Pacar TIDAK SEIMAN


Tanya:

Saya sedang berpacaran dengan seorang pemuda yang tidak seiman. Hubungan kami sudah cukup serius selama 3 tahun ini.

Jawab:

SANTY, saya memahami bahwa hubungan dengan pacar tentu penting bagi kamu. Pacaran tiga tahun bukan waktu yang pendek. Kita sudah mengenal baik pasangan dan mulai menggumuli apakah hubungan itu akan diteruskan ke pernikahan atau tidak.

Saya percaya Santy sudah mengetahui prinsip Firman Tuhan mengenai ”mencari teman hidup yang seiman.” Meskipun demikian ijinkan saya untuk memberi beberapa masukan sebagai berikut:

1) Meminta pimpinan Tuhan di dalam hal berpacaran merupakan sikap bijaksana. Tuhan akan memberi kita kemampuan untuk dapat membeda-kan mana hal yang primer dan sekunder. Hal primer adalah prinsip Firman Tuhan yang mengajarkan bahwa pasangan mempunyai iman yang sama. Sedangkan hal sekunder, misalnya kepandaian, penampilan fisik, dan lain-lain.

2) Mengapa Tuhan mengajarkan prinsip seiman karena berkaitan dengan tujuan pernikahan itu sendiri. Yakub B. Susabda (konselor Kristen) di dalam bukunya Pastoral Konseling jilid 1 menjelaskan bahwa pernikahan Kristen mempunyai tujuan yang agung, yaitu:

(a) untuk merasakan kasih Tuhan karena itu adalah syarat utama untuk dapat melayani Allah dan sesama dengan motivasi yang benar (Yoh 21:15-17). Hanya pasangan seiman yang bisa menghayati kasih agape dalam hidup mereka.

(b) untuk mengerjakan misi Allah di bumi, yaitu melahirkan anak-anak Allah, menaklukkan dan mengerjakan bumi. Jadi ketika kita menikah sebenarnya kita juga menjadi rekan sekerja Allah untuk mengerjakan hal-hal di bumi. Tugas-tugas itu hanya dapat dilakukan dengan efektif di dalam pernikahan orang-orang yang seiman dan yang mau hidup dipimpin Roh Kudus.

Apakah hal ini kedengarannya terlalu ideal dan tidak membumi? Sebenarnya tidak, tetapi jatuhnya manusia dalam dosa menyebabkan Firman Tuhan itu kedengarannya mustahil. Selain itu, ketika Allah memberi perintah sekaligus Dia memberi kita kekuatan untuk dapat melakukannya.

3) Pendapat saya mengenai kesaksian dari orang yang menikah dengan pasangan tidak seiman dan kehidupan mereka berjalan dengan baik adalah: hal itu semata-mata merupakan kemurahan Allah, tetapi tidak berarti meniadakan prinsip di II Korintus 6:14, ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagai-manakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Di tengah-tengah kesalahan anak-anak-Nya, Allah menunjukkan kemurahan-Nya sehingga hal itu tidak membawa kehancuran dalam hidup orang tersebut. Tetapi sebaliknya, banyak pernikahan seagama yang tidak harmonis dan berantakan. Saya pun pernah melihat orang yang tidak percaya kemudian menjadi percaya setelah menikah beberapa tahun dengan orang percaya. Meskipun demikian, pengalaman hidup seseorang tidak boleh menjadi landasan untuk kita mengambil keputusan yang penting itu. Ketaatan pada Tuhanlah landasannya, lagipula belum tentu hal yang sama terjadi pada kita. Jadi jika hal itu diterapkan yang terjadi adalah kita mengambil keputusan berda-sarkan prinsip ’gambling’ (atau seperti judi).

4) Saya tidak begitu jelas apa yang Santy maksud dengan ’ingin mengikuti saya’? Apa maksudnya ingin percaya pada Kristus? Menurut saya, ada baiknya Santy mencari waktu berbicara dengan pacar Santy tentang hal ini secara jujur dan terbuka. Sikapnya yang mau mengikuti kegiatan gereja adalah hal yang baik. Namun Santy juga boleh bertanya hal-hal seperti: apakah motivasinya mengikuti kegiatan gereja benar-benar dari hati yang percaya dan mengasihi Tuhan Yesus? Apakah dia sungguh-sungguh mau hidup dipimpin Roh Kudus? Apakah dia mulai belajar menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam hidupnya, meskipun jatuh bangun? Jika ternyata tidak jadi menikah dengan Santy, apakah dia mau tetap setia mengikut Tuhan Yesus? (tentunya hal ini disampaikan dengan sikap dialog dan dalam suasana menyenangkan sehingga tidak terkesan diinterogasi). Jika ia pun sungguh-sungguh mencari pimpinan Tuhan, ia akan bersedia membicarakan hal-hal tersebut.

Santy, demikian masukan dari saya. Untuk memutuskan apakah hubungan ini akan diteruskan ke pernikahan atau tidak, tentunya akan menjadi pergumulan Santy bersama dengan Tuhan Yesus. Carilah waktu khusus dan berbicaralah pada Tuhan dengan hati yang terbuka dan jujur. Saya percaya Tuhan Yesus yang mengasihi Santy akan memberi pimpinan-Nya sehingga Santy bisa mengambil keputusan yang dewasa dan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada-Nya.

Esther Gunawan, M.K.