BANJIR DATANG, SIAPA SALAH? (Kejadian 1)


Ditulis oleh: Pdt. Bigman Sirait

Kejadian 1 melukiskan betapa baiknya seluruh ciptaan Allah, sebuah karya sempurna dari Allah yang maha sempurna. Sebuah kehidupan dengan jaminan masa depan yang pasti tanpa kekurangan dan permasalahan. Manusia sebagai mahluk ciptaan terunggul, diciptakan Allah dan ditempatkan di taman Eden dengan tanggung jawab yang mulia, yaitu menatalayan, mengelola atau istilah yang populer memanage seluruh apa yang ada di dalamnya. Dalam taman Eden inilah manusia diberi ketetapan hukum supaya tidak makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Ketetapan yang sederhana dan perintah yang terasa sangat lunak ternyata dilanggar oleh manusia yang memilih terpikat dan terikat pada tawaran Iblis ketimbang taat kepada ketetapan Allah. Ketidaktaatan manusia berakibat fatal yaitu jatuh dalam dosa. Kejatuhan yang mengakibatkan manusia terpisah dari Allah dan mewarisi bumi yang terpolusi dosa.

Dari sinilah seluruh persoalan bumi berawal. Alam tak lagi bersahabat dengan manusia dan muncul berbagai ketidakharmonisan di mana manusia mengekploitasi alam sementara alam jadi sering memuntahkan amarahnya pada kehidupan manusia. Terjadi kemerosotan kemampuan manusia dalam menatalayan dan menaklukkan alam semesta sehingga menimbulkan dampak ekologi seperti yang diungkapkan kejadian pasal 3:17. Kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan seluruh struktur “relationship” rusak. Baik terhadap diri sendiri, sesama manusia dan terhadap Allah maupun terhadap alam semesta. Alam tidak lagi bersahabat dan tidak lagi memberi kemudahan bagi kehidupan bahkan sebaliknya manusia harus berpeluh untuk memperoleh nafkahnya.

Dalam keadaan seperti inilah manusia atas nama masa depan berusaha dengan segala kemampuannya untuk mempertahankan kehidupannya. Manusia mengelola dan mengusahakan alam dengan aturan dan ukuran yang ditetapkan sendiri oleh manusia, yang dikemudian hari terbukti justru merupakan sebuah “pengrusakan”. Bahkan atas nama kesejahteraan tanpa sadar manusia telah mengeksploitasi dan merusak alam, menyedot habis-habisan semua yang ada di bumi, membabat semua yang ada dipermukaan bumi untuk memenuhi nafsu hedonisnya. Manusia tidak lagi mengenal kata cukup dan lupa keseimbangan.

Manusia semakin berkembang, semakin bertambah populasi dan jumlahnya dan semakin kritislah keadaan alam. Semakin banyak lahan yang diperlukan untuk tempat tinggal, semakin banyak pulalah hutan yang dibabat, belum lagi untuk tujuan industri peralatan yang dibutuhkan manusia dan salah satu dampaknya adalah seperti yang kita alami saat ini, banjir dan banjir lagi bahkan sudah menjadi musiman.

Kita melihat bahwa kehancuran alam terjadi oleh karena ulah manusia yang berdosa. Manusia melakukan karya yang sangat menyedihkan, manusia akhirnya cenderung merusak alam semesta yang diberikan Tuhan kepadanya.

Alkitab memberi kesaksian bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa terjadi banjir yang luar biasa (Kej 7), yaitu apa yang dikenal dengan air bah. Alkitab menyatakan bahwa Allah murka terhadap orang-orang pada zaman Nuh dan Allah hanya memilih Nuh dan keluarganya sebagai representasi kelompok yang menerima anugerah.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, “Kalau kemudian kita mengalami banjir seperti ini, bolehkah kita mengatakan bahwa Tuhan sedang menghukum kita?” Jawaban atas pertanyaan ini bermacam-macam. Kalau jawabannya “ya”. Benarkah demikian? Karena ternyata ada banyak orang percaya yang punya kwalitas iman baik, yang hidup penuh dengan cinta kasih juga mengalami banjir. Apakah mereka sedang dihukum Tuhan? Dalam hal ini pasti kita setuju kalau jawabannya adalah “tidak”. Karena di lain pihak ada banyak orang yang tidak mengalami banjir atau musibah tetapi bukan orang baik-baik, mereka jahat, para koruptor dan sebagainya yang mampu membeli rumah di daerah elite yang aman dari sentuhan banjir.

Sebenarnya yang menjadi penting adalah: “Baik mereka yang mengalami maupun yang tidak mengalami banjir belajar memahami apa yang menjadi tugas tanggung jawabnya sebagai orang percaya dan bagaimana memainkan peran di tengah-tengah dunia yang semakin rusak ini”.

Kita harus menyadari bahwa memang ekosistem sudah rusak, sehingga penting untuk memikirkan bersama, supaya kita tidak hanya melulu berkutat pada tanggung jawab dalam “konteks kekristenan yang sempit” yang hanya bicara seputar seremonial ibadah gereja. Padahal ibadah yang sejati adalah “all activity” kita sebagai orang percaya (Roma 12:1), termasuk kegiatan dan tanggung jawab kita untuk mengelola alam, bukan sebaliknya merusak dan mengeksploitasi alam hanya untuk setumpuk uang. Maka tugas Gereja adalah: “Mengumandangkan bagaimana orang Kristen mengekspresikan tanggung jawabnya” khususnya para pengembang perumahan yang Kristen agar berwawasan lingkungan yang bukan sekadar semboyan. Untuk umat Kristen pada umumnya:

  1. Tidak membuang sampah sembarangan (memberikan kontribusi pemikiran masalah sampah). Maklum sebelum banjir Jakarta kebingungan untuk membuang sampah, dan setelah banjir air kebanjiran sampah.
  2. Memelopori membuat sumur-sumur resapan air (khususnya mereka yang berkelebihan tanah). Misalnya menggali tanah di sekitar kita dan mengisinya dengan ijuk mirip septitang raksasa.
  3. Membantu hijaunisasi kota Jakarta, yang saat ini bagus dalam slogannya tetapi pahit dalam realitanya. (maklum hijau yang dikenal hijaunya dollar paman Sam).
  4. Perlu juga bijak untuk memilih tempat tinggal dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan jangan melanggar apa yang disebut Rencana Umum Tata Ruang. Bukankah orang Kristen harus taat hukum meskipun hukum seringkali dilanggar oleh sipelaksana dan pengawas hukum.

Secara progresif memang manusia akhirnya menjadi partner bagi pengrusakan. Karena gaya hidup yang meluap dengan segala kebutuhan yang ekstra dan bukan lagi kebutuhan yang hakiki, tetapi berubah menjadi keserakahan karena munculnya keinginan-keinginan yang sebenarnya melampaui kebutuhan. Akibatnya kita mempunyai hal-hal yang lebih, sementara yang lain mengalami kekurangan.

Sekarang saatnya bukan untuk mencari “kambing hitam”, tetapi bagaimana menemukan kebenaran yang harus disadari bersama, walau berakibat sakit bagi siapapun tetapi harus diakui untuk dibereskan. Kalau sekarang banyak yang mengatakan bahwa banjir ini adalah banjir yang paling hebat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (1996) tetapi kemungkinan pada tahun-tahun mendatang akan ada banjir yang lebih hebat lagi, kecuali semua orang bertobat untuk menyadari diri jangan lagi merusak alam yang Tuhan beri tetapi mengelola dan memeliharanya. Tetapi sebagai rakyat kecil penulis pesimis akan ada perbaikan melihat cara penanganan masa banjir maupun pasca banjir.

Memahami realita banjir rasanya tidak perlu lagi bertanya mengapa, mengapa dan mengapa? Yang sekarang kita perlukan adalah “Bagaimana memperbaikinya ke depan dan membuat seminimal mungkin akibat yang terjadi dari banjir “.

Akhirnya memang banjir tidak mungkin terhindari, yang bisa dikerjakan adalah mengurangi akibatnya. Untuk itu diperlukan kerja sama dari semua pihak, rakyat harus taat pada peraturan yang ada dan ikut ambil bagian dalam menjaga kelestarian serta keseimbangan alam, sedang dari pemerintah seharusnya sebagai pihak yang menegakkan peraturan dengan tidak memandang bulu, siapapun yang melanggar harus disanksi. Nah ini yang agak susah karena ada banyak “bulu” yang harus dipandang termasuk “bulu” sendiri. Pemerintah perlu mendapat pengawasan ekstra ketat dari rakyat, mengingat sudah terlalu banyak yang diselewengkan dan terlalu banyak rencana hanya di mulut saja yang kemudian lenyap seturut perjalanan waktu. Untuk seluruh gereja di Indonesia kita perlu menggalakkan diskusi Teologi, Ekologi dan Praksis. Mari bung jangan hanya hanyut dalam doa kita juga perlu bekerja.

*Penulis: Ketua Pelayanan Media Antiokhia dan pembicara Radio pada RPK FM 96.35

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s