Bahaya Hipnotis


Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Tren baru zaman ini

Pada zaman yang penuh dengan tekanan dan ketegangan ini, banyak orang mencari berbagai macam cara untuk mengatasi tekanan dan ketegangan mereka. Ketika muncul sebuah cara yang mengklaim sebagai cara aman, cara tersebut akan diserbu oleh masyarakat, termasuk orang-orang Kristen. Salah satu hal yang dianggap sebagai solusi masalah hidup adalah hipnotis.

Saat ini, hipnotis menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup orang kota. Para ahli hipnotis sendiri mengklaim bahwa hipnotis dapat menolong mereka yang ingin kurus, yang ingin berhenti merokok, yang depresi, dan yang terikat oleh narkoba. Hipnotis juga dipakai untuk menghilangkan rasa takut, membangkitkan rasa percaya diri. Jangankan orang awam, beberapa dokter gigi juga memakai hipnotis agar pasien mereka tenang menjalani pengobatan gigi.

Hipnotis dianggap sebagai cara yang aman dan ilmiah dalam menolong masalah-masalah hidup manusia karena hipnotis memakai teknik sugesti. Pasien akan disugesti dan dibawa dalam hipnosis. Dalam kondisi ini, pasien akan diberikan sugesti-sugesti untuk mengatasi persoalan mereka. Misalnya, mereka akan disugesti bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, atau disugesti bahwa mereka tidak suka makan banyak. Setelah sugesti itu, pasien tidak akan menyukai rokok dan tidak suka makan banyak. Ini akan menolong pasien untuk berhenti merokok dan menjalani diet agar kurus. Hipnotis juga dapat dipelajari secara pribadi dengan melatih konsentrasi dan sugesti diri, yang ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan diri, mengatasi rasa takut, dan mengatasi persoalan-persoalan dosa yang mengikat manusia.

Banyak orang Kristen yang juga ikut-ikutan mempelajari hipnotis dan memberi diri dihipnotis untuk mengatasi persoalan-persoalan mereka. Ada juga yang masih ragu-ragu, apakah boleh dihipnotis dan mempelajari hipnotis untuk mengatasi persoalan kita?

Bahaya hipnotis

Walaupun ahli hipnotis membungkus hipnotis sebagai sesuatu yang ilmiah, namun hipnotis bertentangan dengan iman Kristen. Hipnotis bertentangan dengan iman Kristen karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani dalam mengatasi persoalan dan karena hipnotis mengandung sejumlah bahaya. Ada beberapa bahaya mempelajari hipnotis maupun dihipnotis.

  1. Hipnotis dapat membuka pikiran untuk memercayai apa saja, termasuk dusta. Seorang yang terhipnotis dapat disugestikan sebuah kebohongan dan dia akan memegang kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran. Sugesti yang diberikan bukanlah kebenaran atau fakta mengenai keadaan pasien. Pasien yang memang suka rokok disugesti bahwa dirinya tidak suka rokok. Pasien yang memang penakut disugesti bahwa dirinya berani. Akhirnya dalam pikiran pasien terdapat fantasi hasil sugesti dan setelah dihipnotis, pasien tidak bisa membedakan antara fantasi dan kenyataan.

  2. Hipnotis adalah usaha untuk menguasai diri melalui sugesti, baik itu oleh orang lain maupun oleh diri kita. Sebuah usaha yang berada di luar karya Roh Kudus. Padahal penguasaan diri adalah karya Roh Kudus di dalam diri orang percaya (Gal. 5:22-23). Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, Dia akan memberi kita kuasa untuk mengontrol diri kita. Dosa diatasi dengan menyerahkan diri kepada Allah dan bukan dengan menyerahkan diri kepada ahli hipnotis atau menyerahkan diri kepada diri sendiri (Yak. 4:6,7; 1Kor. 6:9-12; Rm. 6:12). Sebagai orang percaya, fokus kita adalah kepada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri, atau kepada hal-hal lain (Ibr. 12:2). Jawaban persoalan kita bukan di dalam diri kita, melainkan di dalam Kristus (Mat. 11:28).

  3. Hipnotis membuka “pintu hati” atau “pintu pikiran” kita kepada serangan kuasa kegelapan. Dalam hipnotis, bukan hanya ahli hipnotis yang akan mengubah sikap dan tingkah laku kita, tetapi Iblis pun mau mengubah diri kita sesuai dengan keinginannya. Dengan memberikan diri dihipnotis, kita berada dalam keadaan emosi yang tidak stabil, tidak aman, dan akan memberikan kesempatan kepada Iblis untuk menguasai diri kita. Hipnotis memberikan kemungkinan kerasukan setan (“The Dangers of Hypnosis”, 1963: 83).

  4. Hipnotis bukanlah sains, melainkan merupakan bagian integral dari okultisme selama ribuan tahun (“Hypnosis: Medical, Scientific, or Occultic?”, 87]. Banyak teknik yang digunakan dalam hipnotis mirip dengan sistem mistik dan okultisme. Profesor psikiater, Thomas Szasz mengatakan bahwa hipnotis adalah “ilmu pengetahuan gadungan” (“The Myth of Psychotherapy”, 1978: 185-186]. Yoga, Zen, dan metode penyembuhan timur memiliki kesamaan mendasar dengan hipnotis dalam banyak aspek (“Hypnosis and Behavior Modification”: Imagery Conditioning, 1976: 412). Dan hal yang perlu diketahui mengenai yoga, tujuan utamanya adalah kesatuan dengan Allah. Kesatuan ini dicapai bukan melalui Kristus, melainkan melalui meditasi.

  5. Hipnotis adalah pelanggaran terhadap hak Allah. Tidak seorang pun yang memiliki hak untuk menguasai pikiran dan kehendak seseorang. Hanya Allah dan orang itu sendiri yang memiliki hak untuk menguasai pikiran dan kehendaknya. Praktik hipnotis merupakan pelanggaran etika Kristen (Mind Manipulation: A Christian Ethical Analysis)

Akhir dari tulisan ini adalah pertimbangkanlah nasihat Petrus: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Pet. 5:8).

Kepustakaan:
Brown, David L. 1963. “The Dangers of Hypnosis”, mengutip dari Many Lives, Many Loves by Gina Cerminara; Wm Morrow and Company.
Deidre, Martin and Bobgan. “Hypnosis: Medical, Scientific, or Occultic?” California:EastGate Publishers.
Provonsha, Jack W. “Jack Mind Manipulation: A Christian Ethical Analysis”, dalam http://www.ilu.edu/ilu/bioethics.
Szasz, Thomas. 1978. “The Myth of Psychotherapy”. Garden City: Anchor Press/Doubleday.
William, Kroger and Frezler. 1976. “Hypnosis and Behavior Modification:Imagery Conditioning”. Philadelphia: J. B. Lippincott Co..

http://www.sabda.org/c3i/01/aug/2007/konseling_bahaya_hipnotis

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Bahaya Hipnotis

  1. Ricky Neno says:

    Makasih banyak pak. pak saya mw minta tolong ni. klw bapak tw info ttg persentasi orang kristen yang terlibat hipnotis. minta dong. makasih sblumnya. Tuhan Yesus memberkati

  2. halo
    saya Tommy Suryadi
    jemaat GRII Karawaci

    maaf, cuma mau komentar
    seandainya ada yang salah mohon dibetulkan
    saya mencari tahu tentang hipnosis (bukan hipnotis, hipnotis berarti pakar hipnosis, prosesnya itu sendiri dinamakan hipnosis) dgn referensi :

    http://www.bsch.org.uk/hypnotherapy.htm
    http://www.dangers-of-hypnosis.co.uk/hypnotherapy.html

    saya akan jabarakan beberapa statement saya:
    – hipnosis tidak sama dengan brainwash
    – pertunjukan Romy Rafael bukan menggunakan hipnosis, tapi sandiwara
    – orang yg di hipnosis, akan masuk ke suatu keadaan “setengah sadar, setengah tidak sadar”. Orang tersebut dalam keadaan rileks, tetapi tetap bisa berpikir, jadi sugesti2 yang diberikan, tidak semuanya diterima orang tersebut, hanya sugesti yang ia sukai saja. Berbeda dengan brainwash dimana semua sugesti dimasukan ke otak pasien.
    – kedua website yg saya akses (dan menonton beberapa video tentang hypnotherapy di youtube) menyatakan bahwa hipnosis tidak menimbulkan side effects

    dan yang saya mau tanyakan adalah, dengan rasa hormat, apakah yang Bapak Pdt. Yohannis Trisfant, MTh maksudkan sebagai hipnotis adalah brainwash? karena setahu saya kedua hal tersebut berbeda
    seandainya di artikel di atas kata “hipnotis” diganti kata “brainwash” maka saya akan setuju dengan artikel di atas

    mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang dikenan
    saya terbuka terhadapa kritik dan saran
    terima kasih

    Tommy Suryadi, 30 Juni 2012
    Lippo Karawaci, Tangerang

  3. Lydia says:

    hi, ijin untuk memberitahukan bahwa hipnotis yang anda beritakan diatas tidak termasuk kategori okultisme, saya setuju dengan keterangan sdr Tommmy, jika anda hanya mengambil referensi dari satu sumber saya hanya menyarankan agar anda juga ambil dari sumber2 lain agar ada referensi2 lain. alangkah lebih baik anda juga bertanya kepada ahli sumber/hipnotis mengenai apa itu hipnotis sebenarnya, kadang persepsi salah yang sudah diterima oleh masyarakat menyamaratakan bahwa hipnotis itu perbuatan setan. ini beda dengan adegan2 di tv show mengenai hipnotis, karena hipnotis tidak semudah yang ada tv show. saya mengharapkan kepada penulis agar bisa lebih “pintar” untuk bisa menulis sebuah berita tidak hanya tulis. jadilah seorang Kristen yang pintar dan berhikmah dari pada hanya memaknai hal2 yang hanya dimengerti dari satu sudut pandang saja. kita harus menjadikan Kristen menjadi umat yang pintar tidak bisa dibodoh2in dengan suatu statement yang tanpa bukti kuat. GBU.

    • Pertama terima kasih untuk komen Tommy dan Anda.

      Kedua, Pak Yohannis tidak mengambil dari satu sumber. Ini bisa diketahui di bagian bawah terdapat daftar kepustakaan yang menjadi rujukan pak Yohannis di dalam menulis artikel tersebut.

      Ketiga,saya sudah melayangkan email kepada penulis asli sejak saya mendapatkan komen pertama dari sdr.Tommy (saya informasikan secara pribadi kepada sdr.Tommy) tapi sayang sampai sekarang saya sendiri belum mendapatkan jawaban. Mungkin Beliau sibuk sehingga tidak/belum membuka emailnya.

      Keempat, baiklah sebagai sisi tanggungjawab saya yang meng-upload tulisan tersebut saya akan coba memberikan pandangan lain yang saya kutip dari orang yang memang kompeten di bidang ini.

      Start
      Menurut Ir. Herlianto,M.Th,” Para ahli sampai kini belum bisa merumuskan dengan seragam mengenai hakekat apa yang disebut hipnotisme itu karena penggunaannya yang sangat luas mencakup praktek magis okultisme (menyihir orang, mendatangkan malapetaka) sampai terapi psikologi sederhana (untuk menghentikan kebiasaan merokok, pusing yang berkelanjutan dll). Namun para ahli sepakat bahwa hipnotis tidak boleh digunakan untuk demo hiburan karena bisa disalah gunakan diluar proses penyembuhan pasien. Dalam praktek masakini dilapangan, hipnotisme sudah menjadi komoditi laris baik sebagai terapi maupun hiburan, bahkan mpenggunaannya untuk menipu orang makin luas terjadi dimasyarakat. Biasanya dianggap bahwa proses hipnotis terjadi kalau ada kepercayaan tumbuh dari pasien kepada yang menghipnotis dan ia mau dihipnotis, dengan kata lain seseorang baru bisa dihipnotis kalau tidak bertentangan dengan kehendaknya secara sadar. Namun praktek sering menunjukkan gejala sebaliknya yaitu orang dihipnotis setelah kehilangan kesadaran dan kemauannya, dan dalam hal ini sekalipun pertahanan jiwa seseorang cukup kuat dan seyogyanya dapat menangkal sugesti hipnotis, pada umumnya pertahanan demikian rontok karena pasien tidak sadarkan diri.”

      Sebagai bahan pertimbangan,

      1. Pandangan bahwa hipnotis termasuk dalam kategori okulits bukan hanya dipegang oleh penulis tetapi juga banyak oleh orang Kristen lainnya seperti misalnya Bambang Yudho dalam bukunya ‘How to Overcome Occultism’ menuliskan,”Berbagai bentuk kegiatan okultisme, seperti ramalan, perbintangan, tenung, santet, pelet, hipnotis, ilmu kebal, dan segala macam ilmu gaib yang disebut ilmu hitam dan ilmu putih, mendapat sambutan yang baik dari masyarakat.[…] Mengendalikan pikiran orang lain dapat dilakukan dengan ilmu pelet, pengasihan, sihir, atau hipnotis sehingga pikiran dan kesadaran seseorang dikendalikan iblis atau jimat-jimat yang diberi mantra khusus oleh dukun. Praktik okultisme…”

      2. Hal senada juga diungkapkan oleh Ir.Herlianto,M.Th dalam makalahnya ia menulis,” Praktek hipnotis sudah terjadi sepanjang umur manusia dan biasa dipraktekkan didunia okult dimana digunakan dalam praktek magis animisme baik untuk mengguna-guna orang atau untuk menyembuhkan orang. Secara terbuka baru hipnotis terkenal setelah Franz Anton Mesmer (1734-1815) menggunakannya dalam penyembuhan pasien. Karena ia menyebutkannya sebagai kekuatan okult yang disebutnya magnetisme binatang yang keluar dari yang menghipnotis kepada pasien, ia ditolak banyak kalangan, namun hipnotisme kemudian diidentikan dengan namanya Mesmerism. Kemudian James Braid (1795-1860) mempopulerkan hypnotism dan hypnosis dalam kedokteran. Sigmund Freud (1856-1939) tertarik pada tehnik hipnosis dalam penyembuhan pasien neurotis kemudian menggunakannya dalam penyembuhan pasien-pasiennya, tetapi kegagalan dalam mempraktekkan hipnotisme dalam berbagai kasus dan berlandaskan kebebasan pasien, kemudian ia menolak hipnotisme digunakan dalam kedokteran. Namun, lambat laun praktek hipnotis digunakan dalam terapi psikologis maupun medis dengan catatan bahwa organisasi-organisasi kedokteran maupun kedokteran-jiwa dan ilmu jiwa mensyaratkan bahwa praktek ini hanya boleh dilakukan oleh terapis yang bertanggung jawab dan atas persetujuan pasien.”

      3. Tim dari Got Questions: Many of the techniques used in hypnosis are shared by mystical, philosophical, and religious systems, including the occult. The “father of hypnotism,” Franz Anton Mesmer—from whose name we get the word mesmerize—was himself a practitioner of the occult. His method of inducing a trance was very similar to the way a medium conducts a séance.

      4. Dr. Kurt Koch seorang yang megkhusukan diri dalam penelitian okultisme di dalam bukunya “Occult ABC” (Occult ABC,97 — 98)ia menuliskan sebuah kisah sbb:

      a. “Saya diminta untuk berbicara di beberapa pertemuan di sebuah gereja Baptis di Negara Bagian Maine. Ketika berada di sana,pendeta gereja tersebut menceritakan kisah tentang anak laki-lakinya kepada saya. Anak laki-lakinya sudah bertobat kepada Kristus pada usia enam belas tahun. Ia sudah dibaptis dan menjadi anggota di gereja tempat ayahnya melayani. Ia pergi menuntut ilmu di sebuah sekolah menengah umum yang jauhnya kira-kira enam puluh mil dari tempat kelahirannya.

      Pada akhir tahun pelajaran, sebuah kegiatan hiburan diadakan bagi siswa dan guru. Kepala sekolah mengundang beberapa penghibur yang mempertunjukkan berbagai bentuk tipuan dan ilusi. Salah satu hiburan yang mereka lakukan ialah mengundang 25 siswa ke atas panggung untuk dihipnotis. Salah satu dari siswa-siswa itu diberi sebuah kentang merah yang besar dan dikatakan kepada siswa tersebut bahwa kentang itu sebenarnya sebuah apel dan ia diizinkan untuk menyantapnya. Siswa tersebut memakan kentang merah itu dengan lahapnya.

      Kepada siswa pria lain, tukang sulap itu berkata, “Kau adalah seorang bayi dan ini adalah botol susumu yang harus kau minum.” Siswa tersebut meminum air susu tersebut sampai tetes yang terakhir. Kepada siswa ketiga, tukang sulap itu berkata bahwa cuaca sangat panas dan siswa itu kini ada di sisi sebuah danau dan ia dapat berenang sekarang. Siswa tersebut melepaskan pakaiannya dan berganti dengan pakaian renang. Semua acara ini menimbulkan tertawaan dan sambutan meriah dari penonton. Kepada anak laki-laki pendeta itu, tukang sulap itu berkata “Kau berada di sebuah arena pacuan kuda dan kudamu memiliki kesempatan untuk menang.” Pemuda itu mulai menunggangi sebuah kursi yang ditempatkan di atas panggung seolah-olah ia sedang menunggangi seekor kuda.

      Ketika acara hiburan itu sudah berakhir, tukang sulap itu melepaskan mereka dari pengaruh hipnotis, semua kecuali anak pendeta tersebut yang tidak dapat dipulihkan dari kesadaran. Kepala sekolah itu menjadi sangat marah. Tetapi walaupun tukang sulap itu sudah berusaha mati-matian, ia tidak dapat menyadarkan anak itu dari pengaruh hipnotisnya. Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain membawanya ke rumah sakit.

      Sebuah mobil ambulans menjemput anak itu ke rumah sakit di mana lima dokter spesialis mencoba untuk menyadarkan anak itu. Mereka ternyata tidak mampu. Ayah anak itu tidak diberitahu sampai enam hari kemudian. Begitu mendengar kabar tentang anaknya, ia langsung pergi ke rumah sakit dan membawa anaknya pulang. Kemudian pendeta itu teringat akan dokter keluarganya yang langsung datang. Dokter itu dengan marah berkata, “Seandainya ia adalah anak saya, saya akan menuntut kepala sekolah dan tukang sulap itu ke pengadilan.”

      Pendeta dan istrinya berdoa selama beberapa hari, tetapi tidak ada perubahan apa pun. Tiba-tiba pendeta itu memperoleh gagasan untuk memerintahkan dalam nama Yesus. Ia memandang dengan iman kepada salib Kristus di Bukit Kalvari dan berseru, “Dalam nama Yesus Kristus, Anak Allah, aku perintahkan segala kuasa kegelapan untuk undur dari anakku.” Seketika itu juga pengaruh hipnotis itu dipatahkan. Akhirnya, pacuan kuda itu berakhir.

      Karena ada banyak contoh mengenai kasus hipnotis yang berakhir dengan bencana, George McDowell dan Don Steward dalam bukunya, “Handbook of Today’s Religions” (1983), dengan tegas memperingatkan agar kita semua menjauhi diri dari segala bentuk hipnotisme, baik dalam selubung hiburan maupun dalam bentuk okultisme.

      b.Seorang gadis di Tokyo mengikuti pertunjukan hipnotis dan sukarela menjadi pasien. Sesudah dihipnotis, ia tidak bisa disadarkan kembali, sehingga ia mengalami koma beberapa hari dan baru bisa disadarkan oleh beberapa ahli medis yang berusaha membangunkannya.  Seorang pemuda mengikuti pertunjukkan hipnotis dan secara sukarela menjadi pasiennya, tetapi setelah ia dibangunkan kembali ia sering mengalami mimpi buruh pada waktu tidur. 

      c. Mirin Dayo seorang ahli hipnotis dan spiritis Belanda selama 500 kali mendemonstrasikan pertunjukan bahwa ia tidak mati ditusuk pedang anggar. Ini bukan trik dan telah dibuktikan asli melalui pemotretan X-ray. Ketika ia melakukan pertunjukan di Swiss, orang-orang kristen disitu merasa bahwa ia mempraktekkan kuasa demonis dan berdoa selagi ia mendemonstrasikan kekebalannya itu. Alhasil pada praktek ke 501 ia meninggal dunia karena tusukan itu.

      Menurut Kurt Koch, para ahli yang sering mempraktekkan hipnotisme menyadari bahwa seseorang yang sudah pernah dihipnotis akan lebih mudah mengalami hipnotis kedua kalinya.

      Bahkan Encyclopedia Britannica yang sekuler pun memperingatkan hal ini.

      Meskipun dibutuhkan sedikit keterampilan untuk melakukan praktik hipnotis, latihan yang memadai dibutuhkan untuk menilai apakah hipnotisme merupakan suatu teknik perawatan yang tepat. Dan jika demikian halnya, bagaimana cara itu seharusnya dijalankan dengan baik dan benar. Bila digunakan dalam konteks perawatan medis, hipnotis seharusnya tidak boleh dilakukan oleh individu-individu yang tidak memiliki kompetensi dan keterampilan untuk memperlakukan masalah seperti itu tanpa penggunaan hipnotis. Untuk alasan ini, “aliran-aliran” atau “lembaga-lembaga” hipnotis tidak dapat menyediakan latihan yang dibutuhkan bagi individu-individu yang kurang memiliki latar belakang ilmiah yang lebih umum dan kualifikasi teknis dalam profesi penyembuhan …. Bila digunakan secara salah, hipnotis bahkan akan semakin menambah penderitaan kejiwaan dan memperberat penyakit pasien. Demikianlah, seseorang yang menderita tumor otak yang belum diketemukan mungkin akan mengorbankan hidupnya di tangan seorang praktisi hipnotis yang telah berhasil meredakan sakit kepalanya dengan sugesti hipnosis, yang dengan demikian memperlambat operasi yang seharusnya sudah dilaksanakan. Latihan diagnostik dan keterampilan terapeutik merupakan sesuatu yang sangat diperlukan untuk menghindari bahaya penggunaan hipnotis yang tidak tepat dan kemungkinan berbahaya (Encyclopedia Britannica, 1974: 139).

      5. Ev. Thomy J. Matakupan
      Istilah ‘okultisme’ berasal dari bahasa Latin ‘okultus’ yang mempunyai 4 arti yaitu: (1)dibalik, (2)tersembunyi, (3)misterius, (4)gelap. Setan selalu bekerja dibalik hal tertentu secara tersembunyi dan misterius (sulit diterima dan dijelaskan oleh akal pikiran manusia) untuk mengelabui mereka yang tidak berpengertian secara tepat sehingga mereka terkecoh dan berpikir bahwa aliran tersebut diperoleh dari Tuhan. Hal ini menjadi semakin serius saat ini karena setan mulai muncul dengan berbagai macam kedok sehingga manusia memandangnya sebagai pemenuhan kebutuhan rohani yang tidak pernah dijumpai seperti halnya New Age Movement, white magic untuk penyembuhan dan lain-lain. Agar lebih meyakinkan lagi, mereka yang menganut isme tersebut bersedia melayani orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Padahal aliran itu berasal dari Setan yang muncul dengan penampilan sangat menarik. Bagi orang beragama, Setan akan tampil secara religius, misalnya dukun yang membawa Alkitab dan menggunakan doa yang biasanya dipakai oleh Kekristenan. Jika diperhatikan dengan cermat, dalam Ul 18 dapat dijumpai banyak kekejian yang masih terjadi hingga saat ini.[..] perihal tenung atau (mungkin seharusnya ‘dan’) hipnotis yaitu cara mempengaruhi seseorang dengan menggunakan tongkat dan bandulan agar orang itu kehilangan kesadarannya dan bersedia melakukan segala perintah yang diberikan. Praktek ini sungguh tidak berkenan kepada Tuhan karena terjadi perampasan kepribadian.

      6. Wilson & Weldon seorang ahli okultis seperti Dr. Kurt Koch dalam bukunya ‘Occult Shock: “Our reasons for distrusting” menuliskan bahwa penggunaan dalam hipnosis termasuk:

      a. Its possible similarity to the forbidden Biblical practice of charming.
      b. Its historic origin to the occult in both the East (yoga) and West (Spiritist movement).
      c. The fact that a wide variety of occult powers can be developed from hypnosis.
      d. Often past lives “popup” during standard hypnotic regression, even when there is no expectation or searching for them.
      e. Cases of possession that have resulted.
      f. The will must be surrender to another person:
      g. A similarity to mediumistic trance states…”

      7. Martin & Deidre Bobgan dalam bukunya ‘Hypnosis: Medical, Scientific, or Occultic?’ menulis:
      a. Hypnosis began as part of the occult and false religion. The Bible speaks out strongly against all practices of false religion and the occult. God desires His people to turn to Him in need, not to those who practice sorcery, divination, or enchantment. He warns His people about following after mediums, wizards, enchanters, charmers, and those who have a familiar spirit (Deut. 18:9-14). Hypnosis, as it is practiced today, may very well be the same as what is identified as “enchantment” in the Bible (Lev. 19:26 KJV).

      In hypnotism, faith is shifted from God and His Word to the hypnotist and his technique. God speaks to people through the conscious, rational mind. He commands individuals as creatures who make conscious, volitional choices. He sent His Holy Spirit to indwell Christians to enable them to trust and obey Him through love and conscious choice. Hypnosis, on the other hand, operates on the basis of imagination, illusion, hallucination, and deception. Jesus warned His followers about deception. After a person has opened his mind to deception through hypnosis, he may become even more vulnerable to other forms of spiritual deception.

      Hypnosis can generate Satan’s counterfeits of true religious exercise. If hypnosis generates any form of faith and worship not directed toward the God of the Bible, any person who subjects himself to hypnotism may be playing the harlot in the spiritual realm. (See Lev. 19:26,31; 20:6,27; Deut. 18:9-14; 2 Ki 21:6; 2 Chron. 33:6; Isa. 47:9-13; Jer. 27:9.)

      b.  Hypnotism is demonic at its worst and potentially dangerous at its best. At its worst, it opens an individual to psychic experiences and satanic possession. When mediums go into hypnotic trances and contact the “dead,” when clairvoyants reveal information which they could not possibly know, when fortunetellers through self-hypnosis reveal the future, Satan is most certainly at work.

      Are people in the church being enticed to enter the twilight zone of the occult because hypnosis is now called “science” and “medicine”? Let those who call the occult “science” tell us what the difference is between medical and occultic hypnosis. And let those Christians who call it “scientific” explain why they also recommend that it be performed only by a Christian. If hypnosis is science indeed, why the added requirement of Christianity for the practitioner? There is a scarcity of adequate long-term studies of those who have been hypnotized. And there have been none which have examined the effect on the individual’s resulting faith or interest in the occult.

      Before hypnotism becomes the new panacea from the pulpit, followed by a plethora of books on the subject, its claims, methods, and long-term results should be considered. Arthur Shapiro has said, “One man’s religion is another man’s superstition and one man’s magic is another man’s science.” Hypnosis has become “scientific” and “medical” for some Christians with little proof of its validity, longevity of its results, or understanding of its nature. Because hypnosis has always been an integral part of the occult, because it is not a science, because of its known harmful effects, and because of its potential for spiritual deception, the wise Christian will completely avoid it, even for “medical” purposes. It is obvious that hypnosis is lethal if used for evil purposes. However, we contend that hypnosis is potentially lethal for whatever purpose it is used. The moment one surrenders himself to the doorway of the occult, even in the halls of “science” and “medicine,” he is vulnerable to the powers of darkness.

      Penutup:

      Kurt Koch menganjurkan agar umat Kristen tidak bermain-main dengan praktek hipnotis, apakah itu digunakan untuk kebaikan dan kesembuhan apalagi kalau untuk kejahatan. Praktek hipnotis membawa seseorang untuk melongok jendela menuju realita supranatural yang penuh dengan misteri dimana sudah terbukti sering disusupi misteri okult bahkan sampai satanisme.

      Ir Herlinato,M.Th menganjurkan, sekalipun ada manfaat praktek hipnotis bagi pengobatan tertentu seperti menghentikan kebiasaan merokok, menghilangkan sakit gigi, atau kesakitan dalam melahirkan bayi, namun karena praktek hipnotis dilakukan bukan karena kesadaran diri orang itu sendiri, biasanya ada efek sampingan dan berujung pada perilaku buatan.

      Martin & Deidre Bobgan mengatakan,”As far as being a Christian and becoming involved in this practice, it is to be avoided at all costs, your spiritual welfare may be at stake. This is just like ‘charming’ forbidden in Deut.18:10-12. If you traffic in the occult you may soon pay the consequences of overstepping the boundary God has clearly made. It has the potential to open an individual to spiritual experiences and spirit oppression.”

      Alkitab mengatakan, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun” (1Kor. 6:12). Kita tidak perlu dikuasai oleh kuasa sugesti dari orang lain.

      END

  4. Lydia says:

    Oh iya saya juga menambahkan salah satu unsur termasuk kategori hipnotis juga bisa melalui lagu2, dan juga jika dalam sebuah perkumpulan jika seluruh peserta dibawah ke suasana nuansa yang sedih dan kemudian dibawah kembali ke suasana gembira (disertai musik/alat musik) dan bertepuk tangan serta membuat suasana hati lepas dari beban, itu termasuk salah satu ciri hipnotis, dan ini juga banyak ditemukan di gereja2 modern, jadi tanpa kita sadari sebenarnya ada hal tanpa sadar kita sudah memasukkan unsur2 hipnotis ke dalam gereja. GBU😉

    • Benar.

      1. Para musikus dan orang-orang mistik juga sejak lama mengenali kekuatan dari musik ritmikal. Permainan drum ritual dan doa yang ritmikal ditemukan dalam budaya-budaya di seluruh dunia dan digunakan dalam upacara-upacara keagaaman untuk menimbulkan keadaan “trance.” Musik dengan beat yang kuat menstimulasi otak dan menyebabkan gelombang otak untuk beresonansi secara bersamaan mengikuti ritmik lagu. Beat yang lambat menimbulkan gerakan gelombang otak yang lambat yang dapat diasosiasikan dengan keadaan hipnotis atau meditatif. Beat yang cepat dapat menimbulkan kewaspadaan dan pikiran yang berkonsentrasi.

      2. Teknik hipnotis sudah dipraktekkan meluas, termasuk hipnotis masal dalam latihan-latihan pengembangan diri sampai KKR kebangunan rohani yang dilakukan para penginjil tertentu. Biasanya teknik yang digunakan adalah dengan membuat suasana gedung yang teduh dengan lampu digelapkan lalu diiringi musik yang ekstasis dan kesaksian yang mombastis tapi membius, jemaat dalam suasana demikian cenderung menurut apa yang diminta oleh para penginjil. Banyak kesaksian kesembuhan menghasilkan kekecewaan ketika penderita pulang kerumah dan sadar bahwa ternyata penyakitnya tidak sembuh. Ada jemaat yang tersihir kotbah yang fasih dan mengeluarkan cek di kantongnya dan memasukkan ke kantong persembahan. Setelah sadar ia menyesal karena cek itu seharusnya digunakan untuk membayar utangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s