Testimony 1


Baca juga:

1.Berbisnis dengan Etika

2. Bisnis Seorang Pendeta: Haram Atau Halal?

3.Etika Untuk Profesional Kristen, Bisnis.

4. Calvin & Uang

5. Uang, Kerja, Kekayaan dan Tuhan

6. Prosperity Preaching: Deceitful and Deadly

7. John Piper and the Prosperity Gospel (Sermon Jam)

Latar belakang saya adalah seorang engineer, karena itu pola penulisan saya direct, praktis dan tidak banyak menggunakan kata2 yg „mendramatisasi“ suatu cerita.

Dalam kesempatan ini saya akan membagi pengalaman pribadi mengenai persoalan yg mungkin dianggap paling penting dan pelik bagi semua orang: uang.

Perkara soal uang itu penting sudah tidak perlu dijelaskan lagi, akan tetapi apakah uang adalah segalanya? Apakah uang pembawa kebahagiaan? Apakah karier yg mendatangkan kekayaan terbesar adalah segalanya?

Saya termasuk orang yg beruntung diberkati Tuhan dalam beberapa hal. Enam tahun lalu, jika ada orang bertanya pada saya mengenai job macam apa yg saya inginkan, saya akan jawab kerjaan yg mendatangkan uang terbanyak.

Pada saat itu, saya hanya berpikiran kalau ada uang, semuanya beres. Mungkin karena itulah Tuhan berusaha mendidik saya lewat pengalaman bertahun-tahun setelahnya. Krn berkat Tuhan, pendidikan saya memungkinkan saya untuk bisa mendapatkan pekerjaan yg mungkin banyak diidamkan orang. Di umur yg menjelang 30 tahun, saya mengantongi gelar S2-S3 dr eropa dan pengalaman kerja international. Berkat Tuhan membuat saya tidak pernah gagal dalam exam manapun dan selalu lulus dg cum laude.

Pendidikan Tuhan pada saya untuk berurusan dengan uang terjadi pertama kali saat saya melakukan research bersama satu perusahaan minyak terbesar dunia (krn tidak etis, saya tidak bisa menyebutkan nama perusahaan yg tepat, tp anda bisa check siapa perusahaan minyak terbesar di dunia lewat wikipedia). Banyak orang yg sangat mengidamkan kerja di perusahaan itu, bahkan banyak orang yg bersedia dibayar lebih sedikit asalkan bisa bernaung dibawah logo perusahaan itu. Penelitian yg saya lakukan bahkan langsung dengan headquarters perusahaan tersebut. Banyak orang memandang itu sebagai suatu kebanggaan dan uang yg mengalir masuk ke kantung pun bikin kolega iri.

Tapi Tuhan ajarkan tidak ada sesuatu yg datang dengan mudah. Begitu pula dengan uang. Di belakang job tersebut, tersembunyi banyak sekali hal-hal duniawi yg termasuk extreme jika kita berbicara soal job. Saya berdiskusi dengan kolega yg bekerja di Singapore, Canada, Jerman, Switzerland. Bahkan mereka pun kaget kalau saya bekerja dalam kondisi yg dapat dihitung severe. Apakah ini hanya berlakuk pd pekerjaan saya? Setelah saya masuk ke bidang yg lebih tinggi, saya menemukan kalau orang2 diatas banyak yg tidak lebih dari orang2 yg paling mampu melakukan intrik2 yg kotor tapi canggih. Mereka ini adalah “individu unggul” yg telah lebih dulu berhasil mengganyang musuh2 mereka dan berdiri di atas mayat orang2 tsb. Sbg contoh boss perusahaan mobil terkenal di Eropa yang adalah salah satu manager paling terhormat, tp untuk mencegah akusisi dengan salah satu perusahaan mobil terkenal Eropa lainnya, ia melakukan insider trading; tidak ada orang yg percaya kalau naluri ia untuk bertindak demikian adalah hasil dari pemikiran sehari.

Konfrontasi, sikut-menyikut, attempt untuk spionase, intimidasi, dll sudah menjadi bagian dalam job saya. Judgement dan perdebatan dalam setiap pertemuan project sudah menjurus kepada hal-hal yg tidak objective dan berlatar belakang pribadi. Setiap project meeting seperti perang. Dalam setiap kesempatan, counterpart akan berusaha membuktikan kalau kita membuat kesalahan.

Seorang kolega yg baru pertama kali hadir dlm project meeting bahkan terdiam. Sambil malu-malu ia bertanya apakah project meeting selalu seperti itu. Kebetulan project meeting kali itu adalah yg paling berhasil dan paling tidak ada tekanan, jadi saya jawab kalau project meeting kali itu paling santai. Ia terdiam agak menyesali kesediaan dia untuk terlibat dalam project ini. Dan memang tidak ada satu kolega lainpun yg belakangan bersedia mengambil alih project ini selain ia yg terlambat menyadari.

Pada saat yg sama, saya semakin jauh dari Tuhan. Jujur saja, lingkungan memaksa saya untuk focus bagaimana mempertahankan diri sambil menyerang. Bahkan atasan saya sendiri juga akan berbalik menerkam saya. Saya jadi sering berbuat dosa dan semakin berdosa, kita akan merasa jauh dari Tuhan. Disinilah saya benar2 menyadari saya gak bisa berbuat dosa dengan enak tapi sambil dekat dg Tuhan. Semakin jauh dari Tuhan, semakin saya merasa hopeless.

Tapi walaupun saya jauh dr Tuhan, Ia tetap setia dan memelihara saya. Ia selalu luputkan saya dari rencana jahat orang2, bahkan Ia juga menggagalkan rencana jahat saya membalas counterpart =)

Saya diajar kalau Tuhan selalu ada disana, mengetuk pintu, tapi apakah kita mau buka pintu untukNya? Ia selalu setia.

Jika saya memandang balik ke hari2 itu, saya jadi mengerti betapa Tuhan besar. Dalam setiap perkara yg Ia ijinkan terjadi pd saya, selalu ada alasanNya. Walaupun saat itu saya tidak mengerti, tp Ia selalu berhasil membuktikan pada saya, kenapa hal itu terjadi. Ia ajarkan saya: uang adalah materi yg berbahaya dan tidak ada uang yg bisa diperoleh tanpa perjuangan yg setimpal. Kecuali dapat lotere. Dan biasanya apa yg cepat datang juga akan cepat hilang.

Semakin banyak uang yg diperoleh, semakin banyak juga uang keluar untuk segala hal2 duniawi mulai dari barang, shopping terus menerus, dll. Kolega orang Jepang menghabiskan duitnya untuk alcohol dan rokok sbg pelarian. Kolega lainnya menghabiskan duitnya untuk minum, mengunjungi café, party, kenalan dg opposite sex.. kelanjutannya gak usah diceritain lagi.

Saya sendiri termasuk hardcore soal makan dan minum, jadi uang lari untuk makan dan minum; tentunya sambil makan dan minum sambil mengutuki counterpart… Dan ini yg paling bahaya… semakin kita cari pelarian dari stress mencari uang, maka kita semakin perlu uang dan karena itu juga makin banyak cara2 kotor yg kita keluarkan buat dapatkan duit itu. Ini seperti lingkaran setan..

Pada awalnya, uang benar dapat memberi kepuasan duniawi, tp hal itu tidak bertahan lama. Lambat laun saya jadi „kosong“, kehilangan tujuan hidup. Di titik ini godaan2 berdosa jadi sangat menarik untuk pelarian. Banyak orang berakhir jadi drug addict. Dalam pemeliharaan Tuhan, saya tidak sempat jatuh kesana.

Apa ini hanya untuk pekerja? Bagaimana dg businessmen?

Seorang teman mewarisi bisnis besar dari orang tuanya. Ia terlihat tidak bahagia semenjak mengambil alih perusahaan orang tuanya walaupun ia tambah kaya karena ia khawatir setiap saat bisnisnya merugi atau bankrut. Ia tidur subuh karena sibuk mengurusi keuangan, tidak punya waktu buat ngapa2in, setelah beberapa lama, hidupnya kosong melompong. Pelarian dia adalah sport car. Dia ambil beberapa hari off untuk hobinya. Tapi tidak peduli berapa sport cars yg ia beli, di akhir dr hari itu, ia bilang satu kalimat; saya cape dg hidup ini. Kekhawatiran akan kehilangan uang telah merebut semua aspek hidupnya.

Belakangan saya ketemu satu kolega di Aussie. Ia wiraswasta, bisnisnya merugi, uang tabungannya hampir habis krn ia justru investasi saat orang justru saving, tapi ia 100% bahagia. Dari hidupnya, ia menjadi terang dunia, tidak terjebak dalam perkara duit. Ia selalu mendahulukan Tuhan dalam setiap perkara hidupnya, bedanya ia hidup dengan Iman. Dan Tuhan selalu pelihara anak2Nya. Teman saya ini selalu survive dari satu masalah ke masalah lain dan bahagia. Mau tau apa yg dia bilang ke saya? Tanya ke Tuhan apa yg Ia mau saya lakukan dalam hidup saya, tanya Ia kemana saya harus jalan. Bukan tanya kemana untuk kumpulkan duit paling banyak atau posisi paling tinggi.

Itu adalah hal yg persis sama seperti apa yg saya selalu pegang jauh sebelum saya terlibat dalam perkara uang. Tuhan telah menampar saya saat itu lewat teman saya.

Uang bukanlah segalanya. Tanpa uang banyak hal yg tidak jalan, tapi uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Karena uang, peluang2 berbuat dosa datang, karena uang semakin sedikit juga waktu yg kita alokasikan untuk Tuhan, karena uang persekutuan kita dengan Tuhan menjadi renggang dan kadang rusak. Karena uang, kita semakin licik dalam cara mendapatkannya, karena uang semakin banyak cobaan muncul.

Sebagai anak Tuhan yg telah diselamatkan, tidak ada orang yg bisa bahagia kalau jauh dr Tuhan Bapa kita. Jika ada orang yg benar2 mengaku sbg anak Tuhan tetapi bahagia dalam kejauhannya dari Tuhan, tolong selidiki lagi diri sendiri, apakah ia benar2 telah diselamatkan.

Saat ini saya dalam masa pencarian pekerjaan baru. Lewat masa transisi ini Tuhan kasih saya kesempatan untuk dekat dan kembali kepada-Nya. Saya belajar banyak dari masa transisi ini. Walaupun tidak ada income yg masuk ke dalam account saya, saya masih bisa mencukupi diri dr tabungan. Bahkan Tuhan melengkapkan saya dengan rejeki mendadak: salah satu dari paten saya telah membuahkan uang yg saya sendiri tidak expect.

Tuhan tidak pernah janjiin anak2Nya kemakmuran, keberhasilan dalam karier, kekayaan yg berlimpah, dll. Ia menjanjikan kehadirannya menemani kita di setiap saat, entah saat sulit atau berlimpah. Saya besyukur untuk setiap kesulitan yg Ia beri, karena tanpa itu mungkin saya sudah menjadi layang2 yg benangnya putus, jauh dari Tuhan. Justru kalau Tuhan biarkan saya jauh dari-Nya, saya merasa ngeri.

Kita boleh kehilangan segalanya di dunia ini, tapi kita tidak boleh kehilangan persekutuan dengan Tuhan.

Bagi rekan2 yg masih belum terjun dalam lingkungan kerja: carilah apa yg Tuhan inginkan dari kariermu dari pendidikanmu. Belajar dr Imam tertinggi, sehingga anda tidak perlu menginjak paku yg telah diinjak orang lain.

Bagi rekan2 yg telah bekerja dan berbisnis: anda mungkin memandang saya sebagai looser, tapi perkara ini hanyalah perkara yg bersifat timing. Cepat atau lambat anda akan belajar dengan sendirinya.

NB: Atas pemintaan orang yang bersangkutan, nama dan nama perusahaan, kami sembunyikan. Namun kesaksian ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Harap maklum.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Testimony. Bookmark the permalink.