Eric hanya titipan Tuhan


Kesaksian dari Bapak Samadikun Hartono
PENGANTAR: Tanggal 11 September 2001 sebuah tragedi menimpa negara adikuasa Amerika Serikat. Menara Kembar WTC New York yang juga merupakan icon negara Amerika Serikat, luluh lantak akibat ditabrak dua buah pesawat yang telah dibajak para teroris. Menurut hasil penyelidikan petugas keamanan negara Paman Sam itu, dalang dari tragedi ini adalah Osama bin Laden. Diperkirakan korban yang tewas akibat luluhnya Menara Kembar WTC itu mencapai 3500 orang. Seorang di antaranya adalah Eric Hartono, putra Samadikun Hartono, salah seorang pengusaha Indonesia. Bagaimana perasaannya ketika mengetahui bahwa salah seorang penumpang dari pesawat yang ditabrakkan ke Menara Kembar itu terdapat putranya? Ikuti wawancara tertulis  dengan Bp. Samadikun Hartono.

Dari mana bapak mendapat kabar bahwa Eric menjadi korban dalam tragedi WTC itu?

Malam hari tanggal 11 September 2001 itu saya menerima telepon dari Irene anak kami yang terbesar. Saat menelepon itu Irene mengatakan besar kemungkinan bahwa Eric, adiknya, ada di dalam salah satu pesawat yang ditabrakkan ke menara kembar WTC. Nah, pas dia mengatakan demikian, saya segera memotongnya dan bertanya mengapa dia begitu yakin akan hal tersebut. Irene mengatakan bahwa dia telah menerima visi sebelumnya.

Irene aktivis gereja?

Ya, dia rajin ikut persekutuan doa. Nah, dalam persekutuan doa yang diadakan di rumahnya sebelum peristiwa itu terjadi, dia menerima visi tersebut. Dia mendengar suara secara jelas yang mengatakan bahwa Tuhan akan mengambil kembali milikNya.

Bagaimana reaksi Bapak setelah menerima telepon dari Irene itu?

Jauh-jauh hari sebelum kejadian ini, saya sering berkata kepada keluarga saya, apabila terjadi sesuatu dalam hidup ini, kita harus berserah dan selalu mengucap syukur kepada Tuhan. Begini, saya ingin menceritakan suatu kisah nyata tentang sepasang suami istri yang memiliki seorang anak tunggal, seorang putri. Pasangan suami istri sangat mengasihi anak itu sehingga apapun permintaannya pasti dikabulkan. Suatu hari, ketika anak perempuan ini berusia 12 tahun dalam perjalanan ke sekolah, tiba-tiba mendapat kecelakaan, ditabrak mobil hingga tewas. Sang ibu sangat sedih dan terpukul. Ia tak tahu bagaimana harus memberitahukan kabar itu kepada suaminya. Ia yakin suaminya akan sangat terpukul. Namun dengan tenang dia menemui suaminya dan memberikan sebuah perumpamaan. Begini, kata sang istri. Ada seorang teman yang ingin pergi ke luar negeri lalu menitipkan mobilnya kepadamu sambil berpesan sekembalinya dari luar negeri ia akan kembali mengambil mobil tersebut. Setelah sekian tahun temanmu itu pergi tanpa kabar dan kamu telah merawat mobil itu seperti milikmu sendiri, tiba-tiba dia kembali tanpa pemberitahuan sedikitpun, apakah kamu akan menyerahkan mobil itu kepadanya? Sang suami menjawab dengan enteng, “Tentu, mobil tersebut harus dikembalikan kepadanya karena mobil itu memang miliknya”

Pernah terpikir bahwa kejadian ini akan dialami oleh bapak sekeluarga?

Semula memang tidak. Tetapi, setelah perbincangan saya dengan Irene di telepon dan mendengar visi yang telah diterimanya dari Tuhan bahwa Tuhan akan mengambil kembali apa yang menjadi milikNya, kami sekeluarga mulai gelisah. Jangan-jangan Tuhan bermaksud mengambil kembali milikNya yaitu Eric, anak kami yang ada di Boston, Amerika. Namun saat itu, di antara kami tak ada yang mengetahui secara pasti keberadaan Eric.

Lalu dari mana kepastian itu bapak dapat?

Setelah mengikuti perkembangan tragedi tersebut melalui televisi dan media cetak, Irene menghubungi teman wanita Eric di Boston dan menanyakan soal Eric. Sambil menangis teman Eric itu menjelaskan bahwa dialah yang mengantar Eric sampai ke pintu pesawat dan ia yakin Eric berada dalam salah satu pesawat yang ditabrakkan ke gedung WTC itu.

Bagaimana perasaan bapak setelah menerima kepastian itu?

Secara jujur saya katakan sebagai orangtua saya merasa sangat pahit atas kejadian yang datang begitu mendadak. Secara manusia kami sekeluarga tidak dapat dengan mudah menerima kenyataan seperti itu. Eric telah kami besarkan selama 20 tahun. Dia sangat kami harapkan sebagai generasi penerus bagi keluarga kami. Tahun depan rencananya dia diwisuda. Ternyata dalam usia yang begitu muda dia dipanggil pulang ke surga. Namun, saya bersyukur Tuhan telah memberikan kekuatan kepada kami sekeluarga. Tuhan juga yang memberikan Eric kepada kami. Eric hanya sebuah titipan dan Tuhan telah mengambilnya kembali. Kami yakin dia sudah bersama dengan Bapa di surga.

Reaksi istri dan anak-anak bapak lainnya?

Saya katakan kepada istri dan anak-anak saya, sekalipun harus menghadapi cobaan bertubi-tubi, kita harus menerimanya dan belajar taat dengan mengucap syukur dan menyerahkan seluruh persoalan tersebut ke dalam tangan Tuhan. Sebab suatu saat kelak kitapun pasti bertemu kembali di tempat yang sama, yaitu tempat Bapa di surga.

Hikmah apa yang bapak ambil dari kejadian ini?

Saya sangat percaya bahwa semua rencana Tuhan adalah baik. Sebagai seorang ayah, kita harus mengasihi keluarga kita dengan tulus. Dan, apabila diizinkan Tuhan untuk mengalami pengalaman seperti itu, hendaklah kita tetap mengucap syukur kepadaNya. Sebab pengucapan syukur adalah kunci keberhasilan mengatasi segala persoalan. Tuhan takkan membiarkan kita berada dalam kesulitan yang tidak dapat kita atasi. Saya sempat mengatakan kepada keluarga saya dalam menghadapi peristiwa yang berat ini, agar jangan mengeluh kepada Tuhan dan juga jangan bertanya, mengapa Tuhan? Yang harus kita lakukan ialah selalu taat dan tetap percaya kepada Tuhan. Dia pasti mempunyai rencana yang yang baik bagi kita.

Sumber: Buletin GKJMB No.18 – Tahun 7, September 2002

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Testimony. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s