Following Jesus Into the Storms


Oleh Everett Vander Horst

Matius 8:23-34

Sabtu Hitam merujuk pada beberapa peringatan kejadian yang berbeda sepanjang sejarah. Namun dalam beberapa komunitas negara ketiga di berbagai penjuru bumi, di mana suatu bentuk dari paham Katolik Roma sangat berpengaruh, hari ini adalah di antara Jumat Agung dan Minggu Paskah. Pada Sabtu Hitam, banyak orang tidak mau keluar rumah. Karena ini adalah satu hari dari sepanjang tahun, yang mereka percaya, bahwa Yesus mati saat itu.

Alasannya mengapa mereka tidak mau meninggalkan rumah adalah karena terlalu ber-risiko. Ada beberapa yang percaya bahwa siapapun yang meninggal pada Sabtu Hitam langsung pergi ke neraka, karena jika Kristus mati, Ia tidak dapat menyelamatkan para pendosa. Maka orang-orang tetap tinggal di rumah, tidak berani bepergian di jalan, mengendarai sepeda atau bus. Banyak orang bahkan tetap di ranjang, setelah semalam sebelumnya menyiapkan persediaan makanan di samping ranjang. Apapun bisa terjadi, dan mereka pikir saat itu berbahaya mempertaruhkan kekekalan mereka.

Tentu saja, praktek seperti itu terdengar begitu aneh bagi kebanyakan kita yang mengikuti Kristus. Kita tahu bahwa Yesus dibangkitkan dan berkemenangan. Ia tidak mati lagi dan lagi setiap tahun, saat Jumat Agung. Kristus hanya perlu dibangkitkan sekali dari kematian untuk secara terus menerus menyelamatkan semua orang percaya dari dosa. Tinggal tetap di ranjang sepanjang hari adalah bentuk menghindari bahaya yang tidak hanya sepenuhnya tidak diperlukan, tapi juga begitu menyedihkan. Para orang Kristen yang tersesatkan seperti itu melewatkan jauh lebih dari sekedar satu Sabtu setiap tahun. Mereka melewatkan rasa aman dari pengetahuan bahwa kekekalan mereka bersama Kristus sudah diamankan. Mereka melewatkan kenyamanan yang datang dari jaminan bahwa Ia terus menerus mengawasi dan menjaga kita. Dan juga mereka melewatkan kepenuhan dari sukacita yang adalah milik kita dalam Kristus.

Tetapi akan ada jalan di mana kebanyakan dari kita, yang sudah menganggap diri kita Kristen sejati, tetap tersesat keluar. Kita mungkin tidak mengurung diri pada Sabtu Paskah, tapi banyak orang Kristen yang melewatkan sukacita dan kepenuhan hidup yang Yesus Kristus telah menangkan untuk kita, sekarang, dengan hanya bermain aman dalam iman mereka.

Selagi anda mempertimbangkan hidup anda, pernahkah memikirkan bahwa anda bermain aman dalam hidup atau iman? Apakah anda melewatkan petualangan hebat dalam hidup yang lebih penuh dalam Kristus, menghindari berbagai kesempatan untuk membuat TUHAN tersenyum, mengubur talenta anda?

Kita dipanggil untuk mengikut Kristus – untuk mengajar apa yang Ia ajarkan, untuk pergi ke mana Ia pergi dan dengan begitu menjadi lebih serupa seperti Kristus. Tapi terlihat seperti apakah hal itu pada hari ini?

Pada bacaan Firman TUHAN hari ini, Yesus membawa murid-murid-Nya pada berbagai perairan yang berbahaya. Para murid bepergian dengan-Nya menyeberangi Laut Galilea, dan mereka menyaksikan alam ditaklukkan. Mereka bepergian ke sisi lain – itu saja sudah merupakan petualangan, bila ditilik bahwa mereka meninggalkan pesisir yang aman dari asalnya di Galilea untuk berlabuh di tanah asing milik orang tidak percaya. Bahkan sebelum mereka tiba, badai datang. Itu datang tiba-tiba, tanpa peringatan.

Sekarang, hal itu mengatakan sesuatu. Coba ingat, sebagian besar dari murid-murid ini adalah nelayan berpengalaman. Mereka sudah menghabiskan banyak siang dan malam pada perairan yang sama itu. Karena mereka tidak bisa bergantung pada radar Doppler atau laporan cuaca di radio, mereka harus tahu bagaimana membaca langit dan memperkirakan cuaca dengan kemampuan sendiri. Maka mereka sudah memantau kondisinya secara hati-hati, dan mereka tahu jalur berbahaya yang tidak hanya mempengaruhi kesuksesan mereka memancing, tapi juga dapat menyebabkan badai yang mengancam hidup.

Tapi Matius mengatakan pada kita bahwa badai ini mengejutkan mereka. Bagaimana? Petunjuk ditemukan pada kata yang diterjemahkan ‘storm’ (‘badai’) dalam versi alkitab Inggris (Indonesia). Matius menggunakan bahasa Yunani ‘seismos.’ Dari kata tersebut kita mendapat kata ‘seismic.’ Matius memberitahu bahwa sebuah gempa menghantam daerah itu, dan bahwa gelombang yang datang tiba-tiba menghantam kapal mereka adalah gelombang pasang, bukan disebabkan oleh cuaca. Itu menjelaskan kurangnya peringatan yang semakin mengagetkan para murid yang adalah nelayan berpengalaman. Matius mengatakan pada kita bahwa, hari itu di Laut Galilea, mereka menghadapi kondisi yang sangat mengganggu, sesuatu yang aneh dengan alam karena ada sesuatu yang tidak beres. Dan itu membuat mereka takut.

Maka para murid membangunkan Yesus. Mereka dalam kondisi panik. Kata-kata mereka keluar dalam sebuah staccato, satu per satu: TUHAN! Selamatkan! Terancam mati! Mereka harus berteriak, karena Yesus sedang tidur. Ya, Yesus tidur di tengah badai berbahaya yang tidak natural di laut! Di sini, tentu, kita melihat sisi kemanusiaannya nampak. TUHAN yang tidak pernah mengantuk atau tidur ternyata tertidur cukup pulas! Tapi ada sesuatu yang lebih, di mana saya akan ulas belakangan: Yesus sepenuhnya dalam kondisi tenang dan damai.

Bukankah ini sebuah ilustrasi hebat tentang seperti apa doa terasa pada suatu saat? Dalam kondisi bahaya, bahkan saat-saat keputusasaan, dapat terasa sepertinya kita mencoba membangunkan Allah yang tertidur?

Para murid menerima jawaban doa mereka. Yesus bangun. Ia memarahi mereka, karena iman mereka yang kecil. Ia menghardik angin dan gelombang-gelombang. Dan lautnya langsung tenang sepenuhnya. Para murid dipenuhi rasa takjub, dan sebuah pertanyaan yang muncul di sudut pikiran mereka menemukan jalan menuju bisikan di bibir mereka: Siapakah ini? Dan sebagai cara menjawab sebagian, Matius memberitahukan kita tentang kunjungan mereka ke sisi lain dari laut. Dari sini, fokus sepenuhnya pada Yesus – tidak ada disebutkan sama sekali tentang para murid di sisi lain. Sebaliknya, semua tentang bagaimana Yesus membebaskan mereka yang dirasuki kuasa-kuasa setan.

Anda lihat, tempat itu juga, seperti sebuah laut yang mendidih dari bawah, bukan tempat yang nyaman, tempat orang-orang religius berada. Pertama-tama, seperti saya sebutkan sebelumnya, ini adalah daerah asing. Ini adalah sisi lain – bukan Israel, bukan tanah perjanjian TUHAN. Matius memberitahukan kita ini adalah wilayah orang Gadara. Daerah orang tidak percaya. Hal ini dikonfirmasikan saat kita mendengar tentang sekumpulan ternak babi. Anda lihat, tidak banyak peternak babi Yahudi. Itu karena orang Yahudi diperintahkan menghindari binatang-binatang tertentu, sejumlah binatang yang dianggap ‘tidak bersih.’ Dan babi-babi ada di posisi teratas daftar tidak bersih.

Di sini Yesus juga menghadapi dua pria yang dirasuki setan. Mereka hidup di kuburan, di antara kuburan-kuburan; tempat yang misterius, di berbagai pemahaman dianggap sebagai kerajaan jahat. Dua pria ini juga begitu kacau kelakuannya, begitu kejam hingga orang-orang tidak bisa lewat sana hari itu. Dan itu mungkin masalah yang lebih besar dari yang pertama mungkin kita pikirkan. Bukan sekedar kejam, hingga saat mereka perlu menguburkan saudara mereka, mereka harus menggunakan sisi yang sangat berjauhan dari kuburan tersebut. Dalam tata kota Greco-Roman saat itu, kuburan-kuburan diletakkan pada jalan utama masuk ke kota, pada salah satu sisi dari jalan tersebut. Area ini yang terdiri dari kuburan keluarga yang besar dan monumen-monumen disebut sebagai ‘necropolis’ – kota orang-orang mati. Oleh karena itu, jika dua orang ini menyerang para orang yang lewat, ini berarti bahwa jalan masuk ke kota itu jadi tertutup. Dan sekarang dua pria yang berbahaya ini keluar, mencari Yesus – merekalah yang mendekati Ia. Sekali lagi, para murid sadar mereka mengikuti Yesus ke daerah berbahaya.

Dua orang ini mendapatkan teriakan mereka dihadapi dengan ketenangan. Mereka berteriak pada Yesus, “Apa yang kau kehendaki pada kami? Apakah Kau datang untuk menyiksa kami?” Tapi tidak ada jawaban. Yesus tidak merespon. Ia merasa tidak ada kewajiban untuk menjawab setan, terlepas dari kekuatan mereka yang mengancam. Frustrasi setelah didiamkan Yesus, para setan di dalam mereka akhirnya memohon.

Dan akhirnya Yesus berkata – pergi! Hanya satu kata, perintah sederhana. Itu penting. Tidak perlu upacara dilakukan hanya untuk menarik perhatian yang melihat. Tidak perlu bahasa misterius aneh diucapkan; tidak ada mantera magis. Hanya satu kata dari Yesus – pergi!

Tentu saja, para setan pergi, seperti kita tahu, juga babi-babi itu. Mereka lari menuju bukit dan kemudian ke dalam laut, hingga mati. Dan karena Matius menaruh banyak sekali penekanan pada Yesus di sini, pada kuasa yang Ia gunakan, apa yang Ia lakukan, kita perlu mencari dari penulis Injil yang lain, dari Markus dan Lukas, bahwa iya, kedua orang kerasukan itu baik. Merka telah disembuhkan.

Tapi respon orang-orang lokal pada Yesus adalah ketakutan. Para penduduk dari kota-kota terdekat tidak terkesan dan bersyukur bahwa kedua orang ini telah disembuhkan, atau bahkan bahwa ancaman pemukulan saat masuk kota telah disingkirkan. Tidak ada sambutan selamat datang, tidak perayaan. Malah Yesus dimohon untuk pergi. Sekali lagi, kata-kata yang digunakan Matius penting. Ia menggambarkan permintaan terucap orang-orang seperti saat Yesus dimohon oleh para setan.

Itu karena para penduduk sudah menderita kerugian ekonomis. Dari kita injil lain, kita mempelajari bahwa ternaknya berkisar 2000 ekor babi. Mereka merasa mereka tidak bisa membiarkan Yesus ada di sekitar sana. Telah ditunjukkan bahwa ini bukan merupakan saat terakhir orang-orang menemui Yesus dan memalingkan muka mereka dari-Nya dan lebih memilih babi-babi. Mereka takut – mereka melihat Yesus sebagai penyihir berbahaya. Apalagi yang mungkin Ia lakukan? Mereka memohon pada-Nya, ‘Kami mohon, tolong pergi.’

Dalam kekontrasan, Yesus tidak takut. Ia tidak takut badai, dan tidak takut pada orang-orang yang dirasuki setan. Kenapa? Kenapa Ia bisa tidur di kapal dan tetap berjalan menuju dua orang yang dirasuki setan? Karena Ia memiliki kepercayaan kekal surgawi, yang datang dari kuasa, yang berakar pada hubungan-Nya dengan Bapa-Nya.

Dan tidak seperti Yesus, para murid ketakutan – mereka lebih mirip para penduduk yang tidak percaya dari tanah asing dibanding dengan rabi luar biasa yang mereka akui untuk ikuti. Dan di sini terletak pelajaran untuk mengikut dalam iman. Ingat tangisan para murid: “Selamatkan kami!” Ini penting saat mengikut-Nya. Jika anda tersesat dan tenggelam, jika anda takut akan masa depan maka bergabunglah dengan banyak contoh dalam Injil dan berjuta-juta yang telah datang pada Yesus, berteriak, “Selamatkan kami!” Tangisan itu merupakan langkah pertama dalam jalan pemuridan.

Tapi bagaimana saat anda telah memulai perjalanan itu, apa aturan dalam jalan itu? Kita perlu tahu bahwa ada dua jalan yang perlu diikuti: ke mana kita pergi, dan apa yang kita lakukan. Pikirkan sebagai ilustrasi dalam dua permainan anak (kebudayaan Amerika Serikat): Follow the Leader, dan Simons Says.

Dalam Follow the Leader, sebuah barisan panjang anak-anak mengikuti jalan pemimpinnya saat ia menempuh perjalanan – mereka mengelilingi pohon ketika ia menempuh itu, mereka melompati sungai ketika ia menempuh itu, mereka berjalan di atas kursi taman ketika ia menempuh itu. Mereka pergi ke mana ia pergi. Namun ada juga permainan mengikut bernama Simon says. Dalam permainan itu, anak-anak mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya dengan menyentuh hidung, menggosok perut mereka atau melompat dengan satu kaki saat pemimpinnya melakukan hal tersebut.

Sebagai murid-murid, seperti dalam bacaan Alkitab, kita bisa baik mengikuti seperti Follow the Leader, tapi tidak seperti Simon says. Kita bisa pergi ke mana Yesus pergi, tapi tidak bisa bertindak seperti tindakan-Nya. Kita ikut, tapi sering tertinggal di belakang, karena ketakutan. Kita melihat diri kita sendiri dalam apa yang dilakukan para murid, dan apa yang tidak mau mereka lakukan. Sungguh, melihat 12 yang terkungkung dalam ketakutan di kapal di atas laut, seperti melihat para Kristen yang terungkap, borok dan semuanya. Kita tahu seringkali, saat dalam bahaya, kita seperti orang-orang lain: lemah, ketakutan secara pengecut. Saat-saat kesulitan, orang-orang percaya perlu pertolongan tidak kurang dari para orang tidak percaya.

Setelah mendengar teriakan tangis mereka, kita tahu bahwa respon pertama Yesus adalah: marah! Ia tidak terkesan, tidak terkesan sama sekali. Menghardik pengikutnya adalah hal pertama yang Ia lakukan saat bangun, bahkan sebelum Ia berdiri! “Ia menjawab, ‘Kau dengan iman kecil, kenapa kau begitu takut?’ Kemudian Ia bangun berdiri dan menghardik angin dan gelombang-gelombang.” Dia hampir seperti seorang ayah galak, terbangun di malam hari oleh anak di sisi ranjang yang mau meminum air. “Oh ya? Sayang, ini jam 3 pagi!” Tapi kemudian ia berdiri dan mengisi segelas dengan air.

Mungkin para murid terkejut pada kata-kata keras Kristus pada mereka. Apa yang seharusnya mereka lakukan, tenggelam? Kalau begitu, jika menjadi seorang murid berarti mengikuti apa yg Yesus lakukan, mungkin mereka seharusnya juga tidur! Peneliti Alkitab Frederick Bruner menulis, “Kadang Yesus lebih terkesan oleh tidur dengan keyakinan penuh dibanding doa dengan ketakutan.”

Maka lihat di ayat-ayat ini kita menemukan sebuah kata mengenai iman. Iman dan keberanian terkait dekat. Iman lebih dari sekedar menerima, memutuskan anda setuju. Iman adalah keberanian. Para murid menunjukkan keberanian sepanjang kitab Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul. Lagi dan lagi dalam sejarah awal gereja, kita melihat pengikut Yesus Kristus dengan berani berkata-kata tentang Yesus pada kerumunan orang yang menentang, atau menceritakan kasih dan anugerah-Nya ketika di penjara. Keberanian ini terkait langsung pada iman mereka. Mengagumkan, bahkan tindakan-tindakan berbahaya berhasil dilakukan karena mereka sudah diubah secara hebat. Dan kebalikannya juga benar – kekurangan iman adalah bentuk kepengecutan.

Mari saya beritahu anda mengenai James. Ketika saya pertama bertemu James, saya terintimidasi. Ia adalah seorang Afrika warga-negara Amerika yang saya temui melalui seorang teman yang kami sama-sama kenal. Saya terintimidasi oleh caranya berpakaian, yang mengingatkan saya pada anggota gang kota. Dan ia pernah memiliki sejarah kekerasan yang mengirimkan ia menjalani beberapa tahun di penjara. Saya tidak terlalu tertarik dalam mengenal ia lebih baik. Sungguh, saya ketakutan, takut akan keamanan saya, tapi juga kenyamanan, kenyamanan hidup saya.

Tapi TUHAN, dengan Roh-Nya, terus mendorong dan mengarahkan saya, untuk lebih mengenal James. Roh Kudus memimpin, dan saya mengikuti, bahkan setelah James sekali lagi berbuat kejahatan dan kembali dipenjara. Dalam mengikuti Yesus lah saya masuk dalam situasi yang menakutkan, di mana saya menemukan berkat mengetahui saya sedang melakukan penginjilan yang Ia panggil saya untuk lakukan. James sekarang temanku. Saya mengunjunginya melalui bulan-bulan tinggalnya di penjara. Dan sekarang ia telah keluar, ia dan saya melanjutkan pembicaraan kami bersama dengan kopi, ketika ia menyambung kembali hidupnya sebagai sesama seorang pengikut Yesus Kristus.

Mengikuti Yesus sering membawa kita pada tempat-tempat mengerikan, di mana kita hanya bisa menaruh kepercayaan pada-Nya. Hal ini benar saat menemui orang-orang miskin, orang kesepian, dan diasingkan di tempatnya mereka. Tapi ini juga benar saat kita membuka diri untuk membicarakan kebutuhan spiritual teman yang terhilang, rekan kerja, tetangga atau anggota keluarga, melintasi garis tak tampak dari pembicaraan soal cuaca dan pertandingan di televisi malam yang lalu hingga masuk pembicaraan spiritual, atau sebuah panggilan untuk hidup pada standar yang lebih sulit. Itu juga bisa jadi sangat mengerikan bagi kita. Namun hidup di jalan di mana TUHAN memanggil kita untuk hidup, telah memiliki penghargaan tersendiri.

Sebuah contoh untuk hal ini adalah Sam Chapman, penemu dari Empower Public Relations di Chicago, Illinois. Dia telah melarang gosip di kantornya. Dua tahun sebelumnya, Chapman meninggalkan sebuah perusahaan yang lebih besar di mana gosip saling menjatuhkan di dalam lingkungan kantor sudah epidemic dan menghancurkan baik karir maupun moral. Sekarang ia yang menentukan, dan salah satu peraturan utamanya adalah jika seseorang perlu mengatakan sesuatu kepada atau tentang rekan kerja, ia perlu mengatakannya langsung pada orangnya.

Hukuman jika peraturan ini dilanggar adalah keras. “Jika kau terlibat pada gosip,” kata Chapman, “kau dipecat.”

Walau menahan kata-kata pembicaraan yang menyebabkan gosip sulit pada awalnya, kebanyakan pegawai Empower menghargai suasana yang diciptakan oleh kejujuran. Jika mereka ingin menyalurkan, mereka perlu melakukannya pada hal lain. “Jika saya masih memiliki masalah tak terselesaikan pada penghujung hari,” kata Jayne Spottswood eksekutif Empower, “Saya menyimpan dramanya untuk mama saya.”

Menghidupi iman anda dengan keberanian juga bisa membawa anda pada pembicaraan spiritual yang lebih pribadi. Mungkin saja saudara laki-laki atau perempuan anda memerlukan nasihat/kritik mengenai pola minum-minum mereka, kritikan dan nasihat yang berdasarkan iman anda. Mungkin saja salah satu orang dari tim anda siap untuk diundang bergabung dengan anda di gereja akhir pecan ini. Mungkin saja rekan yang di tengah perceraian sedang membutuhkan mendengar kabar baik tentang TUHAN yang mengampuni semua dosa, termasuk perselingkuhan.

Yesus terlalu mengasihi kita untuk hanya duduk dan melihat kita terlewat, dengan hanya bermain aman dengan iman kita. Anda lihat, Yesus punya response pertama dan kedua pada murid-Nya yang berteriak minta tolong. Itu betul, Ia tidak terkesan dengan kurangnya iman mereka. Tapi beginilah dinyatakan Frederick Bruner tentang itu:

“… hal utamanya adalah bahkan ketika iman kita sangat penuh ketakutan, sangat pengecut, lemah dan pantas dimarahi, Yesus mendengar tangisan kita, bangkit, menghardik angin dan laut, dan menciptakan ketenangan luar biasa. Ia menerima kita saat kita datang; dan jika kita datang hampir tanpa iman sekalipun, Ia tidak dapat berpura-pura tersanjung, tapi Dia akan segera bekerja. Yang sungguh-sungguh penting pada analisis akhirnya adalah Yesus menolong kita bagaimanapun kita datang pada-Nya, bahkan dengan iman kecil pun.”

Yesus menemui kita pada kondisi kita apa adanya. Mari kita lakukan yang sama pada sesama. Mari kita mengikuti Ia ke mana Ia menuntun kita, ke dalam daerah asing, yang bahkan kadang menakutkan, percaya bahwa Ia tahu, bukan hanya yang terbaik untuk kita, tapi juga yang terbaik bagi kerajaan-Nya.

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Devotional. Bookmark the permalink.