Kehendak Tuhan atau Kehendak Diri?


Oleh: Pdt. Sutjipto Subeno

Nats: Matius 26:6-13

Matius 24 dan 25 membicarakan tentang tema eskatologi, sedangkan Matius 26 dan 27 merupakan klimaks dari Injil Matius yaitu tentang via dolorosa/ perjalanan salib Tuhan Yesus. Pembahasan yang lalu telah sampai pada Matius 26:5 yaitu mengenai pemberitahuan ke-4 dari Tuhan Yesus bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem dan akan disalibkan di sana. Pemberitahuan ini mempunyai limitasi waktu yang sangat pendek dimana Tuhan Yesus berkata bahwa 2 hari lagi adalah hari Paskah berarti Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.

Dalam pembahasan yang lalu kita telah belajar untuk melihat betapa dahsyatnya rencana kedaulatan Allah yang sedang bekerja bergandeng dengan intrik manusia yang begitu licik. Tuhan tidak menghalangi kelicikan manusia, tetapi ketika terjadi suatu konspirasi kelicikan manusia, yang dirancang di rumah salah satu Imam Besar, kedaulatan Allah dan kelicikan manusia itu pada 1 titik akan masuk ke dalam 1 jalur. Begitu keduanya masuk ke dalam 1 jalur, maka kelicikan manusia akan habis/hancur dan rencana Tuhan akan jalan terus. Inilah dahsyatnya cara kerja Tuhan yang melampaui semua bijaksana manusia. Permainan manusia dan kedaulatan Allah tidaklah saling meniadakan, keduanya sama-sama berjalan, tetapi pada saat keduanya masuk ke dalam 1 jalur, maka permainan manusia menjadi hilang.

Dalam menjalani hidup ini kita seharusnya bertanya: kita berada di posisi yang mana. Hal tersebut akan menentukan bagaimana kita akan hidup. Pembahasan pada hari merupakan kelanjutan dari yang lalu yaitu mengenai bagaimana perjalanan salib tersebut dipersiapkan dan bagaimana persiapannya. Bagaimana respon manusi juga semakin dipertajam dalam bagian ini.

Sejarah via dolorosa bukan mengajar kita melihat sejarah sebagai kejadian demi kejadian melainkan kita harus mengerti makna dari kejadian. Sejarah bukanlah urutan kejadian melainkan urutan makna. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana membuat hidup yang bermakna dan makna apakah yang akan dibuat agar hidup kita tercatat dalam sejarah.

Ketika Matius mencantumkan kisah dalam nats Alkitab kita pada hari ini, kita bisa melihat betapa mengerikannya kehidupan manusia di muka bumi ini. Simon si kusta dan perempuan yang membawa minyak wangi bukanlah “siapa-siapa“ melainkan memiliki keistimewaan yang dahsyat yang dicatat dalam Alkitab. Simon dulunya pernah sakit kusta tetapi kemudian disembuhkan oleh Tuhan Yesus sehingga dia mendapat julukan Simon si kusta. Kita perlu melihat respon dari Simon yang begitu bersyukur karena sudah menerima anugerah Tuhan yang begitu besar, hidupnya yang seharusnya sudah mati sekarang sudah bisa kembali sehat dan dia bisa hidup bersama dengan orang lain. Tokoh kedua dalam cerita ini adalah perempuan yang membawa minyak wangi, yang menuangkan minyak wangi tersebut ke kepala Tuhan Yesus. Apa yang dilakukan perempuan ini merupakan manifestasi pimpinan Allah yang begitu tajam dan perempuan itu begitu peka sehingga dia datang kepada Tuhan Yesus dengan penuh ucapan syukur. Kedua orang tersebut telah menerima berkat Tuhan yang luar biasa, walaupun Alkitab tidak menyebutkannya secara eksplisit.

Via dolorosa dibuka dengan cerita Imam Besar yang sudah menetapkan suatu rencana yang begitu teliti untuk memastikan bahwa Yesus harus mati dengan segera. Kemudian Matius mengajak kita melihat bagaimana di tengah-tengah manusia yang jahat masih ada respon yang indah sekali. Bagaimanakah kita meresponi setiap berkat, setiap hal yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita? Simon dan wanita itu melakukan respon yang mengagumkan Tuhan, mereka rela berkorban bagi Tuhan. Di dalam bagian cerita yang lain akan dikontraskan dengan respon orang banyak yang berteriak minta Tuhan Yesus disalibkan. Orang banyak itu begitu sengit terhadap Tuhan Yesus, ditafsirkan oleh banyak penafsir, karena money politic, padahal ada kemungkinan mereka juga sudah pernah menerima berkat dari Tuhan Yesus.

Iman Kristen bukan sekedar untuk mencari berkat/ mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Iman Kristen adalah melihat Tuhan dan bagaimana berespon kepadaNya. Via dolorosa dimulai dengan menata kembali cara berpikir.

Minyak yang dikemas dalam botol pualam pada waktu itu sangatlah mahal harganya dan digunakan oleh seorang gadis di hari pernikahannya. Biasanya diperlukan usaha dan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan uang agar bisa membeli minyak tersebut. Minyak tersebut merupakan hal yang paling berharga yang bisa dia berikan kepada Tuhan. Tetapi Tuhan melihatnya lebih jauh lagi yaitu: hal tersebut bukan sekedar sebagai ucapan syukur tetapi juga sebagai pengurapan kematianNya. Seharusnya para murid Tuhan tahu bahwa hal ini adalah suatu hal yang agung yang dilakukan untuk mempersiapkan Tuhan Yesus memasuki jalur via dolorosa. Seharusnya mereka bisa melihat relasi dari setiap momen yang sedang berjalan menuju kepada detik-detik terakhir hidup Tuhan Yesus. Anehnya, reaksi yang mereka lontarkan adalah: Pemborosan!

Apakah itu keagamaan? Apakah itu mengikut Tuhan? Mungkin kita sudah ke gereja/ menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun/ aktif pelayanan, tapi mengertikah kita atau dapatkah kita bereaksi dengan tepat? Apakah kita melihat seperti Tuhan melihat atau seperti para murid melihat? Sepanjang sejarah zaman ada 1 hal yang terus berulang yaitu orang yang katanya saleh beragama justru tidak mengerti apa yang Tuhan mau, tidak mengenal Tuhan, tidak memiliki hati Tuhan.

Ada 3 hambatan yang menjadikan kita buta dan terselewengkan sehingga kita tidak dapat bertumbuh secara spiritual yaitu:

1) cengkeraman materialisme.

Ketika pikiran manusia sudah dicengkeram oleh materialisme/uang, manusia bisa menjadi begitu bodoh. Komentar “pemborosan“ adalah tidak pada tempatnya karena minyak wangi dibeli adalah untuk dipakai, tetapi pada saat dipakai justru dikatakan sebagai pemborosan. Alasan mereka adalah: kalau minyak tersebut dijual maka akan mendapatkan uang yang banyak dan dapat dibagikan kepada orang miskin. Kalau memang hal tersebut adalah pemborosan maka tidaklah mungkin uangnya dibagikan kepada orang miskin. Di sini terlihat bahwa setiap tindakan selalu dihitung untung ruginya dan ujung-ujungnya duit. Ini merupakan reaksi spontan dan reaksi  spontan ini menunjukkan cara pikir mereka. Karena sudah dibutakan oleh uang, mereka tidak lagi bisa melihat pimpinan Tuhan, kehendak Tuhan dan langkah Tuhan. Alkitab berkata bahwa musuh terbesar dari Tuhan adalah mamon. Ketika orang sudah berkiblat ke uang maka dia akan sulit untuk kembali kepada Tuhan. Seberapa jauh kita selalu melihat dari sudut pandang Tuhan setiap kita mengambil langkah dan bukan dihitung dari sisi uang?

Kita/ gereja perlu dikembalikan agar tidak terjebak dalam materialisme. Gereja harusI senantiasa menempatkan Tuhan di tempat yang utama. Orang yang kaya berkewajiban memberi banyak karena sudah diberi banyak oleh Tuhan tetapi tidak memiliki banyak hak. Seluruh jajaran pimpinan gereja harus dipegang oleh orang yang cinta Tuhan dan takut akan Tuhan. Tuhan Yesus melihat persembahan seorang perempuan sebanyak 2 peser adalah terbanyak dari orang yang lain karena perempuan itu memberikan 100% dari penghasilannya. Manusia cenderung melihat dari sisi jumlah uangnya, ternyata mata Tuhan melihat dari sudut yang berbeda sama sekali. Kalau kita masih belum dapat melihat sebagaimana Tuhan melihat maka berarti kita masih belum mengerti cara Tuhan bekerja.

2) humaniora.

Kepedulian terhadap orang miskin harus berada di bawah kepedulian terhadap kehidupan. Kepedulian terhadap kehidupan adalah jauh lebih penting daripada kepedulian terhadap kemiskinan. Dalam humaniora terjadi kesalahan meletakkan kepedulian yaitu kepedulian terhadap kemiskinan lebih daripada kepedulian terhadap kehidupan. Dalam prinsip kemanusiaan yang perlu mendapatkan perhatian utama adalah bagaimana orang hidup. Dalam Alkitab dari PL sampai PB tidak pernah diungkap adanya pelayanan diakonia/ sosial kepada orang non Kristen. Orang Israel dituntut oleh Tuhan untuk saling peka terhadap saudara seiman, sesama orang Israel sebagai orang pilihan Tuhan. Membangun kehidupan adalah membangun hidup secara totalitas, bersifat utuh mencakup roh dan daging. Untuk membangun manusia secara holistik justru harus dengan menapaki via dolorosa, melihat apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus jauh lebih peduli dengan hidup manusia daripada dengan kemiskinan. Orang yang berdosa harus diselamatkan, harus disucikan, harus diperdamaikan dengan Tuhan. Inilah kepedulian yang utama yang merupakan pikiran Tuhan.

Banyak gereja pada hari ini yang sangat memperhatikan kepentingan manusia. Theologi Reformed melawan semua arus theologi yang lain juga agama-agama yang lain dengan mengajarkan: Allah bukanlah untuk manusia, tetapi manusia untuk Allah. Hal ini sesuai dengan rumus yang tidak bisa ditolak yaitu: semua ciptaan harus kembali untuk kepentingan penciptanya. Kerohanian yang sejati adalah bagaimana kita peka dengan isi hati Tuhan lalu kita menjalankan kehendakNya.

Para murid tidak peduli kepada Tuhan Yesus yang sedang menapaki via dolorosa, yang mereka pedulikan hanyalah diri mereka sendiri, apa yang bisa mereka peroleh/nikmati. Adalah celaka kalau kitapun seperti para murid, kita pergi ke gereja untuk mencari keuntungan diri dan manusia lain. Orang miskin dijadikan kaya tidaklah menyelesaikan masalah. Hanya iman yang sejati yang menyelesaikan masalah. Orang dunia hanya sibuk dengan mengentas kemiskinan tanpa peduli kepada keselamatan hidup. Seringkali kekayaan justru membuat orang menjadi sulit untuk masuk ke Surga.

Banyak diantara kita yang sangat peduli terhadap kemiskinan tetapi justru tidak pernah memikirkan sama sekali Tuhan Yesus telah menapaki via dolorosa untuk menyelamatkan hidup kita. Kebaikan untuk manusia yang seperti apakah yang dipikirkan oleh manusia? Tuhan Yesus ingin manusia berhenti dari berbuat dosa dan kemudian mengerjakan kehendak Tuhan.

3) cara pikir manusia.

Dalam kerohanian kita juga sering berpikir menurut cara pikir kita bukan cara pikir Tuhan. Seharusnya, kita menyangkal diri kita, berusaha tunduk kepada kehendak Tuhan, belajar melihat seperti Tuhan melihat. Itulah iman Kristen yang sejati.

Para murid tidak bisa melihat seperti yang Tuhan Yesus lihat tetapi wanita yang membawa minyak wangi tersebut bisa melihatnya karena dia memiliki pikiran bahwa segala sesuatu adalah untuk Tuhan Yesus, bagi Tuhan adalah yang terbaik tanpa peduli dengan dirinya. Para murid justru berpikir sebaliknya yaitu tidak mempedulikan Tuhan tetapi yang penting adalah diri mereka sendiri. Ketika kita gagal mengerti sudut pandang yang tepat maka seluruh hidup kita akan hancur, interpretasi kita terhadap segala sesuatu menjadi salah.

Iman Kristen yang dijalankan secara betul memiliki sudut pandang yang jauh lebih baik. Sudut pandang manusia adalah sudut pandang yang terendah. Sudut pandang yang lebih bagus adalah sudut pandang burung, makin tinggi akan semakin banyak yang dapat dilihat. Dengan sudut pandang Tuhan kita bisa melihat apapun tanpa dibatasi.

3 hal yang perlu menjadi bahan koreksi bagi hidup Kristen kita yaitu:

1) betulkah kita semakin mengenal Kristus dengan lebih baik?

2) apa yang menjadi kepedulian kita? Seharusnya kita semakin peduli dengan Kerajaan Tuhan.

3) seberapa terbangun pengertian atas realita dari sudut pandang Tuhan? Pengertian tersebut akan menjadi kekuatan bagi langkah kita berikutnya.

Renungkanlah:

  1. Seberapa jauh Anda mengenal Kristus dalam hidup iman percaya Anda? Hal apakah yang Anda sudah lakukan bagi Kristus baru-baru ini? Sharingkan hal ini pada rekan seiman Anda?
  2. Hal apakah yang Anda akan lakukan di minggu ini bagi kemuliaan Allah? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan tulus.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Devotional and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s