MENGENAL JOHN SUNG


See: “Pertobatan Sejati Dr. John Sung”

“Itu dia, si pendeta cilik datang!”

Ini teriakan yang terdengar di desa-desa sekitar Hinghwa di Tiongkok tahun 1913 ketika John Sung datang untuk berkotbah. Usianya pada waktu itu baru 12 tahun, tetapi ia sangat gemar menyertai ayahnya dalam perjalanan mengabarkan Injil. Ia berkotbah di lapangan, membagi-bagikan traktat (surat selebaran Injil), menjual Alkitab dan memimpin paduan suara. Dengan bersemangat ia juga menyusun regu-regu anak untuk pergi ke desa-desa dan mengabarkan Injil di antara anak-anak.

john sung_

Selepas SLTA John Sung berkata, “Ayah, aku telah mengambil keputusan untuk belajar ke luar negeri.” Ayahnya sangat marah dan tidak mau memberinya uang untuk berangkat. Tetapi atas bantuan teman-temannya, akhirnya terkumpul cukup uang untuk berangkat ke Amerika. Di sana sambil belajar, John Sung mencari uang dengan kerja keras. Mulai dari membersihkan toko, mencuci piring, sampai memotong rumput, dikerjakannya dengan rajin. Dengan demikian uang sekolahnya dapat dibayar.

Di Amerika John Sung belajar Ilmu Kimia dan selalu mendapat nilai tertinggi. Dalam waktu yang singkat ia sudah menyelesaikan sekolahnya dengan gemilang. Tetapi meski ia sudah mendapat semua yang terbaik dan bisa menjadi kaya karena kepandaian otaknya, hati John Sung selalu ingat panggilan Tuhan. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menjadi seorang pekabar Injil ke seluruh dunia.

John Sung kembali ke Cina. Banyak sekolah dan pekerjaan penting ditawarkan kepadanya. Jika ia mau, ia akan mendapat uang sangat banyak dan hidup enak. Tetapi semua itu ditolaknya. John Sung malah pergi mengabarkan injil dan membawa banyak orang kembali kepada Tuhan. Banyak orang yang benci kepadanya, tetapi jauh lebih banyak orang yang akhirnya bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat.

John Sung melihat kebutuhan untuk mendidik para pekabar Injil. Karena itu ia memberi pelajaran khusus kepada pemuda-pemuda yang rindu melayani Tuhan. Dalam waktu singkat 1000 keluarga mulai giat di dalam kebaktian keluarga. Sungguh merupakan suatu pekerjaan yang diberkati Tuhan!

Setelah melalui kehidupan yang cukup sulit beberapa tahun lamanya, John Sung berangkat ke Shanghai, sebuah kota yang besar di Cina. Di sana ia mengadakan kebaktian-kebaktian yang penting dan ribuan orang maju ke depan dengan penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa mereka. Dari Shanghai ia ke Nanking. Ia sangat lelah dan mendapat sakit jantung sehingga hanya sanggup berkotbah 1 kali sehari. Udara di Nanking panas sekali. Setiap selesai berkotbah, bajunya basah kuyup oleh keringat karena kotbahnya selalu bersemangat. Ia sering kehabisan tenaga sehingga ia melemparkan tubuhnya begitu saja ke atas tempat tidur untuk istirahat.

Dalam beberapa pelayanan yang tanpa henti, John Sung kemudian berlayar ke Kalimantan. Lalu singgah ke Singapura selama 10 hari. Dalam pemberangkatan pulang, lebih dari 1000 orang mengantarnya ke pelabuhan. Mereka berbaris di pangkalan sambil membawa bendera. Banyak yang menangis, bahkan dengan suara nyaring.

Tahun 1939 John Sung datang ke Indonesia. Di Surabaya ia melayani selama 7 hari. Pada malam hari orang yang datang penuh sesak dan mereka menangis dan bertobat kembali kepada Tuhan. Yang menakjubkan orang-orang inipun rela menutup toko dan datang ke gereja setiap hari! Nyata sekali kuasa Allah sedang bekerja. Setelah itu ia melanjutkan pelayanan ke kota Madiun, Solo, Bandung dan Jakarta. Sebanyak 1000 orang hadir dalam kebaktian itu, bahkan di Jakarta orang yang hadir sejumlah 2000 orang.

Di Bogor, karena tidak ada gedung gereja yang cukup besar, orang sampai mendirikan tenda di lapangan tenis untuk memberi duduk 2000 orang. Lalu disambung ke Cirebon, Semarang, Magelang dan Purworejo. Kebaktian selanjutnya di Solo dan Jogja lalu kembali ke Surabaya. Beberapa waktu kemudian dia diundang ke Ujung Pandang dan Ambon dan membawa berkat melimpah untuk gereja di sana.

Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini makin lama makin buruk. Waktu di Surabaya ia berkotbah sambil berlutut untuk meringankan sakitnya. Dengan segera ia kembali ke negerinya dan dibedah serta diobati. Selanjutnya ia tidak dapat memimpin kebaktian, tetapi dalam kelemahannya ia tetap menerima orang-orang yang datang berkunjung. Awal tahun 1944, sakitnya makin bertambah sehingga ia diangkut ke rumah sakit di Peking. Selama 1/2 tahun dirawat, akhirnya ia pulang untuk berkumpul dengan keluarganya pada hari-hari terakhir. Meskipun sakit yang ditanggung makin berat, John Sung tetap setia membaca Alkitab dan berdoa.

Pada tanggal 16 Agustus 1944, tubuhnya tambah lemah. Ia merasa sudah hampir meninggal. Malam itu John Sung tidak sadarkan diri. Tapi esoknya ia masih bangun dan menyanyikan 3 lagu pujian bagi Tuhan. Hari itu dilaluinya dengan sukacita dan damai. Pada pukul 7.07 pada tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil Tuhan pada usia 42 tahun. Itulah saat yang paling bahagia untuknya, bertemu dengan Juruselamat dan bersama Kristus untuk selamanya.

Sumber:

KITA – Majalah Kristen untuk Anak-anak, , Edisi 14, halaman 13, Lembaga Reformed Injili Indonesia.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Biography, Missionaries and tagged . Bookmark the permalink.