Holy Life


Oleh: Pdt. Jeffrey King

1 Petrus 1:13-21

Pada tahun 1928 ada 2 orang yang belajar di Universitas Oxford, Inggris, yaitu George Whitefield dan Charles Wesley. Mereka dipersiapkan untuk memasuki ladang pelayanan. Tuhan sedang bekerja dalam hati mereka, dan mereka merindukan untuk bertumbuh didalam Kristus. Bersama dengan beberapa orang yang lain, mereka membentuk suatu kelompok kecil. Mereka beribadah dan belajar Alkitab bersama dalam kelompok yang dinamai Kelompok Kudus. Beberapa waktu kemudian, John Wesley, saudara dari Charles Wesley, ikut bergabung. Kelompok tersebut berubah nama menjadi Methodis, karena methodelah yang akan mereka kerjakan. Semua methode berdoa, beribadah dan belajar Alkitab mereka pakai agar mereka dapat hidup lebih kudus dalam setiap aspek hidup mereka. Mereka ingin dapat hidup lebih kudus, lebih memuliakan Allah.

Dalam nats kita pada hari ini, Petrus sedang membicarakan tentang bagaimana hidup dalam kekudusan. Allah begitu memakai 3 orang tersebut diatas, yang kita kenal dengan denominasi Methodis. Tuhan memakai mereka sehingga terjadi kebangunan rohani besar di Inggris.

Nats kita dimulai dengan kata “sebab itu“ yang merupakan kata penting dan memiliki suatu tujuan, yang menandai suatu peralihan. Petrus tengah berbicara tentang sesuatu dan sekarang dia hendak beralih kepada pokok pembicaraan yang lain. Tengah terjadi peralihan dalam pikirannya. Kita perlu melihat mulai dari 1 Petrus 1:1 untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Petrus sebelumnya. Dari 1 Petrus 1:3-5,10 dapat kita ketahui bahwa Petrus tengah berbicara tentang keselamatan didalam Kristus Yesus. Dia juga berbicara tentang kelahiran baru, sampai kita memperoleh sepenuhnya di Surga. Kemudian dia beralih topik kepada topik kekudusan.

Ada perbedaan penting antara kekudusan secara posisi dan secara praktikal hidup. Pada bagian sebelumnya, Petrus berbicara tentang kekudusan secara posisi, kemudian dia beralih kepada kekudusan secara praktikal. Kekudusan secara posisi merupakan pembenaran dimana kita dinyatakan sebagai orang benar di hadapan Allah. Posisi ini terjadi 1 kali dalam hidup kita, dan telah dikerjakan oleh Allah bagi kita, yang didasarkan pada pengorbanan Tuhan Yesus. Di hadapan Allah, Dia melihat kita kudus secara posisi. Dia melihat kita melalui Darah Kristus dan itulah sebabnya kita dinyatakan kudus. Kudus berarti: kita telah dipisahkan.

Kekudusan secara praktikal adalah pengudusan, merupakan suatu tindakan dimana kita diarahkan untuk hidup benar, momen demi momen kita berjalan bersama dengan Allah, yang dikerjakan oleh kita, dan Roh Kudus menolong kita untuk melakukan hal ini. Inilah bagian yang akan kita bahas pada hari ini. Ada 1 kebenaran theologis dalam hal ini yang perlu untuk kita mengerti yaitu: posisi kekudusan kita di hadapan Allah didalam kekekalan adalah aman, tetapi hal itu tidaklah menjamin kita akan hidup menyenangkan Allah.

Kita percaya bahwa setiap orang Kristen adalah dipilih oleh Tuhan. Hal ini berarti bahwa secara posisi kita adalah kudus, tetapi tidaklah menjamin bahwa kita akan hidup menyenangkan hati Tuhan. Rasul Paulus berkali-kali mendorong kita untuk berjalan didalam kekudusan, untuk hidup didalam ketaatan kepada Tuhan. Mengapa dia mengatakannya berkali-kali? Karena tidak ada jaminan bahwa kita akan melakukannya. Pengudusan berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Kita tidaklah mungkin hidup sempurna karena kita masih hidup dalam sifat dosa. Tetapi dalam satu hari nanti, sifat dosa ini akan dilenyapkan dan kita akan menjadi serupa dengan Kristus.

Petrus memberikan kepada kita 3 hal pengingat untuk dapat hidup kudus yaitu: kita mempunyai kekudusan dalam akal budi kita dan kita perlu untuk bersiap untuk itu. Ini merupakan perintah, bukan saran. Kekudusan dimulai dari akal budi. Dia juga memberikan kita perintah untuk mengendalikan diri sendiri, yang berarti kekudusan dalam kehendak. Hal yang ketiga, dia mengatakan bahwa kita juga harus memiliki kekudusan dalam hati kita. Ketiga hal diatas haruslah terus kita kerjakan sembari menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

Ada 5 alasan mengapa kita harus hidup dalam kekudusan yaitu:

1)     karena kedatangan Kristus yang kedua.

Di sepanjang Alkitab, kedatangan Kristus yang kedua kalinya terus dinyatakan secara jelas dan konsisten. Hal ini merupakan topik utama yang dinyatakan dalam PL. Kita haruslah meletakkan pengharapan kita pada kedatangan Kristus yang kedua ini. Tuhan Yesus sendiri telah mengatakan bahwa Dia akan datang kembali sewaktu-waktu, mungkin setelah kebaktian ini, mungkin juga nanti malam, mungkin besok. Kita tidak tahu kapan Dia akan datang kembali. Tidak seorangpun yang tahu akan waktu itu, hanya Bapa sendiri yang tahu. Inilah doktrin kunci bagi setiap orang percaya.

Ketika Tuhan Yesus datang kembali, apa yang sedang kita kerjakan? Akankah Dia menemukan kita tengah mengerjakan sesuatu hal yang tidak menyenangkan hatiNya, sesuatu yang justru memalukan diri kita sendiri? Dalam Titus 2:11-12 dan 1Yohanes 2:28 dinyatakan bahwa kita harus hidup kudus agar kita tidak menjadi malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya.

2)     karena panggilan Allah.

Allah telah memilih dan memanggil kita bagi DiriNya. Kita tidak tahu mengapa Allah memanggil kita, yang pasti bukan karena kita adalah orang baik. Dia memanggil setiap kita dari begitu banyak orang yang ada. Karena panggilan itulah, Dia ingin kita hidup dalam kekudusan. Hal itu mendorong kita memberikan ucapan syukur yang besar kepadaNya, dan yang menyebabkan kita merasa sangat spesial. Karena itulah kita harus hidup dalam kekudusan.

Efesus 4:1 menuntut kita untuk hidup berpadanan dengan panggilan kita. Apakah kita sudah hidup sesuai dengan panggilan kita?

3)     karena kudus adalah karakter Allah.

A. W.Tozer menyatakan dalam bukunya bahwa kekudusan adalah atribut utama dari Allah. Semua atribut Allah merefleksikan kekudusanNya. Setiap orang tua mewariskan atributnya kepada anak-anaknya, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan emosi. Allah ingin agar umatNya juga serupa denganNya. Oleh sebab itu Tuhan memerintahkan: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Bangsa Israel haruslah berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya. Mereka telah dipisahkan dan harus menjadi kudus. Petrus mengambil ayat dari PL tersebut dan menerapkannya kepada kita pada zaman ini.

Allah ingin kita, yang adalah anak-anak Allah, merefleksikan karakter-karakterNya, dan yang terutama adalah karakter kudus.

4)     karena ganjaran Allah.

Ayat 17 menyatakan bahwa Allah tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya. Ibrani 12:11 menyatakan bahwa bapa mendisiplin anak-anaknya. Tidak ada anak yang senang untuk didisiplin karena menyakitkan dan tidak menyenangkan, dan anak-anak berusaha untuk menghindarinya. Disiplin yang dikerjakan adalah untuk kebaikan anak dan untuk membawa anak kepada arah yang seharusnya.

Allah mendisiplin kita bukan hanya karena Dia mengasihi kita, tetapi juga untuk meyakinkan kita bahwa kita adalah anakNya. Orang tua tidak akan mendisiplin anak orang lain melainkan anaknya sendiri. Kalau kita adalah anak Allah maka kita haruslah menerima disiplin dari Allah. Hal itu bukanlah suatu hal yang jelek melainkan merupakan cara Allah memelihara kita agar berjalan dalam jalan yang Dia inginkan. Dia melakukannya karena Dia begitu mengasihi kita.

5)     karena penyaliban Tuhan Yesus.

Petrus memakai kata “menebus“ dalam ayat 18, dan kata ini adalah kata dalam konteks membeli seseorang di pasar budak. Orang membeli budak adalah untuk melayani dia. Tuhan Yesus membeli setiap kita keluar dari pasar dosa. Tuhan Yesus tidak memakai uang emas maupun perak melainkan memakai DarahNya sendiri. Kita telah dibeli dengan Darah Kristus.

Petrus juga memakai kata “Anak Domba“. Dalam budaya orang Yahudi terdapat pengorbanan anak domba berkali-kali di depan altar. Hal ini dilakukan jutaan kali sampai Anak Domba Allah itu datang. Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang disembelih sekali dan berlaku untuk selama-lamanya, sempurna dan tanpa dosa. Tuhan Yesus disalibkan untuk anda dan saya. Karena kematian Tuhan Yesus inilah, kita harus hidup kudus. Bukankah kematianNya cukup untuk kita hidup bagi Dia? Dia menderita di atas kayu salib bagi anda dan saya, dan itu seharusnya menjadi alasan yang cukup bagi kita untuk hidup kudus.

Beberapa aplikasi hidup dalam kekudusan yaitu:

1)     Kekudusan sejati adalah pekerjaan Roh Kudus, bukan kedagingan kita.

Kita perlu mengizinkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita. Kalau kita berusaha hidup kudus dengan kekuatan dan kedagingan kita sendiri, kita akan hidup seperti orang Farisi. Setiap kita memiliki Roh Kudus yang hidup dalam diri kita, sehingga kita dimampukan untuk hidup kudus.

2)     Kekudusan bukanlah legalisme.

Sangatlah mudah bagi kita pada saat hidup dalam kekudusan untuk masuk ke dalam legalisme. Legalisme adalah peraturan yang dibuat oleh manusia yang melaluinya kita berusaha untuk mendapatkan perkenanan Allah. Kekudusan bukanlah berusaha keras dengan kekuatan diri ataupun membuat daftar perbuatan yang tidak akan kita lakukan lagi. Itulah legalisme.

3)     kekudusan merupakan gaya hidup.

Kita tidak akan menjadi kudus dengan hanya datang ke gereja setiap hari Minggu. Kekudusan berlangsung setiap waktu setiap hari dalam hidup kita.

4)     kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan kekudusan dalam dunia ini.

Tetapi hal itu tidaklah berarti kita tidak perlu mengejar kekudusan. Kita masih memiliki sifat dosa dalam diri kita. Ketika sampai di Surga nanti, kita mendapatkan kekudusan yang sempurna.

5)     kekudusan pribadi membawa kesukaan besar dan kemuliaan bagi Allah.

Kita hidup kudus bukan untuk kemuliaan diri kita sendiri. Kita hidup kudus untuk memuliakan Allah.

Pada kesempatan ini saya ingin menantang anda bahwa suatu hari nanti di Surga kita akan bertemu dengan George Whitefield, Charles dan John Wesley, apakah kita juga ingin bergabung dengan Kelompok Kudus? Itulah yang dikatakan oleh Petrus untuk kita lakukan. Petrus ingin setiap orang Kristen hidup dalam kekudusan. Dapatkah kita mengambil keputusan untuk itu saat ini? Allah ingin kita mengikuti Tuhan Yesus dalam hal ketaatan. Dia ingin kita menjadi kudus.

Renungkanlah:

  1. Apakah arti kekudusan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengerti kekudusan dan mempraktikkannya dalam hidup kita sehari-hari? Apakah Anda sudah menjaga kekudusan dalam akal budi, dalam kehendak, dan dalam hati? Adakah hambatan-hambatan dalam mencapainya? Sharingkan hal tersebut dengan saudara seiman kita?

  2. Hal apakah yang Anda dapat lakukan dalam mendukung kehidupan rohani saudara seiman dalam mencapai kekudusan yang Tuhan kehendaki? Berdoa dalam pergumulan Anda, juga bagi mereka, dan lakukan komitmen Anda tersebut.


About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s