Anak yang Dipercepat


Lihat juga: Kalau Salah Mendidik Anak

Sekolah telah tiba, ayo sekolah mari bergembira! Apakah kalimat ini menjadi refleksi dari wajah anak-anak kita saat mereka kembali ke sekolah? Ataukah justru sebaliknya, anak-anak merasa tertekan dan tidak bergembira saat kembali ke sekolah?

Kembali ke sekolah mungkin saja sudah tidak lagi menyenangkan dan menggembirakan bagi anak-anak. Bayangan akan berbagai tuntutan di sekolah baik dari orangtua maupun guru mereka membuat anak merasa sekolah hanya menjadi beban. Tuntutan untuk lebih cepat, paling baik, dan tidak boleh gagal mewarnai pikiran anak saat mereka kembali ke sekolah.

Anak-anak pada masa kini bertumbuh dalam tekanan untuk “lebih cepat”. Dalam banyak hal anak telah di”paksa” untuk mencapai dan mengalami pertumbuhan yang cepat. Lihat saja dari cara berpakaian anak-anak yang masih balita. Mereka berpakaian layaknya orang dewasa. Suatu kali, saya harus membeli oleh-oleh berupa pakaian bagi keponakan saya yang baru berumur 2 tahun. Saya menemukan hampir semua pakaian yang dijual bagi anak-anak usia tersebut adalah model pakaian orang dewasa yang dibuat dalam ukuran kecil. Anak-anak tampil layaknya orang dewasa. Siapakah yang paling senang melihat hal tersebut? Tentu saja orang dewasa itu sendiri.

Tekanan untuk bertumbuh lebih cepat ini terjadi dalam berbagai hal dalam kehidupan anak seperti dalam pendidikan, gaya pengasuhan, media, dan lain-lain. Dalam hal pendidikan khususnya, sistem di sekolah telah memperlihatkan bagaimana industrialisasi sekolah memberikan dampak bagi percepatan ini. Saat ini setiap sekolah sedang berlomba untuk memiliki ciri khas dalam dirinya yang dapat menjadi daya saing dalam persaingan antar sekolah saat ini. Semakin “internasional” suatu sekolah, semakin “inggris” bahasanya, semakin kompeten kurikulumnya, dan terutama tentu saja semakin mahal harganya adalah sekolah-sekolah yang paling dicari dan diinginkan. Ketika anak hendak memasuki sekolah-sekolah tersebut mereka layaknya orang yang sedang mencari pekerjaan, karena mereka harus mengalami tes dan wawancara penerimaan sekolah. Sekolah berhak menentukan apakah anak tersebut sesuai atau tidak dengan sistem sekolah mereka. Maka anak yang dianggap tidak cukup kompeten dan sesuai dengan sistem akan tersingkir.

Demikian pula dengan kurikulum sekolah yang ada sekarang di sekolah-sekolah telah berorientasi pada “produk” daripada prosesnya. Produk menentukan keberhasilan suatu sekolah. Anak-anak juara di tingkat nasional, internasional, olimpiade, telah menjadi kebanggaan bagi suatu sekolah untuk memamerkan kehebatan sekolah mereka. Maka sekolah membuat kurikulum yang mencetak anak-anak juara. Menurut David Elkind, kurikulum sekolah telah dibuat menjadi “assembly-line” atau dalam istilah bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pabrikan. Saat pabrik membuat mobil, mereka memiliki rangka kendaraan yang kemudian tinggal disatukan dan dijadikan sebuah mobil. Maka sebuah mobil dibuat berdasarkan rangka yang sudah dicetak berdasarkan modelnya.  Seperti halnya demikian, dalam kurikulum sekolah anak yang harus menyesuaikan diri dan mengikuti sistem bukan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Sampai disini kita dapat melihat bahwa tidak ada tempat bagi anak yang “terlambat”. Anak harus lebih cepat. Tidak ada tempat bagi anak yang tidak mampu, semua anak harus mampu. Tidak ada tempat bagi anak yang membutuhkan waktu, semua harus mencapai standar yang sudah ditetapkan sistem. Anak tidak boleh gagal, anak harus menjadi juara dalam dunia yang semakin cepat ini. There is no place for a loser.

Yang lebih menekan lagi bagi anak adalah ketika orangtua terpengaruh dengan sistem yang ada seperti ini. Ketika orangtua melihat dan merasakan cepatnya sistem yang ada di sekolah hanya ada satu hal yang ada di pikiran mereka yakni mereka tidak ingin anak mereka tertinggal dan kalah dalam persaingan dengan anak yang lain. Orangtua ingin anak mereka sama cepatnya dengan anak lain sehingga orangtua akan memberikan les tambahan, dan berbagai kursus singkat. Seorang anak dari teman saya pernah mengeluh kepada kakeknya, ” Kakek, aku tidak mau sekolah lagi. Capek!”. Ia membandingkan diri dengan kakeknya yang berangkat bekerja pada pukul 8 pagi dan sudah pulang pada pukul 6 sore. Anak itu sendiri berangkat sekolah pada pukul 6:30 pagi dan baru pulang pada pukul 7 malam hari setelah ia menghabiskan waktu dengan berbagai les dan kursus tambahan.

Siapakah yang paling tertekan dalam percepatan dunia seperti ini? Tentu saja jawabnya adalah anak-anak itu sendiri. Anak-anak kita berada dalam kondisi stres yang sangat tinggi. Anak-anak yang berpakaian, berpikir, dan bersikap seperti orang dewasa adalah anak yang sedang bermain peran. Mereka sedang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka sedang menjadi apa yang kita, orang dewasa inginkan mereka menjadi. Anak-anak kita sedang menutupi wajah mereka sendiri dengan berbagai topeng yang dikehendaki oleh sekolah, orangtua, dan lingkungan mereka.

Anak-anak kita mengalami dilema. Di satu sisi mereka sedang dipercepat oleh situasi yang ada di sekolah, di rumah, dan di lingkungan yang menuntut mereka untuk lebih cepat dewasa. Di sisi lain jiwa mereka adalah anak-anak.

Bagaimana sebaiknya? Yang harus diingat dan dimengerti dengan baik adalah bahwa anak membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan belajar. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita kecil kita belum mampu untuk berjalan dan kita membutuhkan waktu untuk mampu berjalan. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita belum mampu menaiki sepeda, kita membutuhkan waktu untuk belajar menaiki sepeda. Sama halnya demikian, anak-anak kita juga membutuhkan waktu untuk mempelajari berbagai hal dalam hidup mereka.

Perlakukanlah anak sebagai anak. Usahakanlah supaya kita sebagai orang dewasa dapat mengerti dan memahami kebutuhan mereka. Dalam dunia yang semakin cepat ini, bantulah mereka untuk memiliki hidup yang seimbang antara belajar dan bermain. Walaupun kita mau tidak mau harus mengikuti sistem pendidikan yang semakin cepat ini, usahakanlah mencari alternatif agar membantu anak tidak semakin tertekan untuk dipercepat.

 (Artikel ini dimuat di Suara Pembaruan tanggal 19 Juli 2007)

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Anak yang Dipercepat

  1. Erline Overton says:

    artikel nya bermanfaat banget, jangan lupa terus update ya. thanks friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s