Uang, Kerja, Kekayaan dan Tuhan


Robert T. Kiyosaki,”Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan.”

Rasul Paulus,”Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”  (1  Tim 6:10 (Alkitab LAI-TB))

“Pulpit Commentary,”Prosperity often becomes an occasion for much wickedness  and impiety (= kemakmuran sering menjadi kesempatan untuk banyak kejahatan  dan ketidaksalehan/ketidakhormatan kepada Allah). “

Thomas Manton,”It is hard to enjoy plenty and not to grow haughty” (= Adalah  sukar untuk menikmati kemakmuran/kelimpahan dan tidak menjadi sombong)

Someone,”Uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya perlu uang”

Dari buku pertama Robert T.Kiyosaki (Rich Dad, Poor Dad) kita sudah disuruh pilih mau ikut Tuhan (Firman Tuhan) atau mau ikut Setan (prinsip materialisme dari dewa uang).

Salah satu tipuan setan yang paling efektif adalah pemikiran bahwa kebahagiaan ada didalam hal-hal yang kita miliki. Saya mau menegaskan bahwa selama kita hidup di dunia ini kita memerlukan uang/biaya hidup. Kita memerlukan uang untuk membeli kendaraan, membeli bahan bakar. Kita juga memerlukan uang untuk membeli makanan dan minuman, kita memerlukan uang untuk membeli pakaian, kita memerlukan uang untuk ke dokter dan menebus obat, kita memer-lukan uang untuk membeli perlengkapan bayi,kita memerlukan uang untuk sekolah, kita memerlukan uang untuk bayar hobii kita, bahkan kita  juga memerlukan uang untuk mentraktir pacar. suami & istri, dll. Jadi uang memang penting dan perlu, tapi uang bukan segalanya. Kenapa? Karena uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Uang tidak bisa memberikan hidup kekal atau arti hidup yang sejati (Yes. 55:1-3; Wah. 3:16-18). Nilai hidup sejati justru tidak bisa dengan uang. Makin pake uang makin hina. Orang  yang semua sesuatu diukur pake uang menandakan ia orang yang hina sekali hidupnya sampai berada di bawah materi. Tidak ada yang lebih memperlihatkan orientasi dan hubungan kita dengan Tuhan seperti sikap kita terhadap uang.

Tuhan Yesus menjelaskan bahwa salah satu tanda kerohanian sejati adalah sikap yang benar terhadap harta. Tanda seorang manusia yang benar dan saleh adalah pikirannya kepada Tuhan dan harta surgawi.

Banyak orang Kristen yang mempunyai pandangan bahwa bekerja adalah hanya untuk mendapatkan uang semata. Ini salah. Konsep ini sudah banyak menjangkiti otak banyak orang-orang materialis saat ini, yang gila uang, dan melihat uang sebagai pemicu segala aktivitas dan pemikirannya.

Padahal salah satu cara Tuhan menyediakan kebutuhan kita adalah melalui bekerja—suatu pekerjaan dimana kita mendapatkan penghidupan sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarga kita (2 Tes. 3:6-12; Ams. 25:27).

Uang yang kita peroleh juga digunakan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan menolong mereka yang dalam kekurangan, pertama keluarga Tuhan dan baru mereka yang ada diluar iman (Gal. 6:6-10; Ef. 4:28; 3 Yoh 5-8).

Kalau sukses dinilai dari uang, itu salah fatal. Sebagai orang Kristen, sebagai orang yang sudah bertobat, kita juga harus bekerja lebih giat, lebih serius dan lebih bernilai dari orang lain.

Kita tentu dapat mengenali bahwa memuja apa yang kita miliki atau barang adalah salah; Tuhan memerintahkan pada kita untuk tidak meninggikan ilah apapun dalam kehidupan kita. Apapun itu yang mengambil tempat Tuhan, yang bernama Yesus Kristus, tentu saja, itu jelas hal yang buruk. Untuk pikiran yang kritis, perintah yang gamblang/mudah ini sering kali membuat suatu pertanyaan dalam mengenai mengapa materialisme ini menjadi suatu hal yang berbahaya bagi orang Kristen. Apa yang membuat materialisme begitu mematikan? Untuk menjawab pertanyaan ini kita pertama–tama harus menentukan tujuan manusia.

Ini bukan untuk meremehkan harta – berkat indah yang Tuhan curahkan kepada kita. Ketika kita, dengan cara apapun, memuja berkat itu, kita menjadi seperti perumpamaan mengenai seekor anjing yang menggoyangkan ekornya – kita tidak akan pernah puas

Tantangan Alkitab:

(1) Apakah saya budak uang dan harta duniawi? Apakah mungkin saya tidak mengetahui-nya? Kita harus memilih antara melayani uang atau Tuhan!

(2) Apakah saya mengorbankan kualitas seperti Kristus dan tanggung jawab dalam menge-jar harta dunia?

(3) Apakah saya lebih peduli pada harta dunia dan masalah keuangan daripada hubungan saya dengan Tuhan dan kerajaan sorga?

(a) Prioritas;

(b) Penggunaan waktu, bagaimana dan dimana itu dihabiskan (meja judi? dll);

(c) Apa yang paling saya pikirkan—uang dan bagaimana menghabiskannya atau Tuhan dan iman saya kepadaNya

(4) Apakah saya mencari uang dan harta dunia (demi prestige, kuasa, kedudukan, kesenangan, kepemilikan, dll.

Jika jawaban anda ya, maka uang telah menjadi tuan atasmu!

Setelah mempelajari prinsip ini, tanyakan hal ini: Apakah saya mau memberi diri pada konsep ini sebagai cara hidup untuk menjadi pelayan Tuhan yang baik? Biarlah Tuhan menjauhkan kita dari patung lembu emas materialisme.

Baik kita memperhatikan kutipan Alkitab yang berbunyi,” 3:1 But realize this, that in the last days difficult times will come. 2 For men will be lovers of self, lovers of money, boastful, arrogant, revilers, disobedient to parents, ungrateful, unholy, 3 unloving, irreconcilable, malicious gossips, without self-control, brutal, haters of good, 4 treacherous, reckless, conceited, lovers of pleasure rather than lovers of God; 5 holding to a form of godliness, although they have denied its power; and avoid such men as these.” (2 Tim 3:1-5, NASB).

Sebagai bacaan yang bermutu, silakan baca tulisan dari John Piper,”Prosperity Preaching: Deceitful and Deadly” https://christianreformedink.wordpress.com/2009/09/19/ajaran-tentang-kemakmuran-mengelabui-dan-mematikan/ dan sebuah kesaksian di https://christianreformedink.wordpress.com/2009/09/19/testimony-1/

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s