Natal


Lihat juga:

Natal Tanpa Yesus

Kapankah Yesus Dilahirkan?

Oleh: Aries Chandra Kencana

Bulan Desember adalah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh begitu banyak orang di seluruh dunia. Banyak alasan yang menyebabkan bulan Desember menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu. Untuk orang-orang non-Kristen mereka memberikan alasan bahwa libur yang diberikan pada penutup tahun itu cukup panjang. Mereka juga mendapatkan libur yang sama panjang ketika orang Kristen merayakan Natal. Satu alasan lagi yang menyebabkan orang-orang non-Kristen begitu menanti-nantikan datangnya bulan Desember yaitu bahwa begitu banyak mall di seluruh dunia ikut merayakan periode Natal dan tahun baru, sehingga tidak sedikit dari toko-toko yang ada di dalam mall-mall tersebut memberikan diskon yang begitu banyak bagi setiap pengunjungnya. Kebanyakan orang mengatakan bahwa dua hal ini adalah penyebab bulan Desember menjadi bulan yang paling dinanti-nantikan sepanjang tahun.

Bagi orang Kristen, mungkin sedikit berbeda karena pada bulan Desember setiap orang Kristen yang mengaku percaya kepada Kristus akan merayakan hari kelahiran Kristus yang diadakan setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Permasalahan yang muncul di sini adalah bahwa kebanyakan orang Kristen sudah tidak mengerti lagi akan makna Natal yang sebenarnya. Apa yang ada di dalam benak kebanyakan orang Kristen di seluruh dunia adalah bahwa Natal yang harus dirayakan setiap tahunnya sama seperti Natal yang juga dirayakan di mall-mall yang ada. Banyak gereja di seluruh dunia begitu sibuk mempersiapkan perayaan Natal yang menghabiskan banyak uang hanya untuk perayaan yang berlangsung selama tiga sampai empat jam itu. Gereja-gereja begitu sibuk mempersiapkan acara yang akan dilangsungkan, baik liturgi ibadah, persembahan pujian dari paduan suara, bahkan persembahan drama yang benar-benar harus dipersiapkan. Namun di balik setiap persiapan yang dilakukan, makna sebenarnya dari Natal sudah benar-benar dilupakan.

Di dalam kehidupan pribadi setiap orang Kristen pun Natal sudah mengalami kehilangan makna sebenarnya. Banyak keluarga Kristen yang merencanakan merayakan Christmas Eve, yaitu malam tanggal 24 Desember menyongsong kedatangan Natal pada tanggal 25 Desember, dengan mengadakan makan malam bersama dan bahkan tidak jarang makan malam tersebut mengarah menjadi berpesta pora dengan perayaan tukar kado di antara anggota keluarga yang ada. Lalu anak-anak biasa diberitahu akan adanya oknum yang biasa membagikan kado yang sesuai dengan keinginan mereka pada tengah malam tersebut yaitu Santa Claus. Hal ini membuat setiap anak di dalam keluarga Kristen sangat bersemangat untuk melihat Santa Claus dan hadiah yang besar, unik, berharga darinya. Hal ini menyatakan bahwa makna Natal sudah hilang dari setiap perayaan yang diadakan.

Bagaimanakah seharusnya seorang Kristen berespons terhadap Natal setiap tahunnya? Mari kita melihat sejauh yang Alkitab nyatakan tentang kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah. Kita harus mengingat kembali bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai image of God. Manusia yang diciptakan sebagai image of God, dalam pengertian sempit (narrow sense) diberikan tiga fungsi yaitu untuk menjadi nabi, raja, dan imam. Tugas menjadi nabi disertai pemberian dari Allah berupa true knowledge sehingga manusia dapat mengetahui kebenaran. Hal ini sangat mendukung manusia dalam menaklukkan alam dalam arti menjadi wakil Allah di dunia dan menggenapi rencana Allah untuk dunia ini di dalam fungsi menjadi raja. Penaklukkan alam ini membawa manusia menyatakan true righteousness. Dan melalui kedua hal ini, manusia dapat membawa apa yang sudah dikerjakan di dalam dunia kembali untuk dipersembahkan kepada Allah melalui fungsi imamnya sehingga pada poin ini manusia memiliki true holiness di hadapan Allah. Hal ini terlihat sangat jelas di dalam Kejadian 2 yang mencatat bagaimana manusia memberikan nama kepada binatang sesuai dengan apa yang Allah kehendaki sehingga menyatakan bahwa manusia dapat menjalankan ketiga fungsinya dengan baik melalui true knowledge, true righteousness, dan true holiness.

Namun permasalahan timbul ketika manusia jatuh ke dalam dosa di mana manusia tidak dapat lagi hidup sebagai image of God (narrow sense). Setelah Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia tidak lagi bisa menjalankan ketiga fungsi yang sudah Allah berikan kepada mereka. Manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Ini berarti bahwa manusia telah kehilangan true knowledge, true righteousness, dan true holiness di hadapan Allah. Manusia berdosa lebih suka menjalankan apa yang ia kehendaki dibanding menjalankan apa yang Allah kehendaki. Semakin lama, pemikiran manusia bergeser dan Allah semakin tergeser dari hidup manusia. Sampai zaman post-modern di abad ke-21 ini manusia bahkan sudah tidak percaya adanya satu Allah yang menaungi dan mengontrol segala sesuatu. Manusia yang dipengaruhi zeitgeist (spirit/roh zaman) bahkan sudah menggeser Allah dari pemikirannya. Allah sudah tidak ada di dalam pikiran manusia. Maka jangan kaget, jika terlihat tidak adanya perbedaan antara perayaan Natal yang dikerjakan baik oleh orang Kristen maupun orang non-Kristen setiap tahunnya. Karena Allah juga sudah tidak ada lagi di dalam pemikiran orang Kristen abad ke-21 ini. Hidup yang tidak direlasikan dengan Allah, inilah kehidupan kekristenan zaman sekarang. Kekristenan tanpa Kristus, agama tanpa Allah, itulah kekristenan abad ke-21. Kehidupan terlepas dari Allah. Betapa menyedihkan!

Kurang lebih dua ribu tahun yang lalu Pribadi Kedua Allah Tritunggal datang ke dalam dunia sesuai kehendak Allah Bapa, mengenakan tubuh manusia yang berdosa dengan tujuan untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang terhilang dalam dosa. Ia juga datang sebagai teladan untuk menyatakan bagaimana seharusnya manusia hidup di dalam relasi dengan Allah sebagai seorang image of God. Dia datang ke dalam dunia untuk menyatakan Ia mengasihi Allah Bapa dan Ia mau menggenapkan kehendak Allah Bapa. Tujuan inilah yang diberikan Kristus sebagai teladan bagi kita agar berani menjalankan hidup di dalam dunia ini meski harus berhadapan dengan penderitaan. Dari awal hidup-Nya, Ia rela dilahirkan di kandang binatang yang begitu bau. Sepanjang hidup-Nya banyak penghinaan yang harus ditanggung-Nya, Ia dikatakan sebagai yang dilahirkan dari seorang ibu yang berzinah. Bahkan dari keluarga-Nya sendiri, Ia dikatakan sudah tidak waras lagi. Semua ini Ia terima dengan satu tujuan yaitu menyatakan kasih-Nya kepada Bapa dan menggenapi kehendak Bapa yang sudah mengutus-Nya ke dalam dunia. Inilah fokus hidup yang seharusnya dimiliki seorang manusia. Terus-menerus berpusat kepada Bapa sebagai Penggerak kita satu-satunya, sebagai Penopang kita selalu, dan sebagai Tujuan Akhir dari segala yang kita kerjakan. Kristus menghidupinya dengan sempurna sehingga setiap aspek hidup-Nya merupakan penggenapan kehendak Bapa yang sempurna. Ia bahkan berani dan rela ditangkap, diadili secara tidak adil, dihukum tanpa ditemukan kesalahan yang ada pada-Nya dengan hukuman cambuk, dimahkotai dengan mahkota duri, dan dipaku di atas kayu salib demi tujuan yang satu itu. Inilah hidup seorang image of God yang sejati.

Momen Natal bukanlah sekadar momen yang dirayakan begitu saja untuk sekaligus menutup satu tahun yang sudah lewat. Momen Natal bukanlah perayaan untuk memuaskan keinginan hati manusia berdosa. Tetapi momen Natal adalah momen yang Tuhan berikan kepada setiap orang Kristen untuk merenungkan makna hidupnya di dalam dunia yang harus dikembalikan menjadi image of God yang benar-benar mengikuti teladan yang sudah diberikan oleh Sang Juruselamat. Maka, orang Kristen yang benar-benar mau menghidupi hidup sebagai image of God akan melihat bahwa momen Natal adalah momen yang baik untuk merefleksikan seluruh hidupnya di hadapan Allah. Apakah hidupnya sudah mengikuti teladan yang Kristus nyatakan melalui lebih dari 33 tahun hidup-Nya di dalam dunia ini? Ketika menemukan bahwa dirinya belum sepenuhnya kembali mengikuti teladan yang Kristus berikan, seorang Kristen yang benar akan memanfaatkan momen Natal ini untuk menyatakan komitmennya kepada Allah bahwa ia akan berjuang menghidupi hidup sebagai image of God dalam setiap aspek dengan lebih keras lagi.

Agar perjuangan ini dapat bertumbuh, satu hal yang harus adalah bagaimana seluruh hidupnya terus mengejar true knowledge dari Allah yang bisa didapat dengan mempelajari firman Tuhan lebih dalam dan lebih serius lagi. Berbeda dengan kehidupan orang abad ke-21 ini, sejak kecil belajar di sekolah dan menghabiskan banyak waktu sampai kuliah untuk mengejar ilmu pengetahuan sedangkan dalam belajar firman Tuhan waktu yang dipergunakan hanya sedikit. Inilah salah satu sebabnya mengapa orang Kristen begitu minim dalam pengenalan akan Allah di dalam hidupnya. Hal yang paling celaka adalah bahwa ketika hidup dalam ketidakseimbangan ini, orang Kristen tidak merasa bahwa itu adalah hal yang salah sehingga ia terus menjalankan hidup seperti ini. Tetapi di dalam mempelajari firman Tuhan, tidak cukup hanya mempelajari sebatas mengisi pengertian kognitif saja. Seorang Kristen harus belajar dengan setia terus menjalankan semua yang Allah perintahkan.

Setelah belajar firman Tuhan dan mengaplikasikan firman Tuhan dalam hidupnya, orang Kristen masih mempunyai hal yang harus dikerjakan, yaitu bagaimana memisahkan kebenaran dengan bidat di dalam setiap bidang ilmu yang dipelajari. Firman Tuhan yang sudah dipelajari dan dihidupi harus menjadi dasar melihat kepada dunia ilmu dan menjadi standar bagi orang Kristen dalam memisahkan kebenaran yang sudah Allah tanamkan dengan bidat yang merupakan pemikiran manusia berdosa yang dimasukkan ke dalam setiap bidang ilmu yang dipelajari. Proses ini seakan menjalankan kembali kisah perjalanan bangsa Israel di padang gurun sebelum masuk ke dalam tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan. Bagaimana Israel dimurnikan kembali dengan menghidupi hidup yang detail sampai kepada setiap hal kecilnya diatur oleh Firman Tuhan.

Biarlah momen Natal tahun ini boleh mengingatkan kita akan teladan yang sudah Kristus berikan. Marilah kita merefleksikan sejauh mana kita sudah mengejar dan menghidupi hidup sebagai image of God. Mari belajar memaksa diri dengan rela mengejar hidup yang benar. Bukan hanya berhenti di sini saja, tetapi juga pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus (Mat. 28:18-20). Momen Natal adalah momen yang terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja. Sudahkah kita sebagai orang Kristen menjalankan hal ini? Jikalau belum, maka biarlah momen Natal tahun ini kita merenungkan bersama akan teladan Kristus yang sudah datang ke dalam dunia mati dan bangkit bagi kita.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s