Jauhkan Diri Anda dari Percabulan


Oleh: Pdt. William Liem

1 Korintus 6:12-20

Dalam filsafat Yunani kuno, tubuh manusia dinilai rendah. Ada ungkapan yang mengatakan: “Tubuh manusia adalah penjara jiwa. Karena jiwa itu baik, sedangkan tubuh jahat, kita harus berusaha melepaskanjiwa dari tubuh.” Epictitus berkata: “Hal yang terpenting adalah jiwa manusia; tubuh hanya materi yang tidak penting.” Pandangan filsafat Yunani di atas banyak mempengaruhi kehidupan jemaat Korintus, sehingga mendorong mereka melakukan berbagai penyimpangan seksual, salah satunya adalah kasus incest (1 Korintus 5:1-5).
Selain itu, ada jemaat yang salah menafsirkan firman Tuhan: “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan. Tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah” (1 Korintus 6:13). Pemikiran ini diteruskan: “Tubuh untuk percabulan dan percabulan untuk tubuh. Kedua-duanya akan dibinasakan Allah.” Sebagaimana makanan dan perut bersifat sementara, demikian pula dengan tubuh, maka biarlah segala hawa nafsu tubuh mendapatkan pelampiasannya pula. Bukankah tubuh akhirnya juga akan binasa? Di sinilah kita melihat adanya pandangan yang salah tentang tubuh.

Pada masa kini, banyak pemikiran filsafat modern yang amat mempengaruhi pemikiran para pasutri muda, sehingga mereka tidak lagi menjaga kesucian pemikahan. Dalam suatu survei yang dilakukan terhadap ratusan pasang muda/i yang sudah menikah di Amerika, terungkap sekitar 25-50% secara aktif melakukan perselingkuhan. Kondisi di Indonesia juga tidak berbeda jauh. Dalam suatu acara talkshow yang diadakan oleh sebuah TV swasta, seorang ahli pernikahan Indonesia memaparkan suatu survei yang sangat mengejutkan, yakni lebih dari 30% suami-suami di Indonesia berselingkuh setelah istri menopause. Satu slogan yang acapkali dipegang adalah “Asal Tidak Mengandung Berselingkuh Itu Indah.”

Memang ada seribu alasan yang dikemukakan untuk membenarkan perselingkuhan, di antaranya:

(1) Perasaan hambar terhadap orang yang terdekat;

(2) Pernikahan yang dingin;

(3) Kejenuhan dalam pernikahan;

(4) Suami istri tidak lagi bisa mencocokkan perbedaan sifat;

(5) Pertengkaran yang tiada henti;

(6) Tidak ada komunikasi;

(7) Tidak bisa memecahkan konflik dll.

Apapun alasannya, memakai tubuh untuk berselingkuh adalah salah. Dalam 1 Korintus 6:12-20, Paulus memberikan penjelasannya demikian:

Pertama, berharganya tubuh di mata Tuhan. Paulus menulis: “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh” (1Kor. 6:13b). Merupakan suatu silogisme yang salah yang mempersamakan makanan, perut dan tubuh. Tubuh tidak sama dengan makanan atau perut yang akan binasa. Bahkan dalam ayat 19, Paulus tekankan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang dipakai untuk menerangkan bait (temple), yakni hieron dan naos. Hieron menunjuk kepada keseluruhan bangunan Bait Allah. Sedangkan naos menunjuk kepada ruang mahakudus, di mana Allah hadir dan bertahta di situ.

Ketika Paulus mengatakan tubuh kita adalah bait Roh Kudus, kata bait yang dipakai adalah naos. Ini berarti tubuh kita adalah ruang mahakudus yang didiami oleh Roh Kudus. Maka, bagaimana mungkin kita menyerahkan tubuh kita untuk percemaran? Bahkan sekalipun satu hari, tubuh kita akan berhenti berfungsi dan kembali ke tanah, tapi ingat seperti yang Paulus katakan dalam ayat 14, bahwa Dia akan membangkitkan tubuh kita dari kematian dan mengubahnya dengan tubuh kemuliaan (lihat Tes. 4:13-18). Dengan demikian betapa berartinya tubuh kita ini. Adalah suatu dosa kalau kita mencemari tubuh kita dengan percabulan.

Kedua, bahaya dosa percabulan. Selain orang yang melakukan dosa percabulan menjadikan dirinya berdosa (ayat 19), tapi ia menjadi satu dengan orang yang ia sedang berbuat cabul. Perbuatan yang demikian membawa dampak yang serius terhadap kehidupan pemikahannya, karena ketika ia bersatu dengan orang yang ia berbuat cabul, berarti ia membatalkan ikatan pemikahan yang sah yang telah ia ikrarkan di hadapan Tuhan. Maka dalam Matius 19:9: Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah” (Matius 19:9). Ungkapan “kecuali karena zinah” menjelaskan, tidak ada satu hal pun yang dapat membatalkan pemikahan Kristen yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, kecuali karena zinah.
Itulah sebabnya, kita perlu menjauhkan diri dari percabulan. Paulus memberi nasehat kepada jemaat Tesalonika: “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan” (1 Tesalonika 4:3). Raja Salomo juga menegaskan: “Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri” (Amsal 6:32). Penulis Ibrani memberikan warning yang keras kepada mereka yang berbuat cabul: “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:4).

Ketiga, tubuh kita sudah dibayar lunas oleh Kristus. Dalam 1 Korintus 6:20, Paulus berkata: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Kata “dibeli” yang dipakai dalam ayat ini mengingatkan kita pada pasar zaman dahulu, di mana para budak diperdagangkan. Jika ini adalah arti yang Paulus maksudkan, ia menunjuk kepada orang-orang Kristen yang dahulu adalah budak-budak dosa, tapi sekarang telah ditebus dan dibayar lunas dengan kematian Kristus di atas kayu salib. Karena la telah membayar lunas hutang-hutang dosa kita, sekarang kita telah menjadi milik Kristus yang sah. Maka dalam 1 Korintus 7:23, Paulus mengingatkan pembacanya: “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba dosa.” Demikian pula dalam Galatia 5:1,13, Paulus berkata: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

“Kenikmatan melampiaskan nafsu hanya berlangsung beberapa menit saja, tapi akibatnya seringkali menjadi penderitaan bertahun-tahun” demikian kata seorang hamba Tuhan. Maka, dengan mengerti pentingnya tubuh kita di mata Tuhan dan mempelajari berbagai konsekwensi pahit yang akan diterima oleh orang yang melakukan percabulan, seharusnya orang percaya menjauhkan diri dari percabulan. Emil Brunner mengingatkan kita: “Evil is sweet in the beginning but bitter in the end.” Janganlah menyerahkan tubuh kita untuk melakukan hal-hal yang sia-sia, karena hidup yang demikian pada akhirnya akan membuat kita merasa malu dan menyesal. Pakailah tubuh kita untuk

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s