The Shadow of Calvary in Christmas


Bacaan Alkitab: Matius 2: 11, 17-18; Lukas 2: 34-35

Ev. Thomy J. Matakupan

Natal merupakan berita yang unik dan paradoks. Maksudnya, berita Natal berisi sukacita dan damai, tapi juga membangkitkan berbagai reaksi negatif dan kesulitan hidup. Selain itu, berita tersebut muncul di dalam situasi kemiskinan dan penolakkan seperti yang harus dialami oleh Kristus. Namun Natal bukan sekedar berita melainkan pernyataan isi hati Tuhan yang mampu merubah kegelapan hidup manusia, sekaligus perwujudan kuasa Allah yang memperdamaikan manusia dengan DiriNya. Jikalau berita Natal tidak dipahami secara utuh di dalam semua aspeknya, maka Natal dipandang hanya sebagai tradisi, sekumpulan aktivitas dan kesenangan yang terus menerus dilakukan setiap tahun.

Alkitab dengan jelas menyatakan adanya beberapa peristiwa yang menyedihkan, menakutkan, air mata dan kekecutan hati yang tak pernah terpikirkan. Dengan kata lain, ternyata berita Natal mempunyai sisi gelap (the dark side of Christmas). Sesungguhnya, penderitaan Kristus dimulai sejak hari kelahiranNya ke dunia di dalam tubuh inkarnasi. Semenjak saat itu, bayangan maut terus mengikutiNya sepanjang hidup hingga mencapai puncaknya di kayu salib; Dari kandang binatang yang kemudian menuju kepada bukit Golgota,  dari palungan (tempat makanan ternak) dimana Maria membaringkan bayi Yesus yang kemudian menuju kepada kayu salib,  Bintang yang cukup terang dan terfokus hanya ke kandang dimana Yesus dilahirkan menuju kepada langit yang makin kelam pada hari Yesus disalibkan, dari paduan suara malaikat Sorga menyanyi, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi.” Menuju kepada teriakkan caci maki, kemarahan, sumpah serapah dari orang-orang berdosa yang ditujukan pada Kristus.

Sesuai perintah Allah, malaikat memberitahu para gembala, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:10). Berita Natal ditanggapi dengan perasaan ketakutan para gembala. Selain itu, berita tersebut diliputi ketegangan dan kecemasan yang mendalam yaitu ketika Maria mengetahui bahwa dirinya yang belum bersuami, ternyata telah mengandung oleh Roh Kudus. Menurut hukum Taurat jika ada seorang perempuan yang mengandung dan ia belum bersuami, maka hukumannya adalah dirajam sampai mati. Di luar semua itu, hal ini terjadi menunjukkan intervensi Allah menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Yang tidak seharusnya terisi menjadi terisi yaitu kandungan Maria dan yang seharusnya ada isinya malah dikosongkan oleh Allah yaitu makam Tuhan Yesus sebab Ia harus bangkit dari kematian.

Bagi Herodes, pada saat mengetahui bahwa seorang Raja telah lahir, ia menjadi ketakutan dan gusar oleh karena berita itu menjadi ancaman serius. Akibatnya, ada banyak bayi berusia 2 tahun ke bawah harus kehilangan nyawa. Ia menitipkan salam pada ketiga majus dan berjanji akan datang menjenguk bayi Yesus. Tetapi, ternyata tindakan tersebut mengandung maksud jahat. Paling tidak ada 3 tanda bayangan Kalvari dalam peristiwa Natal:

Pertama, pedang. Luk 2:34-35 mencatat, “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Sedangkan Yoh 1:10-11 mencatat, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” Perbantahan pertama telah terjadi pada hari kelahiranNya dan disusul berbagai perbantahan lainnya. Luk 4:16-30 mencatat ketika Yesus mulai menyatakan diri dalam pelayananNya dengan mengutip cerita tentang Mesias dari kitab nabi Yesaya di sinagoge (rumah ibadat orang Yahudi). “Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. Lalu Ia mulai mengajar mereka, kataNya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Mendengar kalimat tersebut, semua orang menjadi marah. “Mereka bangun, lalu menghalau Yesus keluar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk 4:29). Setiap perkataanNya membangkitkan banyak perdebatan dan pemisahan yang serius. Mereka yang kontra, terutama orang Farisi dan ahli Taurat, menganggapNya telah menghujat Allah, namun bagi orang berdosa, perkataan Kristus membangkitkan pengharapan yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya. Misalnya kontroversi yang timbul ketika, Ia mengatakan bahwa Anak Manusia berhak mengampuni dosa. Mat 13:54-57 mencatat, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibunya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” Yoh 8:23 mencatat, “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Maka para ahli Taurat dan orang Farisi berkoalisi untuk menangkap dan membunuhNya dengan dijatuhi hukuman mati seperti penjahat yang bahkan lebih buruk daripada Barabas. Padahal menurut sejarah Gereja, Barabas adalah penjahat hebat yang mempengaruhi banyak orang untuk memberontak terhadap kekaisaran Roma. Namun mereka lebih rela hati membebaskannya.

Ketika rahimnya dipakai oleh Allah, fakta itu menimbulkan banyak irisan dalam jiwa Maria hingga hari penyaliban Kristus. Tusukan pertama, Maria harus menerima kandungannya yang telah terisi sebelum menikah. Tusukan kedua, ketika Kristus sibuk bertukar pikiran dengan para ahli Taurat di sinagoge, Luk 2:48-49 mencatat, “Dan ketika orangtuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibuNya kepadaNya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” JawabNya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?” Tusukan ketiga, ketika Yesus melakukan mukjizat pertama merubah air menjadi anggur. Yoh 2:3 mencatat, “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepadaNya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadaNya: “Mau apakah engkau daripadaKu, ibu? SaatKu belum tiba.” Namun akhirnya Ia menjalankan perintah ibuNya. Tusukan keempat, ketika Yesus sibuk mengajar, Mrk 3:31-33 mencatat, “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepadaNya: “Lihat, ibu dan saudara-saudaraMu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?” Tusukan kelima, ketika Yesus tergantung di kayu salib, Yoh 19:26-27 mencatat, “Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kataNya kepada murid-muridNya: “Inilah ibumu!” Maka ketika seseorang berkomitmen untuk mengikut Kristus, ia belum tentu terlepas dari berbagai tusukan seperti pengalaman Maria. Ia justru harus siap hati karena Tuhan Yesus mengatakan bahwa dunia membenci Kekristenan dan telah membenciNya terlebih dahulu.

Kedua, kepahitan. Pertama, penolakan para ahli Taurat dan orang Farisi yang mampu menjelaskan secara terperinci nubuat tentang Mesias. Ketika ditanyai oleh Herodes, mereka mengutip dari Mikha 5:1, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel.” Tapi, mereka menganggap kehadiranNya di dunia tak berarti apapun karena tak sesuai pemikiran. Padahal Natal merupakan titik awal perubahan sejarah manusia karena Allah sangat mengasihi seluruh isi dunia hingga mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang percaya beroleh hidup kekal. Yang bersedia pergi ke Betlehem justru adalah para majus yang tak mengerti Taurat namun menangkap pesan Allah melalui ilmu perbintangan. Seringkali ketika intervensi Allah dalam hidup seseorang tak sesuai keinginannya maka kemungkinan ia tetap bertindak berdasarkan pertimbangannya sendiri. Maka kebanyakan orang takut berkomitmen denganNya. Padahal, Ia takkan berhenti merubah pola hidup tiap orang yang tak berkenan kepadaNya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa bait Allah yang roboh akan dibangun kembali dalam 3 hari. Kedua, kecurigaan Herodes yang sebenarnya sakit jiwa karena tega membunuh isteri dan ketiga anaknya. Mungkin, orang Kristen juga bersikap curiga terhadap pekerjaan Tuhan dalam hidupnya. Manusia memang cenderung lebih suka hidup dalam dosa karena penuh kesenangan. (Bd: Musa dengan rela hati keluar dari istana Firaun daripada menikmati kesenangan hidup di dalam dosa – Ibr 11:24-26).

Ketiga, dukacita Rahel. Mat 2:17-18 mencatat, “Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” Terdapat lukisan tentang tragedi tersebut. Prajurit Roma dilukiskan bermata kejam dan sedang memeluk bayi. Lalu seorang ibu berteriak putus asa karena anaknya telah dirampas. Di bagian lain tampak prajurit Roma dikerumuni oleh para ibu yang kehilangan anak. Sedangkan beberapa ibu sibuk memukuli prajurit. Di bagian bawah, seorang ibu menangis sambil bersimpuh di hadapan bayinya yang berlumuran darah. Lukisan itu menunjukkan betapa bengisnya dosa.

Herodes gagal menemukan bayi Yesus karena mereka menyingkir ke Mesir selama 3 bulan. Luk 2:13 mencatat, “…Nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah ambillah Anak itu serta IbuNya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadaMu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Dengan demikian, pengungsian Yesus ke Mesir bukanlah perjalanan yang menyenangkan, melainkan diikuti oleh kecemasan, kalau-kalau mereka bertemu prajurit Roma oleh karena ancaman hukuman mati itu justru ditujukan kepada bayi Kristus  sendiri. Orang Kristen harus berani menerima the dark side of Christmas yang menjelaskan sifat keberdosaan manusia yang biasanya menganggap bahwa kehidupan tanpa Tuhan terasa menyenangkan karena bebas mengatur dirinya sendiri. Padahal, justru ia sedang membuang dan menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya kekal. Amin

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s