Polykarpus: Darah Kaum Martir


Polykarpus (69-155 AD) dari Smyrna, yang dikenal sebagai salah satu dari murid Rasul Yohanes, adalah satu dari tiga pemimpin utama gereja pada masanya, dua lainnya adalah Clement dari Roma dan Ignatius dari Antiokhia.

Pada masa itu penganiayaan terhadap orang kristen tengah merebak. Pemimpin gereja adalah sasaran utamanya. Orang kristen dituduh sebagai penganut atheisme yang menolak menyembah kaisar dan dewa-dewi Romawi. Polykarpus telah cukup lama dicari dan dikejar-kejar oleh tentara Romawi. Sering berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, namun Polykarpus akhirnya tertangkap ketika sedang berdoa di sebuah tingkap rumah salah seorang jemaat.

Polykarpus kemudian diminta dalam sebuah arena untuk menyangkal atheisme dan Yesus secara publik. Dengan senang hati ia menyangkal atheisme, namun dengan tegas menolak menyangkal Yesus. Tentu tujuan Roma adalah melemahkan hati orang-orang kristen dengan penyangkalan Polykarpus. Dalam ancaman kematian, polykarpus mengu-capkan kalimat yang kemudian sangat terkenal, “86 tahun aku telah menjadi hamba-Nya, dan tidak pernah Ia mengecewakan aku, bagaimana mungkin aku menghujat Raja Juru-selamatku?” (The Martyrom of Polycarp 9:12-13).

Polykarpus kemudian dibakar dengan api. Namun terjadilah peristiwa yang sangat aneh, api tidak membakarnya bahkan membentuk helai-helai menyerupai perahu dengan Polykarpus berada di tengah-tengahnya berkilauan seperti emas. Bau yang tercium pun bukan seperti daging yang terbakar, tetapi harum wewangian yang enak dicium. Peristiwa ini mengguncangkan arena tersebut. Namun untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seorang tentara berlari mendekati Polykarpus dan menusuk tubuhnya dengan pedang. Polykarpus meninggal pada usia 86 tahun sebagai martir yang setia dari Yesus Kristus.

Kesetiaan Polykarpus menjadi inspirasi dan teladan bagi gereja pada masa itu. Meski telah hidup setia melayani Yesus, tidak berarti ia terhindar dari kesusahan; dikejar-kejar, hidup dalam pengungsian, dibakar hidup-hidup, ditusuk dengan pedang dan menjadi martir yang setia. Kematiannya justru menjadi sumber kekuatan bagi banyak orang kristen yg dianiaya pada masa itu. Sampai hembusan nafasnya yang terakhir, Polykarpus mengabdikan dirinya untuk menjadi alat pelayanan dalam membangun umat Tuhan.

Dalam hidup Polykarpus kita bisa melihat, perjalanan mengikut Yesus merupakan perjalanan yang panjang, diuji dalam tantangan dan dimurnikan lewat pergumulan, dan bagi sebagian orang penderitaan. Perjalanan iman bukanlah perjalanan yang sekali lalu selesai. Namun perjalanan di mana kita diuji, dimurnikan dan ditantang untuk berserah kepada Tuhan sampai Ia menyatakan tugas kita sudah selesai. Orang percaya ‘invincible’ (kebal terhadap maut) selama panggilan Tuhan bagi kita belum selesai. Namun bagi Polykarpus, melewati maut adalah justru panggilan yang harus ia sambut dalam kesetiaan dan kerelaan. Kematiannnya adalah bagian dari tugas dalam membangun gereja. Dalam hidupnya kita melihat kebenaran yang sangat menggetarkan, “darah kaum martir adalah benih bagi pertumbuhan gereja”.

Lirik Lagu API ZAMAN

Bait 1
Darah Kaum Martir Yang Belum Kering, Yang Menyirami Jalan Salib. Rumah Allah Yang Telah Senyap, P’litanya Telah Gelap Gulita.

Bait 2
Beribu Jiwa Yang T’lah Binasa, Rusak Moral Dan Hidup Susah. Angkat Mata Pandang Sekitar, Mengapa Bernikmat Dalam Dunia?

Bait 3
Tidak Lagi Duduk Dan Bersenang, Buangkan S’gala Impiankosong. Hancurkan B’lenggu Dan Ke Mezbah, Mempersembahkan Diri Pada-Nya.

Reff
Persembahkanlah Dirimu, Seg’nap Tenaga Mudamu. Kobarkan Api Zaman Rela Serahkan Seg’nap Hidup. Berp’rang Bagi K’rajaan Surga, Maju! Maju! Pekerjaan Salib Menggenapkan Mahkota Yang Kekal.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Devotional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s