The Shack: Mendukung atau Bertentangan?


Ulasan kritis oleh Norman L. Geisler dan Bill Roach

The Shack: Di Mana Tragedi Menentang Kekekalan oleh William P. Young (Wind Blown Media, 2007, hal 264) adalah best seller New York Times dengan lebih dari satu juta copy (salinan) dicetak. Secara literal ratusan ribu orang telah diberkati oleh pesannya, namun justru pesannya yang mengundang pengujian yang seksama. Respon-respon pada The Shack mulai dari pujian hingga ke kecaman penyesatan. Eugene Peterson, pengarang dari The Message memperkirakan The Shack “memiliki potensi pada generasi kita seperti yang dilakukan Pilgrim’s Progress (Perjalanan Sang Musafir) karya John Bunyan bagi generasinya dulu. Ini memang sebaik itu!” Patrick M. Roddy, produser pemenang Emmy Award dari ABC, menyatakan bahwa “ini adalah sejenis undangan unik menuju perjalanan pada hati TUHAN sendiri. Melalui tetesan air mata dan sorakan kegembiraan, Saya telah sungguh diubahkan oleh belas kasihan lembut yang William Paul Young ungkapkan yang telah sering menjauhkan saya dari TUHAN dan dari diri saya sendiri.” (http://theshackbook.com/endorsements.html). Orang-orang dari berbagai segi kehidupan ramai membicarakan buku ini yang dikarang oleh pengarang misterius “Willie” Young, anak dari seorang pendeta/misionaris, dan terlahir di Canada. Ia adalah lulusan dari Warner Pacific College di Portland, Oregon.

Latar Belakang Buku

The Shack adalah fiksi Kristiani, genre yang sedang pesat bertumbuh dalam kebudayaan Kristen kontemporer. Buku ini mengkomunikasikan sebuah pesan dalam cara yang santai, mudah dibaca, dan tidak menyinggung. Dari pengalaman pribadinya, Young mencoba menjawab beberapa pertanyaan dalam hidup: Siapakah TUHAN? Siapakah Yesus? Apa itu Tritunggal? Apakah itu keselamatan? Apakah Yesus satu-satunya jalan menuju Surga? Jika TUHAN, lalu kenapa jahat? Apa yang terjadi setelah saya meninggal?

Dalam bagian final dari buku berjudul “The Story behind THE SHACK,” (Cerita di balik The Shack), ia mengungkapkan bahwa motivasi untuk cerita ini datang dari pergumuluan pribadinya untuk menjawab banyak pertanyaan sulit dalam hidup. Ia mengklaim bahwa pelatihan seminari nya tidak menyediakan jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaannya yang mendesak. Lalu pada suatu hari di tahun 2005, ia merasakan bisikan TUHAN di telinganya bahwa tahun tersebut akan menjadi tahun perayaan dan pemulihannya. Berangkat dari pengalamannya itu, ia merasa dipimpin untuk menulis The Shack. Menurut Young, sebagian besar isi buku dibentuk menurut percakapan pribadinya dengan TUHAN, keluarga, dan teman-teman (258-259). Ia memberitahukan para pembaca bahwa karakter utamanya “Mack” bukan orang sesungguhnya, tapi sebuah karakter fiksi yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan dalam bukunya. Namun, ia mengakui bahwa anak-anaknya akan “mengenali bahwa Mack adalah sebagian besar saya, bahwa Nan sangat serupa Kim, bahwa Missy dan kate serta karakter-karakter lainnya seringkali menyerupai anggota-anggota keluarga kami dan kawan-kawan” (259).

Cerita Dasar dari Buku The Shack

Cerita dalam buku ini berpusat pada sebuah catatan yang diterima Mack, suami dan ayah dalam cerita, dari “Papa” yang diduga adalah Allah Bapa. Dalam catatan itu tertulis, “Mackenzie, sudah lama tidak bersua. Saya merindukan mu. Saya akan berada di the shack (gubuk) minggu depan jika kau ingin bertemu.” (19). Dari sini, cerita berlanjut pada pergumulan-pergumulan pribadi yang dialami Mack dengan beberapa pertanyaan seperti: Kenapa ada seseorang yang mengirimkan surat ini padaku? Apakah TUHAN benar-benar berbicara melalui surat-surat? Bagaimana pelatihan seminari saya merespon interaksi seperti ini antara TUHAN dan manusia? Cerita beralih saat putra Mack hampir tenggelam saat mendayung perahu kano. Di tengah kekacauan putrinya diculik dan berujung pada terbunuhnya sang putri. Ini yang menyebabkan Mack untuk jatuh dalam kondisi yang disebutkan dalam buku sebagai “The Great Sadness” (“Kesedihan Yang Sangat Mendalam.”) Kurun waktu ini dianggap mencerminkan kondisi spiritualnya setelah kematian putrinya dan pertanyaan-pertanyaan yang telah dia pertanyakan bertahun-tahun.

Berduka atas kematian putrinya dan kemungkinan bahwa catatan tersebut berasal dari Tuhan, Mack menyiapkan tasnya dan pergi ke gubuk tersebut. Inti perjalanannya adalah untuk menunjukkan bahwa semua yang diterimanya mengenai pengajaran tradisional, doa-doa hari Minggu, himne, dan pendekatan kepada Kekristenan adalah salah semuanya. Ia menyimpulkan bahwa “spritualitas terisolasi tampak tidak mengubah apapun dalam hidup-hidup orang yang ia kenali, kecuali mungkin Nan [istrinya]” (63). Terlepas dari menjadi pertemuan yang tidak memungkinkan dengan Tuhan, Young menggunakan pertemuan fiksional ini sebagai kendaraan bagi perjalanan spiritual Mack dan pertemuan pada gubuk tersebut.

Ketika di gubuk, Mack menemukan bahwa Tuhan tidak seperti yang diharapkannya. Kenyataannya, Allah Bapa adalah “wanita Amerika keturunan Afrika tinggi besar yang bercahaya,” Yesus tampil sebagai “orang timur tengah dan berpakaian seperti kuli / tukang, lengkap dengan ikat pinggang peralatan dan sarung tangan,” dan Roh Kudus dinamai Sarayu, “wanita kecil yang nampak sekali khas Asia.” Buku ini mengidentifikasikan tiga orang ini sebagai Tritunggal (80-82). Setelah mencoba menggabungkan pelatihan seminarinya dengan pertemuan baru ini dengan Tuhan, ia menyimpulkan bahwa apa yang ia telah pelajari tidak menolong.

Sebuah Evaluasi dari Buku The Shack

Maksud Young jelas: lupakan ide terdahulu mengenai Tuhan, lupakan pelatihan seminarimu, dan sadar bahwa Tuhn memilih untuk tampil pada kita dalam wujud apapun yang kita perlukan; IA adalah sebuah metafora yang bervariasi. Kita tidak bisa kembali pada pengkondisian religius sebelumnya (91). The Shack mencoba menyajikan pandangan dunia Kristen melalui genre fiksi religius, namun hanya se-Kristen apa terlihat sisanya.

Masalah Pertama: Penolakan Terhadap Kekristenan Tradisional

Di balik permukaan The Shack adalah sebuah penolakan Kekristenan tradisional (179). Ia mengklaim bahwa Kekristenan tradisional tidak menjawab permasalahannya. Bahkan pelatihan seminarinya tidak menolong (63). Ia bersikukuh bahwa Kekristenan harus direvisi agar dapat dimengerti, mengingatkan pada buku dari “Emergent Church”-nya Mclaren yang berjudul, Everything Must Change. Namun seseorang mungkin menanyakan apakah Kekristenan yang perlu direvisi atau orang-orang Kristen yang perlu disegarkan. Satu hal yang pasti; Kekristenan tidak perlu ditolak karena memiliki wakil-wakil yang munafik. Untuk lebih yakin, beberapa pelatihan seminari buruk, dan bahkan pelatihan seminari yang baik pun tidak membantu, jika Anda tidak menghiraukannya. Namun sang bayi tidak perlu dibuang bersama dengan air mandinya. Kristus telah mendirikan Gereja dan mengatakan gerbang neraka tidak akan menang atasnya (Matius 16:16-18). The Shack, sekuat mencengkram seperti ceritanya, menukar sebuah gereja terisi oleh orang-orang yang mendengarkan pemberitaan Firman TUHAN dengan gubuk kosong di mana tidak ada keduanya.

Masalah Kedua: Pengalaman Mengalahkan Pewahyuan

Masalah tersirat pada pesan dari The Shack adalah karena buku ini menggunakan pengalaman pribadi untuk mengalahkan pewahyuan. Jawaban dari permasalahan-permasalah dasar hidup datang dari pengalaman di luar alkitab, bukan dari Firman tertulis (80-100). Suara-suara non alkitabiah diberikan sebagai contoh utama dibandingkan suara TUHAN dalam Alkitab. “Wahyu-wahyu” yang diasumsikan dari “Tritunggal” dalam gubuk adalah dasar dari seluruh kisah dalam buku. Saat kebenaran alkitab diberitakan secara tidak langsung, namun tidaklah dijadikan dasar berotoriter dalam pesannya. Di dalam analisis final, pengalaman yang digunakan untuk menafsirkan Alkitab; dan bukannya Alkitab yang digunakan untuk menafsirkan pengalaman. Ini mengarahkan pada penyangkalan dari pengajaran fundamental Protestan.

Masalah Ketiga: Penolakan Sola Scriptura

The Shack menolak otoritas tunggal dari Alkitab untuk menentukan perihal-perihal iman dan prakteknya.  Bukannya menemukan sebuah Alkitab di altar dalam sebuah gereja kuno di desa dan menemukan kenyamanan dan bimbingan dari Firman TUHAN, namun ia diinstruksikan untuk pergi ke sebuah gubuk kosong di tengah belantara tanpa Alkitab dan mendapatkan semua yang ia perlukan untuk bisa menangani tragedi-tragedi hidup dari suara di luar Alkitab. Pengarang The Shack menolak apa “Yang sudah ia pelajari dalam seminari bahwa TUHAN telah menghentikan komunikasi tertutup dengan peradaban modern (masa kini), dan TUHAN lebih menghendaki mereka untuk memperhatikan dan mengikuti Alkitab yang kudus tak bercela… suara TUHAN telah diringkas menjadi kertas… Nampaknya bahwa komunikasi langsung dengan TUHAN hanya sesuatu yang eksklusif bagi orang-orang masa lampau… Tidak ada yang menginginkan Tuhan dalam sebuah kotak, hanya dalam sebuah kitab.”

Namun, Alkitab jelas menyatakan bahwa “Firman Allah adalah nafas Allah dan berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, supaya setiap umat TUHAN diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim. 3: 16-17, penekanan ditambahkan). Jelas, kenyamanan kita tidak ditemukan dari wahyu di luar Alkitab tapi dinyatakan dalamnya bahwa “melalui penghiburan dari Alkitab kita dapat memiliki harapan” (Rom. 15:4). Singkatnya, Alkitab adalah cukup bagi iman dan prakteknya. Tidak ada kebenaran baru di luar Alkitab yang diperlukan untuk doktrin atau menghidupi kehidupan Kristen. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa TUHAN tidak dapat membawa prinsip-prinsip Alkitab ke dalam pikiran-pikiran kita jika diperlukan melalui berbagai pengalaman, bahkan pengalaman-pengalaman yang tragis sekalipun. Ia bisa dan Ia lakukan. Juga bukan berarti TUHAN tidak dapat membimbing kejadian-kejadian yang membantu kita dalam penerapan prinsip-prinsip alkitabiah dalam hidup kita semua. Ia bisa dan Ia lakukan. Namun pengalaman-pengalaman ini tidak membawa wahyu baru. Pengalaman-pengalaman ini hanyalah sekedar perkara bagi TUHAN supaya kita memusatkan pikiran pada sumber tertulis yang infallible (tidak terbantahkan) yang berisi wahyu dari-Nya. Untuk meninggalkan prinsip fundamental ini berarti meninggalkan Protestanisme demi Mistisisme.

Masalah Keempat: Pandangan Tidak Alkitabiah Terhadap Natur dan Ketritunggalan TUHAN

Selain pandangan yang salah tentang Alkitab, The Shack memiliki pandangan menyimpang tentang Tritunggal. Tuhan nampak sebagai tiga orang pribadi yang berbeda (dalam tiga tubuh terpisah) yang terlihat sangat mendukung Tritheism terlepas dari fakta bahwa pengarang menyangkal Tritheism (“Kami bukan tiga tuhan”) dan Modalism (“Kami tidak membicarakan tentang Satu Tuhan dengan tiga sikap”-hal. 100). Walau begitu, Young berangkat dari natur penting Tuhan sebagai relasi social antara anggota-anggota Tritunggal. Ia dengan salah menekankan pluralitas (kemajemukan) TUHAN sebagai tiga pribadi terpisah: Allah Bapa tampil sebagai seorang “wanita Amerika keturunan Afrika” (80); Yesus tampil sebagai kuli Timur Tengah (82). Roh Kudus direpresentasikan sebagai “wanita khas Asia yang kecil” (82). Dan menurut Young, kesatuan dari TUHAN bukan dalam satu esensi (natur), seperti yang dipegang pandangan asli. Malah, sebagai kesatuan social dari tiga pribadi terpisah. Selain ajaran palsu bahwa Allah Bapa dan Roh Kudus memiliki tubuh-tubuh fisik (padahal “TUHAN adalah roh” – Yoh 4:24), anggota-anggota Tritunggal adalah bukan pribadi-pribadi terpisah (seperti digambarkan oleh The Shack); Mereka hanya tiga pribadi unik dalam satu natur ilahi. Seperti juga sebuah segitiga memiliki tiga sudut unik, namun satu segitiga. Bukanlah tiga sudut terpisah (kalau sudut-sudut tersebut terpisah tidak akan dapat disebut segitiga), Namun begitu, TUHAN adalah satu dalam esensi (natur) namun memiliki tiga Pribadi unik (namun tak terpisahkan): Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Pandangan Tidak Alkitabiah Tentang Penghukuman Dosa

Pengakuan lain bahwa Tuhan tidak perlu menghukum dosa. Ia menyatakan, “Saat itu, Papa menghentikan persiapannya dan berpaling pada Mack. Mack dapat melihat kesedihan di mata nya. ‘Aku bukanlah yang kau pikirkan, Mackenzie. Aku tidak perlu menghukum orang-orang karena dosa. Dosa adalah penghukuman itu sendiri, menggerogotimu dari dalam. Bukan tujuanku untuk menghukumnya; adalah kesukaanku untuk menyembuhkannya’”(119). Seenak-enaknya pesan ini, namun sebaik-baiknya mengungkapkan pengertian yang bahaya dan tidak seimbang mengenai TUHAN. Selain pengasih dan Baik, TUHAN juga suci dan adil. Tepat, karena Ia adalah adil maka Ia perlu menghukum dosa. Alkitab secara eksplisit menyatakan bahwa “jiwa yang berdosa harus mati” (Yeh. 18:2). “Aku ini kudus, kata TUHAN” (Ima. 11:44). Ia begitu kudus hingga Habakuk berkata tentang TUHAN, “Engkau… mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan tidak dapat memandang kelaliman…” (Hab 1:13). Roma 6:23 menyatakan: “Upah dosa adalah maut…” dan Paulus menambahkan, “’Pembalasan adalah hak-Ku, dan Akulah yang akan menuntut pembalasan’ kata TUHAN” (Rom 12:19).

Singkatnya, The Shack mempersembahkan pandangan aneh tak lengkap tentang TUHAN sebagai kasih tanpa keadilan. Pandangan tentang TUHAN yang tidak menghukum dosa meremehkan pesan sentral Kekristenan—bahwa Kristus mati bagi dosa kita (1 Kor 15:1f) dan bangkit dari kematian. Jelas, beberapa pemimpin gereja baru/emergent Church telah memberikan penyerangan lebih frontal dan mendekati penghujatan mengenai penebusan penuh pengorbanan dari Kristus, menyebutnya “bentuk dari penyiksaan anak secara kosmis—ayah yang penuh dendam, menghukum anaknya untuk pelanggaran yang bahkan belum dilakukan (Steve Chalke, The Lost Message of Jesus, 184). Begitulah penghujung dari logika yang menyangkal kehebatan kekudusan TUHAN yang tidak bisa mentoleransi dosa dipuaskan (didamaikan) dengan dosa kita (1 Yoh. 2:1). Karena Kristus telah membayar penghukuman bagi kita, “dijadikan berdosa bagi kita supaya kita dapat diberikan kebenaran TUHAN melalui Kristus” (2 Kor 5:21), “menderita sebagai orang benar bagi orang-orang tidak benar supaya Ia (Kristus) bisa membawa kita pada TUHAN” (1 Pet. 3:18).

Masalah Keenam: Pandangan Salah Mengenai Inkarnasi

Daerah lain yang perlu diperhatikan adalah pandangan keliru mengenai pribadi dan pekerjaan Kristus. Buku tersebut menyatakan, “Ketika kami bertiga memberitakan tentang kami dalam keberadaan manusia sebagai Anak Allah, kami menjadi manusia sepenuhnya. Kami juga memilih untuk menerima semua keterbatasan yang diakibatkannya. Walaupun selama ini kami selalu hadir di semesta ini, kami sekarang menjadi daging dan darah”(98). Namun ini merupakan kesalahpahaman yang serius tentang Inkarnasi Kristus. Keseluruhan Tritunggal tidak diinkarnasikan. Hanya Anak yang diinkarnasikan (Yoh 1:14), dan dalam kasus-Nya ketuhanan tidak menjadi kemanusiaan tapi Pribadi Kedua dari TUHAN mengambil sebuah natur manusia yang ditambahkan pada natur Ilahi-Nya. Baik Bapa maupun Roh Kudus (yang merupakan murni roh – Yoh 4:24) menjadi manusia, hanya Anak yang menjadi manusia.

Masalah Ketujuh: Pandangan Yang Salah Tentang Jalan Keselamatan

Masalah lain muncul dari dalam pesan The Shack. Menurut Young, Kristus hanyalah jalan “terbaik” untuk berhubungan dengan Bapa, bukanlah satu-satunya jalan (109). “Terbaik” tidaklah serta merta berarti satu-satunya jalan, dengan begitu ada jalan-jalan lain untuk berhubungan dengan TUHAN. Pernyataan seperti itu bertentangan dengan apa yang Yesus nyatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup dan tak seorang pun yang dapat datang pada Bapa kecuali melalui Aku” (Yoh 14:6). Ia (Yesus) menambahkan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya (Kristus), ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yoh 3:18). Yesus bukan sekedar jalan terbaik, namun Ia adalah satu-satunya jalan kepada TUHAN. Paulus menegaskan: “Ada satu TUHAN dan satu mediator antara TUHAN dan umat manusia, yaitu Yesus Kristus yang adalah Manusia” (1 Tim. 2:5).

Masalah Kedelapan: Pandangan Menyimpang Bahwa Bapa Menderita

Buku ini juga mengandung penyesatan klasik yang disebut Patripassionism (Secara literal: Bapa Menderita). Young mengklaim bahwa Allah Bapa menderita bersama dengan Anak, mengatakan, “Sudahkah engkau melihat luka pada Papa [Allah Bapa] juga?’ Saya tidak mengerti mereka. ‘Bagaimana mungkin Ia…?’ ‘Demi kasih. Ia memilih jalan salib… karena kasih’” (hal. 165). Namun baik pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Nicea (325 SM) menyatakan jelas bahwa Yesuslah sendiri yang “menderita” bagi kita di atas Kayu Salib. Dan bahwa Ia melakukan ini hanya melalui natur manusiawi-Nya. Untuk mengatakan selain itu adalah mencoba “mencampur-adukkan kedua natur” Kristus yang jelas dikutuk dalam Pengakuan Kalsedon (451 SM). Penderitaan adalah bentuk dari perubahan, dan Alkitab menyatakan dengan sangat jelas bahwa TUHAN tidak bisa berubah. “Aku TUHAN tidak berubah” (Mal. 3:6). “Tidaklah ada bayang-bayang perubahan dengan-Nya” (Yak 1:17). Ketika semua yang lain berubah, TUHAN “tetap sama” (Ibr 1:10-12).

Masalah Kesembilan: Sebuah Penyangkalan Dari Hierarki Dalam Ketuhanan

The Shack juga mengklaim bahwa tidak ada hierarki di dalam TUHAN atau dalam komunitas-komunitas manusia yang dibuat dalam rupa-Nya. Ia percaya kalau hierarki ada hanya sebagai hasil dari pergelutan manusia demi kekuasaan. Young menuliskan TUHAN: “’Ya saya tahu bahwa ada tiga dirimu. Namun engkau merespon dengan penuh kasih antara satu dengan yang lain. Bukankah salah satu darimu adalah boss (atasan) terhadap dua yang lain… Saya selalu berpikir tentang Allah Bapa seperti menjadi boss dan Yesus sebagai salah satu yang mengikuti perintah-perintah, ya sebagai yang patuh seperti kau tahu…’ ‘Mackenzie, Kami tidak memiliki konsep otoritas final di antara kami; hanya ada kesatuan. Kami berada di dalam lingkaran hubungan, bukan rantai perintah… Apa yang kau lihat di sini adalah hubungan tanpa lapisan-lapisan kekuatan… Hierarki tidak akan masuk akal di antara kami.’” (121).

Namun, Young tidak mengutip ayat dalam Alkitab untuk mendukung pandangan kesetaraannya tentang hubungan-hubungan TUHAN dan manusia—dan untuk alasan-alasan yang baik karenanya Alkitab menegaskan dengan jelas bahwa ada tingkat otoritas dalam Ketuhanan, rumah, dan juga gereja. Penundukan diri dan kepatuhan adalah istilah-istilah alkitabiah. Yesus tunduk pada Bapa: “Ya Bapa,… bukanlah kehendak-Ku yang jadi tapi biarlah kehendak-Mu” (Mat. 26:39). “Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…”(Filipi 2:8). Di dalam surga “dan Ia sebagai Anak akan menundukkan diri-Nya di bawah Dia, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor. 15:28). Anak-anak seharusnya tunduk pada orang tua mereka: Paulus mendorong, “Anak-anak, patuhilah orangtua kalian di dalam TUHAN…” (Ef. 6:1). Seperti itu juga, wanita didorong: “Istri-istri hendaknya tunduk pada suami sendiri, seperti juga kepada TUHAN” (Ef. 5:22). “Kepala dari setiap manusia adalah Kristus, kepala tiap wanita adalah seorang pria, dan kepala dari Kristus adalah TUHAN” (1 Kor. 11:3). Anggota diminta “mematuhi pemimpin-pemimpin” (Ibr. 13:17). Tentu saja, warga Negara diperintahkan “untuk tunduk kepada pemerintah-pemerintah dan pihak-pihak berwenang, untuk patuh…” (Titus 3:1)

Tingkatan hierarkis dalam Ketuhanan adalah dasar dari seluruh hubungan-hubungan manusia. Dan kasih yang murni tidak menghilangkan ini; justru memintanya. Alkitab menyebutkan; “Inilah kasih Allah, sehingga kita mengikuti perintah-perintah-Nya” (1 Yoh. 5:3). Menggambarkan TUHAN sebagai Ibu, bukannya Bapa, mengungkapkan anti-maskulinitas dalam pemikiran Young. Ia menulis, “Para pria nampak sebagai penyebab dari begitu banyak rasa sakit di dalam dunia. Mereka yang menyebabkan sebagian besar kejahatan dan banyak dari kejahatan tersebut ditujukan melawan wanita… Dunia, dalam banyak hal, akan menjadi tempat lebih tenang dan lembut jika wanita yang berkuasa. Akan jauh lebih sedikit anak-anak yang dikorbankan pada ilah-ilah keserakahan dan kekuasaan” (148). Ia tidak menjelaskan bagaimana ini tidak merupakan hierarki jika wanita “menguasai” dunia.

Masalah Kesepuluh:  Mengabaikan Peran Penting Gereja Dalam Mendidik Orang-orang Percaya

The Shack diam sepenuhnya mengenai peranan penting komunitas orang-orang percaya yang memainkan peran dalam hidup individu-individu yang membutuhkan dorongan. Kenyataannya ada sejenis anti-gereja yang sedang dilahirkan sebagai reaksi terhadap ayah yang munafik, legalistic serta abusif (penyiksa) yang pernah menjadi pemimpin gereja (1-3). Namun, ini jelas bertentangan dengan perintah dari Firman TUHAN. Gereja yang buruk bukan diganti dengan tanpa gereja tapi dengan gereja yang lebih baik. TUHAN memberikan gereja “pendeta-pendeta dan pengajar-pengajar, untuk melengkapi orang-orang kudus (umat pilihan)… untuk membangun tubuh Kristus…” (Ef. 4:11-12). Paulus berkata, “Kepada setiap orang [salah satu bagian tubuh] diberikan manifestasi (pernyataan) Roh Kudus untuk kebaikan bersama” (1 Kor. 12:7). Young menggantikan gereja berbasis Alkitab di dalam wildwood (hutan alami) dengan gubuk tak beralkitab di dalam wild (belantara liar). Kenyamanan untuk mengatasi kedukaan dicari di dalam gubuk kosong yang sepi, tanpa Alkitab, di tengah belantara liar di mana seorang menemukan pemuasan dengan mengagungkan presentasi sesat akan Tuhan. Pada titik ini, beberapa nasihat Alkitab tentang berhati-hati atas roh-roh penyesat akan teringat (1 Tim. 4:1; 1 Yoh. 4:1; 2 Kor. 11:14). Sebagaimana dibutuhkan bagi sebuah gereja, Alkitab menasihati kita “untuk tidak lupa akan pertemuan-pertemuan ibadah, seperti beberapa orang lakukan, tetapi mari saling menasihati, dan makin giat melakukannya menjelang hari TUHAN yang mendekat” (Ibr. 10:25). Tanpa pertemuan rutin dengan satu tubuh orang-orang percaya yang mendidik, pertumbuhan Kristiani yang semestinya akan dengan pasti terhambat.

Masalah Kesebelas: Sebuah Pandangan Inklusif Tentang Siapa Yang Akan Diselamatkan

Walau The Shack tidak jatuh ke dalam kategori universalisme (“Semua akan diselamatkan”) seperti ditemukan dalam tulisan-tulisan baru-baru ini, namun ia tetap memiliki inklusivisme yang tersebar luas di mana hampir semua orang melalui hampir semua agama dapat diselamatkan terlepas dari Kristus. Menurut Young, “Yesus [berkata]… ‘Ia yang mengasihi aku datang dari semua sistem yang ada. Mereka adalah pengikut Buddha atau Mormon, Baptis, atau Muslim, … dan banyak yang bukan bagian dari setiap hari Minggu pagi atau institusi agamawi… beberapa adalah banker dan tukang judi, warga Amerika dan Irak, orang Yahudi atau Palestina. Aku tidak bermaksud menjadikan mereka Kristen, namun Aku mau bersama dengan mereka dalam perubahan menjadi putra dan putri dari Papa-ku…’ ‘Apakah berarti semua jalan akan menuju padamu’ ‘Tidak sama sekali… kebanyakan jalan tidak menuju ke manapun. Artinya itu adalah bahwa aku akan pergi ke jalan manpun untuk menemukanmu.’” (184)

Lagi-lagi, tidak ada dukungan Alkitab untuk klaim-klaim ini. Di sisi lain, Firman TUHAN memastikan bahwa tidak ada keselamatan selain daripada mengenal Kristus.  Kisah 4:12 mengemukakan bahwa “Tidak ada nama lain di bawah surga, diberikan di antara manusia, yang dengannya kita pasti bisa diselamatkan.” 1 Tim 2:5 mendesak bahwa “Hanya ada satu TUHAN dan satu mediator di antara TUHAN dan manusia, manusia Yesus Kristus.” Dan Yesus berkata, “kecuali kau percaya bahwa Akulah ia maka engkau akan mati dalam dosa-dosamu” (Yoh. 8:24). Bagi “siapapun yang tidak mematuhi Anak tidak akan melihat liat hidup, namun murka Tuhan tetap di atasnya” (Yoh. 3:36). Dan “siapapun yang tidak percaya sudah terkutuk di bawah hukuman, karena ia tidak percaya di dalam nama Anak Tunggal TUHAN” (Yoh. 3:18).

Masalah Keduabelas: Sebuah Pandangan Keliru Tentang Iman dan Alasan

The Shack menganut pandangan irasional mengenai iman. Dinyatakan: “Ada kalanya ketika Anda memilih untuk percaya pada sesuatu yang biasanya dianggap sama sekali irasional (tidak masuk di akal). Itu tidak berarti benar-benar irasional, namun itu jelas bukan rasional” (64).

Bahkan akal sehat pun memberitahukan kita bahwa ini bukan cara menghidupi kehidupan Kristen. Alkitab berkata, “’Mari kita reason (berdiskusi, bertukar pikiran secara rasional)’, kata TUHAN” (Yes. 1:18). “Berikan reason (alasan pertanggung jawaban) bagi harapan yang ada dalam dirimu” (1 Pet. 3:15); “Paulus… reasoned (berargumen) dengan mereka menggunakan Firman TUHAN” (Kisah. 17:2). “Mereka ini lebih rasional dan adik karena mereka menyelidiki firman TUHAN setiap hari… untuk mengetahui apakah hal-hal tersebut benar atau tidak” (Kisah 17:11). “Kekasih, jangan percaya semua roh, namun ujilah roh-roh apakah mereka yang dari TUHAN” (1 Yoh. 4:1, penekanan ditambahkan pada kutipan-kutipan di atas). Socrates berkata, “Hidup yang tak teruji tidak pantas dihidupi,” dan orang-orang Kristen beralasan perlu menambahkan, “Iman yang tak teruji tidak pantas dimiliki.”

Masalah Ketigabelas: The Shack Menghilangkan Pengetahuan akan TUHAN.

Menurut Young, Tuhan adalah seluruhnya berbeda; kita tidak bisa benar-benar mengenal Dia. Ia menulis: “Akulah Tuhan. Aku adalah aku. Dan tidak sepertimu…” (96). “Aku adalah yang dikatakan beberapa ‘kudus dan sepenuhnya berbeda darimu’” (97). “Aku bukanlah sekedar versi terbaik darimu yang dapat engkau pikirkan. Aku melebihi semuanya itu, di atas dan di luar semua yang dapat kau tanya atau pikirkan.” (97).

Satu permasalahan dasar dari pandangan ini adalah menghancurkan diri sendiri. Bagaimana kita bisa tahu Tuhan adalah “sepenuhnya berbeda”? Sepenuhnya berbeda dari apa? Dan bagaimana mungkin kita bisa tahu apa yang bukan Tuhan kecuali kita tahu apa Tuhan itu? Pengetahuan sepenuhnya yang negatif tentang Tuhan adalah mustahil. Lebih jauh lagi, menurut Alkitab, kita dapat tahu seperti apa Tuhan itu baik dari wahyu umum dan juga wahyu khusus. Karena “Sejak penciptaan dunia, sifat-sifat tak terlihat-Nya nampak jelas… bahkan kekekalan kuasa-Nya dan Ketuhanan-Nya…” (Rom. 1:20). Sebagai wahyu khusus, Yesus berkata, “Jika engkau mengenalku, engkau juga akan mengenal BapaKu.” (Yoh. 14:7) dan “Jika engkau telah melihatKu, kau telah melihat Bapa” (Yoh. 14:6). Tuhan membicarakan Diri-Nya sendiri dalam Firman-Nya yang tertulis (2 Tim. 3:16), dan ketika Ia lakukan, ini memberitahukan kita sesuatu tentang bagaimana Ia sesungguhnya. Kata-kata-Nya tidak menyesatkan tapi mendeskripsikan.

Masalah Keempatbelas: The Shack Menghasilkan Penyesatan Ilahi

Menurut The Shack, TUHAN diungkapkan dalam jalan-jalan bertentangan pada natur-Nya. Bapa diungkapkan sebagai wanita kulit hitam dan memiliki tubuh di mana Ia sebenarnya tidak keduanya. Alasan yang diberikan untuk ini adalah bahwa dalam kasih Tuhan mengungkap diri-Nya dalam jalan-jalan yang dapat diterima pada penerima (yang pernah memiliki gambaran ayah yang buruk) tapi tidak seperti itu kenyataannya. Namun ini adalah kasus penipuan ilahi. TUHAN adalah roh (Yoh. 4:24) dan Ia tidak memiliki tubuh (Luk. 24:39). Tuhan tidak pernah dipanggil seorang “Ibu” di dalam Alkitab. Adalah penipuan jika menggambarkan natur TUHAN di dalam cara yang bukan menyatakan diri-Nya yang sesungguhnya, walaupun motif orang-orang adalah kasih (91-92). Sebuah kebohongan diberitakan dengan motif kasih tetaplah sebuah kebohongan. Tentu saja ketika TUHAN berbicara pada makhluk-makhluk yang terbatas, Ia akan mengadaptasi menggunakan batasan-batasan manusia tapi tidak pernah mendukung kesalahan manusia. Menggambarkan TUHAN seperti memiliki tubuh wanita kulit hitam seperti mengatakan burung bangau yang membawa bayi-bayi lahir. Young menyebutnya sebuah “topeng” yang terlepas. Tapi TUHAN tidak memiliki topeng-topeng, dan Ia tidak berkedok. “Mustahil bagi Allah untuk berdusta” (Ibr. 6:18). Paulus bersaksi tentang “TUHAN yang tidak dapat berdusta” (Titus 1:2). Hanyalah si Iblis, bapa segala dusta, yang menggunakan wujud diri yang bukan sesungguhnya. “sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang” (2 Cor. 11:14). Untuk yakinnya, ada beberapa hal dibicarakan di Alkitab, menyebutkan TUHAN sebagai batu atau induk ayam, namun semuanya bersifat metafora dan bukan hurufiah, karena tidak ada batu yang bukan materi dan TUHAN tidak memiliki bulu-bulu.

Kesimpulan

The Shack mungkin berhasil untuk menghadapi kebudayaan masa kini, namun tidak tanpa mengkompromikan kebenaran Kristiani. Buku tersebut mungkin bisa membantu secara psikologis kepada banyak yang membacanya, namun sangat berbahaya secara doktrinal kepada yang terkena dampaknya. Di dalamnya terdapat pengertian yang salah tentang TUHAN, Tritunggal, pribadi dan pekerjaan Kristus, natur manusia, institusi keluarga dan pernikahan, dan natur Injil. Bagi yang tidak terlatih dalam doktrin Kristen yang asli sesungguhnya, buku ini sangat berbahaya. Buku ini menjanjikan kabar baik bagi yang menderita namun merendahkan satu-satunya Kabar Baik (Injil) tentang Kristus yang menderita bagi kita. Pada analisis final hanyalah kebenaran yang benar-benar membebaskan. Yesus berkata, “Kau akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Sebuah kebohongan dapat membuat seseorang merasa lebih baik, namun hanya hingga ia menemukan kebenarannya. Buku ini banyak kurang dalam doktrin-doktrin penting Kristen. Buku ini menjanjikan mengubah hidup orang-orang, namun kurang kekuatan pengubahan dari Firman TUHAN (Ibr. 4:12) dan persekutuan orang percaya (Ibr. 10:25). Pada analisis final, buku ini bukanlah sebuah Pilgrim’s Progress (Perjalanan/Perkembangan Sang Musafir),tapi secara doktrin The Shack lebih seperti Pilgrim’s Regress (Degradasi/Kemunduran seorang Musafir.)

Catatan: Untuk perbandingan dengan tulisan aslinya dalam bahasa Inggris, silakan lihat di https://christianreformedink.wordpress.com/2010/04/12/the-shack-helpful-or-heretical/

—————————————————

Dr. Geisler memiliki BA, MA, ThM, dan PhD (dalam filsafat). Ia pengarang sekitar 70 buku dan telah mengajarkan filsafat dan etika pada tingkat Diploma dan Sarjana selama 50 tahun. Ia sekarang sebagai Profesor Terhormat dari Seminari Apologetika dan Teologi di Veritas Evangelical Seminary.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s