Allah dan Penderitaan Manusia


Ditulis oleh: Ev. Jon Hendri Foh

Seorang pemikir pernah berkata demikian: Jika kita melihat panorama alam yang sangat indah, misalnya pegunungan dan lembahnya yang diselimuti oleh warna kehijauan menyejukkan, tebaran bunga-bunga di taman dengan aneka warna yang menyemarakkan hidup, kecantikan hamparan pantai yang mendatangkan keceriaan, cahaya kemilauan dari matahari terbit dan terbenam yang amat mengesankan, kehidupan di bawah laut dengan beragam jenis ikan dan berbagai makhluk hidup lainnya yang demikian memukau, belum lagi segala keindahan yang ada di angkasa dan di luar angkasa yang begitu mengagumkan, dan ribuan macam keindahan lainnya; setelah menikmati semua hal yang menakjubkan dari alam ini lalu ada orang yang berkesimpulan bahwa Allah tidak ada, maka itu adalah kebodohan terbesar.

Tetapi, bila kita mendengar dan menyaksikan kejahatan yang mengerikan berupa pemusnahan 6 juta orang Yahudi di kamp konsentrasi pada masa Hitler berkuasa, banyak-nya nyawa yang terenggut akibat kebocoran reaktor nuklir, peperangan yang menelan jutaan jiwa manusia, kekeringan dan kelaparan yang mematikan di benua Afrika, korban yang berjatuhan karena serangan bom teroris (di pesawat, di menara kembar WTC atau di tempat-tempat umum lainnya), bencana alam, kecelakaan demi kecelakaan, kerusuhan SARA yang mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah, kasus-kasus perkosaan biadab, praktek-praktek aborsi yang keji, pembunuhan berantai yang sadis, wabah penyakit ganas yang menyerang dan merampas nyawa manusia, dan ribuan jenis penderitaan lainnya; se-sudah melihat semua hal yang buruk dan jahat ini, lalu ada orang yang tetap berpegang teguh pada kesimpulan bahwa Allah ada, maka ini adalah kebodohan terbesar.

Serangan Terhadap Allah

Problema kejahatan dan penderitaan (the problem of evil) memang merupakan tantangan serius terhadap teisme. Salah satu penyebab mengapa ateisme bertumbuh subur adalah karena realita penderitaan yang semakin merajarela di dunia ini. Apakah masih masuk akal untuk percaya bahwa Allah ada, sementara dunia ciptaan-Nya ini dikuasai oleh kejahatan yang dahsyat? The problem of evil menjadi landasan untuk mempertanyakan keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya yang lain.

Dalam agenda pemikiran para penganut ateisme, masalah kejahatan ini telah dipakai sebagai alasan logis untuk menusuk dan menghancurkan jantung keyakinan teisme. Teisme mengajarkan bahwa Allah adalah Sang Pencipta yang mahakuasa dan mahakasih adanya. Tetapi, ketika diperhadapkan dengan the problem of evil, kedua sifat Allah ini justru mendapat serangan gencar dari kaum ateis. Argumentasinya begini: Jika Allah mahakuasa, tentulah Dia mampu memusnahkan kejahatan. Dan bila Allah mahakasih pastilah Dia mau melenyapkan penderitaan. Namun faktanya kejahatan dan penderitaan tetap ada, bahkan makin intensif dan ekstensif. Sebab itu, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Allah tidak mahakuasa (Dia tidak mampu memusnahkan) dan tidak mahakasih (Dia tidak mau melenyapkan). Jadi, kebenaran tentang eksistensi Allah yang berkuasa dan mengasihi itu dengan sendirinya sudah tersangkali oleh the reality of evil. Karena itu, menerima ajaran ateisme adalah pilihan alternatif yang lebih rasional.

Namun ada arus pemikiran lain yang tetap mempertahankan keberadaan Allah dengan konsep yang dimodifikasi. Dalam meresponi problema penderitaan, Harold Kushner, seorang rabi Yahudi, mengajukan pandangan ten-tang Allah yang terbatas. Melalui bukunya yang terkenal dan laris di pasaran, “When Bad Things Happen to Good People”, Kushner menjelaskan bahwa “ia telah belajar mengenai kasih Tuhan tetapi mempertanyakan kuasa Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan baik, dan tidak suka melihat kita menderita, namun Tuhan tidak cukup kuasa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dunia ini. Penderitaan ada di bumi ini karena Tuhan tidak dapat menguraikan kekacauan yang ter-jadi di muka bumi, dan Tuhan adalah ‘Tuhan yang adil, tapi bukan Tuhan yang berkuasa’.” (1) Kushner juga mengajak kita untuk memaafkan Allah karena ketidakmampuan-Nya dalam menangani dilema penderitaan yang pelik ini. Kita tidak dapat mengandalkan Allah sepenuhnya, tidak dapat berharap terlalu banyak dari diri-Nya. Malahan kita perlu membantu Allah yang sedang frustrasi untuk bersama-sama menyelesaikan kekisruhan yang telah terjadi.

Tanggapan Iman Kristen: Solusi Kristosentris

Benarkah Allah terbatas? Apakah Dia tidak mahakuasa dan tidak mahakasih? Betulkah Allah membiarkan kejahatan terus berlangsung? Bagaimana iman Kristen menanggapi the problem of evil ini? Ke-kristenan percaya bahwa kejahatan adalah sesuatu yang riil, bukan ilusi. Kejahatan merupakan bukti keberadaan dosa yang telah merusak semua tatanan ciptaan yang pada mulanya dilihat oleh Allah sebagai amat baik (Kej. 3:17-19, bdk. Kej. 1:31). Manusialah yang membawa dosa masuk ke dalam kehidupan di alam semesta ini melalui pemberontakannya melawan Allah. Kejatuhan ke dalam dosa adalah titik historis berasalmulanya segala penderitaan yang berkepanjangan ini. Banyak tuduhan yang dilontarkan bahwa Allah bertanggung jawab dan berada di balik semua kejahatan yang melanda dunia ini. Opini demikian harus dibuang jauh-jauh karena,

Allah tidak pernah berada di balik, di tengah, ataupun di depan kejahatan. Sebab yang kita sebut sebagai kejahatan, per definisi, adalah sesuatu yang melawan dan menentang Allah. (Jadi) bagaimana mungkin, membayangkan Allah berada di pihak kejahatan – baik aktif maupun pasif? Tidak ada kebenaran yang lebih benar daripada pernyataan serta kenyataan, bahwa Allah selalu berada di balik, di dalam, dan di depan kebaikan. (2)

Iman Kristen menolak konsep tentang keberadaan Allah yang terbatas. Allah tetap mahakuasa dan mahakasih sekalipun ada reality of evil. Jika evil belum termusnahkan, itu sama sekali tidak berarti bahwa Allah tidak mampu, juga tidak berarti bahwa Dia tidak mau. Allah adalah pribadi yang berdaulat, Dia adalah pencipta. Di dalam kedaulatan kuasa dan hikmat-Nya, Allah mempunyai rancangan untuk melenyapkan evil menurut cara-Nya sendiri dan pada waktu yang telah ditetapkan-Nya. Seringkali cara kerja dan waktu Allah ini tidak sesuai dengan apa yang diinginkan manusia, sehingga Dia divonis tidak mampu dan tidak mau. Namun kita perlu menyadari dengan sungguh bahwa selaku ciptaan kita harus menaklukkan dan menyelaraskan keinginan kita di bawah rencana Allah, bukan sebaliknya!

Allah tidak lepas tangan (menghindar) dan tidak angkat tangan (menyerah), juga tidak berpangku tangan (berdiam diri) terhadap fakta adanya evil dalam dunia ciptaan-Nya. Jangan pernah ber-pikir bahwa Dia membiarkan penderitaan dan kejahatan. Inkarnasi Allah menjadi manusia adalah suatu peristiwa di mana Dia masuk ke dalam konteks dunia yang berdosa, dunia yang berada di bawah kuasa kegelapan dan evil, justru untuk mengalahkan evil tersebut. Peperangan yang dilakukan Allah terhadap kuasa kejahatan adalah peperangan-Nya secara pribadi (His personal warfare), karena evil telah merusak dan mencemarkan karya-Nya yang agung (alam semesta dan segala isinya). Jalan yang ditempuh Allah untuk menyelesaikan the problem of evil adalah melalui salib. Inilah cara Allah, inilah jawaban-Nya terhadap masalah evil. Donald Bloesch mengatakan:
      Theology can not offer a fully satisfying explanation for evil, but it does point to a spiritual solution – the incarnation and atoning sacrifice of our Lord Jesus Christ. Something has gone radically wrong with creation, but God has acted to bring good out of evil. He has acted to reverse the work of the powers of darkness and disorder by Himself becoming human flesh and dying on a cross, taking upon himself the retribution that we deserve because of sin. (3) (Teologia memang tidak dapat memberikan penjelasan yang benar-benar memuaskan tentang masalah kejahatan, namun ia mengacu pada suatu penyelesaian secara rohani – yakni inkarnasi dan korban pendamaian dari Yesus Kristus Tuhan kita. Suatu kesalahan luar biasa telah melanda segenap ciptaan, akan tetapi Allah sudah bertindak untuk mendatangkan kebaikan dari tengah kejahatan. Dia telah berkarya untuk menentang pekerjaan dari kuasa kegelapan dan kekacauan dengan membuat diri-Nya sendiri menjadi manusia dan mati di atas kayu salib, Dia menanggung penghukuman terhadap dosa yang selayaknya ditanggung oleh kita).

Allah bekerja dengan metode yang bertolak belakang dengan pendapat manusia pada umumnya. Manusia melihat kelemahan dan ketidakberdayaan pada salib, tapi Allah memandang salib sebagai kekuatan untuk mengalahkan kuasa kejahatan. Banyak orang mengejek salib sebagai suatu kebodohan, namun inilah lambang hikmat Allah yang tak terselami oleh akal manusia. Sifat paradoksal terpancar melalui salib, sehingga yang lemah adalah yang berkuasa, yang hina justru penuh hikmat. Dalam kata-kata dari Philip Yancey, “Salib justru menghancurkan kategori-kategori lama tentang korban yang lemah dan pahlawan yang kuat, karena sang korban muncul sebagai sang pahlawan.” (4) Jika kita tidak dapat memahami sifat paradoks yang terjadi di atas salib, kita juga tidak akan mampu melihat karya Allah yang gemilang melalui salib.

Tuduhan bahwa Allah tidak mahakasih juga sudah digugurkan oleh peristiwa salib. Kasihlah yang menghantarkan Kristus untuk mengalami puncak penderitaan di atas kayu salib. Benar apa yang diungkapkan Paul Jewett bahwa, “Without the love of God there would have been no cross; but without the cross we could never have taken the full measure of that love” (5) (Jika bukan karena kasih Allah maka tidak akan ada salib; namun tanpa salib kita tidak pernah dapat memahami kebesaran kasih tersebut). Firman Tuhan dalam Yohanes 3:16, 15:13, 1 Yohanes 3:16, 4:9 dengan jelas menyatakan tentang kasih Allah yang berkorban melalui pengutusan Anak-Nya untuk mati disalibkan. Kesengsaraan Kristus, darah yang mengalir dari sekujur tubuh-Nya, nyawa yang diserahkan bagi penebusan kita, telah menjadi bukti terkonkrit tentang kasih Allah. Allah mengasihi dunia berdosa ini bukan dengan perkataan, melainkan dengan perbuatan nyata di dalam pribadi Kristus.

Di atas salib, dengan kondisi yang tergantung di antara langit dan bumi, pada detik-detik genting penuh pergumulan itu, Kristus sedang terlibat dalam kancah peperangan melawan kuasa kejahatan, dosa, kematian dan Iblis. Dia harus menjadi korban yang menanggung hukuman dosa untuk membebaskan orang berdosa dari hukuman. Dia mengalami kematian justru untuk menaklukkan kematian. Dia harus menjadi yang terkutuk demi untuk mengalahkan kuasa evil dan Iblis. Betapa dahsyatnya peperangan yang dilakukan Kristus! Apakah Dia gagal di dalam ketidakberdayaan? Tidak! Kita harus melihat kekelaman Jumat Agung dari terang Minggu Kemenangan. Puji Tuhan! Kristus telah menang. Kuburan-Nya ternyata kosong. Hukum kematian telah dipatahkan. Jumat Agung yang menyengsarakan telah diganti dengan Minggu Kebangkitan yang memberikan sukacita dan harapan baru.

Kematian dan kebangkitan Kristus adalah peristiwa kemenangan Allah terhadap kuasa kejahatan dan penderitaan. Kebangkitan-Nya memproklamasikan satu realita baru yang tidak pernah ada sebelumnya, yaitu munculnya seorang Anak Manusia yang tidak bisa ditaklukkan dan dikuasai oleh kematian, tetapi sebaliknya Dia telah mengalahkan sumber dari dilema penderitaan dan kejahatan, yaitu si Iblis. Sebab itu, kebangkitan Kristus telah menjadi simbol dan sumber pengharapan bagi manusia.

Di sini timbul pertanyaan, jika benar Allah sudah menang, bila benar Iblis telah dikalahkan, lalu mengapa kuasa kejahatan masih terus melancarkan sengatannya terhadap manusia? Kita harus ingat bahwa salib dan kebangkitan adalah kemenangan de jure, kemenangan secara prinsip. Sedangkan kemenangan de facto, yaitu secara empiris, final dan total, baru akan terjadi pada saat kedatangan-Nya yang kedua. Iblis memang sudah dilengserkan dari tahtanya (Yoh. 12:31), namun belum dicampakkan ke dalam lautan api, tempat penghukuman kekal (Why. 20:10). Sebab itu, dalam rentang waktu perjalanan sejarah dari masa kemenangan de jure ke masa de facto, evil masih menjadi realita yang menyelimuti kehidupan di dalam dunia ini. Walaupun evil tetap bereksistensi untuk sementara waktu, namun yang terpenting ialah ada kehadiran kuasa Allah dalam dunia ini. Firman Tuhan menegaskan bahwa melalui kebangkitan-Nya, segala kuasa di sorga dan di bumi telah ada pada Kristus (Mat. 28:18). Kebenaran ini merupakan aset rohani terbesar bagi orang yang percaya kepada Kristus. Tatkala kita harus berjalan melewati lembah kekelaman penderitaan, kita dimungkinkan untuk berada dalam tuntunan kuasa kemenangan-Nya.

Kebangkitan Kristus juga menunjukkan bahwa evil tidak akan pernah mampu menguasai masa depan. Evil hanya memiliki kuasa terhadap masa lalu dan masa kini. Masa yang akan datang berada dalam lingkup kuasa kebangkitan Kristus yang membebaskan dunia dan manusia dari cengkeraman dosa, kematian dan Iblis. Langit baru, bumi baru dan tubuh kebangkitan adalah the future indicators dari kuasa kemenangan Kristus atas daya kejahatan yang telah terjadi melalui salib dan kebangkitan-Nya. Masa depan adalah momentum kehancuran evil. Dia tidak akan mendapat tempat dalam dunia Allah yang baru, yaitu Yerusalem sorgawi. Realita kejahatan dan penderitaan akan dilenyapkan secara permanen oleh Allah (Why. 21:4).

Haleluya! Kita memiliki dan dimiliki oleh Kristus, Allah yang bertahta di masa depan. Dia bukan hanya Allah masa depan, tetapi juga Allah masa kini dan masa lalu. Kristus adalah Allah yang pernah mengalami penderitaan secara fisik dan mental dalam kehidupan inkarnasi-Nya di bumi berdosa ini. Dia tahu apa artinya kelaparan, kehausan, keletihan, kesendirian, kesedihan, terlebih lagi kesakitan. Dia pernah menangis, dikhianati, difitnah dengan keji, dihina dengan tamparan, pukulan dan air ludah. Dia menanggung beban penderitaan yang demikian luar biasa. Kata-kata manusia kehilangan kemampuannya untuk menggambarkan kesengsaraan-Nya secara tepat. Hal yang mendatangkan kelegaan bagi kita sekarang adalah bahwa pengalaman penderitaan Kristus tersebut telah membuat-Nya menjadi “… a fellow sufferer with us of the evil in this world, and consequently is able to deliver us from evil” (6) (… sobat kita dalam kesengsaraan yang menanggung penderitaan karena kejahatan dari dunia ini, dan konsekuensinya Dia dapat membebaskan kita dari kejahatan). Kristus bukan musuh manusia dalam penderitaan. Yang menjadi musuh kita bersama adalah Iblis, sang dalang yang berada di balik realita kejahatan. Tuhan Yesus adalah partner bagi manusia yang sedang dalam penderitaan. Dietrich Bonhoeffer menuliskan kalimat yang menggugah demikian: “Only the suffering God can help” (7) (hanya Allah yang pernah menderita yang dapat menolong). Kristus yang adalah “the suffering God” itu, sungguh memahami kepedihan hati manusia yang menderita. Dialah Sang Penolong yang akan menyertai kita melewati lembah air mata.

Sekarang ini, Kristus telah berada dalam kemuliaan sorgawi, duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Satu hal yang menarik adalah Dia naik ke sorga dengan membawa bekas luka badani (Why. 5:6). Apa signifikansi kehadiran Kristus dalam sorga dengan tubuh yang terdapat bekas luka? Dr. Paul Brand dan Philip Yancey menjelaskan maknanya berikut ini: “Mengapa Kristus mempertahankan bekas-bekas luka-Nya? Ia bisa saja memiliki tubuh yang sempurna, atau tanpa tubuh, ketika Ia kembali ke kemuliaan sorga. Namun Ia memilih membawa kenangan kunjungan-Nya ke bumi. Untuk mengingatkan akan waktu-waktu-Nya di sini, Ia memilih bekas luka. Itulah sebabnya mengapa saya berkata Tuhan mendengar dan mengerti kesakitan kita, dan bahkan menyerapnya ke dalam diri-Nya sendiri ~ karena Ia mempertahankan bekas-bekas luka itu sebagai citra melekat kemanusiaan yang terluka. Ia pernah ke sini; Ia memiliki bukti-buktinya. Kesakitan manusia telah menjadi kesakitan Allah.” (8)

Dalam Ibrani 4:15 dikatakan bahwa Kristus “… bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita …”. Ini benar adanya. Kristus adalah Allah yang memiliki pengalaman hidup manusiawi. Pengalaman tersebut tidak didapatkan dari sifat kemaha-tahuan-Nya sebagai Allah, melainkan dari detik-detik perjalanan hidup-Nya selaku manusia. Kristus naik ke sorga dengan bekas luka adalah supaya Dia dapat menjadi Imam Besar yang benar-benar mengerti dan peduli terhadap pergumulan hidup manusia. Dia mengerti untuk peduli dan Dia peduli sebab Dia mengerti. Karena Dia pernah merasakan berbagai pencobaan dalam hidup-Nya, maka Dia dapat menolong mereka yang dicobai (Ibr. 2:18). Ketika mengalami berbagai pergumulan, penderitaan, sakit-penyakit, pencobaan dan beban hidup yang berat, biarlah iman kita selalu terarah pada Sang Imam Besar yang pernah terluka untuk mendapatkan pertolongan dari-Nya.

Penutup

Di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang mau mengalami penderitaan. Suatu kenyataan yang amat manusiawi sekali. Namun kerapkali kita tidak punya kuasa untuk menolak hal-hal yang buruk agar tidak menghampiri hidup kita. Tatkala ‘terpaksa’ harus berada dalam lembah penderitaan, ternyata hanya ada dua pilihan yang terbuka bagi kita dalam menghadapi penderitaan itu. Kita akan menghadapinya bersama dengan Allah, atau tidak bersama dengan Dia (we will go through it with or without God). Tidak ada pilihan ketiga. Dan yang lebih krusial lagi, kita harus memilih, tidak bisa tidak!

Sebagai orang percaya, ketika hidup kita dilanda oleh penderitaan, diterpa oleh pencobaan dan bencana, kiranya kita dapat memilih dengan benar. Pilihan yang benar itu adalah berjalan bersama dengan Allah dalam melewati badai tragedi. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya,” demikian kata pemazmur (Mzm. 34:19). Saat berada dalam jurang penderitaan adalah saat untuk mengalami kebenaran firman Tuhan ini secara “personal and experiential”. Kristus, Allah yang pernah menderita itu, sekali-kali tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian, asal tangan kita terulur menantikan pertolongan-Nya, asal hati kita terbuka mengharapkan kekuatan-Nya. Tak tersembunyi kuasa Allah, anugerah-Nya akan diberikan dan itu cukup bagi kita. Biarlah jiwa kita terlabuh bersandar kepada Allah yang adalah batu karang penopang yang kokoh. Amin!

About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s