka dengan satu dasar yang benar itu, baru kita membuka wawasan kita. Jadi sebenarnya pada waktu yang pertama pemikiran kita adalah thinking biblicaly dalam hal yang seperti demikian.

Yang kedua: kita harus berpikir secara theologically. Kita berbicara mengenai Alkitab, ya Alkitab saja. Tetapi orang-orang Saksi Yehovah membaca dari mana? Mereka menarik kebenaran dari Alkitab. Apa yang membedakan kamu dengan Saksi Yehovah? Dia membaca Alkitab, malah lebih rajin daripada kamu. Sama, bukan! Asal comot? Siapa yang berkata tidak boleh asal comot? Mereka berkata cara membaca Alkitab, ya dicomot, dong! Lalu kita bertanya: siapa yang menyuruh men-comot-comot? Dia menjawab: siapa yang berkata tidak boleh men-comot-comot? Betul, kan! Mulai kelihatan jelas, perbedaannya di mana! Perbedaannya bukan dalam letak Alkitab, tetapi di dalam letak bagaimana saya membaca Alkitab. Karena berbeda dalam cara pembacaan, maka kita berpikir bagaimanapun tidak hanya sekadar biblical, tetapi teologia kamu apa? Justru itu yang membedakan pembacaan.

Kalau kamu mempunyai teologia Saksi Yehovah, maka kamu akan membaca sesuai dengan Saksi Yehovah. Kalau membaca: “Pada mulanya adalah Firman”; ini obyektif, bukan? “Firman itu bersama-sama dengan Allah”; sama-sama dengan Allah, kalau sama-sama, artinya apa? Tidak menjadi satu, bukan? Kalau saya bersama-sama dengan mikrofon, artinya mikrofon itu sendiri, saya sendiri. Betul bukan? Sekarang misalnya begini: siapakah saya? Hendra. Siapakah aku? Hendra? Saya dan aku bersama-sama, saya di mananya aku, dan aku di mananya saya? Saya ada di mana dan aku ada di mana?

Kalau bersama-sama, tidak mesti identik dan tidak menjadi gabung, bukan? Lalu kemudian: “Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Sekarang Saudara bacanya: “Oh…, ya jelas.” Kenapa? Firman itu adalah Allah, Allah itu terdiri dari Allah Bapa, Allah Firman sama dengan Allah Roh Kudus, Allah Tritunggal dan tiga-tiganya Allah. Saksi Yehovah tidak membacanya demikian. Kristus, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Kristus, Firman itu adalah Allah: “Allah”-nya itu hurufnya besar, karena apa? Karena LAI yang membuat huruf besar, maka Saksi Yehovah katakan, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah (huruf besar), dan Firman itu adalah allah (huruf kecil)” Artinya: Dia adalah Allah turunan dari Allah yang pertama. Allah bukan? Allah! Sama atau tidak? Tidak! Mengapa demikian? Sebab dikatakan bersama-sama, bagaimana bias menjadi sama? Kalau bersama-sama, artinya tidak sama. Karena tidak sama, maka kita bersama-sama, betul bukan? Apa yang membedakan kedua penafsiran ini? Yang membedakan adalah teologinya. Bisa atau tidak membaca Alkitab tanpa teologia? Tidak bisa! Ada orang berkata , “Saya tidak peduli teologiateologia, apa itu teologia Calvin, teologia apapun. Yang penting buat saya Alkitab, dan saya adalah alkitabiah.” Kepada orang-orang seperti ini kita boleh katakan, “Kamu mirip saksi Yehovah.” Apa sebabnya? Mereka katakan: hanya Alkitab dan Saksi Yehovah juga demikian!

Bagaimanapun saya harus tetap berpikir secara teologis dan teologia saya itu justru menentukan pembacaan Alkitab saya. Jangan Saudara berpikir bahwa Saudara membaca secara obyektif! Yang penting alkitabiah, saya bukan penganut teologia ini, saya teologia alkitabiah. Apa itu Calvin? Saya tidak ikut Calvin, saya ikut Yesus Kristus, katanya! Maka saya ikut Alkitab, teologianya dari Alkitab, teologia dari Alkitab yang mana? Apakah Yesus Kristus mengajarkannya? Oh, mungkin juga dia katakan demikian, “Tuhan berbicara tadi pagi”, benarkah demikian?

Bagaimana Christian Mind dikerjakan di dalam berpikir? Pemecahan mengenai culture dijelaskan dengan pengertian apa? Doctrine of Creation, Doctrin of Sin or Fall. Saudara lihat, tadi yang namanya thinking christianly. Lalu bagaimana menghadapi culture itu? Kita pelajari dari Systematic Theology, bukan? Doctrine of Creation, bagaimana melihat culture? Doctrine of Fall, bagaimana melihat culture? Bagaimana Doctrine of Christ and Redemption melihat culture? Maka kita mendapati, teologia adalah satu bagian yang perlu dibentuk untuk menjadi suatu dasar bagi Christian Mind kita. Pada waktu Saudara ingin membentuk Christian Mind, unsur-unsur teologia itulah yang nantinya harus in action untuk menghadapi tantangan dan pertanyaan-pertanyaan zaman.

Yang ketiga: historical. Misalnya, pada waktu Reformasi keluar Marthin Luther dengan the doctrine of Christ. Karena kasih karunia kita diselamatkan dan bukan dengan usaha manusia, kita diselamatkan berdasarkan kasih karunia dan semata-mata oleh pekerjaan Yesus Kristus. Apakah ini teologia baru? Pada waktu Reformasi 1517 menjadi suatu patokan, di mana dipakukan 95 tesis oleh Martin Luther, saya mau bertanya, “Apakah ini teologia baru atau bukan?” Bukan! Lalu teologia apa ini, sampai dimusuhin, lalu kemudian entah siapa yang berkata, orang Protestan bicara, saya protes, maka saya Protestan, ataukah orang Katolik yang berkata, “Protes, protes terus, maka dinamakan Protestan.”

Memang betul Protestan dari kata protes, tetapi mengapa protes? Apakah ini sekadar pilihan teologia dalam satu zaman? Tidak! Pada waktu mempelajari sejarah gereja dan sejarah teologi, maka Saudara bisa melihat bahwa apa yang saya percayai di abad ke-20, bahkan apa yang saya percaya memasuki abad ke-21 adalah sesuatu yang dipercayai sejak abad pertama oleh Para Rasul dan orang percaya. Ada satu garis merah yang Tuhan peliharakan sepanjang zaman, sampai Agustinus dan terus sampai kepada John Calvin, lalu terus sampai sekarang; semuanya merupakan sesuatu yang berkesinambungan. Bagaimanapun thinking kita harus historical, artinya tetap mempunyai akar di dalam sejarah. Kalau melihat sepanjang sejarah teologia, mulai teologia liberal, lalu diganti dengan teologia neo-ortodoks, lalu diganti dengan liberation theology, feminis theology, black theology, dstnya; teologia-teologia ini bermunculan kemudian jatuh dan ketinggalan zaman. Maka pertanyaannya, Saudara mau mengikuti teologia yang mana? Teologia yang berawal dari satu garis merah yang jelas dan terus sampai sekarang atau mengikuti teologia-teologia yang sedang ramai dan seru dan kemudian akan jatuh lagi. Namun bagaimana saya membedakan hal ini? Historical itulah yang akan menolong kita! Thinking historical merupakan sesuatu yang perlu.

Keempat: Philosophical. Orang kalau dengar filsafat suka alergi. Filsafat? Yang penting Alkitab, filsafat itu tidak penting! Pada waktu berbicara demikian, orang tersebut sebenarnya sedang berfilsafat, filsafat mengenai apa? Philosophy of knowledge! Sebenarnya ia sedang berfilsafat tentang filsafat. Memang kita bedakan apa yang dinamakan sebagai philosopher’s philosophy dengan worldview’s philosophy. Philosophers philosophy adalah misalnya filsafat Aristoteles, filsafat Plato, filsafat eksistensialisme, filsafat dari Heidegger dengan fenomenaloginya.Semuanya itu dikemukakan oleh philosophers dan memang kalau bertemu dengan kelompok ini kita mulai bingung dan mereka berbicara membingungkan karena memakai filsafat yang dalam. Sebenarnya setiap kita mungkin bukan philosophers philosophy, tetapi kita adalah seorang worldview philosophy. Misalnya: Ada orang menelpon saya, “Pak, saya mau bunuh diri!” Kalau ada yang berkata: saya mau bunuh diri, artinya mau bunuh diri atau tidak? Tidak! Dia hanya hendak menakut-nakuti saya. Kalau mau bunuh diri, ya silakan saja. Mengapa perlu menelpon lagi pukul 12 malam? Saya berpikir, “Bagaimana ya, sudah pukul 12 malam. Dia mau bunuh diri. Apakah saya harus berlari ke tempatnya, atau tidak? Lagipula kalau dia berkata mau bunuh diri, artinya tidak bunuh diri, maka saya membuat shock theraphy. Saya menjawabnya, “Oke, silakan. Tapi sebelumnya, boleh tidak sebelum melakukannya saya bertanya satu hal? Apakah setelah bunuh diri, kamu yakin persoalanmu selesai?” Ia menjawab, “Pak, saya sudah bosan. Dunia ini brengsek, penuh penderitaan, saya tidak mau lagi di dunia.” Saya katakan, “Tahu dari mana? Kamu belum pernah mati, bukan? Kamu tahu dari mana? Saya mau tanya, begitu kamu mati, kamu pikir enak seperti minum ecstacy? Kamu tahu dari mana?” Dia marah. Mungkin dia berpikir: pendeta ini memang kurang belas kasihan, bukannya menghibur, malah makin menjatuhkan. Lalu ia berkata, “Bapa juga tahu dari mana kalau mati itu nanti susah? Bapak juga belum pernah mati!”

Orang mau bunuh diri saja masih begini pintar! Luar biasa! Tapi Saudara lihat, permasalahan yang sedang dibicarakan itu sebenarnya apa? Sedang berbicara tentang epistemologi, bukan? Tahu dari mana bahwa apa kamu tahu itu adalah sesuatu yang benar? Itu adalah epistemologi. Tahu dari mana kalau kamu mati, lalu kamu akan lepas dari segala kesusahan? Itu epistemologi. Dan orang itu membalasnya dengan epistemologinya: “Bapak juga tahu dari mana bahwa nanti kalau mati, saya susah? Bapak juga belum pernah mati, bukan?” Waktu itu saya berpikir, “Celaka saya! Saya pancing ke sini, malah saya diberikan pertanyaan susah seperti ini. Tapi dalam waktu singkat, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang memberi saya pikiran, “Ya, saya memang belum pernah mati, tapi Yesus pernah mati, Dan karena Dia pernah mati dan bangkit lagi, Dia memberi tahu saya, kalau mati itu seperti begini, begini. Jadi saya percaya pada Yesus. Saya memang belum pernah mati, tapi Dia pernah mati.” Lalu sehabis mendengar hal itu, ia berkata, “Ya, sudah! Besok saya telpon Pak Hendra lagi!” Sampai sekarang orang tersebut belum mati. Saudara lihat orang itu sudah berpikir secara philosophy, tanpa mengerti bagaimana filsafat Aristoteles itu, tanpa mengerti bagaimana filsafat Socrates itu. Dia tidak mengerti, tapi waktu berpikir ia berpikir filosofis. Maka yang disebut philosophycal bagaimanapun tetap harus berpikir, artinya kita tidak berpikir sembarangan, tetapi betul-betul kita mempunyai satu pemikiran yang bersifat lebih mendalam.

Yang kelima adalah ethical. Hasil dari teologia, kalau hanya sekadar berhenti di dalam teologia merupakan sesuatu yang kering, menjadi sesuatu yang tidak berguna. Maka dalam hal ini kita tetap berpikir bagaimana teologia dan Alkitab yang kita punyai, integrated dengan filosofi yang kita punyai pula. Hal itu kemudian akan menjadi suatu permunculan yang bersifat etis. Secara singkat kita katakan: etika itu pasti harus berlandaskan kepada Alkitab. Yang kedua, etika bukan sekadar mengarah pada pengambilan keputusan, tetapi etika harus mengarah kepada pembentukan karakter. Tujuan dari etika bukan sekedar: aborsi, boleh tidak ya? Oh, tidak boleh! Kalau saya diperkosa, saya boleh aborsi atau tidak? Tidak sekadar hanya boleh atau tidak, tetapi tujuan utama dari etika sebenarnya adalah shipping our character, jadi kita harus berpikir secara ethical. Dan yang terakhir, yang keenam adalah: esthetical, berpikir estetis. Misalnya demikian, dalam kebaktian kita boleh menyanyikan lagi gereja yang pop atau tidak? Tergantung pada culture-nya. Pada saat kita menyanyi, menjadi batu sandungan atau tidak? Tapi misalnya, sewaktu kita menyanyi, apanya yang harus diperhatikan? Liriknya. Saya pikir ada benarnya juga, tapi kalau setiap lagu ditarik secara teologis, akhirnya semua lagu tidak boleh kita nyanyikan. Teologinya salah-salah. Tetapi thinking christianly bukan hanya sekadar melihat salah atau benarnya, tetapi kita juga berpikir secara esthetically. Sewaktu kita thinking esthetically, mungkin tidak memasuki katagori estetik. Misalnya: lagu Malam Kudus, bagus tidak? Bagus! Apanya yang bagus? Estetikanya. Lagu ini tahan selama berapa tahun? Katakanlah 150 tahun. Selama 150 tahun menggerakkan setiap orang Kristen di dalam sepanjang zaman, di dalam setiap Natal, lagu itu bisa menyentuh hati setiap orang Kristen. Meskipun pada waktu diciptakan sebenarnya orang gereja pada waktu itu agak marah. Karena apa? Karena orgel gereja rusak, jadi mesti bernyanyi diiringi dengan semacam gitar, dan lagunya tidak bisa yang susah-susah, bukan? Maka akhirnya dipilih satu lagu sederhana tersebut yang dimainkan pada hari Natal dengan iringan sederhana.

Ketika saya di SAAT, pernah terjadi peristiwa sepert ini: di satu kebaktian, tidak ada dosen yang hadir. Karena tidak ada dosen yang hadir, para mahasiswa menjadi iseng. Khusus pada persekutuan itu lagunya tidak ambil dari PPK (Puji-pujian Kristen), tapi diambilnya dari buku sekolah minggu. Lalu mereka yang pimpin kadang-kadang seperti guru sekolah minggu yang iseng. Sewaktu ditanya mau nyanyi nomor berapa, maka mahasiswa lain juga iseng menjawab nomor 57. Begitu dibuka lagu apa? Lagu Malam Kudus, nyanyinya di bulan Agustus. Dalam waktu beberapa detik, dia harus memutuskan, mau menyanyikan lagu ini atau tidak? Akhirnya, lagu itu dinyanyikan. Lagu Malam Kudus kita nyanyikan pada bulan Agustus. Ketika semua membuka nomor 57: Malam Kudus, mereka semua langsung tertawa, tetapi terus dinyanyikan. Mulanya kami tertawa, namun terus bernyanyi. Akhirnya semua sepi, lagu menjadi tenang. Karena apa? Karena pengaruh lagu! Karena bagaimanapun sepanjang zaman, sepanjang tahun kita nyanyikan, tidak akan ada kebosanannya, ada sesuatu yang menyentuh kita. Pada waktu kita bermalam Natal, itu bukan merupakan satu kebiasaan saja, bukan? Tetapi estheticaly, berbicara ke dalam hati kita yang diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah, menyentuh estetika yang diberikan dan dianugerahkan oleh Tuhan kepada masing-masing kita, sehingga kita merasakan estetika, keindahan, the beauty dan lagu tersebut.

Sewaktu mencipta, Tuhan melihat ciptaan-Nya ini baik adanya, artinya sesuatu indah. Jelek itu akibat dari apa? Itu adalah akibat dari dunia yang jatuh ke dalam dosa. Yang jelek di hadapan Tuhan bagus, yang tampan, cantik, di hadapan Tuhan bagus. Tuhan lihat apanya yang sama? Hatinya. Kalau Tuhan melihat yang cantik, tetapi hatinya busuk luar biasa, bagi Tuhan itu tidak baik. Tuhan lihat hatinya. Orang yang jelek, tapi bersih, baik, lembut, Tuhan lihat baik atau tidak? Baik, tapi dia jelek atau tidak? Tetap jelek. Saudara ingat begini, di dalam dunia yang berdosa, ada tidak yang jelek? Tetap ada, karena dunia adalah dunia yang jatuh ke dalam dosa. Tetapi puji Tuhan, ada the Doctrin of Christ and Redemption.

Thinking Christianly bukanlah sesuatu, yang saya katakan, sebagai sesuatu yang kita sadari. Kita automaticaly berpikir karena itu dibentuk secara sadar. Dengan demikian kita menangkap pikiran dunia dan menaklukkannya ke dalam kebenaran-kebenaran Firman Tuhan, kebenaran-kebenaran Kristus.

Summarized from National Youth Convention, August 4, 1999.
Reprinted from MOMENTUM Magazine No. 43 – June 2000

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s