Ji Zhiwen/Andrew Gih (1901-1985)


a_hGihBJi Zhiwen, atau lebih dikenal di Indonesia sebagai Andrew Gih, lahir pada tanggal 10 Januari 1901 di Shanghai. Ayahnya, Ji Youren, seorang ahli ajaran Konfusius, membuka sebuah sekolah di rumahnya. Sejak kecil, Andrew menerima pendidikan Konfusius tradisional dari ayahnya. Ibunya seorang Buddhis, vegetarian, orang yang berbudi dan berpikiran terbuka.

Di rumah mereka masih terdapat plakat-plakat leluhur dan mereka masih merayakan perayaan-perayaan tradisional serta berdoa untuk arwah leluhur. Andrew pada masa mudanya adalah orang yang pendiam serta tidak banyak bersosialisasi. Ia sering diajak ibunya ke biara untuk membakar dupa dan mendengarkan para rahib membacakan doa; ia bahkan suatu ketika mendapat kesempatan untuk membaca-baca Alkitab, namun pada saat itu ia sama sekali tidak tertarik bahkan dapat dikatakan dingin terhadap hal-hal keagamaan.

Orang tua Andrew Gih memiliki empat orang putera dan tiga orang puteri, tiga di antaranya meninggal pada waktu bayi. Sebagai anak tertua, ia menyaksikan jasad adik-adiknya yang dimasukkan ke dalam peti mati dan dikuburkan. Ia melihat wajah-wajah sedih dan air mata orang yang melayat, dan walaupun ia belum mengerti makna dari kematian, namun pertanyaan tentang mengapa orang mati dan apa yang terjadi setelah mereka mati mulai tertanam di dalam hatinya.

Pada usia dua belas tahun, ayahnya sakit keras, dan tidak lama setelahnya ia pun meninggal. Setelah kematian ayahnya, Andrew membantu ibunya yang dari pagi hingga malam bekerja keras bercocok tanam dan menjahit baju untuk menghidupi keluarganya seorang diri. Sebagai anak yang berbakti menyaksikan ibunya yang bekerja keras, ia berjanji bahwa setelah dewasa nanti ia akan menghasilkan uang yang banyak untuk membalas kebaikan ibunya.

Untuk membantu ibunya, Andrew bekerja di bawah asuhan seorang pembuat pakaian. Pada usia 18 tahun, ia merasa perlu belajar bahasa Inggris, oleh karena itu ia mendaftar ke sebuah sekolah yang dikelola oleh misionaris dari Eropa. Meskipun awalnya ia tidak tertarik pada kegiatan agama di sekolah maupun kelas-kelas Alkitab, namun ketentuan sekolah mengharuskannya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Tanpa ia sadari, Alkitab menjadi buku yang dijadikannya alat utama untuk belajar bahasa Inggris. Selagi ia mempelajari bahasa Inggris di Alkitab, perkataan-perkataan Yesus tertanam di dalam hatinya, dan perlahan ia mulai mengakui kebesaran Yesus.

Suatu hari, seorang misionaris datang dan berkhotbah di sekolah tersebut. Topiknya adalah “Semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Hati Andrew diubahkan untuk selamanya oleh kuasa Firman yang disampaikan pada hari itu. Malamnya ia berlutut di hadapan Tuhan untuk pertama kalinya seraya berseru, “Tuhanku, Engkaulah Juruselamatku; kasihanilah aku orang berdosa ini!” Saat itu juga, Allah mengangkat beban berat yang ada di dalam hatinya dan ia dipenuhi oleh sukacita dan damai.

Ia diangkat sebagai seorang pegawai di kantor pos Shanghai pada tahun 1924 dengan gaji yang tinggi, kedudukan yang baik, dan karir yang cerah di hadapannya. Namun ia di dalam hati tidak merasa puas. Tahun berikutnya, Wang Zai datang ke Shanghai untuk mengadakan kebaktian pengabaran Injil. Mendengar Firman yang ia sampaikan, tergeraklah hati Andrew dan ia meminta untuk dibaptis oleh Wang Zai. Setelah ia dibaptis, ia memilih nama baptis “Andrew” dan memutuskan untuk menjadi orang yang membawa jiwa-jiwa bagi Tuhan. Tidak lama setelah itu ia membawa ibu dan kedua adik perempuannya untuk percaya kepada Kristus. Neneknya yang seorang Buddhis pada mulanya menolak Injil dengan keras, namun kemudian ia juga percaya dan menerima Kristus.

Pada tahun 1925 di sebuah kebangunan rohani yang dipimpin oleh seorang misionaris bernama John Gu, Andrew Gih sekali lagi menjawab panggilan Tuhan dan mengambil keputusan untuk bekerja sebagai seorang pengkhotbah. Tetapi bagaimana ia dapat menjelaskan hal tersebut kepada keluarganya sementara ia memiliki pekerjaan yang bayarannya jauh lebih baik? Namun Tuhan menjawab doanya, dan ketika ia berdoa ia diberikan penglihatan yang jelas, sehingga ia mengambil keputusan untuk mundur dari pekerjaannya, mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya, dan memasuki jalan hidup seorang pekabar Injil.

Ia lalu mencari pengalaman di bawah penginjil Shi Meiyu (Mary Stone) dan pendeta Ding Limei, menemani Shi Meiyu ke berbagai tempat untuk kebaktian-kebaktian pengabaran Injil. Pada tahun 1926, ia ditahbiskan oleh Pdt. Mr. Sontas. Sejak saat itu, ia memulai perjalanannya ke Guangxi, Guangdong, Fujian, Xiamen, dan tempat-tempat lainnya untuk mengadakan kebaktian-kebaktian pengabaran Injil dan kebangunan rohani. Roh Kudus selalu menyertainya, memampukannya memberitakan Firman dengan penuh kuasa sehingga ratusan hingga ribuan orang bertobat dan berbalik mengikut Tuhan.

Pdt. Andrew Gih kemudian kembali ke Shanghai dari perjalanan penginjilannya pada tanggal 1 Oktober 1928 untuk upacara pernikahannya dengan Dorcas Zhang, teman sekerjanya di organisasi Bethel, di Gereja Bethel. Tidak sampai seminggu kemudian, pasangan tersebut pergi ke Gereja Baptis di Hangzhou untuk berkotbah, menghabiskan bulan madu mereka dalam pelayanan penginjilan.

Gereja Tiongkok mengalami kebangunan besar pada tahun 1927 yang berlangsung hingga tahun 30-an. Pdt. Andrew Gih adalah salah satu pemimpin gerakan kebangunan ini. Pada Februari 1931, ia mendirikan “Kelompok Penginjilan Bethel” di Shanghai. Organisasi ini adalah bagian dari Gereja Metodis, yang anggota-anggotanya antara lain adalah Li Daorong, Lin Jingkang, Nie Ziying, John Shi, dan Shong Shangjie (John Sung). Mulai tanggal 18 Februari hingga empat tahun berikutnya, mereka mengadakan perjalanan sejauh 50.000 km, mengunjungi 133 kota, mengadakan 3389 kebaktian, dan mengabarkan Injil kepada 500.000 orang, 50.000 di antaranya bertobat dan menjadi percaya. Di antara mereka yang menjadi percaya terdapat orang Tiongkok dan orang asing; pekerja, petani, pedagang; pemuda dan tentara; pegawai korup, penjahat, perampok, dan pembunuh. Kuasa khotbah mereka dan pengakuan iman mereka membawa kebangunan besar kemana pun mereka pergi. Untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan penginjilan yang semakin meningkat, mereka membentuk 10 tim di wilayah-wilayah di seluruh Tiongkok untuk mengadakan pekabaran Injil dan kebaktian kebangunan rohani. Pada tahun 1933, mereka juga membentuk suatu “tim pengabaran Injil medan pertempuran”, terutama untuk mengabarkan Injil kepada para perwira dan tentara yang berperang melawan Jepang. Di bawah usaha mereka, banyak gereja-gereja lokal yang juga membentuk tim-tim pengabaran Injil.

Pdt. Andrew Gih dan Kelompok Bethel tidak hanya menyebarkan api Injil di daerah perkotaan dan pedesaan di bagian utara dan selatan Tiongkok, namun mereka juga menaburkan benih Injil di daerah-daerah perbatasan Manchuria, Mongolia Dalam, Yunnan, Tibet, dan Xinjiang. Pada akhir tahun 1938, Pdt. Andrew Gih dan Dr. James Edwin Orr melewati perbatasan Yunnan ke Vietnam, mengabarkan Injil di Hanoi dan Haiphong; mereka juga melakukan kebaktian pekabaran Injil nasional di Saigon, yang membawa kebangunan besar bagi gereja Vietnam. Dalam usaha pengabaran Injil mereka, mereka menggunakan kisah-kisah pribadi, pertemuan-pertemuan di luar gereja, kebaktian-kebaktian Injil yang besar, dan juga metode-metode lainnya. Pengabaran Injil mereka tidak jarang juga disertai dengan peristiwa-peristiwa mujizat. Pdt. Andrew Gih selalu menjawab bahwa keberhasilan-keberhasilan yang dicapai oleh Kelompok Bethel merupakan hasil usaha dari Roh Kudus.

Karena peperangan dengan Jepang yang terus berlanjut, Pdt. Andrew Gih membawa rekan-rekan sekerjanya di Bethel, termasuk Shi Meiyu, Jennie Hughes, murid-murid seminari, dan lebih dari 100 anak yatim piatu ke Hong Kong. Di Kowloon ia mendirikan sebuah gereja, sebuah sekolah dasar, dan sebuah panti asuhan. Peperangan di tanah daratan telah menyisakan banyak anak yatim piatu; Pdt. Andrew Gih menjawab panggilan Song Meiling (Mdm. Chiang Kai-shek) dan mendirikan panti asuhan di Hong Kong dan Guizhou untuk menampung para anak-anak yang menjadi korban perang. Ia kemudian pergi ke Amerika untuk berkhotbah dan menyampaikan tentang kebutuhan anak-anak yatim piatu tersebut, dan ia menerima bantuan dari teman-teman Kristen di Amerika, yang memberikan sponsor kepada lebih dari seribu anak yatim piatu dan juga memberikan dukungan untuk panti asuhan yang ia buka. Ny. Dorcas Gih (Dorcas Zhang) lalu kembali ke Shanghai dan kemudian menyewa sebuah gedung berlantai tiga di Jalan Da Xi yang ia jadikan sebagai panti asuhan dengan bantuan Ou Jialing.

Pada tahun 1943, setelah Shanghai jatuh ke tangan para tentara Jepang, Pdt. Andrew Gih sekali lagi memimpin lebih dari seratus anak-anak yatim piatu korban perang, murid-murid seminari, staf dan para pengajar keluar ke Guizhou. Setelah perjalan panjang yang melelahkan, mereka akhirnya tiba di panti asuhan di Bijie, Guizhou. Akibat dari perjalanan panjang tersebut, penyakit TBC Pdt. Andrew Gih kambuh lagi dan menyebabkan ia muntah darah berkali-kali hingga ia terpaksa dirawat di rumah sakit. Pada waktu ini, ia masih menyempatkan diri untuk pergi ke gereja dan universitas untuk berkhotbahdan mengajar.

Mulai tahun 1946 hingga 1949, Pdt. Andrew Gih mendirikan Perkumpulan Penginjilan Tiongkok di Shanghai, yang membawahi usaha pekabaran Injil dan panti asuhan secara bersamaan. Pada akhir tahun 1949 mereka telah mengasuh lebih dari 100 anak yatim piatu, namun pemerintahan yang baru terbentuk pada 1 Oktober 1949 tidak mengijinkan organisasi swasta untuk mengelola panti asuhan, sehingga institusi yang dijalankan oleh suami istri Pdt. Andrew Gih terpaksa ditutup tidak lama kemudian.

Pada Februari 1949, Pdt. Andrew Gih pergi ke Amerika Serikat untuk menjadi pembicara dalam pertemuan tahunan orang Kristen di Amerika Serikat yang diadakan di Chicago. Ny. Dorcas Gih harus menjalani pengobatan di Hong Kong untuk penyakit TBC yang dideritanya. Karena perubahan iklim politik yang terjadi di daratan Tiongkok cukup drastis, mereka berdua terpaksa pindah ke Hong Kong. Karena Pdt. Andrew Gih tidak dapat kembali ke daratan Tiongkok, ia mulai mengadakan pengabaran Injil di Teater Kuai Le (“Kebahagiaan”). Mereka yang hadir pada hari Minggu pagi mencapai lebih dari 1.200 orang. Pada bulan Agustus tahun 1951, ia, bersama-sama dengan Paul Shen dan yang lain-lain, secara resmi mendirikan sebuah gereja. Karena jumlahnya yang terus ditambahkan, mereka akhirnya menjawab panggilan dan mendirikan tempat mereka sendiri. Bangunan tersebut jadi pada bulan Oktober 1956 dan diberi nama “Gereja Kanaan Perkumpulan Penginjilan Tiongkok”.

Perkumpulan Penginjilan Tiongkok memulai pekerjaannya di Taiwan pada tahun 1948 ketika Paul Shen diutus oleh Pdt. Andrew Gih ke Taichung untuk mendirikan pusat pelayanan di sana. Dimulai dari nol, pada tahun 1952 mereka telah memiliki ruang pertemuan yang dapat menampung lebih dari 400 orang dengan nama Gereja Si En. Pada bulan Februari tahun 1952, Pdt. Andrew Gih datang pada upacara peresmian tempat tersebut. Tahun-tahun berikutnya, perkumpulan tersebut memulai karya mereka di Taipei, Pingtung, Taidung, Yilin, Yilan, Luodong, Gangshan, Hsinchu, dan tempat-tempat lainnya, dan juga mengabarkan Injil serta mendirikan gereja di antara penduduk asli Taiwan.

Sejak awal tahun 1950-an, Pdt. Andrew Gih memperluas pelayanan pengabaran Injilnya untuk orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara. Pada dekade berikutnya, ia terlibat di dalam penginjilan perdana di wilayah Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lainnya; mendirikan gereja-gereja; menyelenggarakan kebaktian-kebaktian pengabaran Injil dan kebangunan rohani. Di tiap-tiap wilayah, gereja mengalami kebangunan besar, dan ribuan orang memberikan hidup mereka untuk Kristus. Pengaruh Pdt. Andrew Gih untuk gereja-gereja Tionghoa di Asia Tenggara tidak terbilang besarnya. Lebih daripada itu, perjalanannya membawanya keliling dunia lebih dari 15 kali dan mengunjungi lebih dari 50 negara.

Di sepanjang perjalanannya mengabarkan Injil, Pdt. Andrew Gih telah menyediakan kebutuhan gereja-gereja Tionghoa dengan cara mendirikan sekolah-sekolah teologi, termasuk Seminari Bethel di Shanghai, Sekolah Alkitab Taichung, Sekolah Alkitab Asia Tenggara di Indonesia, Sekolah Alkitab Hong Kong, dan Sekolah Alkitab Bethel di Thailand, yang pada gilirannya memperlengkapi ribuan pekabar Injil di masing-masing negara. Pada tahun 1981, untuk mengenang jasa-jasanya, Sekolah Alkitab Asia Tenggara di Malang, Indonesia membangun sebuah gereja dengan kapasitas lebih dari 1,200 orang atas namanya.

Pdt. Andrew Gih seumur hidupnya merupakan seorang filantropis, ia mendirikan sekolah-sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat pengasuhan anak bagi anak-anak yang menjadi korban bencana dan yatim piatu, termasuk Panti Asuhan En Ci di Makau, Sekolah Menengah Malang di Indonesia, Rumah Anak Kalam Kudus di Taipei, Taman Kanak-Kanak Kalam Kudus di Malaysia, serta masih banyak lagi; menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan bagi anak-anak yang tidak memiliki tempat tinggal ini. Ia tidak hanya menyelamatkan ribuan nyawa, namun juga menjadikan mereka orang-orang dengan jiwa yang dipenuhi dengan rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya.

Pdt. Andrew Gih sangat menekankan pentingnya karya tulis Kristen (Christian literatur work), seperti terlihat dalam organisasi percetakan yang didirikannya. Sudah sejak 1949 ia membuat suatu divisi publikasi di dalam Perkumpulan Penginjilan Tiongkok. Nama divisi tersebut diubah menjadi Holy Word Press (Penerbit Kalam Kudus) pada bulan Juni 1962. Penerbit tersebut menerbitkan “Life Magazine” (Majalah Kehidupan), traktat-traktat Injil, buku-buku kecil penginjilan, dan buku-buku Kristen.

Pdt. Andrew Gih secara resmi pensiun di kantor pusat Perkumpulan Penginjilan Tiongkok (Chinese Evangelization Society) di Los Angeles, Amerika Serikat, pada bulan Oktober 1978. Ia sejak muda telah menderita penyakit TBC, berulang kali ia memuntahkan darah, namun Tuhan masih menyokongnya, menggunakannya secara luar biasa, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar melaluinya. Pada tanggal 30 Januari 1985 ia menjalani operasi untuk kanker paru-paru. Ia meninggal dalam damai pada tanggal 13 Februari pada usia 85 tahun. Sebuah kebaktian peringatan diadakan baginya pada tanggal 23 Februari di Forest Lawn, Glendale, California yang dihadiri oleh rekan sekerjanya, Pdt. Xiao Zhenxiang. khotbahdisampaikan oleh Lin Jinkang. Li Qirong menyanyikan sebuah solo “Kota Suci (Holy City)” untuk memperingati hidup pelayan Tuhan yang setia ini.

Suami istri Pdt. Andrew Gih tidak memiliki anak. Pdt. Andrew Gih kebanyakan berkhotbah dalam bahasa Tionghoa, walaupun ia juga dapat berkhotbah dan mengajar dalam bahasa Inggris. Selain sebuah otobiografi, “My Wonderful God” (Tuhanku yang Ajaib), ia menulis beberapa buku di dalam bahasa Inggris: “Launch Out into the Deep”, “Twice Born – and Then?”, “Into God’s Family”, dan “The Fire of Revivalism in Chinese”. (t/Kusumanegara)

http://www.bdcconline.net/en/stories/j/ji-zhiwen.php

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Biography, Missionaries. Bookmark the permalink.