Gereja Beraliran Teologi Reformed & Bagaimana Jadinya Jika Kita Menolak Iman Reformed?


See also:

5 Myths about Reformed Theology

Pride and The Reformed Churches

Ditulis oleh: Cheah Fook Meng

MENGAPA KAMI MENJADI JEMAAT REFORMED?

Gereja dan teologi Reformed tidak populer untuk banyak orang. Kalau mau jujur, kalau saya bercita-cita ingin membangun gereja yang nantinya akan dipenuhi dengan pengunjung, maka saya tidak akan membangun gereja Reformed. Gereja-gereja kontemporer dengan musik pop dan nada musik yang keras serta panggung/mimbar yang ditata dengan apik, lebih populer. Gereja-gereja yang sangat menekankan pemuridan (red: sel group), sedang digemari pada era milenium ini. Gereja-gereja yang memfokuskan diri pada kebutuhan manusia juga memiliki banyak jemaat. Namun, posisi gereja Reformed tidak terlalu baik dalam popularitas kekristenan.

Citra umum gereja Reformed adalah bahwa gereja ini membosankan dan banyak batasannya. Gaya penyembahannya yang kuno tidak relevan dengan budaya modern berteknologi tinggi. Jemaatnya berpenampilan terlalu tenang karena penekanannya pada kerusakan moral; hidup mereka nampak pasif karena ajaran predestinasi. Dan lagi, usaha penginjilannya tidak menarik untuk zaman sekarang. Namun meski kurang populer, kami tetap ingin menjadi jemaat Reformed. Mengapa?

Pertama, menjadi jemaat Reformed bukanlah pilihan, namun pendirian. Menjadi jemaat Reformed berarti menjadi alkitabiah. Semua doktrin iman Reformed — predestinasi, kerusakan moral total, penebusan dosa yang absolut, anugerah yang luar biasa, dan ketekunan orang percaya –merupakan kebenaran yang ada dalam Injil. Meskipun istilah-istilah yang kami gunakan untuk menyimpulkan iman Reformed, tercipta dari panasnya debat teologi, namun kebenarannya berakar dalam pada pengajaran Alkitab. Seperti yang dikatakan sang pengkhotbah, Charles Spurgeon, “menjadi Calvinis berarti menjadi alkitabiah”.

Kedua, menjadi Reformed berarti menjadi apostolik. Kami tidak percaya pada rangkaian apostolik seperti agama Katolik Roma memercayainya. Mereka percaya pada rangkaian jasa para santo. Namun, kami percaya pada rangkaian doktrin orang kudus. Iman Reformed bukanlah suatu ajaran baru. Iman Reformed muncul pada era Reformasi abad ke-16. Meskipun namanya diambil dari kata Reformasi, doktrin iman Reformed diajarkan oleh Agustinus bahkan sebelum Martin Luther melontarkan 95 tesisnya. Iman Reformed dan penekanannya pada kedaulatan anugerah Allah, bersumber pada wahyu Injil.

Ketiga, iman Reformed memuliakan Allah. Gereja superbesar (megachurch) pada zaman sekarang menyembah Allah dengan musik kontemporer dan aksi panggung yang terus berkembang. Gereja Reformed memuliakan Allah dengan pengagungannya yang dalam pada kedaulatan dan kekudusan Allah. Allah berdaulat atas karya penciptaan dan pemeliharaan. Kedaulatan Allah adalah sebuah kebenaran yang sangat diakui oleh iman Reformed. Namun iman Reformed mengatakan lebih dari itu. Karena saat kami mengakui bahwa Allah berdaulat atas karya penebusan, kami mengatakan bahwa keselamatan adalah murni karena anugerah. Kami tidak mulai bertobat dengan sendirinya. Allah mengubahkan kami oleh anugerah-Nya. Dengan kuasa-Nya, Ia membuat kami berkehendak untuk berubah. Respons iman adalah sebuah anugerah yang Allah kerjakan dalam hati orang-orang pilihan-Nya. Hal ini bertentangan dengan teologi populer. Dalam banyak presentasi Injil, karya keselamatan dinyatakan sebagai sebuah kerja sama. Allah mengerjakan 50% dalam anugerah-Nya dan menunggu tak berdaya untuk manusia mengerjakan 50% sisanya dalam kehendak bebasnya. Charles Spurgeon pernah mengatakan bahwa jika ada satu persen kehendak manusia dalam selubung kebenaran-Nya, ia akan selamanya tersesat.

Keempat, iman Reformed memberikan jaminan sejati bagi gereja dan jemaatnya dalam masa pencobaan dan krisis. Iman Reformed bukanlah sebuah doktrin teoritis alternatif. Iman Reformed merupakan teologi dengan kebenaran yang secara praktis sangat berkuasa. Saat seorang anak Allah mengalami pencobaan hebat, ia memandang pada kasih pemeliharaan Allah dan mengakui bahwa Allah berkuasa atas segalanya. Ia mengakui bahwa Allah berkuasa memberikan kelepasan. Lebih daripada mengharapkan datangnya kelepasan, orang itu akan berpegang pada imannya yang percaya bahwa Allah sanggup membawa kebaikan bahkan, dalam situasi yang paling buruk sekalipun.

Orang Reformed tidak pernah putus asa. Bandingkan iman sederhana ini dengan pengakuan arogan beberapa pendoa kesembuhan. Mereka mengatakan kepada kita bahwa Allah ingin menyembuhkan penyakit kita. Dan saat kesembuhan tidak terjadi, kesalahan ditimpakan kepada orang percaya dengan alasan bahwa ia tidak cukup beriman untuk dapat sembuh. Namun, orang Kristen Reformed lebih dewasa dalam pandangannya. Pertama-tama, ia menginginkan kesembuhan jiwa. Saat ia memohon kesembuhan fisik, ia tahu bahwa Allah mungkin akan mengabulkannya, tapi mungkin juga tidak, sesuai dengan kedaulatan tujuan-Nya. Dan saat kesembuhan tidak juga datang, itu bukan karena ia kurang beriman, namun karena Allah ingin ia percaya bahwa Ia sanggup memberikan kebaikan, bahkan dalam hal buruk sekalipun. Orang Kristen Reformed mensyukuri kekayaan dan kebahagiaan, tapi juga dalam penderitaan. Ia tahu bahwa Allah berkuasa atas dua hal ekstrim yang ada dalam kehidupan itu.

Kelima, iman Reformed selalu memperbaiki. Iman Reformed tidak pernah mandek (stagnan). Meski mengakui iman yang sudah kuno, namun iman ini selalu bekerja keras memahami lebih banyak kebenara-Nya dari firman Tuhan. Kita tidak akan pernah dapat memahami segalanya tentang Allah. Meski Allah dapat dikenali, Ia juga tidak terpahami. Pengetahuan kita akan Allah akan semakin dalam, khususnya pada saat-saat Ia mencobai kita dengan kesulitan-kesulitan. Dari pencobaan-pencobaan itulah kami biasanya melihat lebih banyak keindahan dan kemuliaan-Nya. Iman Reformed tidak berkembang dari perenungan di tempat tinggi dengan suasana yang tenang. Kebenaran iman Reformed diformulasi saat ada pertumpahan darah, ancaman, dan kontroversi. Kebenaran-kebenaran itu dikembangkan untuk memenuhi perjuangan umat Allah sehari-hari. Katekisme Heidelberg, yang jelas merupakan iman Reformed paling disukai, diawali dengan pertanyaan yang benar-benar praktis dalam instruksinya, “Apa yang menjadi satu-satunya penghiburan bagi Anda dalam kehidupan dan kematian?”

Yang terakhir namun tak kalah pentingnya, iman Reformed selalu konsisten. Dispensasionalisme memiliki banyak variasi. Karismatisme memiliki banyak jemaat. Arminianisme mengubah Allah dan membuatnya makin terbuka dan mudah dikecam. Namun, iman Reformed konsisten dalam pengakuannya atas anugerah kedaulatan Allah. Apa yang diakui iman Reformed kini sama dengan yang diakui pada generasi yang akan datang. Setiap generasi mungkin memerluasnya. Namun presuposisi dan prinsip dasarnya tetap sama — Allahlah yang berkuasa. Dan karena kekonsistenannya ini, hanya iman Reformedlah yang dapat membawa gereja melalui masa depan yang terus berubah. Kebenaran-Nya tidak pernah berubah. Allah berkuasa kemarin. Ia berkuasa sekarang ini. Dan Ia berkuasa selamanya.

BAGAIMANA JADINYA JIKA KITA MENOLAK IMAN REFORMED?

Menyepelekan Allah adalah Konsekuensi dari Menolak Iman Reformed

“Aku percaya padamu”. Siapa yang mengucapkannya? Itulah yang pertama kali terlintas di benak saya saat melewati sebuah gereja yang memasang spanduk bertuliskan kalimat itu. Filsuf, psikologis, humanis, atau ahli manajemen mana yang telah mengatakan sesuatu yang sangat berpusat pada manusia itu? “Apakah filsuf besar Yunani, Socrates, yang mengatakannya?” tanyaku. Ia adalah orang yang bersikeras bahwa Anda harus “mengenal diri Anda sendiri”. Apakah Narcissus, seorang pemikir sombong yang jatuh cinta dengan citra dirinya sendiri dan memuji kebajikannya sebagai manusia dan keterlibatan pribadinya?

Saat saya melihat di bagian bawah tulisan yang dicetak tebal itu untuk mencari sumbernya, saya benar-benar kaget. Allah yang mengatakannya. Allah? Saya segera membaca cepat seluruh Perjanjian Lama dan Baru untuk mencari firman Allah yang mengatakan, “Aku percaya padamu.” Saya tidak bisa menemukannya. Kalimat itu tidak ada dalam Alkitab.

“Sejak kapan Allah menempatkan manusia sebagai objek kepercayaan-Nya,” pikirku. Kalimat itu mungkin terlihat keren bagi generasi modern, namun tidak sesuai dengan teologi yang saya tahu di Alkitab.

Alkitab menjelaskan kejatuhan manusia sebagai “maut dalam pelanggaran dan dosa”. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa “keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah”. Alkitab mengatakan bahwa setiap manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dan bahkan Alkitab dengan berani mengatakan bahwa kita “diperanakkan dalam kesalahan dan dikandung ibu kita dalam dosa.

Dengan pernyataan-pernyataan tegas tentang keadaan manusia yang tersesat seperti itu, hal baik apa yang membuat manusia yang sudah berdosa dan rusak itu menjadi objek kepercayaan-Nya?

Pernyataan itu memang tegas. Seperti kebanyakan tipu muslihat iklan, pernyataan itu ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat modern. Dan dalam usahanya menarik massa, bahkan ada juga yang cukup berani menulis ulang pokok-pokok iman Kristen.

Mereka menulis ulang apa yang Injil katakan tentang manusia, dan membuatnya menjadi seseorang dengan bawaan lahir ilahi yang disenangi Allah. Namun, Injil menegaskan bahwa manusia jasmani tidak dapat menyenangkan Allah (Roma 8:6-8). Mengatakan Allah percaya pada manusia berarti menyatakan secara tak langsung bahwa manusia memiliki kebaikan dan keterampilan spiritual yang terhadapnya Allah berkenan. Hal baik apa yang ada dalam manusia berdosa yang dapat membuat Allah mengatakan padanya, “Aku percaya padamu?”

Mungkin Allah terkesan dengan intelegensi kita. Lagipula, kita adalah manusia yang berpendidikan tinggi dan inovatif. Kita telah menghasilkan sarjana-sarjana dan menciptakan sistem yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk masyarakat global.

Mungkin Allah terkesan dengan budaya populer kita. Pada 1960-an, kita memiliki Beatles dan kemudian, Bee Gees, dan kini kita punya Westlife dan Britney Spears. Mungkin Allah senang dengan bagaimana kita memakai musik untuk menghilangkan stres dan membuat jiwa kita menari.

Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita saling mencintai satu sama lain sebagai manusia. Karena kasih adalah hal yang terpenting, mungkin Allah tergerak oleh bagaimana kita mengasihi tanpa penilaian, pernikahan, etika, dan tanggung jawab. Mungkin Ia terkesan dengan bagaimana kita dapat dengan mudah terlibat dan melakukan pernikahan sesama jenis.

Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita dapat lebih maju dalam memandang kehidupan. Ada yang bilang kita berasal dari kera. Yang lain berkata bahwa materialisme dan kesenangan hidup adalah yang terpenting. Namun, yang lain lagi berkata bahwa kita harus memutuskan etika kita berdasarkan perasaan kita — jika dirasa baik, lakukan. Dan mungkin Allah terkesan dengan bagaimana pandangan- pandangan ini mampu bertahan dalam pasar publik tanpa persaingan.

Atau mungkin terkesan dengan bagaimana kita percaya terhadap diri kita sendiri. Manusia adalah tolok ukur segala sesuatu. Ia adalah kapten dari takdirnya sendiri. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk dunia tanpa Allah. Dan karena semua yang dapat dilakukan manusia itu, Allah percaya padanya.

“Aku percaya padamu?” Sebaliknya, saya menemukan di Alkitab kalimat yang jauh lebih menenangkan. Allah mengatakan kepada setiap orang yang memusatkan diri pada manusia bahwa jika Anda hidup dalam daging, Anda akan mati (Roma 8:13).

Pernyataan itu mengubah apa yang sudah dituliskan Allah, karena merendahkan kedaulatan Allah dan menjadikan Allah sekadar sebagai penonton, motivator, “Aku percaya padamu, kamu pasti bisa!”

Allah, dalam kepercayaan Protestan tradisional, disembah sebagai Pencipta dan Penebus. Ia memutuskan hidup semua manusia. Ia menentukan bagaimana segala sesuatu akan terjadi. Ia melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Tidak seorang pun dapat menggagalkan rencana-Nya. Tak seorang pun mampu menentang perkataan- Nya. Dan tak seorang pun yang menyarankan-Nya bahwa rencana B jauh lebih baik. Salah satu pernyataan paling indah tentang Allah ada di Yesaya 46.

“… Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan.” (Yesaya 46:9-10)

Allah tidak perlu percaya kepada siapa pun. Ia sendiri adalah Yang Mahakuasa. Tak ada yang seperti-Nya. Tak seorang pun memiliki kuasa membentuk masa depan. Tak seorang pun dapat menebus kejatuhan manusia. Tak seorang pun dapat melakukan sesuatu tanpa Allah. Tanpa Allah, manusia dan segala ciptaan bahkan tidak dapat hidup barang sesaat. Mengapa Allah mengatakan kepada manusia, “Aku percaya padamu?”

“Aku percaya padamu” hanyalah satu dari banyak peryataan yang dapat Anda temukan di http://www.lovesingapore.org.sg. Pernyataan lain di antaranya: “Aku berpikir akan membuat dunia hitam dan putih. Lalu Aku berpikir … naaaah.” “Aku benci aturan. Itulah sebabnya mengapa aku hanya membuat sepuluh aturan.” Dan semua pernyataan itu dipertautkan dengan Allah.

“Golden rules” seperti itu dimaksudkan untuk menempatkan Allah di jantung kota, untuk membuat-Nya nampak keren, jenaka, tak ketinggalan zaman, dan dapat diterima. Namun sungguh, hal ini merupakan sesuatu yang menjelaskan bagaimana gereja modern sudah melangkah terlalu jauh. Gereja masa kini telah kalah oleh budaya populer. Jika sesuatu tidak modern, maka sesuatu itu tidak relevan. Karena itu gereja yang memakai metode iklan baru ini memutuskan untuk membuat Allah lebih modern.

Namun dengan membuat Allah menjadi lebih relevan, mereka tidak menghormati Allah. Kini, Allah menjadi seperti produk konsumen. Ia harus didikte untuk berkata sesuatu yang tampak keren di budaya populer kita. Jadi, perkataan-Nya harus dinyatakan ulang, status-Nya diposisikan ulang, dan kedaulatan-Nya direndahkan dalam rangka membuat-Nya lebih relevan dengan keadaan masa kini. Allah harus mengatakan apa yang para pembuat iklan inginkan untuk Dia katakan. Dan orang-orang yang mendanainya sepertinya tidak merasa bahwa menggunakan nama Allah dengan begitu sembarangan dan tidak menghormati adalah pelanggaran perintah yang ketiga, “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.” Nama Allah, yang adalah kemuliaan-Nya, kini direduksikan menjadi label komersial, untuk mempromosikan produk baru Injil masa kini.

Penyepelean Allah ini adalah sesuatu yang serius. Perhatikan komentar Warren Wiersbe, seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal, “Kita tidak perlu mengutuk atau bersumpah untuk menyebut nama Allah dengan sembarangan. Kita hanya perlu menggunakan nama-Nya dalam hal- hal sepele, maka kita pun sudah menghina nama Allah. Tak semestinya familiaritas dapat merendahkan nama ilahi layaknya penghinaan nama Allah yang jelas-jelas diucapkan. Mengucapkan hal-hal spiritual yang berharga dengan cara seadanya dan terkesan menyepelekan merupakan sebuah dosa dan sekaligus menyangkal kebenaran-Nya.

Menyepelekan Allah sama dengan menyingkirkan Allah dari kekristenan historis. Pernyataan “Aku percaya padamu” bukanlah pernyataan yang netral dan tak berbahaya. Pernyataan itu adalah perusakan teisme dan humanisme. Pernyataan itu merupakan sebuah paduan yang jelas antialkitabiah. Pernyataan itu lebih buruk daripada Arminianisme yang membawa masalah bagi gereja pada era Reformasi. Arminianisme bersifat sinergis. Paham ini mengatakan bahwa Allah membutuhkan kerja sama manusia. Namun pernyataan “Aku percaya padamu” nampak seperti sinkretisme, yang membawa suara humanistis yang halus namun tegas. Manusia memiliki masa depan yang dapat ia atur sendiri. Manusia dapat melakukan apapun menurut kehendaknya untuk menyenangkan Allah. Dan saat manusia itu berhasil, Allah bertepuk tangan untuknya dan berkata, “Benar, kan, kamu pasti bisa melakukannya. Aku selalu percaya padamu.” Pernyataan ini menempatkan Allah dan manusia pada derajat yang sama.

Allah yang dipromosikan dalam iklan-iklan itu bukanlah Allah yang ada di dalam Injil. Saya yakin gereja-gereja yang mendukung slogan ini tidak bermaksud untuk merendahkan dan menyingkirkan Allah dari kekristenan historis. Namun pernyataan itu jelas membuktikannya. Hal ini membawa saya kepada pertanyaan yang perlu diselidiki: “Sudahkah kita menjadi sedemikian acuh secara teologis sampai-sampai kita tidak lagi mampu membedakan dasar kekristenan dari humanisme dan ketidakpercayaan?”

Memasang tulisan-tulisan seperti itu di dalam dan di luar gereja tidak akan membuat kekristenan menjadi keren dan relevan. Pernyataan itu hanya menunjukkan seberapa jauh komunitas Kristen secara teologis sudah sangat tersesat. Fakta banyaknya gereja terkemuka memasang spanduk seperti itu telah mencerminkan tidak adanya kepemimpinan teologis dalam komunitas Kristen lokal. Warisan Protestan di Singapura telah kalah oleh roh zaman ini. Allah alkitabiah tidak ada lagi dalam spanduk-spanduknya. Segera, Ia akan hilang dari aula suci kita … kecuali kita kembali kepada kesehatan rohani alkitabiah dan mulai menghormati Allah serta menyadari kemuliaan-Nya.