Revolusi Ibadah dan Musik Gereja


Oleh: Pdt. Alex Lim

Hazrat Inayat Khan dalam bukunya, “Dimensi Mistik Musik dan Bunyi” mengangkat pandangan para pemikir Timur, bahwa ada empat perkara yang memabukkan. Pertama, mabuk kecantikan, masa muda dan kekuatan. Kedua, mabuk kekayaan. Ketiga, mabuk kekuasaan, kewenangan, dan perintah. Dan yang keempat, mabuk pengetahuan, belajar mengejar ilmu setinggi mungkin. Tetapi, keempat hal yang memabukkan ini musnah seperti bintang di hadapan matahari karena adanya mabuk musik. Alasannya, karena musik menyentuh bagian terdalam dari diri manusia.

Untuk membuktikan hal itu, diangkatnya kisah syair Hafiz dari Persia, bahwa, ketika Tuhan menciptakan tubuh, lalu roh diminta untuk masuk ke dalam tubuhnya, tetapi roh orang itu menolak. Maka Tuhan memerintahkan para malaikat menyanyi, dan ketika mendengarkan para malaikat menyanyi, roh masuk ke dalam tubuh yang ia takutkan menjadi sebuah penjara. Hal ini menunjukkan, roh manusia gampang diperdaya oleh musik. Sama halnya dengan Confusius (551-479 BC) menghubungkan musik dengan hati manusia dan dunia kekal. Demikian juga Plato (427-347 BC) menekankan pentingnya pendidikan melalui musik, karena “Irama dan harmoni meresapi jiwa manusia secara kuat.”

Konon hal ini bukan rahasia lagi, para ahli kebatinan dari berbagai aliran dan zaman paling menyukai musik, sebab musik dianggap sebagai suatu kekuatan dan bahkan menjadi pusat kultus atau upacara ritual mereka. Karena itulah para Sufi menganggap musik sebagai sumber meditasi. Kaitan musik dengan dunia rohani bukanlah suatu hal yang baru, juga bukan hanya dimonopoli oleh orang Kristen. Jika demikian, dimana letak perbedaan musik gereja, musik dunia dan musik kepercayaan-kepercayaan agama lainnya?

Reformasi atau Degradasi?

Dalam Ef. 5:18 Paulus mengingatkan, jangan mabuk anggur! Sebab orang yang mabuk tidak sadar dengan apa yang ia katakan maupun perbuat, tidak ada arah dan tidak ada maknanya. Fenomena semacam ini “bisa terjadi” dalam menjalankan ‘role’ musik gereja, dimana fungsi itu tidak berfokus lagi sesuai panggilan gereja menjadi terang dan garam dunia. Pada dasarnya, Gereja menghendaki ada pembaruan ibadah dan musik gereja. Namun apa standar “pembaruan” itu, masing-masing berjuang dan menentukan jalannya sendiri. Anehnya, konsep pembaruan itu disamakan atau identik dengan penggunaan IPTEK yang canggih, dengan mengesampingkan nilai-nilai tradisi yang alkitabiah yang diperjuangkan oleh bapak-bapak gereja pendahulu, baik nilai musiknya maupun makna liturginya. Perubahan secara arsitektur, akustik, aestetik, dan simbol-simbol rohani diabaikan begitu saja. Misalnya, gedung kebaktian tidak perlu dalam bentuk gereja yang tradisionil, tapi lebih tampak moderen dengan menggunakan segala ruangan, bisa di ruko, hotel, restoran dan gedung-gedung lainnya. Salib boleh ada boleh tidak, ruangan kebaktian ditata sengaja tidak menonjolkan nuansa rohani, seduniawi mungkin, agar tampak netral.

Fenomena ini seperti menjadi ‘trendy’ orang-orang Kristen. Alat-alat musik band dianggap pembawa berkah dan menjamin ibadah yang bisa menarik banyak orang, di banding dengan yang tradisionil, kurang diminati. Organ, piano dan nyanyian himne dianggap penghambat ibadah. Apakah ini yang dimaksudkan ‘pembaruan’ musik gereja dan ibadah? Atau, sebaliknya terjadi ‘degradasi’ nila-nilai kristiani yang luhur. Apakah pembaruan harus diartikan dengan mengesampingkan bentuk-bentuk tradisionil, tanpa memperhatikan nilai rohaninya, segala cara dihalalkan, tanpa menjaga aspek kekudusan? John Mac Arthur, dalam bukunya, “Prioritas Utama dalam Penyembahan” mengatakan, “Untuk berada di hadirat Allah seseorang harus kudus.” Karena, “Kekudusan-Nya adalah mahkota dari semua sifat-Nya yang menunjukkan siapa Dia.” Pembaruan harusnya berpijak pada konsep kekudusan Allah, dengan demikian gereja tidak sembarang menyelenggarakan ibadah atau bermusik seenaknya. Sebab Allah sendiri menghendaki umatNya bersikap demikian, ” Berilah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan!” (Mzm. 29:2). Aspek ini bukan pilihan, namun tuntutan mutlak dari Allah, baik ibadah ala tradisionil maupun moderen. Ada yang mencari alternatif ‘bijak’ dengan menggunakan istilah Blended Worship yaitu, gabungan antara bentuk tradisionil dan modern. Kedenganrannya cukup memuaskan kedua belah pihak. Namun ada baiknya, falsafah musik gereja diluruskan terlebih dahulu, cara dan bentuk atau alat bisa disesuaikan kebutuhan. Adalah keliru jika asal menyenangkan si penyembah, tanpa menghiraukan yang disembah.

Falsafah yang benar adalah mengutamakan Allah sebagai objek ibadah, dengan demikian cara dan bentuk disesuaikan dengan apa yang diperkenan oleh Allah. Inilah yang membedakan musik gereja dengan penggunaan musik pada agama-agama lain. Sama-sama menggunakan musik sebagai sarana, tapi teologisnya berbeda, yaitu kita bermazmur dan menyanyi untuk kemuliaan Tuhan (Mzm. 96:4), sedangkan kepercayaan lainnya bukan untuk kemuliaan tuhan/dewanya, tapi hanya sebagai sarana. Karena itu Agustinus (354-430) berkata, “that hymns are praises to God with singing.” Martin Luther (1483-1546) pada masa Reformasi menegaskan, “Music is a gift of God, not a gift of men. After theology I accord to music the highest place and greatest honour.” Demikian juga Johann Sebastian Bach (1685-1750) telah memberikan sumbangsih yang besar dalam musik gereja. Beliau selalu membubuhkan kata-kata yang sangat mulia, “Soli Deo Gloria” hanya untuk kemuliaan Allah pada komposisinya. Kesannya sangat alkitabiah, tidak berbau komersial atau mencari popularitas diri. Unsur mencari kemuliaan diri atau menyenangkan manusiawi-manusiawi tidak tampak, Allah lebih diutamakan.

Apa yang perlu diperbaharui dalam gereja? Mulai dari esensi ibadah itu sendiri serta peran musik gereja yang tak terfokus. Barangkali orang-orang penting di gereja perlu ‘tuning’ sejenak tentang konsep bergereja bahwa, bergereja tidak identik dengan perusahaan atau perkumpulan sosial. Kendati gereja juga berorganisasi dan melayani manusianya, namun hakekat Allah dan kehendak Allah harus diutamakan. Seperti kata pemazmur, “Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataranNya! Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapanNya, hai segenap bumi!” (Mzm. 96:7-9).

Bobot ibadah bukan terletak pada fenomena fisik tapi dimensi nuansa rohani dan nilai kekudusan sesuai permintaan Allah pada umatNya, bukan semaraknya atau ramainya. Apa yang menjadi ukuran pembaruan kita? Sarana dan cara? Itu hal yang sekunder. Pembaruan harus dimulai dari inward-nya bukan outward-nya (Yoh. 4:24).

Revolusi atau Polusi?

Non liturgi, tepuk tangan, suasana-hura-hura, dan disertai dengan alat musik electron bahkan dilengkapi digital system, membuat suasana kebaktian benar-benar panas dan ramai. Salah satu gereja terkenal di Amerika, dilengkapi lampu sorot sebanyak ratusan buah. Bayangkan gemerlapan ruangan kebaktian, bagaiamana tidak menyenangkan? Karena yang datang merasa tidak ada bedanya pergi ke ‘night club’ mereka bisa mendapat kesenangan yang sama yang disajikan di luar gereja. Mungkin ini adalah falsafah pemimpin gereja tersebut. Mereka tidak bicara benar tidaknya suatu kenenaran, tidak peduli baik buruknya. Yang penting dapat menarik banyak orang datang. Seolah-olah human effort better than spirtual effort. Physical movement more than spiritual movement. Perkataan C. Kirk Hadaway dan David A. Roozen perlu ditanggapi dengan serius, “We should be less concerned about making churches full of people and more concerned about making people full of God.” Satu segi gereja takut takut hampa manusia, di lain pihak mengabaikan prinsip yang dasar.

Dilema demi dilema berjalan sambil menggeser esensi ibadah yang menyimpang kehendak Allah. Karena itu kata Sally Morgenthaler penulis buku Worship Evangelical, “Not surprisingly, many evangelical pastors and worship leaders have been doing just that, tossing out their old worship models to make room for this year’s trend.” Memang kesan “entertainment” sangat kental sekali, dari ornamen-ornamen atau ikon-ikon non rohani tampak menonjol berkilauan seperti lampu sorot (spotlight), laser system, dan perlengkapan sound yang tak sedikit biayanya. Sedangkan simbol rohani seperti salib, atau bentuk architecture bernuansa rohani pun tak diperlukan lagi. Apakah ini yang dimaksud revolusi, atau polusi sebaliknya?

Sikap Gereja

Bagaimana sikap pemimpin gereja terhadap perubahan ini? “Trend” yang berlangsung tidak semua bisa dijadikan patokan atau strategi bergereja. Apabila gereja ‘membabi buta’ mengikuti “trend” yang berkembang tanpa diseleksi dan melihat bahayanya, gereja semakin mirip perkumpulan dunia, persekutuan orang-orang kudus. Pemahaman bergereja perlu ditata ulang, konsep ibadah yang alkitabiah, dan filosofi musik gereja perlu mendapat porsi yang tepat dan benar. Khususnya, tentang arti ibadah kian kabur, lebih cenderung toleransi pada selera manusia ketimbang Allah. Seharusnya Allah diutamakan, namun kebutuhan manusia tidak diabaikan.

Secara terminologi dalam istilah German “Gottesdienst” berarti “God’ service (to us) and our service to God.” Istilah Perancis “le culte” dan Itali “il culto” keduanya menunjuk “persekutuan abadi, memberi dan menerima.” Allah diagungkan manusia diberkati, intinya itu. Menurut Gerrit Gustafson, “Worship is the act and attitude of wholeheartedly giving ourselves to God, spirit, soul and body.” Singkatnya ibadah adalah penyataan hormat dan kasih kita kepada Allah dilakukan dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24), disertai dengan penyerahan atau pemberian yang kudus dan hidup (Roma 12:1). Jika dinilai dari sini valuenya, kualitas lebih diutamakan dari kuantitasnya, namun kenyataanya lebih menekankan kuantitas daripada kualitasnya. Paradigma bergereja apabila sudah betul, yang lain bisa ditata sebagaimana mestinya.

Selama ini bagaimana Anda menjalankan roda pertumbuhan gereja, baik dalam hal ibadah maupun fungsi musik gereja?