Sketsa Kemanusiaan Seorang Calvin


by: Lisman Komaladi

Banyak tulisan sering menggambarkan John Calvin sebagai seorang manusia yang sangat serius, membosankan, tidak beremosi, dan bukan orang yang mudah bersosialisasi (unsociable), dan kelihatannya tidak bisa menemukan apapun dalam hidupnya yang dapat dinikmati. Lukisan wajah Calvin pun seolah mendukung hal ini. Gambaran dominan ini tidak sepenuhnya benar.

Tulisan ini hendak memberikan beberapa sketsa naratif dari kehidupan seorang Calvin, tidak secara kronologis namun banyak tersirat dari surat-surat Calvin, yang mencoba untuk memperlihatkan sisi manusiawi Calvin dan menunjukkan bahwa pada akhirnya ia pun hanya seorang manusia biasa. Beberapa pelajaran dan refleksi pun akan dipaparkan. Sebagaimana sebuah kumpulan sketsa, tulisan ini tidak bermaksud menjadi referensi komprehensif tentang kehidupan Calvin.

Semangat dan Kegigihan

Kapan tepatnya Calvin bertobat (dari Catholicism menjadi pendukung Reformation), tidak ada yang bisa memperkirakannya secara pasti. Akan tetapi, penghayatan akan pertobatannya tergambar nyata dalam beberapa tulisannya. Ia menyatakan bahwa Allah dalam kasih karunia-Nya telah memanggilnya ketika ia terhilang (quand il m’a appelle du temps que i’estoye perdu)[1]. Dalam tafsirannya akan Kitab Mazmur, Calvin menulis:

“God drew me from obscure and lowly beginnings and conferred on me that most honourable office of herald and minister of the Gospel…What happened first was that by an unexpected [subita] conversion he tamed to teachableness a mind too stubborn for its years – for I was strongly devoted to the superstitions of the Papacy that nothing less could draw me from such depths of mire. And so this mere taste of true godliness that I received set me on fire with such a desire to progress that I pursued the rest of my studies….”[2]

Setelah pertobatannya, dengan semangat yang menyala Calvin mendedikasikan hidupnya untuk membela Allah dan segala perkara yang berkaitan dengan-Nya (to the defense of God and of His cause). Herman Selderhuis, seorang profesor Sejarah Gereja di Theological University Apeldoorn (Belanda) bahkan mengatakan sejak pertobatannya “Calvin became God’s advocate”[3]. Semangat inilah yang mendorong Calvin untuk mempelajari Alkitab dengan sangat keras dan gigih. Tercatat bahwa Calvin sering tidak makan malam, belajar sampai jauh tengah malam, dan kemudian keesokan harinya ia sudah bangun pagi-pagi untuk belajar lagi.[4] Seolah-olah Calvin takut kehilangan waktu sedetik pun yang tidak termanfaatkan untuk mempelajari firman Tuhan. Kecintaannya kepada firman Tuhan sangat dalam.

Calvin sering merujuk dirinya seperti anjing penjaga (watchdog) yang diembankan tugas oleh Sang Gembala untuk menjaga kawanan dombanya, yaitu umat percaya. Ia juga menegaskan bahwa, “A dog barks when it sees that its master is being attacked. I would be a real coward if I saw God’s truth being attacked and remained quiet without making a sound.”[5] Hal ini kemudian terlihat secara konsisten dalam berbagai surat dan tulisan Calvin kepada Albert Pighius, Bartolomeus Camerarius, Heinrich Bullinger, ataupun Peter Kuntz. Di dalamnya, ia secara gigih membela kebenaran iman berdasarkan Alkitab yang diyakininya dan pada saat yang sama menyerang serta mengoreksi mereka dengan sangat berani. Kita akan kembali kepada topik ini nanti.

Calvin yang memiliki semangat berkobar dan kegigihan seperti di atas tentu bukanlah seperti seorang yang pucat, kuyu, dan kelihatan tak bersemangat – kesan tipikal dalam lukisan diri Calvin.

Buyarnya Ambisi Seorang Muda

Pada zaman Calvin, seorang akademis akan mendapatkan pengakuan yang tinggi ketika ia berhasil mempublikasikan bukunya, apalagi kalau buku tersebut terjual banyak dan dipakai sebagai referensi untuk perkuliahan. Calvin pun pernah memiliki ambisi yang sama. Pada usia 21 tahun, ia menerbitkan bukunya yang pertama, sebuah “Commentary on De clementia” – tulisan dan kritik tentang filosofi kehidupan Stoicism.

Ongkos percetakan ditanggung semua oleh Calvin sendiri. Ia memiliki ekspektasi yang tinggi akan buku ini. Ia bahkan mendistribusikan 100 eksemplar secara gratis ke University of Orleans – tempat ia bersekolah sebelumnya dan berusaha membujuk seorang profesor untuk memakai bukunya sebagai textbook untuk modul yang diajar sang profesor.

Sebelum buku ini diterbitkan, sebenarnya Erasmus (yang sudah diakui sebagai akademis handal) juga telah menerbitkan buku tafsiran tentang De clementia. Calvin dalam bukunya secara tak langsung merujuk bahwa apa yang ia tulis lebih baik dari Erasmus. Dari risetnya atas tulisan dan surat Calvin, Profesor Selderhuis menggambarkan bahwa, “Calvin’s youthful overconfidence was such that he thought he was the one who could do it better, and for that reason he did not hesitate to point out errors Erasmus had made here and there.”[6]

Akan tetapi, dalam kenyataannya buku pertamanya gagal total. Selain dikritik dan dipandang sebagai karya akademik yang belum matang, penjualan bukunya pun tidak lancar. Untuk sementara waktu, ambisi seorang muda untuk menempatkan diri dalam jajaran akademisi yang handal terbuyarkan.

Gambar Diri

Bagaimana Calvin memandang dirinya sangat unik. Secara positif, penggambaran paling jelas tentang hal ini dapat dilihat dalam tulisannya kepada Ami Perrin.

“Who I am, you know, or at any rate you ought to know. I am a man for whom the righteousness of our heavenly Father is so important, that I allow no one to move me from a most strict devotion to this righteousness.”[7]

Gambar diri di atas menunjukkan betapa seriusnya Calvin melihat dirinya sebagai alat kebenaran Allah dan yang terus ia upayakan dengan sangat ketat sepanjang hidupnya.

Akan tetapi, dalam surat-suratnya Calvin juga sering menuliskan hal-hal yang negatif tentang dirinya. Ia menyatakan bahwa banyak karakter yang ia sadari tidak baik tetapi tidak bisa tidak terlihat. Salah satunya, yang paling sering dideskripsikan adalah Calvin melihat bahwa ia sering menjadi lebih “ganas” (fiery) dalam tulisan-tulisannya daripada seharusnya.

“..it is not my nature to fight it out with such coarse rudeness.”[8]

“I see that I was more heavy-handed that I had intended to be.”[9]

Seorang theolog Katolik, Bartolomeus Camerarius, pun tidak mengerti mengapa Calvin bisa sangat tajam dan keras (sharp and harsh) dalam tulisan-tulisannya akan tetapi bersahaja dan bersahabat (easygoing and friendly) dalam kesehariannya.[10] Seolah-olah Calvin seperti sedang menghayati apa yang ditulis oleh Rasul Paulus di 2 Korintus 10:10, “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataanya tidak berarti.” Ia sendiri menulis bahwa, “Timid as I am and have always been, as I confess.”[11]

Kerap kali Calvin berpikir bahwa lebih baik ia hidup menyendiri saja dan tidak lagi menulis. Akan tetapi, dalam berbagai situasi dan kesempatan Tuhan secara unik terus menempatkan ia di depan layar, di atas pentas, dan menggerakkannya untuk menulis. Hasil karyanya pun sekarang menjadi warisan yang tidak ternilai bagi gereja Tuhan.

Transparansi dan Kejujuran

Bagi Calvin, adalah tidak mungkin untuk tidak mengatakan kebenaran. Ia adalah seorang yang terbuka dan suka berterus terang. Bahkan kepada Martin Bucer, ia menyatakan, “I prefer to make my complaint against you openly rather than to suppress my annoyance and so cause it to grow.”[12] Baginya adalah lebih jujur “to give offense in my boorish simplicity than in hypocrisy to praise someone.”[13]

Ia tidak menyukai hal-hal yang ditutup-tutupi. Baginya, apa yang ia ajarkan adalah hal yang sederhana tetapi jelas.[14] Terkadang, keterusterangan Calvin seolah dengan sengaja menyerang orang lain, tetapi sebenarnya ia tidak pernah bermaksud demikian. Bahkan ia menulis bahwa ia sering tidak memiliki kepercayaan diri untuk itu: “I have so little self-confidence that I prefer to follow my own nature than to admonish others.”[15]

Dengan sangat tepat Profesor Selderhuis melukiskan Calvin dalam kaitannya dengan sifatnya yang terbuka dan jujur: “Calvin was transparent, open, and straight forward, and this made him both vulnerable and sensitive to criticism.”[16] Banyak orang secara subjektif mengkritiknya, termasuk sahabatnya, Martin Bucer yang menggambarkan Calvin seperti kilat yang menyambar-nyambar. Untuk hal ini, Calvin meresponsnya dengan mencoba menunjukkkan dirinya sebagaimana adanya.

“You will probably say that I have a habit of hurling lightning bolt in letters… I like to be clear, and whether in a letter or face to face, I cannot restrain myself when I want to express my meaning clearly in words. Openness is of more use than craftiness, and so I prefer simply to say what I mean.”[17]

Berkaitan dengan hal ini, sebagai seorang yang jujur dan transparan, tentu emosi bukanlah suatu hal yang langka untuk bergejolak.

Ekspresi Emosi

Ada banyak warna emosi dalam kehidupan Calvin yang jarang digambarkan. Ia dengan terus terang menyatakan kelegaan dan kegembiraannya ketika ia mendengar berita bahwa Martin Luther sangat puas dengan hasil kerjanya. “If we are not appeased by such moderation, we must be completely of stone. I am really appeased. I wrote something that satisfied him.”[18] Ini seperti ekspresi emosi seorang anak yang sangat gembira ketika hasil kerjanya – entah gambar tangan atau prakaryanya diterima dan dipuji oleh orang tuanya.

Calvin pun juga pernah mengalami ketakutan. Dalam khotbahnya tentang 2 Samuel, ia merujuk pada pengalamannya ketika ia melarikan diri dari Paris pada tahun 1533. “I was so afraid that I wanted to die to be rid of those fears.”[19] Ini suatu pernyataan yang riil tentang pengalaman ketakutannya pada waktu itu.

Selain itu, ketika Calvin sedang menuju Strasburg pada tahun 1536, ia bertemu dengan William Farel di Jenewa. Farel membujuk Calvin untuk tetap tinggal dan menggembalakan gereja di Jenewa, akan tetapi Calvin bersikeras untuk tetap pergi ke Strasburg. Dalam frustrasi, Farel bersumpah bahwa Allah akan mengutuk Calvin dan segala usahanya kalau ia tidak mau tinggal di Jenewa. Calvin memiliki hati nurani yang lembut dan peka, ia menulis “I felt as if God from heaven had laid His mighty hand upon me to stop me in my course…and I was so terror-stricken that I did not continue my journey.”[20]

Satu catatan akhir tentang kemanusiaan seorang Calvin yaitu tentang usahanya mencari teman hidup.

Menjelang usia 29 tahun, Calvin tidak pernah banyak berpikir tentang pernikahan.[21] Waktu itu ia sedang berada di Strasburg dan menjadi gembala gereja di sana. Ia tinggal di rumah sahabatnya, Martin dan Elizabeth Bucer. Melihat kehidupan keluarga Bucer yang bahagia, Calvin terdorong untuk mulai memikirkan untuk menikah.

Sampai beberapa saat kemudian, Calvin menyatakan diri bahwa ia siap memulai pencariannya. Ia memulai usahanya dengan menetapkan kriteria:

“Always keep in mind what I seek to find in her, for I am none of those insane lovers who embrace also the vices of those with whom they are in love, where they are smitten at first sight with a fine figure. This only is the beauty that allures me: if she is chaste, if not too fussy or fastidious, if economical, if patient, if there is hope that she will be interested about my health.”[22]

Ada beberapa wanita yang diperkenalkan kepada Calvin. Pertama, seorang wanita Jerman yang kaya raya tetapi tidak bisa berbahasa Perancis (bahasa ibu Calvin). Kedua, wanita Perancis, seorang Protestan yang setia, tetapi berusia 15 tahun lebih tua daripada Calvin. Dengan jelas, kedua kandidat tidak memenuhi pertimbangan Calvin.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa Calvin begitu yakin bahwa ia akan menikah pada tahun 1539. Bahkan ia telah meminta William Farel untuk mengalokasikan waktunya untuk memberkati pernikahannya yang ia rencanakan akan dilangsungkan beberapa saat setelah hari Paskah tahun 1539. Rencana ini tidak terlaksana. Akan tetapi, Calvin masih tidak mau berkelit. Ia kemudian kembali meyakinkan Farel bahwa, “the marriage ceremony will not be delayed beyond the tenth of March 1540.”[23] Inipun tidak terjadi. Sulit diperkirakan apakah Calvin sudah mempunyai gambaran siapa yang akan dinikahinya ketika ia menghubungi Bucer dan juga dari mana sumber keyakinan Calvin tentang waktu pernikahannya.

Dalam suratnya kepada William Farel kemudian, dengan malu dan penuh ragu ia menulis: “I have not found a wife and frequently hesitate as to whether I ought any more to seek one.”[24] Tentu kita mengetahui bahwa akhirnya pada musim semi 1540 Calvin menikah dengan Idelette de Bure, seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, Jean Stordeur, yang juga adalah teman baik Calvin.

chMasih banyak sketsa kehidupan Calvin yang menunjukkan bahwa Calvin tidaklah dingin seperti batu (cold as stone). Banyak warna dan pernik rasa yang mengisi ruang langkah dan tindakannya. Benarlah pernyataan Profesor Selderhuis:

“Calvin was not made of stone, and if there are Reformed Christians who are, they are not Calvinists.”[25]

Soli Deo Gloria!

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Biography, Theologian. Bookmark the permalink.