Allah Turut Bekerja Dalam Segala Hal


Oleh: Pdt. Stephen Tong

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah, (Roma 8:28). Ayat ini tidak pernah kau temukan di dalam buku-buku klasik dari Gerika kuno. Juga penginterpretasian yang begitu tepat dan akurat, begitu baik dan total seperti ayat ini tidak akan dapat kau temukan dalam buku-buku Aristotle, Plato, Socrates, Heraclitos, Lucresius, Empedocles, Homer. Kau tidak mungkin dapat menemukan ayat yang seindah ayat ini di dalam filsafat Descrates, Kiekegaard, ataupun Kant. Satu-satunya sumber bijaksana yang begitu besar di dalam alam semesta, yaitu Roh Kudus, mewahyukan kebenaran kepada manusia melalui Rasul-Nya, Paulus, sehingga dia mengatakan kalimat yang mengandung makna yang amat dalam ini. Paulus menemukan kunci untuk mengerti segala sesuatu berdasarkan  wahyu Tuhan kepada manusia. Kita melihat ayat ini menonjol sendiri didalam seluruh Alkitab. Ayat ini sangat unik, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, peristiwa yang besar atau yang kecil, yang menyenangkan atau yang menyusahkan, pengalaman yang pahit atau manis, yang mematikan atau menghidupkan, yang menguntungkan atau merugikan, mempunyai hubungan satu dengan yang lain, dan Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, atau Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan faedah bagi orang yang mengasihi-Nya.

Untuk menterjemahkan ayat ini saja terdapat begitu banyak versi, sebab begitu banyak kemungkinan menurut bentuk dari bahasa aslinya. Dikatakan di sini kita tahu bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu; God is working with all things, in everything He works; Allah bekerja di dalam segala sesuatu atau yang diterjemahkan di sini menjadi  ‘Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu’. Terjemahan bahasa Mandarin: di dalam segala sesuatu ada kekuatan yang bekerja bersama untuk mendatangkan faedah bagi mereka yang mencintai Tuhan. Terjemahan NSV, ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya, bahwa Roh Kuduslah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu yang terjadi, sehingga barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan profit dan kebaikan. Terjemahan bahasa Indonesia cukup indah, tetapi istilah turut bekerja kurang mencerminkan Allah sebagai inisiator.

Allah Sebagai Inisiator

Because all things work together for good to those who love God. And God is working within all things; Allah ikut bekerja dalam segala sesuatu. Allah bekerja untuk mengatur segala sesuatu. Dia bukan hanya ikut-ikutan bekerja sebagai oknum yang pasif. Dia adalah inisiator yang mengontrol, memonitor dan menguasai sejarah. Allah kita adalah Allah yang memimpin sejarah, Tuhan dari sejarah. Allah kita tidak mungkin membiarkan segala sesuatu terjadi tanpa campur tangan atau izin-Nya. Yang direncanakan berada dalam kehendak-Nya, yang diizinkan berada dalam kehendak-Nya, yang dibiarkan sekalipun tetap berada dalam kehendak-Nya. Allah memberikan kemungkinan dengan segala kebebasan yang liar, berbuat apapun, tapi akhirnya tetap dikuasai oleh-Nya. Jangan mengira kalau kita mau berbuat apa-apa, maka Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa. Allah membiarkan kita berdosa, membiarkan kita memakai kebebasan kita yang liar, tapi akhirnya kebebasan seperti itupun tidak bias terlepas dari penghakiman-Nya. Dengan demikian orang Kristen mengetahui bahwa kedaulatan Tuhan berada dan melanda di dalam segala bidang, segala katagori, segala peristiwa dan segala sesuatu. Pemahaman ini akan membuat iman kita menjadi kuat.

Segala Sesuatu Bekerja Sama

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling dalam untuk mengerti segala sesuatu yang terjadi di dalam kosmos mempunyai makna dan telos (Yun: tujuan terakhir, Red) yang sesungguhnya. Allah memberikan segala sesuatu kepada manusia, Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi, dan Dia juga ikut memonitor segala sesuatu di dalam sejarah. Tetapi apakah maksud segala sesuatu? Apakah sebagai peristiwa yang berkeping-keping ataukah sebagai totalitas? Jawabannya, bukan berkeping-keping dan terpecah belah, tetapi merupakan ketotalan. Ada kaitan antar satu peristiwa dan peristiwa lain, sehingga orang Kristen mempunyai pandangan total tentang hidup. Kita menangkap dan mengerti segala sesuatu bukan sebagai peristiwa yang terpisah-pisah oleh waktu, oleh periode sejarah, oleh peristiwa-peristiwa yang bersifat fragmental, melainkan sebagai peristiwa yang total.

Seorang ayah memberikan mainan puzzle yang terdiri dari ribuan keping kepada anaknya. Anak itu bertanya, “Kalau saya sudah menyusunnya, akan menjadi gambar apa?” “Kau akan mendapatkan gambar peta dunia,” jawab ayahnya. Si anak mulai menyusun, tetapi alangkah sulitnya menggabungkan potongan-potongan kecil dari peta dunia, karena setiap potongan itu hampir sama: garis, warna sungai, kota, tempat, hanya itu saja. Anak itu menggabungkan potongan-potongan itu dengan susah payah. Akhirnya sang ayah berkata, “Kalau kaubalikkan semua potongan-potongan kecil itu, kau akan dapat mengerjakannya dengan mudah.” Maka si anakpun berusaha membalikkan semua potongan kecil. Akhirnya dia mulai menemukan bahwa apa yang dikerjakan memang gampang. Karena di balik potongan itu terdapat warna yang gampang untuk dicocokkan. Setelah dia menggabungkan semuanya itu, dia menemukan bahwa gambaran yang jadi adalah Yesus kristus. Lalu diberikan lem dan dibalikkan, ternyata peta dunia sudah jadi. Mengertikah Anda akan maksud saya?

Orang Kristen berbeda dengan orang yang bukan Kristen. Orang Kristen dididik dan diajar dengan kalimat yang agung ini, all things work together for good to those who love God. Ini merupakan pekerjaan Tuhan di belakang layar. Kalau kau memang adalah anak Tuhan yang mengasihi-Nya, tetapi dalam hidupmu terjadi hal-hal yang berlawanan dengan kesejahteraan, kesehatan, dan keinginanmu, jangan kecewa, menangis, dan mengeluh dengan tidak henti-hentinya. Karena kalau kau merasa sulit untuk menyusun semua kepingan-kepingan yang bisa menjadi gambaran total, pasti ada maksud Tuhan yang baik untukmu, pasti semua itu membawa akibat yang baik buatmu. Sampai kapankah iman kita baru bisa menyanyi seperti ini, “Biarlah segala sesuatu terjadi pada diriku, karena semua itu menjadi kebaikan bagiku yang mencintai Tuhan.” Sampai kapankah kita bisa mempunyai iman yang teguh, sehingga kita berteriak seperti ini, “Biarlah semua kepahitan, penganiayaan, kesulitan, dan semua yang tidak aku inginkan menimpa diriku, aku tetap memuji Tuhan. Karena di belakang segala kepahitan, penderitaan, kesengsaraan, kerugian ada topangan dari tangan Tuhan, untuk memberikan faedah bagi diriku.” Bila kerohanian seseorang sudah mencapai tahap ini, dia akan menjadi stabil luar biasa: biar diancam, diiri, dihantam, difitnah, diumpat, dia tetap tenang dan tersenyum.

Segala sesuatu bekerja bersama? Memang. Allah tidak mencetak peta dunia yang kelebihan satu atau kekurangan satu, sehingga akhirnya menjadi ompong-ompong. Tidak! Karena jikalau kau mengenal kehendak Kristus dan rencana Tuhan yang kekal secara total, maka hidup yang berada di dalam hidupmu dan pengalaman yang terjadi dalam hidupmu tidak ada satupun yang bisa dihapus.

Banyak orang Kristen tidak mau digarap oleh Tuhan. Hanya mau sebagian, tidak mau all things. Hanya mau something, not all things. Only something and make you nothing. All things will make you something. Kalau kau tidak rela diatur oleh Tuhan dalam semuanya, kau always become nothing. Tapi bila kau menerima segala sesuatu dengan pengertian, ketaatan yang penuh, dan bijaksana yang dari Tuhan, kau akan dibentuk oleh Tuhan menjadi sesuatu.

Dua ribu dua ratus lima puluh tahun yang lalu Mensius berkata, tian jiang da ren yu shi ren ye, pi xian lao qi jing gu, jo qi fu; jikalau langit memberikan tugas yang berat kepada orang yang tertentu, maka orang itu pasti diberikan kesengsaraan besar, dilatih sampai semua ototnya lelah, dan hatinya penuh kepedihan, barulah dia akan menunaikan tugasnya. Sekali lagi saya menegaskan, tanpa salib tidak ada kebangkitan; tanpa kematian, tidak ada mahkota; tanpa Getsemani, tidak ada kemuliaan. Inilah cara Tuhan. Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, kita berusaha melarikan diri, tetapi Allah menghendaki kita mengalami segala sesuatu yang diizinkan datang melanda kita sebagai kesempatan untuk mendapatkan kemenangan.

Mendatangkan Faedah

Di sini kita melihat ada campur tangan Tuhan Allah di dalam segala sesuatu, dan semua campur tangan Allah mempunyai makna yang khusus: mendatangkan faedah, dan faedah ini khusus diberikan kepada mereka yang mencintai Dia. Mengapa Tuhan memperbolehkan kesengsaraan berada di dalam dunia? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan-kegagalan pribadi terjadi? Mengapa Tuhan tidak menolong pada saat kita sedang dicobai setan, bahkan kadang-kadang memperbolehkan kita berada di dalam cengkeramannya? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sulit ini sudah diberikan oleh orang-orang di dunia, baik para filsuf, moralis atau agamawan. Tetapi kecuali kita kembali kepada Kitab Suci, kita tidak mungkin mendapatkan jawaban yang paling tepat untuk hal ini. Mengapa Tuhan memperbolehkan sengsara itu ada? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan itu berada? Jika saya adalah seorang yang mengajar anak saya menyetir mobil, lalu pada waktu kesulitan tiba — kalau memang dalam jangkauan saya–, saya akan berusaha mengerem, sehingga tidak akan terjadi tabrakan. Mengapa Tuhan tidak mengerem? Mengapa Dia tidak memberikan interverensi darurat pada waktu kesulitankesulitan terjadi? Mengapa Tuhan memperbolehkan segala marabahaya terjadi? Mengapa, mengapa, mengapa? Kita bertanya dan bertanya terus. Sepanjang hidup, manusia adalah satu-satunya makhluk yang tidak habis-habisnya bertanya tentang peristiwa-peristiwa seperti ini.

Mengapa Allah memungkinkan dan membiarkan segala sesuatu terjadi? Martin Luther berkata, “There are no why in the heart of the true believer”; tidak ada kata “mengapa” di dalam hati orang-orang yang sungguh beriman kepada Tuhan. Karena iman yang sejati sudah mencakup penerimaan dan pengertian bahwa Allah tidak mungkin berbuat salah. Kalau Allah tidak mungkin berbuat salah, maka segala sesuatu yang Ia izinkan terjadi pada diri kita adalah hal yang mempunyai faedah yang luar biasa meskipun di luar kesanggupan kita untuk mengerti.

Pada waktu kepicikan, menderita penyakit, mengalami kesulitan atau disalahmengerti, diserang oleh orang lain; pada waktu kau harus mengalami segala kesusahan yang jauh lebih berat dari kemungkinan yang dapat kau tanggung, jawablah because Thy will is like this, I except all of them, karena kehendak-Mu memang begitu indah. Kehendak Tuhan bukan saja indah di hari di mana kau mengalami kesuksesan, diberi berkat dan hadiah, kehendak Tuhan yang indah termasuk saat-saat kau diizinkan untuk menerima penderitaan dan kesulitan yang besar. Saya bukan pendeta yang berkata kepadamu, “Percaya kepada Tuhan, beri pesembahan sebanyak mungkin, supaya kau mendapatkan curahan berkat dari surga, sehingga menjadi kaya raya.” Saya berkata kepadamu, di antaramu ada yang akan diberi kelancaran, kesehatan dan kekayaan, tapi sebagian mungkin akan diberi kecacatan, kesulitan, dan segala penderitaan. Saya tidak tahu siapa. Tapi iman bukan hanya menyanyi di siang hari, iman juga bisa menyanyi pada waktu malam yang gelap. Iman bukan hanya memuji pada waktu lancar, iman selalu bersyukur di dalam penderitaan.

Mereka yang lancar, yang sukses, yang kaya, stop membanggakan diri, merebut kemuliaan Tuhan Allah dan menghina orang lain. Sedangkan mereka yang menangis, yang menderita dan yang berada di dalam kesengsaraan, yang sedang memikul salib berat, stop hujat Tuhan, stop mencela nama-Nya dan berhenti berbuat dosa dalam usaha untuk menyelesaikan kesulitan itu. Segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi di dalam hidup kita ada maksud tertentu yang sekarang terselubung dengan fenomena-fenomena kesulitan, tetapi ada suatu pencerahan, pada waktu kau masuk ke dalam dirimu yang terdalam untuk menemukan jawaban dari Tuhan.

Pada waktu gereja berada di dalam kesulitan, pada waktu orang Kristen mencucurkan air mata, pada waktu kita mengalami segala kepicikan, jangan lupa bahwa Tuhan sedang menyatakan kemungkinan yang lain di luar dalil dan rumus-rumus umum darimu. Mari kita semua melepaskan diri dari segala kemungkinan yang mengakibatkan kita tercerai berai dari rumus dan pimpinan Tuhan yang dinamis dan begitu indah. Biarlah kita tetap peka dan betul-betul rendah hati dan taat kepada Tuhan setiap saat. Katakanlah, “Tuhan, segala sesuatu yang terjadi telah membawa aku lebih dekat kepada-Mu. Untuk yang baik, saya bersyukur kepada-Mu, bukan karena jasaku yang tidak baik, yang tidak menguntungkan, juga bukan satu hal yang khusus Tuhan pakai untuk menghantam saya, melainkan Tuhan memakainya untuk melatih diriku menjadi lebih baik.”

Calvin dan komentator lain seperti F.F. Bruce melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya sebagai latihan buat orang Kristen saja. Namun saya melihat hal lebih luas dari itu, melampaui sekadar pengalaman pahit bagi orang Kristen saja. Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi? Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang seharusnya tidak terjadi? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu satu hal, untuk menyempurnakan yang di dalam, perlu memotong bagian bagian yang di luar; untuk menyempurnakan yang lebih kekal, perlu ajaran yang diberikan pada bagian luar. Kadang-kadang Tuhan harus memotong sesuatu, harus memukul sesuatu, sehingga kerugian yang sementara mengakibatkan kesempurnaan yang kekal. Penderitaan kedagingan mengakibatkan suatu kenikmatan rohani, sehingga kerusakan dan kekurangan secara fenomena dan hal yang terjadi di dunia mengakibatkan kita memikirkan hal yang kekal.

Sebuah buku apologetika komunisme untuk melawan kekristenan yang saya baca mengatakan, “Jika orang Kristen mengatakan bahwa orang komunis bersalah banyak membunuh rakyatnya, kita akan membantah dengan berkata, ‘Allahmu bersalah membunuh manusia lebih banyak daripada orang-orang komunis.’ Satu kali bencana alam, seperti gunung meletus atau badai laut besar, ratusan ribu orang yang tidak bersalah harus dibunuh.” Di dalam Kitab Suci kita melihat hal yang paling tidak masuk akal, atau yang paling tidak bisa kita mengerti adalah peristiwa yang terjadi dalam hidup Ayub. Kesepuluh anaknya mati dalam satu hari, harta benda dirampas dan semua yang dia miliki lenyap dari tangannya. Bukan saja demikian, istrinyapun mulai meninggalkan dia. Hampir tidak ada contoh yang lebih mengerikan, tidak ada malapetaka yang lebih besar, yang bisa kita bayangkan daripada peristiwa yang terjadi pada diri Ayub. Hal tersebut perlu dicatat di dalam Alkitab, sehingga dari zaman ke zaman, waktu manusia bertanya, ‘mengapa?’ (sebenarnya kita tidak berhak bertanya) dia boleh mencatat peristiwa Ayub. Alkitab mencatat akhirnya Tuhan mengembalikan semua milik Ayub yang hilang dua kali lipat dari sebelumnya.

Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Di dalam iman, kita tidak perlu bertanya, “mengapa?” Jawabannya bukan dari spekulasi kepintaran kita, melainkan dari Kitab Suci: Allah belum pernah berbuat salah. Dan di dalam segala penderitaan, kesulitan dan bahkan kematian yang terjadi pada diri orang-orang yang mencintai Dia, ada rencana dan pemeliharaan yang kekal, yang jauh lebih tinggi daripada fasih lidah kita untuk berdebat, daripada pikiran kita berlogika, dan spekulasi kita dengan jawaban yang tidak sempurna.

Puji Tuhan! Jikalau hidupmu penuh dengan gelombang, pengoyakan, penyaringan, penggeseran, ujian, cobaan, namun akhirnya kau menang. Waktu kau bersaksi, kau tenang. Kalau orang lain sedang mengalami sesuatu, langsung kau bisa mengucapkan kata-kata yang indah yang bias menenangkan dia. Bila orang lain menceritakan kesulitannya, kau langsung mengeluarkan kata-kata mutiara untuk menghibur dia. Bila ada yang tawar hati, kau langsung mengucapkan kata-kata perjuangan untuk mendorong dia.

Karena Kita Tahu

Jika pada ayat-ayat sebelumnya kita mendapati bahwa kita sebagai buah-buah sulung Roh Kuduspun turut mengeluh, kita berada di dalam keadaan sengsara, penderitaan dan kesulitan yang tidak berbeda dengan mereka yang belum diselamatkan, yang bukan anak Tuhan. Kita adalah orang-orang yang sama-sama berada di dalam penderitaan tetapi status kita berbeda, karena kita adalah anak-anak Allah. Jika perbedaan status tidak membawa perbedaan kenikmatan, apa pula artinya? Memang hampir tidak ada perbedaan antara orang Kristen dan orang yang bukan Kristen dalam menghadapi kenikmatan dan kesengsaraan di dalam dunia. Tetapi ada kenikmatan tertentu di dalam pengertian rohani orang percaya yang memberikan kesadaran dan kekuatan untuk melampaui segala sengsara sebagai fenomena yang sementara ini. Pada saat Paulus mengatakan kita tahu, dia sedang mengadakan perbedaan antara orang Kristen dan orang bukan Kristen, yaitu kita orang Kristen –mengetahui bahwa kita mempunyai pengertian yang berbeda dengan orang lain. Meskipun sama-sama berada dalam penderitaan, dalam kesulitan-kesulitan duniawi ini, orang Kristen mempunyai semacam kesadaran dan pengetahuan yang tidak mungkin dimiliki oleh mereka yang belum mengerti akan wahyu dari Tuhan Allah.

Orang Kristen yang beriman, yang bervisi dan mempunyai pengertian melalui iman yang mendatangkan visi yang benar itu berani berkata seperti ini, “Karena kita tahu; because we know.” Sejarah mencatat bagaimana orang Kristen di abad pertama mengalami pencemoohan, penganiayaan, penderitaan dan perlakuan yang tidak adil dari pemerintah dunia yang melawan Yesus Kristus, seperti Herodes dan para kaisar Romawi. Mereka memperlakukan orang Kristen bagaikan sampah dunia, tetapi mereka merasa heran sekali, karena orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan dan penderitaan dapat berdiri dengan tegak, tegar, dan menyanyi di dalam penderitaan.

Seorang sejarahwan Yahudi yang bernama Josephus berkata, “Saya tidak bisa mengerti, pada waktu singa menerkam mereka, orang Kristen tetap mempunyai wajah yang tenang, hati yang begitu stabil dan mereka memuji Yesus Kristus. Sebelum mati, suara pujian tidak henti-hentinya keluar dari mulut para martir-martir itu.” Jawabannya terdapat di sini: sebab kita tahu; because we know. Iman yang sesungguhnya bukan iman yang tahayul, yang membius otak, yang menginjak-injak logika, melainkan iman yang menggugah pengertian yang sesungguhnya, yang sesuai dengan kebenaran Tuhan. Allah yang mewahyukan kebenaran, adalah juga Dia yang menciptakan otak manusia. Ketika kita menggabungkan kedua hal ini, kita tahu bahwa keduanya hanya mempunyai satu tujuan, yakni supaya kebenaran yang Tuhan wahyukan boleh memimpin pikiran yang dicipta oleh Tuhan yang sama. Begitu banyak kaum cendikiawan, kaum intelektual ketika mengembangkan intelek mereka, mereka tidak memiliki penguasa intelek. Sebab itu, mereka bersandar pada pikiran, otak dan logika mereka sendiri. Maka semakin seseorang memiliki kepintaran, semakin mungkin dia berada di dalam hati yang gelap. Semakin mereka bertumbuh secara pengetahuan, mereka semakin jauh dari kerelaan untuk mematahui kebenaran Tuhan Allah. Sebab itu, iman kepercayaan bukan membunuh logika atau otak melainkan memimpin otak yang Tuhan ciptakan itu untuk kembali kepada firman yang Dia wahyukan. Inilah yang membuat Paulus mencetuskan because we know.

Apakah bedanya penderitaan bagi orang yang beriman dan bagi orang yang tidak beriman? Bagi orang yang beriman, penderitaan akan membuat imannya menghasilkan pengharapan. Namun bagi mereka yang tidak beriman, penderitaan justru membunuh pengharapan mereka. Inilah perbedaan antara orang yang memiliki dinamika iman dan mereka yang tidak memilikinya. Saya mengambil contoh dari dua orang terpidana mati. Mereka menerima vonis yang sama, tinggal di dalam kamar yang sama kondisinya, dan di dalam penjara yang sama. Namun akhirnya salah seorang di antara mereka mendapatkan pengampunan, dan yang seorang lagi tetap dipidana mati. Penjaga penjara datang memberitahukan kepada A, “Sepuluh hari lagi kau akan dibebaskan.” Lalu kepada si B ia mengatakan, “Sepuluh hari lagi kepalamu akan dipenggal.” Permisi tanya, apakah bedanya sepuluh hari itu untuk mereka berdua? Mereka tetap berada di dalam keadaan yang sama, hidup di bawah atap yang sama, penjara yang sama, dalam penderitaan yang sama tetapi yang seorang berpikir, “Sepuluh hari lagi aku akan pulang, bertemu dengan istri dan anak yang merindukanku.” Sedangkan yang satu lagi berpikir, “Sepuluh hari lagi saya akan mati, kepala saya akan dipenggal dan dikuburkan.” Sepuluh hari lagi memang sama jumlahnya bagi si A dan bagi si B, namun perasaan mereka berbeda. Karena yang seorang sudah memperoleh keyakinan, jaminan, dan pengharapan untuk bebas. Sementara yang lain menantikan eksekusi vonisnya, kepalanya akan dipenggal dan dia akan menuju kepada kematian yang belum dia ketahui. Maka ketika si A menghitung hari-harinya, “Sisa 9 hari, 8 hari, 7 hari, 6 hari, 3 hari, 2 hari dan besok, saya akan keluar dari sini. Istri saya sedang menunggu,” pengharapan itu memberikan gairah dan kekuatan yang luar biasa bagi jiwanya. Tetapi bagi yang seorang lagi, setiap matahari terbit merupakan kutukan baginya, dan ketika matahari terbenam merupakan ancaman baginya. “9 hari, 8 hari, 7 hari, 3 hari, 2 hari lagi saya harus mati.” Ini melukiskan perbedaan antara orang Kristen dan mereka yang tidak beriman kepada Tuhan.

Because we know, karena kita tahu. Kalimat ini merupakan proklamasi bagi orang yang beriman kepada Tuhan. Kalimat ini juga diucapkan oleh seorang yang hidup sebelum Musa lahir, yaitu Ayub. Ayub 19:25 menyatakan,  Because I know my redeemer lives; karena aku tahu Penebusku hidup dan satu hari nanti Dia akan berdiri di atas bumi ini untuk menghakimi segala sesuatu, dan di dalam tubuhku aku akan berjumpa dengan-Nya.” Pengetahuan yang diutarakan oleh Ayub ini melukiskan pengharapan yang mempersatukan kekekalan dengan kesementaraan. “Aku mengetahui Tuhanku, Penebusku hidup.” Inilah kalimat pertama dalam Alkitab yang mencetuskan iman kepercayaan orang Kristen yang melampaui semua agama. “Karena Penebusku adalah Penebus yang mengalahkan kematian dan bangkit, sehingga Dia hidup. Aku tahu bahwa Penebusku hidup dan pada hari terakhir, ketika dunia kiamat, Dia akan berdiri di atas bumi ini. Dia akan datang kembali.” Pada waktu Ayub menulis ayat yang begitu penting, Kristus belum inkarnasi, belum datang ke dalam dunia, belum mengalahkan pencobaan, belum dipakukan di atas kayu salib, belum dikuburkan, belum dibangkitkan pula dari antara orang mati. Tetapi Ayub melihat dengan iman akan wahyu yang Tuhan berikan dalam hatinya. Dia mengetahui sedalam-dalamnya bahwa Penebusnya hidup, dan pada hari kiamat nanti Dia akan berdiri di dunia ini untuk mengatasi dan menghakimi seluruh umat manusia.

All things work together, begitu banyak hal yang Tuhan perbolehkan terjadi, pada waktu kita tidak mengerti, jangan kita bersungut-sungut, atau melawan Dia, atau marah kepada-Nya, biarlah orang Kristen belajar bersabar untuk menunggu, serta berkata di dalam hati, Tuhan, apa yang Kau kerjakan lebih besar daripada kemungkinan aku mengerti, biarlah aku bersabar dan hanya taat kepada-Mu saja. Sebab itu saya menghimbau orang kaya jangan menghina orang miskin, orang miskin juga jangan iri terhadap orang kaya, orang pandai jangan membiarkan diri congkak, dan orang yang kurang pandai juga jangan menghina dirinya sendiri. Karena segala sesuatu yang berada di bawah pengaturan Tuhan akan menjadi baik dan indah jika motivasi kita adalah cinta kepada-Nya. Allah memperbolehkan penderitaan, kesengsaraan, kesulitan menimpa seseorang untuk membuktikan bahwa orang yang mencintai-Nya tidak akan dihancurkan oleh penderitaan. Jika seseorang tetap bersih, tetap setia, tetap mempunyai watak yang anggun dalam penderitaan dan kesengsaraan, maka Tuhan akan berkata kepada setan, “Coba lihat anak-Ku yang satu ini, meskipun diberi penderitaan dan kesengsaraan, ia tetap teguh, tetap jujur, tetap berdiri dengan teguh dan setia kepada-Ku.” Penderitaan-penderitaan yang diizinkan oleh Tuhan untuk menimpa diri orang Kristen adalah alat yang paling baik untuk membuat setan undur. Penderitaan-penderitaan besar yang Tuhan berikan adalah yang paling baik bagi kita untuk menyumbat mulut Iblis yang selalu menuduh kita.

Ada 3 pekerjaan setan yang besar, yang dicatat oleh Alkitab:
1. Setan adalah pencoba manusia, yang menggoda manusia berbuat
dosa.
2. Setan adalah perintang Allah dalam menghambat terlaksananya
rencana-rencana Allah.
3. Setan adalah penuduh orang suci akan dosanya di hadapan Tuhan
Allah siang dan malam.

Ketiga hal ini adalah pekerjaan setan yang tidak habis-habisnya. Tuhan memperbolehkan semua ini terjadi, tapi bagi mereka yang mencintai Tuhan, ada jalan keluarnya. Setan menuduh, mencobai dan merintangi, karena itulah pekerjaannya. Mengapa Allah membiarkan setan ini berada? Untuk membuktikan sekalipun setan ada, tetap tidak mungkin menjatuhkan gereja. Sepanjang sejarah, gereja telah diombang-ambingkan, dikacaukan oleh setan. Banyak pemimpin-pemimpin gereja yang tidak waspada, malah lebih suka bekerja dengan setan, untuk menjadi alat setan, sehingga tubuh dan gereja Yesus Kristus kehilangan kemuliaan yang sesungguhnya.

Dalam Mzm 119, Mazmur yang terpanjang, terdapat beberapa kalimat mengenai sengsara. Dan ada dua ayat yang sangat penting, yaitu ayat 67 dan 71, yang di dalamnya terdapat dua istilah mengenai penderitaan. Pemazmur berkata, “sebelum menderita, aku pernah jalan sesat.” (terj. LAI: ‘tertindas’, Red). Kedua, “penderitaan itu berfaedah bagi diriku.” Saya minta engkau memikirkan kedua kalimat itu. Sebelum penderitaan, saya selalu berjalan pada jalan yang sesat, dan di dalam penderitaan, saya mengalami faedah dari Tuhan Allah. Tidak pernah ada sebuah cincin emas yang tidak melewati api. Tidak pernah ada sebuah berlian yang tidak mengalami asahan dan dibentuk dengan indah. Tidak ada pakaian yang indah yang tidak mengalami digunting dan dijahit dengan jarum yang tajam. Jika emas memerlukan api, sehingga warnanya nyata, berarti pembakaran adalah hal yang sangat diperlukan oleh setiap orang. Jika berlian perlu diasah sampai bisa berbentuk indah, berarti orang Kristen juga memerlukan penderitaan. Demikian juga ketika kain yang indah dipotong oleh gunting yang tajam dan jarum yang menusuk, semua itu membuktikan ketika kita berada di tangan Tuhan, Tuhan memperbolehkan segala penderitaan menimpa diri kita merupakan rencana yang agung untuk kebaikan kita. Puji Tuhan! Mengapa Allah membiarkan setan ada? Jawabannya tetap dari kitab Ayub, di mana Tuhan memegahkan, memuliakan Ayub dan berbantah dengan setan, “Bukankah kau minta kepada-Ku agar hidup Ayub disiksa olehmu? Agar tubuh Ayub diberi sebanyak mungkin penyakit?” Jangan kita memutlakkan semua penderitaan dan penyakit berasal dari setan. Itu adalah ajaran yang tidak benar. Semua penyakit dan semua penderitaan kalau bukan diizinkan oleh Tuhan, setanpun tidak mungkin memberikannya pada tubuh orang Kristen. Jika Tuhan mengizinkan, meskipun penyakit-penyakit itu menyerang diri kita, orang yang mencintai Tuhan pada akhirnya akan mengalahkan semua itu.

“Sekarang lihatlah,” kata Tuhan, “bahwa imannya terhadap-Ku tetap teguh.” Iman kepercayaan orang Kristen tidak boleh hanya dibangun diatas bahagia dan keuntungan yang Tuhan berikan kepada kita. Saya percaya hari ini di antara Anda ada yang lancar luar biasa, ada yang sama sekali tidak lancar, ada yang berdagang mati-matian, kerja dengan sesetia mungkin tapi terus tidak mendapat keuntungan, ada yang sepertinya tidak usah bekerja apa-apa, hanya dengan mengangkat telpon saja sudah dapat uang milyaran uang.

Saya tidak mengerti mengapa. Namun saya berkata kepadamu, pada saat ujian, pencobaan, kesulitan, dan penderitaan menimpa dirimu, janganlah kau cepat-cepat bersungut-sungut kepada Tuhan, karena itulah waktu setan memakai dirimu untuk mencela Tuhan. Saat itu biarlah kau kembali kepada Alkitab, “Sebab aku tahu, segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan faedah bagi mereka yang cinta Tuhan.” Dalam kesulitan yang bagaimanapun, peliharalah hatimu yang cinta kepada-Nya, peliharalah pikiranmu yang bersih, peliharalah hatimu yang tidak mau ditinggalkan oleh cinta Tuhan. Peliharalah dirimu di dalam kasih Allah senantiasa. Tegakkan dirimu di atas firman Tuhan yang suci dan yang benar itu, dan berdoalah di dalam Roh Kudus.

Sekali lagi saya menjelaskan istilah ini, berdoa di dalam Roh Kudus tidak berarti berdoa di dalam bahasa Roh, sebagaimana berjalan di dalam Roh tidak berarti berjalan dengan bahasa Roh, melainkan berarti mengikuti pimpinan dan jejak Roh Kudus, sehingga perjalanan hidup sehari-hari kita dipimpin oleh oknum ketiga dari Allah Tritunggal. Dan berdoa dalam Roh berarti seluruh hidup doa kita adalah doa yang dipimpin dalam naungan Roh Kudus. Karena Roh dengan keluh kesah yang tidak terkatakan telah membantu mengoreksi doa kita menjadi doa yang suci dan murni, yang boleh berkenan kepada Tuhan Allah.

Allah Bapa dengan kasih-Nya melindungi kita, Allah Anak dengan firman-Nya mendidik kita, Allah Roh Kudus dengan kebijaksanaan yang melampaui manusia memimpin kita, dan dengan keluh kesah-Nya menolong kita berdoa. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita, dan kitapun jangan meninggalkan Dia. Jangan kita berusaha keluar daripada tangan Tuhan lalu kita minta dipelihara, itu tidak mungkin. Biarlah kita tetap berada di dalam cinta Tuhan, dan barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan faedah. All things work together for good to those who love Him. Siapakah di antara kita yang berkata, “Tuhan, di hari-hari aku lancar aku cinta Kau, di hari-hari aku sehat aku cinta Kau, di hari-hari aku beruntung aku cinta Kau, di hari-hari aku merasa picik dan tidak lancar, di hari-hari aku mengalami penderitaan, kerugian, Tuhan aku mau tetap cinta Kau.” Tuhan akan menghapus air matamu untuk melihat bahwa hari depanmu tetap ada penyertaan-Nya, Dia tidak akan meninggalkanmu. Karena segala sesuatu bekerja sama mendatangkan faedah bagi mereka yang mengasihi Dia.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 26 – April 1995

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s