Bisnis Seorang Pendeta: Haram Atau Halal?


oleh: Pdt. Saumiman Saud, S.Th.

(Di edit seperlunya tanpa mengurangi makna artikel ini)

Seorang pendeta yang telah mengaku terpanggil secara penuh waktu melayani Tuhan sejak dahulu sudah diajarkan “konsep tabu” kalau di samping pelayanan, ia kemudian mendua hati juga terjun ke dalam dunia bisnis. Bisnis yang saya maksud dalam hal ini dagang/usaha yang mengeruk keuntungan.[1] Saya sadar bahwa pendeta juga adalah seorang manusia biasa, yang tentunya mempunyai kebutuhan-kebutuhan keluarga, dapur, dan lain-lainnya. Walaupun kita sudah bekerja keras melayani seharian untuk pekerjaan-pekerjaan yang menyenangkan hati Tuhan kita juga memerlukan makanan di atas meja, dan hal itu tidak akan terjadi secara ajaib. Semua itu perlu dibeli, dan hal ini memerlukan uang.

Memang Alkitab sama sekali tidak melarang seorang pendeta melakukan bisnis asalkan dilakukan dengan benar dan tidak berpartner dengan orang-orang yang tidak percaya (2Kor. 6:14).[2] Supaya orang-orang yang tidak percaya jangan menggunakan perusahaan tersebut untuk hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan demi menghasilkan uang yang banyak. Namun stop dulu sejenak di sini. Beranikah kita prediksi secara pasti bahwa sang pendeta yang berbisnis itu tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan firman Tuhan? Bagaimana kalau terjadi persaingan dalam bisnis? Bagaimana kalau pengusaha lain hendak menjatuhkan perusahaan sang pendeta? Bukankah pada waktu itu juga akan terpikir berbagai strategi selain berusaha bertahan, juga secara manusia cenderung menjatuhkan pihak lawan. Benarkah kalau pendeta yang berbisnis tidak mencari keuntungan yang banyak?

Tidak ada konsep bisnis yang menghendaki rugi, atau mengalah; yang ada di dalam bisnis mengalahkan dan menghancurkan. Adam Smith seorang pakar dan Bapak Ekonomi mengatakan bahwa prinsip ekonomi itu adalah dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Itu sebabnya ada sebuah lagu Mandarin yang berjudul “Ai Pia, Ciak E Ya” artinya kita harus berjuang kalau mau menang. Kalau sudah demikian, maka kejujuran itu sudah sulit dipertahankan. Jadi dengan kata lain omong kosong dengan bisnis yang non profit, tetap saja perlu profit. Sering kali perusahaan yang menamakan diri non profit malah uangnya lebih banyak, karena ternyata banyak orang yang menaruh belas kasihan. Persembahannya datang dari segala pelosok.

Walau sekalipun perusahaan itu dibuka oleh pendeta, dan kemudian didoakan oleh Bishop ditambah dengan rekan-rekan pendeta lainnya dengan memakai toga kebesarannya menumpangkan tangan, apakah itu menjamin bahwa perusahaan tersebut pasti beruntung? Oh tentu tidak bukan? Saya coba membayangkan saja jika suatu hari perusahaannya pendeta lagi bermasalah dan dililit utang, apa yang terjadi? Pendeta lagi bergumul dengan perusahaannya dan pada waktu yang sama ia harus berkhotbah? Tema khotbahnya mengenai “Kasih”, sementara uangnya lagi diciak orang? Tema khotbah tentang “jangan kuatir”, sementara perusahaannya lagi di ujung tanduk. Ia mendapat tema lagi tentang “Serahkan pada Tuhan maka pasti berhasil”, sementara perusahaannya hampir bangkrut. Lama-lama sang pendeta memerlukan waktu untuk konsultasi pribadi pada para konselor.

Coba pikirkan sejenak, jika di dalam gereja terdapat tiga orang hamba Tuhan/pendeta atau lebih, kemudian mereka sama-sama berbisnis. Ini sekadar contoh selain usaha soto ayam, pendeta pertama membuka restoran, pendeta kedua menjual obat pelangsing badan sedangkan pendeta ketiga membuka bisnis travel. Yang buka restoran bakal bertengkar dengan yang jual obat pelangsing badan. Sementara itu yang buka travel pasti dikecam semua orang, ternyata setiap weekend ada jadwal tour, sehingga jemaatnya tidak bisa ke gereja.

Sedikit pengalaman pribadi. Saya ingat sekali ketika buku pertama saya diterbitkan, karena saya cetak sendiri dan sesuai saran beberapa orang rekan ada baiknya buku tersebut jangan dibagi gratis, supaya pembaca menghargai jerih lelah sang penulis. Itu sebabnya maka saya menitip buku tersebut dijual di toko buku. Benar waktu itu, hampir seluruh toko buku di Surabaya menjual buku tersebut. Nah karena hanya satu buku maka saya tidak mungkin minta bantuan orang lain menyalurkan sebab saya tidak sanggup membayar biaya kepadanya. Itu sebabnya saya yang salurkan sendiri. Alhasil apa, saya seperti orang yang berjualan. Kadang mengirim, menagih, belum lagi mendongkol pada salah satu Toko Buku Kristen di sebuah Mall yang tiba-tiba tutup tanpa pemberitahuan, lenyap begitu saja. Makanya hingga hari ini, sudah melewati 8 tahun, saya masih belum sempat hitung-hitungan kembali dengan beberapa toko buku, sedangkan karena perpindahan pelayanan arsip-arsip tanda terimanya sudah tidak tahu tercecer ke mana? Sudahlah, anggaplah itu persembahan untuk toko tersebut. Ini baru menjual satu buku, bagaimana kalau bebar-benar menjadi distributor buku? Bisa kalang kabut tentunya.

Benar Alkitab memberi nasihat agar orang-orang yang percaya supaya bekerja mencari nafkah, dalam kitab 2 Tesalonika 3:10 kita membaca demikian: “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Dan hal ini adalah sangat penting sekali khususnya pada hari kita sekarang ini, yaitu kita harus membuat kedua hal ini seimbang di dalam kehidupan kita, antara bekerja mencari nafkah untuk memenuhi tanggung jawab kita kepada keluarga dan bekerja untuk Tuhan. Menurut hemat saya, jika seseorang sudah dipanggil menjadi hamba Tuhan dalam hal ini sebagai pendeta sepenuh waktu, maka ia harus memutuskan untuk memilih. Jika mau menjadi pendeta, maka ia tidak boleh berbisnis, atau sebaliknya, karena ia tahu Tuhan tidak pernah meninggalkan dia, Tuhan selalu mencukupi segala kebutuhan hamba-Nya.[3] Kesalahan terbesar sering kali terletak pada gereja dalam hal ini majelis gereja dan jemaat yang entah sengaja atau bagaimana sehingga membuat kebutuhan sehari-harinya pendeta pun tidak tercukupi.[4] Makanya sering kita ketemu persoalan, banyak pendeta yang menerima pelayanan khotbah di gereja lain. Tidak salah menerima khotbah di gereja lain, namun porsinya perlu ditakar. Jika porsinya kebangetan itu namanya bisnis terselubung; apalagi tukar menukar jadwal mimbar pelayanan khotbah.

Bagi saya kalau gereja telah memenuhi segala kebutuhan seorang pendetanya, maka ia tidak perlu berbisnis. Kecuali kalau memang jemaat tidak sanggup mencukupi. Teman saya yang pelayanan di desa, harus menarik ojek guna memenuhi kebutuhannya, saya tidak bisa menyalahkannya, karena gereja tidak sanggup membiayainya. Dalam hal ini jaringan alumni pemerhati seperti ini sangat diperlukan. Teman-teman yang melayani gereja dan di kota besar, yang dananya kuat, dipersilahkan membantu teman-teman di daerah, sehingga sang pendeta tidak perlu bekerja yang lain. Cukuplah seorang pendeta mengerjakan dan mengurus secara fokus masalah pelayanan gereja saja.

Saya baru saja menerima VCD Preaching Conference dari SAAT Malang.[5] Di salah satu sesi, salah seorang pembicara saya lupa dosen siapa yang mengatakan bahwa sebuah khotbah yang baik harus dipersiapkan dalam waktu kurang lebih 19 jam. Bayangkan saja, jika sang pendeta berbisnis, maka saya tidak yakin beliau dapat mempersiapkan khotbahnya walau satu saja dalam seminggu. Belum lagi pelayanan pembesukan, pelayanan katekisasi, doa, sel group, orang sakit, mati, konseling pribadi, keluarga dan berbagai tetek-bengek. Wow, pusing deh pendeta.

Bagi pendeta, bisnis itu ibarat makan buah simalakama, kalau pendeta berbisnis dengan sejujur-jujurnya, maka sangat kasihan sekali; orang yang pertama kena tipu adalah pendeta itu. Kalau pendetanya mengeluarkan jurusnya, dengan berbagai penafsiran dan aplikasi mengerjakan bisnis, sehingga akhirnya ia tergoda merugikan orang lain, maka hancurlah segala-galanya. Masalahnya adalah, kalau jemaat yang melakukan kesalahan, orang-orang dapat memakluminya, namun kalau sang pendeta yang melakukannya, tiada maaf baginya. No Way!

Dalam 1 Timotius 6:10 Alkitab berkata demikian: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Dan kitab Pengkhotbah 5:10 menambahkan demikian: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” Sebagaimana kedagingan kita yang tidak merasa puas, tentu bisnis tersebut sangat rentan bagi seorang pendeta terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan jemaat dan Tuhan.

Memang di dalam Alkitab, kita menemukan contoh yang sangat baik sekali dari rasul Paulus yang adalah seorang pekerja. Pada siang hari Paulus bekerja untuk membuat kemah tetapi seluruh kehidupannya ditujukan untuk menyebarkan Injil Yesus Kristus. Rasul Paulus bekerja dengan sangat keras dan hidup sesederhana mungkin supaya tujuan utamanya untuk memberitakan Injil tidak gagal. Dalam kitab Filipi 3:8 rasul Paulus dibawah inspirasi dari Allah Roh Kudus menasihatkan kepada kita demikian: “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Sekarang kalau pendeta mau berbisnis uangnya untuk siapa? Nah, untuk siapa ininya perlu tegas. Bukan masalah “haram” atau “halal” seorang pendeta menjadi pebisnis. Tetapi jika ia sepenuh waktu berkomitmen melayani, itu berarti ia harus konsentrasi pada gereja tersebut saja. Kalaupun beliau diminta menangani semacam bisnis di gereja, entah Kios Buku, Koperasi, tetap saja keuntungannya bukan untuk pribadi, tetapi untuk gereja. Apabila seluruh hasilnya hendak diambil oleh pendeta itu maka saran saya lebih baik beliau menjadi pengusaha saja dan lepaskan kependetaannya. Biarkan orang lain yang menjadi pendeta. Tuhan dapat, sanggup memakai serta mencari orang lain menggantikan tugasnya.

Profil Pdt. Saumiman Saud:
Pdt. Saumiman Saud, S.Th. lahir di Medan, 5 Agustus 1963. Tamat SMA tahun 1982 kemudian melanjutkan kuliah di Univ. Darma Agung Medan di Fakultas Ekonomi sampai tingkat Sarjana Muda. Tahun 1998 kuliah di Institut Theologi Alkitabiah, Sumatera-Utara dan kemudian pada tahun 1990 melanjutkan kuliah di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang. Beliau menyelesaikan kuliah di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang tahun 1995. Setelah selesai kuliah, beliau melayani di Gereja Methodist Indonesia MARKONI Medan (1994-1995) dan setelah itu sejak tahun 1995 melayani di Gereja Kristen Abdiel Trinitas, Surabaya sampai Januari 2003. Pdt. Saumiman Saud, selain menulis di majalah Trinitas juga aktif menulis di Majalah Sinode Gereja Kristen Abdiel dan Majalah Bamag Tiang Api. Semenjak tahun 1997 aktif bergabung di dalam milis Fica, dan waktu itu hampir setiap Minggu beliau memposting Khotbahnya di milis ini. Kumpulan khotbahnya telah diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Mengenal Dia Lebih Dalam (Knowing Him Deeper), dan saat ini beliau sedang menyelesaikan karyanya yang lain yang akan diberi judul Mengasihi Dia Lebih Dalam (Loving Him Deeper). Menikah 15 Januari 1995 dengan Ev. Chu Sei Hiong juga alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, dan dikaruniai dua orang anak yakni Jessica Gracia Rahel (19-10-1995) dan Philemon Gracia Putra (26-01-2002).
Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 19 Agustus 2000 di Gereja Kristen Abdiel, Trinitas Surabaya.

Pengalaman pelayanan: Sebelum kuliah theologi, beliau mengajar sebagai guru di Perguruan Kristen Methodist Indonesia dan Perguruan Nasional Yos Sudarso Medan, setelah selesai kuliah melayani di Gereja Methodist Indonesia dan menjadi Guru Agama di Perguruan Kristen Hosana, Medan dan setelah itu melanjutkan pelayanan di Gereja Kristen Abdiel Trinitas, menangani Kebaktian Umum juga di Departemen Literatur. Mulai Februari 2003 beliau akan meninggalkan GKA Trinitas dan melayani di Gereja Injili Indonesia San Jose, California, U.S.A.

About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Bisnis Seorang Pendeta: Haram Atau Halal?

  1. Perkenalkan saya: Christian jemaat GKI Temanggung. Sy membaca artikel bapak krn sy bsk tgl 25 April 2012 mengulas filem Flywheel.
    Sy mo bicara bhw bisnis/usaha dgn mengandalkan Tuhan, tdk curang, itu yg baik dan bs dilakukan (jd bukan Pendeta yg berbisnis)
    Menurut sy semua bisnis asal mengambil untung yg wajar itu sah2 sj. Pertanyaannya adalah wajar itu yg bagaimana? Wajar jk harga jual sesuai dgn harga pasar (yg dijual org lain).
    Dlm tulisan bapak disebut jg bhw bs terjadi persaingan dgn penjual/toko lain. Ini hal yg wajar pula n anak2 Tuhan bs memenangkan persaingan jk menerapkan hukum kasih dan melayani: Kasihilah sesamamu spt Allah mengasihi. Yang terbesar diantara km adalah dia yg melayani.
    Bgm caranya? Selain menjual barang dagangan tambahkan layanan yaitu dgn bersikap ramah, sopan n peduli kpd para pembeli. Dgn cara ini pembeli pasti bs membedakan mana penjual yg hanya memikirkan untung dan mana yg tdk.
    Secara sederhana begitu sj pak Pendeta, mungkin bapak ada tanggapan lain. Terima kasih.

    • Halo pak,

      Artikel itu bukan ditulis oleh saya, tapi oleh Pdt. Saumiman Saud.

      Ini tanggapan singkat saya. Saya Cuma menjawab secara prinsip.

      1 Gordon Smith mengatakan bahwa,”Bisnis adalah panggilan dari Allah dan sama nilainya dengan panggilan-panggilan yang lain termasuk panggilan sebagai hamba Tuhan.”

      2. Sikap gereja terhadap bisnis bisa dikelompokkan ke dalam lima macam:
      a. Bukan urusan – ekonomi adalah urusan duniawi, gereja tidak sepatutnya mengurusi masalah perekonomian.
      b. Krisis/Anti – berbeda dengan yang pertama, pandangan ini tidak anti-ekonomi melainkan anti-kapitalisme serta menekankan social gospel.
      c. Mengatur – agak jarang di Indonesia, gereja mengatur perekonomian jemaatnya, menerapkan pajak untuk gereja dan tidak jarang praktek-praktek yang menggambarkan bahwa tak bedanya sebuah perusahaan.
      d. Kolaborasi – pada prinsipnya bahwa gereja dan ekonomi saling mendukung. Seperti yang ditemukan secara tidak disengaja oleh Max Weber (sosiolog Jerman), tentang pengaruh etika protestan (Calvinisme) terhadap kemajuan ekonomi dibeberapa negara Eropa Barat bagian utara.
      e. Alternatif – reaksi dari sistem perekonomian kapitalis yang terlalu membuka kesempatan individu untuk meraih kesuksesan tanpa memperdulikan pihak lain, pandangan ini berupaya membuat alternatif lain dalam dunia ekonomi.

      3. Saat ini kita menghadapi kesulitan yang besar karena kerusakan moral yang terus diterpakan ke tengah dunia sehingga disini kita melihat bahwa format abad pertama tidak berbeda dengan abad 21. Bahkan ide bisnis saat ini bukan lagi berdagang dan melakukan transaksi demi kesejahteraan manusia tetapi yang sering terjadi adalah bisnis bagaimana kita menghancurkan orang lain. Kita hidup ditengah dunia bisnis dimana kita diajar dan diindoktrinasi dengan pelatihan-pelatihan bisnis yang bersifat sangat materialistis dan non etik yang mengakibatkan moralitas menjadi rusak. Sehingga perlahan tapi pasti otak dan prinsip paradigma kita dilembutkan/dilemahkan sehingga kita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan dan mempunyai standar etika yang kokoh di tengah dunia. Jikalau hal tersebut juga masuk ditengah kekristenan maka bukankah mereka akan kehilangan moralitas? Paulus dalam Ef 5 menuntut kita untuk hidup benar dan di tengah situasi yang semakin rusak, teriakan iman Kristen harus semakin tegas dan lantang.

      Sonny Keraf, di bagian belakang bukunya yang berjudul “Etika Bisnis (tuntutan dan relevansinya),” mengatakan, “Etika bisnis adalah tuntutan bahwa bisnis harus beretika mutlak tidak dapat ditawar jika bisnis ingin berkembang dan lestari.” Kalimat itu sangat tepat, namun sayang di dalam solusinya ia tidak memberikan penyelesaian yang tuntas sekalipun ia sangat berusaha menguraikan dari aspek kekristenan. Kalau kita masuk di dalam satu etos kerja maka etika kerja merupakan syarat mutlak yang tidak boleh ditiadakan atau menjadi heteronom (tidak boleh tergantung pada individu). Ketika kita mengabaikan tuntutan etika dan moralitas dalam hidup, itu akan menjadi ekses seseorang menghancurkan orang lain dan yang paling parah menghancurkan diri sendiri tanpa disadari. Etika sekarang justru digeser menjadi etika relatif, yaitu baik dan jahatnya jika hal itu diperhitungkan merugikan orang lain. Selama tidak merugikan orang lain maka seolah-olah itu menjadi hak kita untuk melakukan dan mengembang-kan apa saja.

      4. Etika. Etika Ekonomi Kristen Bagi Alkitab, ekonomi harus menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, etika ekonomi harus sejalan dengan etika Kristen. Dalam kasus ini, etika ekonomi tidak bisa didualismekan dengan etika Kristen. Salahlah pandangan bahwa etika ekonomi tidak bisa dan tidak mungkin bisa sejalan dengan etika Kristen, karena di dalam ekonomi ada kaidah-kaidah yang harus bertentangan dengan iman Kristen. Misalnya, di dalam ekonomi ditekankan hukum “demand and supply” (permintaan dan penyediaan). Jika penyediaan sedikit dan permintaan banyak, maka harga akan naik. Akibatnya, seringkali suatu produk alam dibuang atau dimusnahkan demi untuk menaikkan harga barang (mempersedikit persediaan), padahal begitu banyak orang yang kelaparan dan membutuhkan bahan tersebut. Di sini, etika ekonomi harus dikembalikan kepada kebenaran Alkitab, atau ekonomi hanya menjadi alat sebagian orang. Ini terjadi baik di dalam ekonomi sistem kapitalis ataupun sistem sosialis. Baik di dalam pola perdagangan bebas, ataupun dalam sistem ekonomi terkontrol. Tidak pernah ekonomi memperjuangkan kesejahteraan masyarakat luas, tetapi hanya menyejahterakan segolongan tertentu manusia, entah yang beruang atau berkekuasaan.

      5. Nilai. Terdapat dua jenis nilai:
      a. Nilai intrinsik (nilai objektif suatu benda)
      b. Nilai ekstrinsik (nilai subjektif suatu benda)

      Tidak mengetahui nilai instrinsik suatu barang akitabtnya tidak bisa menentukan/menilai bahwa barang tersebut memang layak untuk dihargai segitu. Di lain pihak, karena dia juga gagal menilai nilai instrinsiknya maka iapun tidak bisa menentukan berapa ia harus menawar. Sehingga sering terjadi dia menawar dibawah harga instrinsik.

      Nilai ekstrinsik perlu diakui namun perlu seimbang dengan nilai intrinsiknya. Jangan sampai nilai ekstrinsik menutupi nilai intrinsik suatu hal. Oleh karena itu, janganlah kita mudah terkecoh dalam menilai suatu hal dan mengejar mana yang mulia/mana yang tidak mulia.

      6. Semangat utilitarian. Pokoknya saya harus mendapatkan harga yang lebih murah/rendah. Saya tidak peduli apakah si penjual untung apa tidak. Begitu si penjual, dia memberikan harga di atas nilai instrinsiknya dengan semangat pokoknya saya harus untung besar, kalau bisa untuk 200% tidak peduli si pembeli rugi karena mengeluarkan uang dengan lebih besar.

      7. Sebagai orang Kristen, kita harus melihat ekonomi secara berbeda. Ada variabel-variabel yang harus kita perhitungkan dan sangat menentukan di dalam pola dan perilaku ekonomi kita.

      a. Ketaatan Sebagai seorang penatalayan harta Allah, maka kunci pertama yang harus kita perhitungkan adalah sejauh mana ketaatan kita di dalam menjalankan tugas ini kepada Allah. Pelaku ekonomi yang tidak mau taat kepada Allah, pasti tidak akan pernah menikmati kehidupan ekonominya dengan baik, karena di situlah kunci seluruh tugas ekonomi. Di dalam Mat. 25, Tuhan Yesus memberikan hukuman keras kepada orang yang tidak mau menjalankan tugasnya.

      b. Kejujuran dan Integritas. Hal kedua yang justru menjadi prinsip ekonomi adalah kejujuran dan integritas di dalam menjadi penatalayan Allah. Tidak ada cara lain yang bisa membuat ilmu ekonomi bisa berjalan dengan baik kecuali melalui sistem yang jujur dan terintegritas baik. Di mana terdapat ketidakjujuran, maka seluruh penatalayanan akan kehilangan arah dan keseimbangannya. Pasti akan terjadi kerusakan di mana-mana. Dan ilmu ekonomi yang sejati adalah ekonomi yang disoroti oleh Allah pemilik alam semesta, yang menuntut kejujuran dan integritas dari setiap orang yang diberi-Nya hak untuk mengelola alam milik-Nya.

      c. Kebajikan. Motivasi dasar Allah di dalam memberikan semua alam semesta ini kepada manusia adalah agar manusia bisa hidup bahagia dan sejahtera. Inilah kebajikan Allah yang dinyatakan kepada manusia. Oleh karena itu, manusia harus juga menjalankan prinsip kebajikan di dalam melakukan ilmu ekonomi. Ketika ekonomi sudah kehilangan sifat manusiawinya, ekonomi akan menjadi suatu perilaku yang kejam sekali. Barulah belakangan ini orang-orang mulai semakin menyadari bahwa ekonomi telah tidak lagi memanusiakan manusia, bahkan ada ide bahwa manusia adalah makhluk ekonomis. Artinya, manusia hanya dinilai berdasarkan aspek ekonomi. Manusia bukan di atas ekonomi, tetapi manusia justru sudah menjadi komoditi ekonomi. Dari sini timbul banyak sekali masalah yang menyengsarakan manusia.

      d. Etika Ekonomi Kristen Bagi Alkitab, ekonomi harus menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, etika ekonomi harus sejalan dengan etika Kristen. Dalam kasus ini, etika ekonomi tidak bisa didualismekan dengan etika Kristen. Salahlah pandangan bahwa etika ekonomi tidak bisa dan tidak mungkin bisa sejalan dengan etika Kristen, karena di dalam ekonomi ada kaidah-kaidah yang harus bertentangan dengan iman Kristen. Misalnya, di dalam ekonomi ditekankan hukum “demand and supply” (permintaan dan penyediaan). Jika penyediaan sedikit dan permintaan banyak, maka harga akan naik. Akibatnya, seringkali suatu produk alam dibuang atau dimusnahkan demi untuk menaikkan harga barang (mempersedikit persediaan), padahal begitu banyak orang yang kelaparan dan membutuhkan bahan tersebut. Di sini, etika ekonomi harus dikembalikan kepada kebenaran Alkitab, atau ekonomi hanya menjadi alat sebagian orang. Ini terjadi baik di dalam ekonomi sistem kapitalis ataupun sistem sosialis. Baik di dalam pola perdagangan bebas, ataupun dalam sistem ekonomi terkontrol. Tidak pernah ekonomi memperjuangkan kesejahteraan masyarakat luas, tetapi hanya menyejahterakan segolongan tertentu manusia, entah yang beruang atau berkekuasaan.

      Kesimpulan dan Penutup.

      Prinsip ekonomi dunia harus dikembalikan kepada jalur kebenaran Alkitab, karena tanpa itu, tidak ada kemungkinan ekonomi dunia akan membereskan seluruh kehidupan manusia dan membawa manusia kepada kesejahteraan yang sejati.

      Prinsip ekonomi harus ditundukkan di bawah kebenaran firman Tuhan, karena seluruh basis ekonomi sebenarnya bergerak di dalam dunia milik Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Oleh karena itu, pengelolaannya harus sesuai dengan kehendak Tuhan.

      Prinsip ekonomi harus berada di bawah etika firman. Tidak ada dualisme antara bidang ekonomi dan pengenalan firman, antara etika Kristen dan etika ekonomi. Seorang Kristen yang Tuhan letakkan di dunia ekonomi harus berjuang keras untuk menjalankan panggilannya menyatakan kebenaran di dunia ekonomi. Kita perlu jelas akan panggilan Tuhan ini. Kita bukan anak-anak setan di dunia ekonomi yang tunduk kepada aturan dan kehendak setan dan sifat kedagingan yang penuh nafsu. Oleh karena itu, kebenaran Allah harus dinyatakan secara serius.

      Saya tidak bisa tulis banyak karena ini memang memerlukan sebuah tulisan panjang atau sebuah seminar dan mungkin sekali ada orang yang akan berpikir sesuatu yang “baik” kok tidak boleh dengan alasan kekristenan?

      Oleh karena itu untuk studi lanjut saya merekomendasikan 1 bacaan, yaitu:

      Dorothy I. Marx yag berjudul “ETIKA UNTUK PROFESIONAL KRISTEN, BISNIS” kalau belum bisa Anda baca/download di https://www.box.com/s/59549eb481e31a39947d

      Semoga membantu dan selamat melayani lusa.

  2. Saya perhatikan reply dari sdr. Zhong sudah cukup lengkap.

    Saya hanya mau berkomentar menambahkan. Jika pendeta tersebut sampai pada keputusan memilih berbisnis (wirausaha), apakah motivasi sesungguhnya yang murni di balik itu?

    Kemungkinan pertama adalah dia kurang income sehingga butuh itu untuk mendukung, tapi motivasi menambah income tersebut menjadi sangat crucial. Apakah pemasukan tambahan tersebut akan dia gunakan untuk pekerjaan TUHAN yang lain atau sekedar nafsu belaka? Jika jawabannya seperti yang kedua ini gawat, seperti prinsip utilitarian, kecenderungan masuk ke dalam bisnis akan dengan motivasi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

    Kemungkinan kedua adalah memang ada panggilan dia untuk masuk ke dunia wirausaha karena di sana ia dapat menjangkau beberapa pekerjaan TUHAN, seperti pelayanan sosial, penginjilan, menebarkan kesaksian yang benar tentang prinsip usaha Kristen,dsb.

    Poin penting di sini adalah, motivasi dalam memasuki dunia bisnis tersebut perlu didoakan apakah murni atau tidak. Percayalah, bisnis yang jujur dan murni justru sangat berat untuk mendapatkan income luar biasa besar, ini berlaku global. Namun jika sudah masuk ke dalamnya dengan motivasi murni, perlu terus berserah dan berdoa pada TUHAN, walau tidak mendapat untung besar tapi percaya pada providensia/pemeliharaan TUHAN yang akan mencukupkan. Asal mau setia pada peraturan TUHAN.

    Jika motivasi dan pelaksanaan bisnis Kristiani itu benar, kita tidak boleh rendah diri, karena pekerjaan tersebut didasarkan kecintaan kita pada TUHAN. Saya pribadi menyaksikan beberapa rekan terdekat dan keluarga saya yang memiliki panggilan untuk mengerjakan pekerjaan TUHAN di tengah wirausaha, dan walaupun mereka tidak memiliki perusahaan yang besar incomenya. Tapi dengan sukacita mengerjakannya serta dengan providensia TUHAN tetap terjaga kehidupannya, namun di sisi lain juga bisa menjadi perpanjangan tangan TUHAN.

    Jadi kerjakan sesuatu pekerjaan dengan motivasi yang benar, dengan cara yang benar dan untuk suatu tujuan yang benar. Benar menurut ukuran TUHAN tentunya.

    Soli Deo Gloria

    -Budak Kristus yang hina

  3. Tomy Handaka says:

    Saya sangat setuju dengan tulisan dari Pak Saumiman Saud ini. Memang pendeta tidak seharusnya ‘nyambi’ dengan berbisnis juga. Soalnya, pendeta tidak hanya dituntut untuk menyampaikan khotbah saja, tetapi juga harus menggembalakan jemaatnya dan mengabarkan Injil. Dengan berbisnis, pendeta tersebut telah mengambil waktu pelayanannya.

    Kecuali jika memang keadaan mengharuskannya demikian. Seperti halnya pendeta-pendeta di pelosok yang jemaatnya bahkan untuk makan sehari-hari saja sulit. Pendeta di daerah seperti ini bisa lebih terasa berkatnya bagi masyarakat jika dia juga mempunyai ‘keahlian’ untuk mengembangkan perekonomian/tingkat pendidikan jemaatnya. Tetapi sekali lagi, tujuan dia berusaha adalah untuk mendukung pelayanannya (karena dia tidak mendapat dukungan ekonomi yang cukup dari jemaat/pihak luar). Semua uang yang didapat harus digunakan untuk mendukung pelayanan/penyebaran Injil/diakonia di tempat dia melayani dan bukan untuk semata-mata kesejahteraan keluarganya. Misalnya saja, untuk membeli buku-buku sekolah minggu, membiayai ‘fasilitas’ gereja, dana bantuan untuk jemaat, dll. Yah, mungkin pendeta tersebut hanya mengambil secukupnya saja sekadar untuk mempertahankan hidup keluarganya.

    Namun biarlah TUHAN sendiri yang menilai pelayanan para hamba-Nya. Walaupun seorang pendeta tidak berbisnispun, dia bisa saja ‘mencuri waktu’ dalam bentuk lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s