Natal Tanpa Yesus


Lihat juga:

Kapankah Yesus Dilahirkan?

Natal

Oleh: Saumiman Saud

Lukas 2:8-14, Yohanes 21:25

Ketika kita diundang menghadari pesta ulang tahun, tentu fokus sosok manusia yang mendapat perhatian khusus adalah yang berulang tahun itu. Beliau akan disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semua pusat perhatian ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu, selain para pengunjungnya pada kecewa dan penuh tanda tanya dan tentu suasananya tidak menyenangkan.

Belakangan ini di Indonesia sering terjadi demikian, bagi mereka yang keuangannya berlebih kalau tidak mau disebut kaya,  sering mengadakan perayaan ulang tahun besar-besaran baik bagi anaknya yang masih bayi atau bagi orang tuanya yang sudah lanjut usia. Biasanya dirayakan di restoran atau hotel yang cukup terkenal dan menghabiskan cukup banyak biaya. Yang menjadi lucu bin aneh adalah kadang kala terjadi, tatakala pesta tersebut diadakan, sang anak itu sudah tidur atau sang orang tuanya karana sakit maka tidak hadir. Jadi tinggallah acara makan-makan tanpa hadir yang berulang tahun. Lalu kalau sudah begini, kira-kira apa makna ulang tahun tersebut?

Perayaan Natal juga demikian, sering kali kita melihat bahwa karena kesibukan kita di dalam memeprsiapkan acara maka Tuhan Yesus telah dikesampingkan. Pernah saya mendengar lagi adalah kelompok Panitia Natal mengatakan kalau di dalam acara Natal itu tidak perlu menyampaikan firman Tuhan. Nah kalau sudah demikian apa makna Natal nya lagi, apakah kita mengerti sungguh pengertian dari Natal itu? Coba lihat sedikit penjelasanm di bawah ini.

Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Sering kalia kita perhatikan di dalam kartu natal kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen kuno, yakni di dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tidak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Nah, kalau di dalam memperingati hari kelahiran Kristus, tanpa Kristusnya kan aneh, namun kenyataannya banyak terjadi di mana-mana. Ketika Natal dirayakan yang ada hanya hura-hura, makan-makan, bahkan mabuk-mabuk, padahal sesungguhnya di dalam Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kelahiran Yesus merupakan kelahiran seorang raja yang membawa Damai Sejahtera di bumi.

Kelahiran Yesus merupakan kelahiran yang ajaib dan sudah dinubuat sejak dahulu kala oleh para nabi, jadi Yesus yang lahir itu adalah Mesias yang diurapi dan juga disebut sebagai Imanuel atau Allah menyertai kita. Di dalam Mikha 5:1 juga sudah disebutkan bahwa Mesias itu akan lahir di kota Betlehem. Para ahli Taurat dan imam-imam segera saja memberitahukan peristiwa ini kepada raja yang berkuasa pada waktu itu yakni Herodes perihal kelahiran Mesias ini.  Selain itu di dalam Kejadian 49:10 juga disebutkan bahwa Mesia itu dilahirkan sebelum pemerintahan Yahudi dihancurkan. Sedangkan nabi Daniel, terutama di dalam Daniel 9:25 mencatat bahwa enam puluh sembilan kali tujuh masa akan berlalu sebelum Mesias disingkirkan – dan pada waktu itu telah ditunjukkan sampai tuntas pada kematian Kristus. Walaupun pendapat ini masih merupakan perdebatan, namun sangat disetujui oleh kebanyakan orang sarjana. Jadi dari sini kita melihat bahwa sejak dari Perjanjian Lama sudah dinubautkan tentang kelahiran Mesias itu, baik tempatnya, waktu, garis keturuna mdarta cara Yesus dilahirkan.  Dengan demikian seandai ada perayaan kelahiran Natal yang  tanpa Yesus tentu menjadi suatu peryaan yang hampa dan sekuler sekali.

Apa bedanya perayaan Natal yang dilakuakn oleh orang-orang di luar gereja dengan perayaan Natal orang-orang percaya? Satu-satunya perbedaan yang paling mencolok adalah Tuhan Yesus itu sendiri. Bagi orang di luar sana perayaan kelahiran Yesus boleh diartikan sebagai bisnis, politik atau hura-hura, namun bagi orang percaya semestinya perayaan Natal adalah suatu perayaan yang memproklamirkan ke dunia bahwa Yeus sudah lahir ke dunia ini,dan Dia diutus untuk meyelamatkan umat manusia dari dosa.

Semenjak Adam dan Hawa tidak taat kepada Tuhan, dengan alasan ular yang menggoda mereka makan buah pengetahuan baik dan jahat, maka Allah sudah memutuskan hubungan antara manusia dengan-Nya. Tidak tanggung-tanggung memang, manusia yang berdosa itu divonis bakal mati. Namun ternyata Allah tidak dapat melawan dengan natur-Nya yang penuh Kasih itu, sehingga IA tidak langsung menghukum manusia itu dengan kematian itu. Diam-diam IA merancang suatu rancangan yang besar, yakni menyelamatkan manusaia yang berdosa itu.

Allah itu seperti Bapa kita saja yang tidak rela mencelakakan anak-anaknya, bagaiamanpun bejatnya manusia masih ada kesempatan yang terbuka bagi mereka untuk menyelamtkan diri. Itulah sebabnya maka kita tidak akan heran apabila di dalam kitab Injil Yohanes 3 : 16 menuliskan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.

Itulah sebabnya apabila perayaan Natal yang kita rayakan selama ini tanpa Yesus, terntu akan menjadi suatu perayaan yang tidak ubahnya dengan ulang tahun atau pesta perkawinan atau makan-makan, bahakan ada yang teler karena minumannya bercampur minuman keras. Natal semacam, ini tentu tidak berguna.

Natal yang dirayakan orang-orang percaya adalah berita suka-cita, kabar kelahiran Tuhan Yesus ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan dosa ini membutuhkan Yesus untuk menyelamatkan kita. Hidup manusia begitu terbatas di dunia ini, ia butuh suatu “oknum” yang mempunyai kuasa tidak terbatas untuk menyelamatkan mereka. Dunia merupakan tempat tumpangan sementara dari umat manusia, sehingga suatu hari  mesti meninggalkan dunia ini. Masalahnya adalah, pada saat manusia itu ditentukan harus meninggalkan dunia ini, lalu ia harus melangkah ke mana? Hanya ada dua pilihan, Neraka atau Surga?

Awal Juli 2004 yang lalu kami sekeluarga mengambil cuti pulang ke Indonesia. Memang dari Amerika kami sudah mendapatkan berita bahwa ada seorang bapak yakni suami dari salah seorang majelis dari gereja yang pernah saya layani itu sakit keras dan sudah koma dua bulan lebih. Begitu tiba di Indonesia, waktu itu 7 juli 2004, saya sempat merencanakan kalau besok pagi ada waktu saya hendak membesuknya. Namun apa yang terjadi? Pagi-pagi sekali kami mendengar berita bahwa bapak itu sudah meninggal dunia, waktunya begitu cepat berlalu dan saya tidak sempat membesuknya. Bersyukurlah kalau selama masa hidupnya almarhum pernah menyatakan diri percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Itu berarti keluarga yang ditinggalkan tidak perlu terlalu begitu tenggelam di dalam kesedihan, sebab perpisahan ini sifatnya sementara, karena pada suatu saat kita boleh bertemu dengan beliau kembali di surga.

Yang menjadi titik persoalan adalah, ketika kehidupan kita itu tanpa Yesus, maka kita akan menghadapi jalan buntu, sebab jalan-jalan satu-satunya ke Surga adalah melalui perantara Tuhan Yesus. Yesus berkata di dalam Yohanes 14 :6  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.  Jelas sekali Yesus memengang peranan penting di dalm hidup kita ini, tanpa Dia maka kita akan binasa.   Itu sebabnya mengapa begitu pentingnya kehadiran Tuhan Yesus di dalam Natal yang kita rayakan itu.

Berita Natal adalah berita suka-cita, sebab malikat memproklamirkan kabar kesukaan, sehingga mereka bernyanyi memuji-muji dan memuliakan Tuhan.  Sebagai orang-orang percaya juga demikian, bayi Yesus saat ini tidak ada di kandang domba lagi, karena waktu dan keadaa serta proses yang berlalau, bayi Yeus telah bertumbuh menjadi dewasa dan mati di atas kayu salib serta bangkit kembali pada hari ketiga. Yang paling penting adalah tatkala peristiwa Natal kita rayakan, biarlah Yesus itu juga lahir di dalam hati kita masing-masing, sehingga memperbaharui hidup kita.

Sekali lagi, apalah artinya perayaan Natal itu bagi kita kalau kita sendiri tidak pernah mengalami kasih dari Kristus itu?  Memang sering kali ada orang-orang tertentu yang mencoba untuk mendiskreditkan orang-orang percaya, hal ini disebabkan karena tanggal kelahiran Yeus tidak pernah kita dapatkan di dalam Alkitab.  Namun dari beberapa hasil penyelidikan dioperoleh keterangan bahwa kelahiran Yesus itu bersamaan dengan peristiwa sensus penduduk yang diadakan oleh Kaisar Agustus (bandingkan dengan Lukas 2 :1-7), pada saat itu raja Herodes sedang berkuasa.  Secara tradisi, orang-orang percaya jarang merayakan ulang tahun, dan perayaan ulang tahun itu biasanya dirakan oleh mereka yang kafir. Gereja purba lebih sering merayakan peristiwa kemenangan Yesus yakni paskah, sebab sejak jaman nenek moyang perayaan paskah sudah sangat populer. Barulah sekitar abad ke 3 orang-orang Kristen di Mesir merayakan Natal, itupun tanggalnya bukan 25 Desember.  Pada abad ke 4 gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke 4, yaitu memakai tanggal 25 Desember, dan itu berlangsung sampai hari ini.

Terlepas dari segala perdebatan yang ada, maka sebagai orang-orang percaya yang sejati, kita tidak begitu mementingkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal patokan keharusan kelahiran Yesus, yang paling penting bagi kita adalah tatkala memperingati Natal kita diingatkan  bahwa Tuhan Yesus pernah suatu hari lahir di dunia ini. Dan yang tidak kala pentingnya adalah Yesus itu juga lahir di dalam hati serta hidup kita setiap hari, sehingga ada damai sejahtera yang abadi. Aplah artinya kita memperingati Natal, namun kita sendiri tidak pernah diperbahrui oleh Tuhan.  Kehidupan kita masih seperti orang-orang yang tanpa pengharapan.

Yesus yang lahir ke dunia ini bukan sembarang manusia, IA adalah Allah yang menjadi Manusia. Tugas kedatangan-Nya ke dunia ini adalah menyelamatkan manusia, IA harus menempuh kematian di atas kayu salib atas dosa-dosa kita, naik ke surga dan menawrkan hidup kekal kepada kita, yakni hidup bersama-sama Tuhan Yesus di surga untuk selama-lamanya. Suatu tawaran yang sangat berharga sekali.

Kalau Allah begitu mengasihi hidup kita, dan rela mengirim Anak-Nya untuk menebus kesalahan kita. Hidup kita sangat berharga sekali, saya yakin sekalai sebagai orang normal kalau kita kumpulkan uang yang ada di seluruh dunia diberikan kepada anda untuk menggantikan nyawa anda pasti anda tetap tidak mau, itu berarti harga nyawa anda itu mahal sekali. Masihkah beranikah kita mempermainkan hidup ini?. Namun kenyataannya, terlalu banyak berita yang kita dengar atau kita saksikan sendiri tentang orang-orang yang tidak mengahargai hidupnya. Ada yang kehidupan sehari-harinya dipengaruhi oleh alkohol atau minuman keras, sex bebas,  mabuk-mabukan, judi, obat bius, dan itu terjadi bukan hanya di komunitas orang-orang muda, tetapi mereka yang sudah berkeluargapun ada yang terikat dengan semua ini. Hidupnya hancur, masa depannya punah, pekerjaan dan karirnya berantakan, keluarganya kacau-balau, bahkan ada yang nyawanyapun hilang. Mungkin orang-orang ini juga merayakan Natal, tetapi Natal yang hura-hura tanpa Yesus.

Ingatlah, memperingati Natal, tanpa Yesus yang lahir di dalam hidup kita, hasilnya adalah sia-sia belaka. Biarlah kita semua disadarkan bahwa ketika kita memperingati Natal, sungguh-sungguh kita memperingati Yesus yang lahir ke dunia ini yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan sampai saat ini masih hidup, dan kita rela diubahkan oleh-Nya supaya menjadi lebih sempurna.

San Jose, 22 Desember 2004

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s