Luther on Prayer


Ditulis oleh: Billy Kristianto

Katekismus Besar yang ditulis oleh Luther membahas lima pokok besar: 10 perintah Allah, iman, doa, baptisan dan perjamuan kudus. Bagian ketiga tentang doa sebenarnya merupakan penjelasan tentang Doa Bapa Kami, dan sebelumnya Luther menulis suatu pengantar mengenai doa. Ada beberapa point yang kita bisa pelajari dari konsep Luther tentang doa pada bagian pengantar ini.

Pertama, Luther mengaitkan doa dengan ketaatan terhadap perintah yang kedua “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan …” Seperti Calvin (yang menjelaskan prinsip ini lebih detail) Luther mengerti ke-10 perintah Allah ini bukan hanya sebagai perintah negativ saja (maksudnya didahului dengan kata “jangan”), melainkan juga sebagai perintah yang positiv. Dengan kata lain “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan” berarti kita harus menyebut nama Tuhan dengan benar. Tidak cukup hanya dengan tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Maka ini berarti kita harus belajar untuk memuji namaNya yang kudus dan juga dalam kesengsaraan kita memanggil namaNya (berdoa kepadaNya). Sehingga berdoa merupakan ketaatan terhadap perintah Allah yang kedua. Dengan demikian doa adalah suatu keharusan, bukan suatu pekerjaan yang boleh kita lakukan kapan kita mau. Kita berdoa berdasarkan perintah Allah, bukan berdasarkan kelayakan kita. Luther mengutip Yes 1:4 dst yang menyatakan bahwa Allah masih murka kepada mereka yang terpukul akibat dosa-dosa mereka, karena mereka tidak kembali kepada Allah dan melalui doa mereka meredakan murka Allah serta mencari kasih karuniaNya. Dosa dapat membuat seseorang untuk semakin enggan berhubungan dengan Allah dan hubungan seperti itu akan semakin menghancurkannya. Kita tidak membangun doa di atas kesalehan pribadi kita, melainkan sekali lagi, di dalam ketaatan akan perintahNya. Kita juga tidak perlu untuk menghina doa kita sendiri, karena kita membandingkan dengan doa-doa mereka yang sangat diberkati Tuhan seperti misalnya Petrus dan Paulus. Membanding-bandingkan diri dengan orang yang diberkati Tuhan dapat membuat kita discouraged jika itu terjadi secara salah. Luther menegaskan bahwa Allah tidak melihat doa berdasarkan orang yang berdoa, melainkan berdasarkan firmanNya (yang menjadi dasar dari doa tersebut) dan ketaatan kehendak kita. Maka inilah point yang pertama dan yang terpenting: semua doa kita harus didasarkan atas ketaatan kepada Allah dan perintahNya, tanpa melihat diri kita, layak atau tidak layak. Dengan demikian doa dibangun atas suatu dasar yang teguh dan yang tak tergoncangkan yaitu firman Allah.

Kedua, kita seharusnya terdorong untuk berdoa karena Tuhan adalah Tuhan yang berjanji. Tuhan berjanji untuk memberikan kepada mereka yang meminta kepadaNya. Jika kita menghargai janji-janji Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya, kita pasti terdorong untuk bertekun dalam doa. Fakta bahwa kita seringkali enggan untuk berdoa adalah karena kita tidak melihat bahwa janji-janji Tuhan sangat berharga bagi kita. Kita menganggap sepi janji-janji Tuhan bagi kita. Sebaliknya suka merenungkan janji-janji Tuhan memberikan dorongan terus-menerus bagi kita untuk berdoa, karena kita tahu sesuai dengan janjiNya, Dia pasti akan memberikannya kepada kita.

Ketiga, Tuhan sendiri telah mengajarkan kata-kata dan bagaimana kita harus berdoa serta meletakkannya dalam mulut kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan kita tidak tahu bagaimana kita harus berdoa. Dia sangat memperhatikan kesengsaraan kita dan kita boleh yakin bahwa Doa Bapa Kami ini pasti berkenan kepadaNya dan didengar olehNya.

Keempat, melalui kesengsaraan/penderitaan yang menekan kita, kita dapat berdoa senantiasa. Karena setiap orang yang meminta harus mengingini sesuatu, dan tanpa keinginan ini tidak ada doa yang sejati. Luther mengaitkan timbulnya keinginan ini justru pada saat kita mengalami kesulitan. Karena dalam kesulitan itulah timbul keinginan yang jujur dalam diri kita. Bukan berarti tidak mungkin kita bertumbuh dalam saat yang lancar, namun sesuai dengan natur kita yang lemah, kita cenderung berpuas diri (self-satisfied) ketika tidak ada kesulitan yang terjadi. Self-satisfied ini begitu merusak hingga dapat melumpuhkan kehidupan doa kita di hadapan Tuhan. Sebaliknya ketika kita berada dalam penderitaan, jiwa kita dibangunkan untuk berseru kepada Tuhan. Luther bahkan menegur dengan keras mereka yang hanya berdoa sebagai suatu tindakan perbuatan baik untuk membayar hutang kepada Allah. Orang-orang seperti itu tidak mau mengambil sesuatu dari Tuhan, melainkan hanya memberi! Kalimat ini mengejutkan kita karena yang seringkali kita dengar dan pelajari adalah “Jangan hanya meminta saja, melainkan memberi juga.” Namun yang dimaksud Luther di sini adalah tidak mungkin sebenarnya orang hanya memberi saja karena ini berarti tidak mengenal keterbatasan diri (yang bukan merupakan sumber). Dengan kata lain orang yang hanya mau memberi namun tidak suka meminta kepada Tuhan adalah seorang congkak yang merasa dirinya tidak pernah bisa habis, dan akhirnya mengakibatkan satu kehidupan yang tidak bergantung pada Tuhan. Kita semua memiliki cukup kekurangan yang nyata; persoalannya adalah bahwa kita tidak merasakan serta melihatnya dengan sadar. Memang penderitaan atau kesulitan pada dirinya sendiri bukanlah suatu kebajikan atau kebaikan (ada orang yang dalam penderitaan menjadi marah, pahit, dendam, kecewa, dingin, acuh tak acuh, mengejar kesenangan duniawi sebagai pengimbang duka dsb), namun dalam tangan Tuhan penderitaan dapat menjadi suatu sarana bagi kita untuk bertumbuh, asal kita berespon dengan benar (yaitu berseru kepadaNya di tengah penderitaan kita).

Kelima, doa menjadi senjata yang ampuh dalam melawan permusuhan dengan iblis. Kita terlalu lemah untuk dapat mengalahkan kuasa iblis dengan kekuatan kita sendiri. Doa membawa kekuatan yang dari Tuhan untuk mengalahkan kuasa jahat, sehingga bukan kita yang berperang, melainkan Tuhan sendiri yang berperang. Rahasia ini selalu dimengerti oleh setiap pejuang iman yang namanya tercantum dalam sejarah Gereja. Dalam bagian yang lain Luther pernah mengatakan bahwa orang percaya yang berdoa adalah seperti pilar-pilar yang menopang dunia ini.

Kiranya Tuhan melibatkan kita dalam pekerjaanNya yang mulia. Sola gratia.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s