Transforming The Past


Oleh: Daniel Santoso

Tragedi Virginia Tech, sebuah berita menyedihkan yang “ berhasil “ menembusi setiap lapisan media komunikasi dari internet, berita televisi, media cetak maupun media elektronik lainnya. Banyak pemirsa menyimak dengan penasaran akan kisah nyata yang tragis tersebut sehingga rating pemirsa maupun pembaca semakin tinggi. NBC menjadi salah satu sumber informasi paling penting dalam perjalanan kisah tragis ini karena anda dapat memperoleh biografi akurat, foto-foto maupun orasi dari Cho Seung Hui, seorang pemuda “ South Korean “ berumur 23 tahun.

Tidak sedikit, profesor maupun muda-mudi Virginia Tech berusaha mengingat kembali identitas Cho Seung Hui yang kesepian, aneh, sering diketawai oleh teman sekelasnya, menulis karya tulis yang menegangkan seperti mimpi buruk, ditertawakan oleh teman dekatnya saat ia mengatakan andai aku adalah school shooter. Hasil dari tragedi tragis tersebut menjatuhkan 2 korban di West Ambler Johnston Hall dan 30 korban di Norris Hall, akhirnya ia membunuh dirinya sendiri.

Melihat kisah hidup Cho Seung Hui, ia bergumul dalam depresi, ketakutan, kemiskinan, kematian, ketidakadilan, kesepian, kasih sayang maupun kehormatan. Setiap statement yang anda saksikan di NBC beralasan dengan realita yang ada. Ia dianggap aneh karena menentang gaya hidup “ party style “ maupun hidup hedonisme dari teman-temannya, pendiam yang misterius sehingga suka diisengin oleh teman-temannya “ Yo man, go back to china ! “.

Entah apa yang terlintas dalam benak Cho Seung Hui ? melalui keterbatasan saya sebagai seorang awam, saya melihat apa yang dikerjakan oleh Cho Seung Hui adalah sebuah usaha transformasi budaya. Setiap kalimat yang terekam dalam video player-nya memuat nuansa ketidakpuasan gaya hidup yang dapat merusak generasi penerus ( vocabulary dari Cho : This is for my children ! ). Dalam hal ini, saya respek terhadap pemuda yang tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri tetapi juga memikirkan untuk orang lain dan kepentingan generasi penerus. Hanya orang dewasa memiliki lapang dada untuk rela memeras pikiran peroleh solusi terbaik bagi generasi berikutnya. Sayang, tindakan transformasi Cho Seung Hui bukanlah cara seorang konservative seperti Presiden Bush, cara seorang pacifism seperti ( Alm ) Martin Luther King tetapi ia memakai cara seorang “ cowboy “.

Setelah mengikuti setiap berita-berita yang melelahkan mata fisik, mata pikiran dan mata hati saya … saya berdoa kepada Tuhan, bagaimana mata iman saya membaca berita-berita tersebut ?

Pertama, saya menyadari betapa rentannya manusia sebagai seorang “ Sinner “. Tidak peduli apakah manusia itu sehat mental atau cacat mental, mereka hanyalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa sehingga kecenderungan berbuat dosa tetaplah ada dalam diri mereka. Inilah kecacatan semua manusia yaitu DOSA. Dosalah yang telah menkontaminasi iman, pikiran, hati, aplikasi hidup manusia sehingga dosa menghancurkan konsistensi seluruh totalitas kehidupan manusia menjadi kacau dan liar. Seorang boleh mengatakan dirinya orang kristen tetapi bukan berarti ia memiliki iman kristen, cara pandang kristen, hati seorang kristen, aplikasi hidup orang kristen. Inilah realita paradigma manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Pertanyaan yang timbul yaitu apakah manusia menyadari keberdosaan dirinya ?

Kedua, Respon manusia terhadap kesadaran dirinya berdosa bisa dua macam ; satu macam lebih bersifat pesimistik – tenggelam di dalam “ depresi “ maupun lebih bersifat optimistik – bangun dari tidur dan berjuang untuk menikmati hari yang baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Respon manusia yang pesimis menyebabkan depresi yang laten, tidak segera tampak atau disadari. Penderita depresi dapat nampak ceria walau sebenarnya ia sedih. Prof Daniel Goleman, Psikolog dari Harvard University, USA dalam bukunya “ Emotional Intelligence “ mengatakan bahwa di zaman modern ini kemungkinan orang depresi lebih banyak karena berbagai tekanan hidup yang selalu muncul dalam setiap berbagai konteks dan situasi. Manusia yang depresi biasanya memfokuskan dirinya kepada kepesimisan hidup yang ia alami, sulit konsentrasi ( painful thinking ), konsep diri yang negatif karena kesalahan masa lalu, rasa kuatir yang berlebihan, emosional yang labil, delusional thinking, psychotic depression dan sebagainya. Seorang murid SMU bunuh diri karena merasa berdosa kepada pacar yang dihamilinya dan mati. Merasa berdosa kepada keluarga pacarnya, merasa berdosa kepada keluarganya sendiri. Lalu tulis surat minta maaf lalu gantung diri, tiada jalan keluar kecuali bunuh diri, itulah yang dilakukan oleh manusia berdosa. Respon manusia yang optimis meskipun tetap mengalami depresi tetapi mengalami pertobatan di dalam karya keselamatan dan penebusan melalui satu-satunya juruselamat dunia yaitu Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kekuatan untuk tekun belajar menjalani “ sinkronisasi “ hidup seperti Kristus sampai kedatangan Kristus kedua kalinya.

Ketiga, sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia kehilangan Kemuliaan Allah ( TOTAL DEPRAVITY ). Disini manusia telah jatuh ke dalam cara pandang yang “ complicated “ tapi kelihatannya manusia menyukai keputusannya untuk jatuh ke dalam dosa. Dilematisnya, manusia menganggap keputusannya yang “ tidak beretika “ itu sebagai keputusan yang benar. Itulah yang dilakukan oleh Cho Seung Hui. Ia ambil keputusan untuk menjadi “ School Shooter “ demi generasi penerusnya yang inspirasinya mengutip Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan mereka yang tidak terlindungi. Apa maksudnya disini ? Cho Seung Hui, seorang kristen yang seharusnya bisa membaca “ qualitative difference “ antara Yesus Kristus dan dirinya. Disini konsep messiah telah mengalami “ ketidakadilan “ karena apa yang dikerjakan oleh Yesus adalah divine, sedangkan Cho Seung Hui lebih cocok dinobatkan sebagai “ cowboy “. Inilah realita cara pandang manusia berdosa yang belum mengalami sinkronisasi dengan cara pandang Allah ( God’s perspective ). Hanya melalui Firman Tuhan ( God Himself Speaking ) kita dapat dibawa untuk menyelami cara pandang Allah yang beresiko tinggi untuk mengalami “ suffering, injustice maupun violence “ tetapi cara pandang Allah pasti memberikan kekuatan untuk tekun menjalani kehidupan yang penuh penderitaan, ketidakadilan maupun kejahatan sampai waktu-Nya tiba bagaimana Tuhan dimuliakan dalam kehidupan yang “ complicated “ ini. Seringkali kita mengikut Tuhan hanya dengan keuntungan profit yang disediakan-Nya tetapi kita tidak mau mengalami kerugian dalam proses pengikutan kita kepada Tuhan. Saat kita tidak menikmati profit dari pengikutan kita kepada Tuhan akhirnya kita berjiwa pemberontak dan selalu memiliki keraguan radikal yang secara terus menerus mempertanyakan segala yang kita yakini, untuk sebagian orang hal itu mengakibatkan kekecewaan, realisme berlebihan yang semakin memberatkan langkah kita, membebani bahu kita dan akhirnya membuat kita berhenti dengan penuh kepahitan. Sekali lagi, semua karena dosa. Masalah dunia bukan hanya disebabkan oleh sistem sosial, keluarga, pemerintahan yang salah melainkan kelemahan radikal yang ada di dalam diri kita sendiri, sifat jahat hati kita.

Keempat, Seringkali kita terlalu cepat mengambil keputusan menjadi “ school shouter “ dari pemikiran filosofis kita yang sempit untuk melakukan sebuah transformasi budaya dan kita kurang beriman di dalam menunggu waktu Tuhan untuk kita belajar melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan untuk mendoakan dan mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita. sebuah buku “ Transforming Society – by Melba Padilla Maggay “ mengajak saya sebagai pembaca tuk menempatkan diri sebagai Yehezkiel di padang belantara ( Yehezkiel 27:1-14 ). Di hadapan padang belantara ini Yehezkiel diuji dengan pertanyaan “ Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali ? “. Karena tidak mampu membayangkan bagaimana hal itu bisa terjadi, Yehezkiel menggumam “ Ya Tuhan Allah, Engkau yang tahu “. Yehezkiel tahu bahwa Allah tahu apa jawaban atas pertanyaan itu dan dapat melakukannya jika ia mau. Tetapi pemandangan di hadapannya sedemikian mencengangkannya sehingga membangkitkan keraguannya untuk mengusahakan sebuah jawaban. Bagaimana perasaan Yehezkiel saat menutup tumpukan tulang-tulang kering itu, sama seperti keraguan kita. Tuhan memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang tersebut dan tulang-tulang tersebut bergerak dan hidup. Kemudian Tuhan menjelaskan kepada Yehezkiel bahwa tulang-tulang itu adalah seluruh kaum Israel. Saat itu mereka yang hidup dalam pembuangan di Babel sudah tidak punya pengharapan untuk dapat pulang kembali ke tanah mereka. Keputusasaan mereka sama dengan yang dirasakan oleh orang masa kini, tenggelam dalam depresi tanpa harapan. “ Tulang-tulang kami menjadi kering dan pengharapan kami sudah hilang “. Saya belajar menyelami orang-orang yang mengusahakan transformasi budaya dan masyarakat dengan kesadaran bahwa keputusasaan terjadi pada tempat yang hanya satu-satunya Tuhan yang dapat masuk yaitu Yesus Kristus.

Fakta bahwa Kristus sendiri dibunuh, mengingatkan kita bahwa kekuatan kejahatan sangatlah besar sehingga kita mengalami keputusasaan sampai tulang-tulang kita menjadi kering dan usaha terbaik kitapun gagal. Walau demikian, fakta lain bahwa Kristus sudah bangkit, mengingatkan kita bahwa pada pusat kekuasaan di dunia ini ada satu kekuatan yang mendobrak kubur dan menyatakan hidup “ Lihatlah, Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan engkau dari kuburmu, Oh umat-Ku dan Aku akan membawa kamu pulang ke tanah kaum Israel … dan Aku akan menaruh Roh-Ku dalam dirimu, dan engkau akan hidup, dan Aku akan menempatkan engkau di tanahmu sendiri. Maka engkau akan tahu bahwa Aku, Tuhanmu telah mengatakannya dan melakukannya, begitulah firman Tuhan. “ Membaca makalah tersebut saya merasa tertegur sedalam-dalamnya, Jika kita berada di dalam kebimbangan dan ditanya “ Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali ? “. Jawaban kita adalah Ya, seperti Yehezkiel, sebab Kristus sudah mati, Kristus sudah bangkit dan Kristus akan datang kembali. Inilah Janji Tuhan yang PASTI TERJADI !

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s