Prayer according to Calvin


Berikan pada kami, Oh Tuhan, untuk diisi oleh misteri bijaksana sorgawi-Mu melalui proses kebangunan yang benar dalam kesalehan, bagi kemuliaan-Mu dan bagi kebangunan rohani kami sendiri. Amin.”

Itulah perkataan yang diucapkan oleh John Calvin pada waktu mengawali kuliah eksegesis (penafsiran) Perjanjian Lama yang ditujukan kepada para mahasiswa, para pendeta, dan orang-orang lain yang berminat mempelajarinya.

Dalam doa yang singkat ini sudah mencakup beberapa ciri khusus dalam teologi doa dari sang  Reformator ini. Ciri-ciri khusus tersebut ialah kesadarannya akan kemuliaan/keagungan Allah, kekurangan di dalam dirinya sendiri untuk suatu panggilan dan kebutuhan untuk menyatakan kesalehan hidup. Itu sebabnya Calvin menuliskan buku ‘Institutes of the Christian Religion’ pada edisi pertamanya di tahun 1536 ini dimaksudkan sebagai ‘summa pietatis’ (kumpulan segala kesalehan). Hal tersebut berbeda dengan ‘Summa Theologica’, sebuah buku theologi paling penting yang ditulis oleh Thomas Aquinas pada abad Pertengahan; Calvin menuliskan sebuah buku yang dirancang untuk mendorong  suatu kesalehan yang sejati.

Suatu fakta yang terlalu sedikit diketahui, bahwa salah satu bagian yang paling panjang dalam ‘Institutes’ adalah bab tentang doa, dihitung kira-kira ada 80 halaman dalam edisi terbitan McNeill-Battles. Dalam edisi terbitan McNeill-Battles dituliskan pada bagian tersebut, “Doa adalah latihan utama dari iman dan yang dari padanya kita menerima kebaikan-kebaikan Allah setiap hari.”

Kesukaan Calvin, dalam ‘Institutes’, dimana cara dia menyebut Allah sebagai “Bapa kami yang di Sorga”, tidaklah membuat kita terkejut untuk menemukan bahwa sang Reformator ini, lebih dari siapa pun juga, mengenal Allah sebagai Bapa kita dan berbicara kepada-Nya sebagai sebuah keluarga dalam doa adalah tanda pembeda berkenaan dengan iman Kristen yang sejati.

Apa itu Doa ?

Ada empat hal khusus yang dominan dalam pengertian Calvin tentang makna doa yang sejati.

Pertama, doa itu merupakan curahan hati dan jiwa kita kepada Allah. Doa adalah suatu penyesuaian antara kita dengan Tuhan dimana kita mencurahkan segala keinginan, sukacita, keluh kesah, dan terakhir, pikiran dari hati kita, sesering kita menyebut Tuhan, turun ke dalam perhentian dari hati kita yang paling dalam dan dari sana, bukan dari tenggorokan dan mulut, kita memanggil Tuhan.

Kedua, doa itu adalah percakapan yang intim. Calvin menambahkan, “Meskipun doa itu merupakan sebuah percakapan yang intim dengan Allah, sikap hormat yang dalam dan sikap yang tidak kelewat batas harus tetap dipelihara, jika tidak kita memberi kendali yang tidak erat pada bermacam-macam permintaan, dan kalau tidak kita mengharapkan sesuatu yang melebihi dari apa yang Allah sediakan; selanjutnya, seharusnya kita mengangkat pikiran kita menuju pada penyembahan yang murni dan suci kepada Dia, kalau tidak maka kemuliaan Allah menjadi tidak bernilai bagi kita.”

Ketiga, seperti catatan yang ditulis oleh Ronald Wallace dalam ‘Geneva and the Reformation’, bagi Calvin, “inti dan tujuan dari doa ialah hubungan yang erat dengan Allah.” Persekutuan dengan Kristus yang telah bangkit dengan mudah menyatakan suatu pengertian dari sang Reformator ini mengenai natur kehidupan Kristen. Sebagai orang-orang Kristen, kita dipersatukan dengan Kristus melalui iman. Doa adalah perluasan dari realita ini.

Keempat, doa adalah perendahan diri kita di bawah kemuliaan Allah. Di akhir khotbahnya atas Injil Lukas, Calvin menggunakan perkataan yang sama setiap kali berdoa: “Sekarang biarlah kita menundukkan diri di hadapan kemuliaan Allah kita yang baik, menyadari akan kesalahan-kesalahan kita, berdoa agar Dia tidak hanya mengampuni kita tetapi menyucikan kita setiap hari dari semua hal itu. Kiranya Dia menyingkirkan semuanya itu jauh dari kita sehingga kita tidak lagi ditawan dan dipenjara oleh semuanya itu. Melainkan kita dipimpin dan dikontrol oleh Roh Kudus-Nya, supaya kita berjalan dalam kekudusan hidup dimana kita boleh mencari yang diatas untuk berserah kepada kehendakNya. Dan sejak kita mengetahui diri kita itu makhluk yang lemah dan rapuh, kiranya Dia menopang kita yang dalam segala ketidaksempurnaan, sampai Dia telah menyingkirkan semuanya itu dan kemudian kita diselubungi penuh oleh kebenaran-keadilanNya.”

Lalu apa yang kita katakan dalam doa? Bagi Calvin, doa itu harus dibentuk oleh Kitab Suci. Harus ada satu disiplin, tidak hanya dalam hal berdoa itu sendiri, tetapi juga harus berdisiplin dalam hal isi doanya.

Referensi:

‘Prayer according to Calvin’

Ministry & Leadership Bulletin of RTS, Summer 2009.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s