Apa Arti Hidup Ini


Oleh: Pdt. Budy Setiawan

1 Corinthians 13:1-3

Hari ini saya ingin mengajak saudara untuk merenungkan satu tema tentang “What’s the meaning of life (The pursuit of meaning)” – bagaimana kita boleh dengan jujur dan legitimate (sah) mengatakan bahwa hidup kita adalah hidup yang berarti.

Kita merefleksikan apa artinya menjadi orang yang berarti dan apa artinya menjadi seorang ayah yang memiliki arti hidup yang sejati yang kita isi di dalam hidup ini. Menjadi suatu perenungan yang sangat baik digambarkan dengan rhyme dan puisi dan juga mengingatkan kita berapa kalau hidup kita sebagai manusia (ayah atau ibu) tidak berkenan kepada Tuhan, banyak hal yang akan diturunkan kepada anak-anak kita. Demikian juga dengan hal-hal yang baik, banyak yang akan mereka terima. Meskipun jelas ada masa-masa mereka berontak khususnya pada waktu masa remaja, tetapi di dalam jangka panjang, hal-hal yang diajarkan di rumah yang mereka lihat dari hidup orang tuanya itu sangat mempengaruhi dan membentuk hidup mereka.

Apa yang membuat manusia boleh mengatakan dengan sah bahwa hidupku adalah hidup yang sangat berarti? Yang pertama di sini kita boleh lihat adalah kita boleh katakan hidup kita berarti apabila kita memiliki kasih. Kalau tadi kita membaca hal yang sangat tragis dari apa yang Harry Chapin tuliskan, ini juga mengingatkan kita berapa pentingnya loving relationship di antara satu orang kepada orang lain — antara ayah dengan anaknya,  antara ibu dengan anaknya, antara suami dengan istri, antara keluarga dan antara saudara seiman. Ketika kita merasakan dan mengalami kasih di dalam hidup kita, maka kita boleh mengatakan I have a meaningful life. I Korintus 13:1-3 mengingatkan tanpa kasih, semuanya tidak ada artinya (nothing). Saya ingin mengajak saudara untuk merenungkan apa arti hidup. Di dalam hidup yang masih Tuhan berikan, biarlah kita boleh membangun dan mengasihi orang-orang di sekeliling kita. Ketika kita membangun itu dan ada kasih yang sejati di dalamnya, di situ kita boleh katakan hidupku meaningful. Sebaliknya, tanpa kasih yang demikian, maka sesungguhnya hidup kita betul-betul menjadi kering dan kosong. Seberapa banyak harta yang kita miliki, tanpa ada kasih yang sejati yang kita alami, maka sesungguhnya tidak berarti sama sekali.

Jelas kasih itu pada waktu kita membaca di 1 Korintus 13:1-3 bukanlah kasih yang bersifat subjektif (dari satu orang kepada orang lain), tetapi harus kasih yang ultimate yaitu kasih pada waktu kita mengerti akan kasih Allah seperti yang tertulis di dalam 1 Yohanes 3:16. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Karena kalau kasih tanpa mengerti kasih Tuhan (kasih di dalam kebenaran), kasih itu seringkali menjadi kasih yang merusak, menghancurkan dan mengekang hidup kita. Kasih harus di dalam kebenaran dan kebenaran juga jelas harus menyatakan dirinya di dalam kasih. What is the meaning of life? Yang pertama adalah kalau kita mengalami dan menyatakan kasih yang sejati yang boleh kita alami dan kasih yang di dalam kebenaran.

Yang kedua adalah di dalam hidup kita perlu juga adanya sense of wonder – rasa kagum (terpesona). Kita hidup di dalam dunia yang naturalistic yang semuanya seperti bisa dihitung dengan penjelasan manusia dan kita tidak lagi melihat ada tangan Tuhan yang bekerja di dalam kehidupan kita. Segala sesuatu apa yang kita alami seringkali kita jelaskan secara natural (alami). Seringkali kita gagal melihat tangan Tuhan memimpin dan meyertai. Kalau kita boleh katakan juga kadang-kadang orang Kristen mengatakan tangan Tuhan menyertai, tetapi betulkah ada sense of wonder di dalam hati dan jiwa kita sungguh kagum akan pekerjaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Ketika kita mulai kehilangan akan sense of wonder, kita mulai kehilangan arti hidup sebenarnya. Karena salah satu dampaknya ketika kita kehilangan sense of wonder, kita mulai kehilangan sense of gratitude (hati yang bersyukur kepada Tuhan).

Apa artinya ada sense of wonder? Ravi Zacharias memberi contoh kalau anak kecil kita bisa melihat ada sense of eternity, yang terus menerus ulang tetapi tidak bosan. Kalau anak kecil dikasih balon gas, maka dia pegang talinya. Kalau di dalam rumah dia akan apa? Dia akan lepas. Setelah lepas, dia akan naik ke atas sofa dan lompat. Dapat lagi. Dia senang. Terus dia akan ngapain lagi? Lepas lagi. Terus dia naik ke atas sofa lagi dan lompat lagi. Berkali-kali dia tidak bosan. Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini besok pagi Dia berkata kepada matahari muncul lagi. Besoknya lagi katakan muncul lagi kepada matahari. Terus muncul dan tidak bosan. Tetapi semakin besar kita mulai semakin tuntut lebih lagi untuk boleh membuat kita kagum. Tingkat kekaguman kita akan terus makin naik. Semakin kita dewasa, rasa kagum dan terpesona kita semakin menuntut lebih lagi di dalam hidup kita.

Tetapi siapa yang bisa memenuhi akan rasa terpesona dan kagum kita kalau kita tidak mengenal Tuhan? Tuhan begitu besar dan mulia. Ketika kita mengenal Dia, datang kepada Dia, merenungkan Dia dan bersekutu dengan Dia, maka tidak akan habis-habisnya kagumnya kita kepada Dia. Hanya kepada Kristus sang Pencipta alam semesta, sang Pemilik hidup dari seluruh hidup manusia, ketika kita datang kepada Dia, maka hati kita akan dipenuhi dengan kekaguman yang tidak habis-habisnya. Ketika kita mengenal Dia, bergaul dengan Dia dan bersekutu dengan Dia, maka tidak akan habis kekaguman yang sangat perlu di dalam hidup kita. Ketika kita boleh mengalami apa yang disebut sebagai meaning of life, harus ada kekaguman yang tidak ada habis di dalam hati kita kepada Tuhan.

Kita tahu anak-anak juga suka mendengar fairy tales (dongeng). Tetapi kalau kita memperhatikan dongeng, maka selalu ada dua ciri. Yang pertama itu adalah hampir selalu ada kondisi (contoh: Cinderella dan Beauty and the Beast). Yang kedua, bukan hanya ada kondisi, tetapi kondisinya itu tidak pernah ditanya – “How come?” (Kenapa harus begitu?). Tokohnya tidak pernah tanya karena mungkin dongeng membuat anak-anak wonder (masuk ke dunia yang imajinasi). Mungkin kalau ditanya, maka akan ditanya balik mengapa kamu in the first place perlu hidup di dalam fairy land (di tanah peri). Pertanyaan seperti ini (“How come?”) seringkali kalau orang tanya mungkin bisa dijawab kenapa perlu ada fairy tales? Perlu ada fairy land? Justru ini maksudnya untuk men-capture, membawa imajinasi kita mengerti akan kekaguman, keheranan dan terpesona akan jalan cerita itu.

Ini mirip seperti ketika Ayub marah dan protes kepada Tuhan di dalam segala penderitaannya yang begitu sulit. Dia bertanya kepada Tuhan, “Mengapa saya harus mengalami segala penderitaan ini?” Tetapi waktu Tuhan datang dan menampakkan diri kepada Ayub, Tuhan jawab segala pertanyaan Ayub? Tidak. Waktu Tuhan datang kepada Ayub, Tuhan tidak jawab pertanyaan Ayub. Tuhan bertanya balik kepada Ayub, “Dimana kamu ketika Aku…?” Saya mencatat ada 71 ayat Tuhan bertanya kepada Ayub. Tidak ada jawaban. Tetapi ini justru membuat Ayub sadar bahwa dia terbatas ketika Tuhan bertanya kepada dia. Dia sadar dari apa yang bisa dia tanya, banyak hal yang dia tidak bisa jawab. Banyak hal di dalam hidup yang dia tidak bisa tahu seluruhnya jawaban.

Ketika orang melihat dunia ini secara naturalistic dan coba menjelaskan, sebenarnya tidak bisa menjelaskan. Ketika kita bertanya mengapa begitu, akhirnya tidak ada jawaban. Jawaban terakhir adalah that’s just the way it is. Naturalistic philosophy (worldview) akan menjawab demikian. Atau jawaban yang lebih mengagumkan adalah karena Tuhan menciptakannya demikian. Ini jauh lebih berarti. Waktu mereka berkata that’s just the way it is, itu adalah iman. Percaya saja. Tidak bisa dijelaskan lagi. Alkitab mengatakan pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Ini adalah penjelasan yang paling komplit (lengkap) meskipun kita tidak mengerti seluruhnya – karena Tuhan menciptakan semuanya.

Kalau kita kehilangan sense of wonder, kita juga akan kehilangan sense of gratitude – ucapan syukur kepada Tuhan atas hidup ini dan seluruh yang Tuhan berikan. Ketika kita kehilangan sense of gratitude and wonder, kita mulai kehilangan meaning of life. Kita patut berterima kasih dan kagum untuk hal-hal yang sehari-hari yang kita banyak take for granted di dalam hidup kita. Kagum kepada pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita dan kagum kepada anugrah. Ketika kita mengerti akan hal ini, terus datang kepada Dia dan bersekutu dengan Dia, bergumul dengan Dia dan menjalani hidup di dalam Dia, dan melihat pekerjaan Tuhan yang Dia kerjakan terus di dalam hidup kita, kita boleh kagum dan bersyukur kepada Dia. Ini membawa kita mengerti why we are here (apa artinya hidup kita).

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s