Tanggapan kristis terhadap buku “CONVERSATIONS WITH GOD” karya Neale Donald Walsch


Saya mendapatkan email (surat elektronik) mengenai buku “Percakapan dengan Allah” pada hari ini.  Berhati-hatilah terhadap buku ini! (http://godlyfruit.blogspot.com/2008/07/beware-of-this-book.html)

Ini adalah link (hubungan) dengan email (surat elektronik) yang saya peroleh.  Baru-baru ini, sejumlah besar masyarakat Amerika menyadari bahwa Amerika membutuhkan kebangkitan  rohani.  Perwujudan kebangkitan rohani ini telah beralih dari para pemimpin rohani kita kepada populasi umum, dan terjadi peningkatan pria dan wanita yang mencari pengalaman “spiritual” dan religius.  Kebangkitan dalam spiritualitas sesungguhnya dan penrnyataan religius yang alkitabiah memang diinginkan, namun sayangnya  banyak kebangunan saat ini mencerminkan spiritualitas yang didasarkan pada diri sendiri daripada dalam Tuhannya Alkitab.  Perkembangan ini seharusnya tidak terlalu mengejutkan karena budaya dunia yang mengaku Kristen sekalipun telah berpaling secara drastis dari ortodoksi Alkitab dengan kebodohan yang telah menyebar luas terhadap Alkitab tersebut sebagai hasil yang tidak mengenakkan darinya.  Oleh karena itu, banyak orang pada hari ini mencoba menemukan solusi “spiritual” untuk mengisi kekosongan di hati mereka namun mereka tidak memiliki pengetahuan dasar Alkitab, yang umumnya  digunakan pada generasi-generasi yang lampau, untuk membimbing mereka.  Para pencari yang berhasrat namun tidak memiliki persepsi ini dengan mudahnya dapat disesatkan oleh mereka yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin “rohani” atau pemandu yang mengklaim sudah “dicerahkan” dan dibebaskan dari ortodoksi yang kuno.

Neale Donald Walsch adalah orang yang mengklaim dirinya telah dicerahkan.  Pada kenyataannya, dia membohongi dirinya, dan melalui bukunya yang begitu tersohor, dia sedang menipu ribuan orang.  Dia mengaku bahwa Allah berbicara dengannya dan menginginkannya berbicara pada orang-orang di dunia melalui rekaman pembicaraannya.  Bukunya, Percakapan dengan Allah – sebuah percakapan yang tidak wajar, dipercayai oleh banyak orang sebagai “Firman Tuhan yang terbaru mengenai banyak hal…” Neale Donald Walsch mengambil bagian dalam produksi dan promosi film yang memenangkan penghargaan serta membantu memperjelas sumber kebohongannya.  Dia dengan leluasanya mengakui bahwa ia menerima pesan yang menginspirasinya melalui praktik okultisme “menulis otomatis”.  Dalam Pengantar Percakapan dengan Allah, buku 2, ia memberitahukan, “Dalam selembar kertas kosong, saya bermaksud menuliskan pertanyaan…dan dengan segera pertanyaan itu tertulis daripada jawaban yang sedang saya pikirkan.  Rasanya seperti seseorang sedang berbisik di telinga saya.  Saya sedang didikte.”

Allah Walsch berurusan dengan banyak pertanyaan manusia mengenai kehidupan.  Hal itu termasuk cinta, hubungan, baik dan jahat, rasa bersalah dan dosa, pengampunan, kekuatan sex, uang, pernikahan dan isu-isu lain yang menjadi permasalahan utama kemanusiaan.

Bagi Walsch, wahyu tetap terbuka dan Allah memiliki banyak yang ingin dikatakan pada anak-anak-Nya.  Allah Walsch memperkenalkan sejumlah “kebenaran” yang secara diametris menentang Alkitab.  Sebagai contoh, ia menerima reinkarnasi, menentang dosa asal, menyangkal setan dan neraka, dan merendahkan Allah Alkitab.  Ini hanyalah sebagian kecil dari ajaran menyimpang dari Allahnya yang menggerakkan tangan Walsch dan melaluinya menawarkan “wahy baru” pada kita.

Walsch tidak banyak berbeda dengan kebanyakan penulis era baru di mana ia pertama merendahkan Alkitab dengan mengatakan bahwa Alkitab tidak berwenang/berotoritas dan kemudian mengenalkan pengalaman sebagai sumber satu-satunya untuk mengetahui kebenaran.  Menurut Walsch dan pengirim pesan “suci”nya, membuat pilihan-pilihan membukakan pintu pada pengalaman dan pengalaman itu kemudian menjadi guru yang utama.

Pengalaman melawan Firman Tuhan

Allah Walsch tidak hanya mempergunakan pengalaman sebagai guru yang luar biasa, namun ia juga menggunakan perasaan kita  untuk mengkomunikasikan kebenarannya pada manusia.  Dia percaya “jika kau ingin mengetahui kenyataan yang sesungguhnya bagimu mengenai sesuatu, lihatlah bagaimana perasaanmu mengenai hal itu…tersembunyi di bawah perasaanmu yang terdalam adalah kebenaranmu yang tertinggi.”  Pengirim pesan suci juga menambahkan, “Selain perasaan dan pikiran, saya juga menggunakan kendaraan pengalaman sebagai alat komunikasi utama.  Dan pada akhirnya, ketika perasaan, pikiran dan pengalaman semuanya gagal, saya menggunakan kata-kata.”

Pengirim pesan suci memberitahukan kita bahwa “Ironi paling heboh di sini adalah kau begitu mementingkan Firman Tuhan dan sangat sedikit yang kau tekankan pada pengalaman.”  Dia melanjutkan dengan berkata, “Pada kenyataannya, kau meremehkan pengalaman ketika apa yang kau alami tentang Allah berbeda dengan yang kau dengar mengenai Allah, kau dengan sendirinya mengesampingkan pengalaman dan mengutamakan perkataan, ketika hal itu seharusnya terjadi sebaliknya.”

Menurut Walsch, perkataan Tuhan tidaklah cukup untuk mengajar dan mengarahkan dalam kebenaran.  Sebaliknya, kita harus bergantung pada perasaan kita.  Pengalaman akan menandakan pada kita apakah perasaan kita setuju dengan perkataan Tuhan atau tidak.  Jelas-jelas pendekatan ini menjadikan pengalaman sebagai kewenangan tertinggi.

Cinta dan Ketakutan

Penyejajaran antara emosi cinta dan ketakutan adalah dasar dari pengajaran New Age Movement/Gerakan Jaman Baru/GZB.  Bagi para penganut New Age, pemikirannya adalah bahwa kasih Allah adalah yang tertinggi dan termulia dari seleruh kebnaran yang ada.  Ketakutan adalah kenyataan dan dianggap sebagai kelemahan.  Hal ini didasarkan pada pemikiran dari Allah yang pembalas dendam dan mengerikan,”  seorang Tuhan yang akan menghakimi dan mengirimkan para pendosa pada neraka yang tak berkesudahan.  Sebagai hasilnya, ketakutan membentuk masa kini dan masa depan kita. “Setiap tindakan yang diambil manusia didasarkan kasih atau takut” dan ditanamkan dalam pikiran.  jadi apapun yang kita lakukan, dalam “kasih atau takut” sebagai akibat dari Pemikiran Pendukung kita, atau pikiran pengendali.

Filosofi ini tampak menarik, namun tidak berguna (tidak akan berhasil)  sama sekali.  Filosofi ini tidak mengizinkan ketakutan yang benar terhadap Allah ataupun keadilan dan penghakiman Allah.  Menurut mitologi Walsch, karena Allah adalah kasih yang murni, Ia tidak dapat menghukum dosa atau menghakimi siapapun karena tidakada gunanya untuk bertindak demikian.  Allah Walsch mendeklarasikan bahwa “untuk membenarkan Allah yang penghukum, agamamu perlu menciptakan sesuatu untuk Ku-marahi”  Sehingga bahkan orang-orang yang telah hidup dengan teladan yang baik, perlu diselamatkan lagi.

Dengan kata lain, jika kita gagal mengenali kesempurnaan pribadi kita (kesucian atau pribadi yang suci, kita mengizinkan pikiran pendukung ketakutan untuk membimbing kita.  Namun, jika kita mengizinkan kasih untuk menjadi pikiran pendukung kita, kita benar-benar dicerahkan sepenuhnya.

Pengajaran yang Tidak Alkitabiah

Pernyataan berikut di bawah ini terlepas dari doktrin, disebut-sebut sebagai kebenaran dalam tulisan oleh Walsch.  Setiap klaim palsu diikuti oleh komentar dari Walsch yang menyoroti pernyataan kemudian diikuti serangan balik Alkitab untuk mematahkan pendapat yang salah.

CLAIM

(Neale Donald Walsch)

BANTAHAN

Tidak ada setan atau Iblis. “Dan kau telah mereka-reka dalam mitologimu seorang makhluk yang kausebut setan.” “Kau telah datang kemari untuk mengerjakan rencana pribadi untuk keselamatanmu sendiri.  Na-mun keselamatan tidak berarti menyelamat-kan dirimu sendiri dari jebakan setan.  Tidak ada makhluk yang isebut setan, dan neraka tidak pernah ada.” “Tentu, setan yang sesungguhnya tidak ada – namun aku memberikan tanggapan terhadap idiom yang kaupilih.” 1 Petrus 5:8 mengatakan bahwa lawan kita, si Iblis, berjalan keliling sama se-perti singa yang mengaumaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Yesus mengatakan hal ini pada orang-orang Yahudi yang tidak mau menerima penginjilan-Nya pada yang terhilang, “Kamu adalah bapa dari setan, dan keinginanmu adalah melakukan yang dikehendaki bapamu.  Ia adalah pembunuh dari sejak awal dan tidak satupun perbuatannya yang mencerminkan kebenaran karena tidak ada kebenaran di dalamnya.”  Kitab Wahyu mengingatkan kita bahwa “iblis yang menipu mereka telah dilemparkan pada danau api dan lubang neraka di mana setan dan nabi-nabi palsu berada, dan mereka akan disiksa siang malam untuk selama-lamanya.”
Tidak ada dosa – dosa asal atau semacamnya (16)  “Jika ada hal semacam dosa, hanya ada kemungkinan ini: mengizinkan dirimu menjadi kau apa adanya karena pengalaman terhadap orang lain.  Inilah “dosa” yang kau lakukan.  Kau semuanya.” “Kau menerima bahwa kau dilahirkan dalam ‘dosa’.”  Ini menyatakan ketidaksempurnaan yang di dalamnya, kau katakan, kau telah datang ke dunia adalah apa yang para ahli agamamu sebut-sebut sebagai  dosa asal.  Dan itulah dosa asal – yang bukan milikmu.  itu adalah dosa yang pertama yang ditimpakan dunia padamu, yang tidak mengetahui apapun mengenai Tuhan jika dunia berpikir bahwa Allah akan atau dapat – menciptakan apapun yang tidak sempurna.  Terlebih, untuk membenar-kan pemikiran dari Allah yang penghukum, agamamu perlu menciptakan sesuatu untuk diamuki oleh Allah.  dengan demikian, orang-orang yang telah membina hidup yang penuh teladan baik perlu diselamatkan. Roma 3:23 memberitahu kita bahwa kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.

Injil Markus menyebutkan perkataan Yesus berikut, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (Markus 7:21-23). Yohanes 16:8-11 menyatakan bahwa “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Dalam 1 Yohanes 1:8 kita membaca, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Ayat 10 kemudian berkata, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.”

Tidak ada neraka atau tempat penghu-kuman yang kekal. (17) “Namun neraka tidak ada seperti tempat yang kau khayalkan, di mana kau dibakar dalam api yang kekal, atau berada pada keadaan penyiksaan yang tak berkesudahan.  Apa tujuanku dalam hal tersebut?”  “Tidak ada makhluk yang disebut iblis, dan neraka tidak pernah ada.” “Tempat pertama untuk kau tuju adalah para ahli agamamu…kau pergi pada pendetamu, rabimu, penginjilmu dan gurumu, dan mereka memberitahumu untuk bberhenti mendengarkan pada Dirimu sendiri.  Yang terparah, mereka berusaha mengusir pikiran mendengarkan diri sendiri darimu, sesuatu yang secara intuisi kau ketahui.  Mereka memberitahumu mengenai iblis, setan, dan roh-roh jahat, dan neraka, dan tempat penghukuman, dan setiap hal-hal mengerikan yang dapat mereka pikirkan untuk membuatmu merasa bahwa intuisi dan perasaanmu itu salah. Yesus memperingatkan pengikut-Nya mengenai hukuman kekal yang menanti siapapun yang menolak Dia. Kita menemukan dalam Matius 13:40-42 yang mana Ia mengatakan bahwa malaikat akan mengumpulkan para pendosa dan melemparkan mereka pada lautan api di mana mereka akan menangis dan menggertakkan gigi mereka.  Ia melanjutkan pemikirannya pada Matius 25:46, ketika ia mendeklarasikan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”  Wahyu 20:10 memberitahukan mengenai keberadaan setan, “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”
Reikarnasi itu nyata. (18) “Ini adalah tugas yang besar, membutuhkan waktu seumur hidup, untukmu agar tidak cepat-cepat menuju penghakiman, untuk menye-but sesuatu ‘salah’ atau ‘buruk’ atau ‘tidak cukup baik’, daripada memberkati apa yang kau tidak pilih.”  “Membutuhkan waku seu-mur hidup untuk memahami ini – dan mung-kin lebih lama lagi untuk menerapkannya – untuk kebenaran ini berubah menjadi se-suatu yang lebih hebat lagi.”  Kesatuan yang sedang didiskusikan oleh Walsch ini menim-bulkan komentar yang menyangkut keinginantahuan Walsch yang kuat mengenai apakah bentuk penjelmaan Walsch sebelumnya.  “”Kamu memiliki tepatnya 647 kehidupan sebelumnya, karena kau bersikeras untuk menyebutkannya secara akurat.  Ini adlaah kehidupanmu yang ke-648.  Kau adalah segalanya di dalam mereka.  Raja, ratu, budak, guru, murid, tuan, pria, wanita, pejuang, pendamai, pahlawan, pengecut, pembunuh, penyelamat, orang bijak dan orang bodoh. Ibrani 9:27 menawarkan prinsip ini menyangkut reinkarnasi, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”
Allah adalah pribadi dan tidak berpribadi, sebagaimana halnya pria dan wanita. (19) “Allah Anak mengalami pertubuhan (memiliki tubuh), bertindak di luar, dari semua yang Allah Bapa ketahui sendiri.”  “Tentu kamu sudah melewati batas di mana kamu sudah memiliki penjelasan yang diberikan padamu bahwa istilah ayah-anak Tuhan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin.” “Jika kamu berpikir bahwa Allah terlihat hanya satu arah, terdengar hanya satu aray atau hanya satu arah., kau akan melihat ke belakang Ku siang dan malam.  Kau akan menghabiskan seluruh hidupmu mencari Tuhan dan tidak menemukan-Nya dalam sosok Wanita.  Karena kau hanya mencari-Nya dalam sosok Pria.”  “Janji Allah ialah bahwa kau adalah anak-Nya laki-laki.  Keturunan-Nya wanita.  Keserupaan dengan diri-Nya.  Gambar dan rupa-Nya.”  “Kau akan mengetahui bahwa kau adalah anak laki-laki Allah ketika kau menghormati Allah Ayah/Ibu dalam segala yang kau lakukan atau pikirkan.” “Terlebih pikiranmu yang berpikir keras memohon untuk bertanya : jika Allah memiliki cara Ia(wanita)  membentuk saya sesuai keinginan-Nya, mengapa Ia (wanita) tidak menciptakan saya demikian sejak awal.” “Ya aku adalah Allah, seperti yang kau pahami saat ini.  Aku adalah Dewi sebagaimana kau memahami-Nya dalam sosok wanita.” Jelas tertulis dalam Alkitab bahwa Yesus memiliki hubungan pribadi dengan Bapa.  Yesus memanggil Bapa dalam doa-Nya dan Ia ingin kita melakukan hal yang sama dalam doa kita. Matius 6:6 mengatakan bahwa Bapa melihat orang-orang yang berdoa dalam kerahasiaan dan mengetahui apa yang kita perlukan bahkan sebelum kita memintanya.  Pada ayat berikutnya di ayat 14 , kita melihat bahwa Bapa akan mengampuni kita jika kita mengampuni orang lain.  Allah berulangkali menunjukkan perilaku pribadinya melalui seluruh isi Alkitab.  Ia memiliki banyak atribut kepribadian : Allah mendengar (Keluaran 2:24), Allah melihat (Kejadian 1:4), Allah mengetahui (2 Timotius 2:19; Yeremia 29:11), Allah memiliki kehendak (1 yohanes 2:17; Matius 6:10, 26:39; Wahyu 4:11), Allah berpesan (Keluaran 3:13-14), Allah berencana (Efesus 1:11), Allah menunjukkan emosi (Kejadian 6:6) dan Allah menunjukkan karakter (2 Petrus 3:9).  Alkitab secara konsisten merujuk Allah sebagai Pria.  Tidak ada rujukan lain  pada Allah seperti “Benda”, “Dewi”, atau sebagai “Wanita” dalam seluruh Alkitab.
Yesus hanyalah guru pada umumnya seperti Buddha atau Krishna. (20)  “Inilah yang Yesus lakukan.  Inilah jalan dari Buddha, jalan dari krishna, jalan dari setiap Guru yang muncul di planet ini.  Dan setiap guru memiliki pesan yang sama: Sebagaimana Aku adanya, begitulah halnya dirimu.  Apa yang aku dapat lakukan, kau juga bisa.  hal-hal ini, dan lebih dari itu, harus kau lakukan.  Kau berkata betapa sulitnya unuk mengikuti jalan Kristus, menuruti ajaran Buddha, untuk memegang sinar Krishna, untuk menjadi Guru. ” Yesus itu unik.  Tidak ada seorangpun seperti Dia.  Dia adalah Kristus, Anak Allah, bukan anak, namun Anak.  Dialah satu-satunya juruselamat, tidak ada yang lain.  Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6). Yesus adalah pencipta (Yohanes 1:3), Juruselamat kita (Yohanes 4:24), Hakim kita (Yohanes 5:27), Pengampun Dosa (Markus 2:7,10).  Tanda utama keunikan Yesus adalah kebangkitan-Nya (Matius 28:1-10 markus 16:1-8; Lukas 24:1-11; Yohanes 20:1-18).  tidak Buddha maupun Krishna, maupun orang-orang lainnya yang disebut “Guru” telah bangkit adri kematian.  Mereka tetap tinggal dalam kuburnya.  Hanya Yesus, Sang Kristus, yang telah dibangkitkan dan dengan demikian membuktikan keunikan keberadaannya dibandingkan mereka lainnya yang menyebut-nyebut dirinya allah.
Manusia adalah Tuhan (21) “Tujuan-Ku dalam menciptakanmu, keturunan rohani-Ku, bagi-Ku untuk menyatakan diri-Ku sebagai Allah.  Aku tidak memiliki jalan aman melalui dirimu.  Karenanya dapat dikatakan bahwa tujuan-Ku untukmu adalah supaya kau mengetahui dirimu sebagai Aku.” “Kau adalah, telah selalu, dan akan selalu menjadi bagian ilahi dari keseluruhan keilahian, bagian dari tubuh.  Itulah mengapa tindakan untuk bergabung pada keseluruhan, untuk kembali kepada Tuhan, disebut peringatan.  Tugasmu dalam dunia, dengan demikian, bukan untuk mempelajari, tapi untuk mengingat Siapa Dirimu.” “Dalam menciptakan ‘sesuatu yang lain’ – yang disebut kerajaan keluarga – Aku sudah menciptakan lingkungan di mana kau dapat memilih untuk menjadi allah, daripada sekedar diberitahu bahwa kau adalah Allah.” “Apa kau mau seluruh hidupmu benar-benar  ‘diambil’ darimu?”

Dengan demikian ubahlah pemikiranmu mengenai hal itu.  Mengenai kamu.  Pikirkan, bicaralah dan bertindaklah sebagai Allah yang adalah dirimu. “Bagus, aku berkata padamu : kau sudah menjadi allah.  Kau hanya tidak mengetahuinya.  Bukankah sudah kukatakan, ‘Kau adalah Tuhan’’”

Sekali lagi, Walsch beralih pada filosofi Era Baru mengenai pandangannya terhadap manusia.  Dia percaya manusia telah berevolusi secara spiritual menuju pada “Pribadi Ilahi”.  Alkitab manyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak berevolusi menjadi dewa.  Manusia dibentuk dari debu (Kejadian 2:7) dan ia tidak abadi.  Pertimbangkan pernyataan berikut :

Ë  Allah Mahahadir (Mazmur 139:7-12; Yeremia 23:23-24); manusia terbatas oleh ruang dan waktu (Yohanes 1:50).

Ë  Allah Mahatahu (Mazmur 147:5); manusia terbatas dalam pengetahuannya (Ayub 38:4-15).

Ë  Allah Mahakuasa (Mazmur 115:2-3); manusia terbatas dalam kemampuannya (Yohanes 15:5, 2 Korintus 3:5).

Ë  Allah Mahakudus (Yesaya 57:15); manusia tidak suci (Yesaya 64:6).

Ë  Allah Mahapengasih (1 Yohanes 4:7-8); manusia tidak mampu mengasihi tanpa syarat (Galatia 5:19-21).

Pada zaman Herodes, posisinya digolongkan sebagai tuhan karena mereka sering menentukan hidup dan mati atas banyak orang.  Kisah Paara Rasul 12:21-23 mencatat kematian Herodes karena ia tidak memuliakan Tuhan “setelah dinobatkan tuhan oleh masyarakatnya”.

Roma 12:3 memperingatkan manusia “untuk tidak berpikir dirinya lebih tinggi dari yang sepantasnya, namun untuk berpikir dengan  penilaian yang sewajarnya, masing-masing berdasarkan ukuran iman yang dikaruniakan Allah pada manusia.”

Kristen tidak benar-benar eksklusif – ada banyak jalan menuju Tuhan (22) “Biarkan setiap jiwa memilih jalannya” “Namun ketahuilah ini: tidak ada yang namanya jalan yang salah – untuk perjalanan ini kau tidak bisa tidak memperoleh.”  Walsch mengomentari sebagaimana ia tetap bertanya pada pengirim pesan, “Ini kedua kalinya dalam buku ini kau tampaknya menyerang dasar-dasar Kristiani secara frontal.  Aku terkejut.”  Tuhan Walsch (daripada mengakui serangannya pada Kristiani) menomentari, “Kau telah menggunakan kata ‘menyerang’.  Saya hanya mengangkat isu itu saja.”  Pada dasarnya pengirim pesan palsu ini membiarkan Walsch untuk membuat pernyataannya tanpa benar-benar membuat dirinya terdengar tidak berperasaan. Mungkin perkataan Yesus dalam yohanes 14:6 terdengar terlalu mulak bagi Walsch ketika Ia menyatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup; tidak ada yang dapat datang pada Bapa kecuali melalui Aku.”
Kebenaran tidaklah mutlak, namun harus dialami. (23) “Dengarkan perasaanmu, dengarkan pada Pemikiran Tertinggimu.” “Tidak ada ‘sebaiknya’ atau ‘tidak sebaiknya’ dalam dunia Tuhan.  Lakukan apa yang ingin kau lakukan.  Lakukan apa yang mencerminkan dirimu, apa yang mewakilimu sebagai versi tang lebih hebat dari Dirimu.” “saya tidak pernah menetapkan ‘benar’ atau ‘salah’, ‘lakukan’ atau ‘tidak boleh lakukan’.  Untuk melakukannya, adalah dengan menelanjangimu sepenuhnya dari karunia terbesarmu – kesempatan untuk melakukan apa yang kau kehendaki, dan mengalami hasilnya; kesempatan untuk menciptakan dirimu dalam citra yang baru dan keserupaan pada Siapa Dirimu.” “Saya akan memulai dengan pernyataan yang mengejutkanmu dan mungkin menyerang sensitivitas dari banyak orang.  Tidak ada hal semacam Sepuluh Perintah Allah.” Di sini sekali lagi “Allah” Walsch menyerang Alkitab dan menyangkal hukum Allah yang fundamental – 1o hukum taurat (Keluaran 20:3-17).  “Allah” ini dengan segera memperkenalkan pemahaman diri-Nya yang lebih sempurna terhadap 10 Hukum Taurat.

Kesimpulan

Neale Donald Walsch, tanpa diragukan lagi, adalah “Tuhan”.  Tuhan itu adalah dirinya sendiri.  Tanpa dipertanyakan lagi, ia adalah seorang pantheist dan memegang pandangan New Age. Tulisan-tulisan Walsch adalah salah satu dari omong kosong rohani New Age, yang dipandang sebagai pesan Kristiani terkini dari Tuhan yang memiliki kepribadian ganda.  Walaupun demikian, hal tersebut tidaklah lebih dari usaha lainnya untuk menjerat orang-orang yang naif dan tidak memiliki pegangan.

Bukunya tanpa diragukan lagi adalah yang paling menyesatkan sejak buku populer Betty Eadies yang berjudul “Didekap oleh Cahaya”.  Walsch dan Eadle memiliki kesamaan ide filosofis secara umum, namun hal yang paling mempengaruhi tulisan mereka adalah mereka berdua mendengarkan dan melayani tuhan palsu.

Komentar di atas mungkin terdengar kejam dan keras. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan penulis namun untuk menyingkap pengajaran mereka yang salah dan membuka kedok allah palsu yang mendasari tulisan mereka.  Sangatlah penting untuk menyadari bahwa kita berada dalam peperangan rohani untuk pikiran manusia.  Kita tidak dapat meremehkan doktrin yang menentang ajaran gereja ini maupun ajaran-ajaran lain yang serupa, yang dipadukan dengan iman kristiani melalui pengajaran yang salah.  Membenamkan kepala kita dalam pasir dan berharap bahwa semuanya akan segera berlalu bukanlah respon yang tepat.  Kita, sebagai umat Kristen dan gereja, harus secara aktif menentang pengajaran-pengajaran dan guru-guru palsu dimanapun mereka dapat muncul.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Books Review. Bookmark the permalink.