Berkhotbah adalah Hal yang Serius


See also: Preaching in Reformed Worship

Ditulis oleh: James Edward, McGoldrick

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Matius 3:1-2

Dalam tahun 1956 orang-orang Hongaria yang bersemangat bangkit dalam revolusi melawan pemimpin-pemimpin komunis mereka, dan untuk beberapa hari, kota Budapest berkobar dengan perlawanan kepada tirani Soviet. Ketika bantuan yang diharapkan dari dunia bebas tidak datang juga, Pasukan Merah Soviet menekan para pemberontak tanpa belas kasihan, dan sekitar 200.000 pencinta kebebasan Hongaria lari ke Barat. Satu dari pengungsi menjadi profesor di Temple University di Filadelfia, setelah meninggalkan posisinya di Universitas Budapest. Tak lama setelah mulai mengajar di Filadelfia, sarjana Hongaria ini bertanya kepada sebuah kelas pastoral, “Mengapa pendeta Amerika memulai khotbah mereka dengan sebuah lelucon?” Ia mengindikasikan bahwa Hongaria tidak menolerir ketidakseriusan sedemikian dalam mimbar, karena di sanalah orang-orang Kristen memegang Firman Tuhan dengan serius. Ketika memarahi pengkhotbah-pengkhotbah Amerika, profesor menasehati mahasiswa- mahasiswanya untuk menyadari bahwa gereja bukan teater, mimbar bukan panggung, dan oleh sebab itu pengkhotbah tidak boleh menjadi artis (performer). Dengan kata lain, khotbah adalah hal yang serius.

Yohanes Pembaptis adalah contoh alkitabiah dari khotbah yang serius. Ia memulai proklamasinya sekitar tahun 26 M di sungai Yordan di dekat Betani, dan dengan melakukannya ia menggenapi nubuat Perjanjian Lama. Melalui nabi Maleakhi, Allah telah berjanji, “Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.” (Maleakhi 4:5). Elia termasuk pengkhotbah paling serius dari seluruh zaman. Ia tidak membuka khotbahnya dengan sebuah lelucon. Ia tidak menggunakan khotbah sebagai sarana untuk menyenangkan massa, karena ia berbicara dengan keyakinan bahwa Allah telah berbicara kepadanya.

Dalam Perjanjian Baru, terbukti bahwa Yohanes Pembaptis menyerupai Elia begitu dekat dalam isi berita dan dalam penampilan. Ia adalah “orang yang diutus Allah” (Yohanes 1:6) untuk “menyaksikan tentang Terang (Kristus), supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya” (Yohanes 1:6-7). Yohanes datang dalam kuasa dan roh Elia untuk mengumumkan kedatangan Juruselamat yang sudah dekat. Ia mengumumkan bahwa suatu hari baru tentang penyataan mulai terbit untuk umat Allah, suatu hari berkat dan penebusan, karena Mesias yang telah lama ditunggu datang menyatakan diri. Ini adalah hal yang serius. Bukan waktunya untuk membuat lelucon dan main-main.

Kedatangan Yohanes Pembaptis telah dinubuatkan oleh Yesaya, pengkhotbah dengan kuasa besar yang lain. Nabi Perjanjian Lama ini telah menjanjikan “suara orang berseru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN.’ (Yesaya 40:3). Yohanes dinubuatkan sebagai pendahulu bagi Kristus, seorang yang menyiapkan jalan untuk kedatangan Raja.

Pada zaman dulu jalan-jalan sering dalam keadaan buruk, tetapi ketika pemerintah tahu bahwa ada seorang anggota keluarga kerajaan akan lewat di jalan itu, mereka menutup lobang-lobang dan meratakan jalan agar siap untuk digunakan oleh raja. Setelah anggota kerajaan itu menggunakan jalan tersebut, maka jalan itu dikenal sebagai jalan raya milik raja.

Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan, tidak untuk semua raja, tetapi untuk Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan. Sebuah tanggung jawab yang serius. Bukan waktunya untuk menghibur manusia dengan lelucon. Yohanes mempunyai misi serius untuk diberitakan, dan dalam menjalankan tugasnya, ia menerapkan sebuah contoh semangat bagi setiap lapisan generasi pengkhotbah-pengkhotbah. Ia memberitakan seluruh kebenaran yang Allah telah nyatakan kepadanya. Ia mengkhotbahkan kebenaran, meskipun itu tidak menyenangkan. Ia mengkhotbahkan kebenaran ketika berita itu tidak dapat diterima oleh telinga para pendengar. Meskipun demikian ia mengkhotbahkan kebenaran.

Khotbah yang serius seringkali menggusarkan penentang-penentang, sehingga Yohanes menghadapi kesulitan dari berbagai pihak oposisi. Jika ia memberikan khotbahnya dengan cara yang membuat orang lain tertawa, ia tidak akan membuat marah siapapun. Namun Yohanes ada dalam misi bagi Allah. Karena ia harus mengumumkan kedatangan Mesias, tidak ada waktu untuk kebodohan dan ketidakseriusan. Konsekwensinya, Yohanes membuat marah orang-orang dengan memberitakan kebenaran kepada mereka, tanpa bumbu yang sepele. Seperti pendahulunya, Elia, Yohanes adalah nabi yang benar, seorang penyampai suara Allah.

Mereka yang sekarang berhasrat untuk berkhotbah harus menghargai Yohanes sebagai sebuah teladan. Yaitu mereka harus berkhotbah dengan serius dan tidak menjalankan peran sebagai pelawak gereja. Pendeta tidak mempunyai kewajiban untuk menyenangkan siapapun juga, tidak dengan kesembronoan maupun dengan menceritakan diri sendiri. Khotbah alkitabiah tidak bersifat cerita komik atau kesaksian pribadi. Khotbah bukan alat untuk menceritakan pengalaman seseorang. Ingat Yunus. Pengalamannya luarbiasa, tetapi ketika ia pergi ke Niniwe, ia tidak menyinggung pengalaman itu, tetapi memproklamasikan Firman Tuhan. Tidak ada tanggung jawab yang lebih serius dalam hidup ini selain memberitakan kabar Allah. Yohanes Pembaptis, seperti Yunus, tahu hal itu, dan ia menyerahkan diri sendiri untuk tugas itu dengan kesungguhan hati.

Yohanes Pembaptis memberitakan … “Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat.” (Matius 3:1-2). Di mana pun juga Yohanes menghadapi kejahatan, semua diserangnya, di antara pemerintah yang berotoritas, dalam pelayan rohani, dan dalam masyarakat luas. Meskipun beritanya kaya dengan janji akan datangnya penebusan, Yohanes mengumumkan peringatan yang mengerikan, seperti ketika melancarkan serangan melawan dosa. Karena ia adalah orang yang diutus oleh Allah, Yohanes tidak dapat memberikan saringan berita yang baik saja kepada manusia, dan ia tidak mencari kesempatan untuk mendemonstrasikan kefasihan bicara. Dalam mengkhotbahkan berita dari Allah, ia menjadi “terang untuk menerangi kegelapan, suara yang menentang dosa, … dan petunjuk jalan kepada Allah.” Ia tidak memfokuskan perhatian pada diri sendiri dengan memberitakan secara terperinci tentang dirinya. Sebaliknya, ia berusaha untuk mengarahkan perhatian langsung kepada Kristus. Ketika Yesus muncul di hadapan publik, Yohanes menunjukNya sebagai Mesias dan berkata, “Lihat, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (Yohanes 1:29). “Ia harus makin bertambah dan aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Yohanes tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri tetapi ia berusaha agar dalam tiap kesempatan menarik perhatian kepada Anak Domba Allah.

Seperti Yohanes, semua pengkhotbah besar dalam Alkitab bersikap serius dalam pelayanan mereka. Rasul Paulus berkata, “Bukan dari kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.” (2 Korintus 4:5). Paulus bukan pelawak dan juga bukan pemberita pengalaman pribadi tetapi seorang pengkhotbah tentang Kristus yang serius dan bertanggung jawab. Pengkhotbah abad XX dan mereka yang berhasrat untuk berkhotbah harus memperhatikan hal ini baik-baik.

Khotbah harus dengan eksposisi yang setia dan aplikasi praktis dari Firman Tuhan. Khotbah demikian menuntut persiapan ekstensif, dan tidak boleh mempunyai keberanian untuk berdiri di mimbar sampai telah menghabiskan beberapa jam untuk persiapan. Menceritakan lelucon dan memasuki kisah pribadi memerlukan persiapan yang relatif kecil, tetapi seorang yang ingin sungguh-sungguh menjadi pengkhotbah alkitabiah harus menghabiskan banyak waktu dalam studi. Setiap khotbah harus berdasarkan exegese dari Alkitab dan menghabiskan waktu berjam-jam dalam persiapan, jika tidak orang itu tidak layak untuk berdiri di mimbar.

Contoh Yohanes Pembaptis harus meyakinkan semua pelayan Tuhan bahwa pengkhotbah yang sesungguhnya tidak akan memikirkan apa yang menyenangkan telinga para pendengarnya. Ia harus memberitakan seluruh kebenaran, bahkan ketika itu tidak enak bagi telinga pendengar dan membangkitkan oposisi mereka. Dengan semangat dari keyakinan tadi, Yohanes sama sekali serius dalam pelayanannya. Seorang pengkhotbah dari seluruh kebenaran harus menyatakan berita seakan-akan disampaikan oleh Yesus Kristus. Mimbar bukan tempat untuk inovasi dan menunjukkan kepandaian. Pelayan Tuhan harus tidak boleh menambahkan atau mengurangi Injil yang kekal. Dengan keyakinan sepenuhnya dalam Firman Tuhan, ia harus memberitakan berita Allah yang telah dinyatakan, dan ia harus melakukannya dengan penuh kesungguhan, berdoa, menggali Alkitab dan dengan segala aplikasi pada kebutuhan kontemporer.

Berita Yesus adalah, “Bertobatlah dan percaya kepada Injil.” (Markus 1:14). Sepertinya Yohanes berteriak, “Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat.” (Matius 3:2). Beritanya harus diharmonisasikan secara sempurna dengan berita Kristus. Karena menuntut pertobatan, Yesus dan Yohanes membangkitkan kemarahan orang-orang. Khotbah seperti itu tidak menyenangkan sama sekali. Untuk mengatakan kepada orang- orang bahwa mereka harus bertobat adalah memberikan penjelasan bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang ada di bawah murka Allah, dan ini bukan tugas yang menyenangkan. Tidak ada satu orangpun yang senang ketika dikatakan bahwa ia seorang berdosa, tetapi itulah yang diproklamasikan oleh Elia, Yohanes Pembaptis, Paulus, dan Yesus. Pertobatan menyangkut perubahan meninggalkan kejahatan dan berbalik arah kepada Allah. Seperti yang ditekankan oleh Yesaya:

Carilah TUHAN selama Ia berkenan di temui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Yesaya 55:6-7

Pertobatan menuntut suatu perubahan pikiran yang radikal yang menghasilkan perubahan hidup dan tingkah laku. Hal ini tidak bisa diabaikan dan tidak akan ada khotbah yang benar tanpa tuntutan akan hal ini. “Allah … sekarang memerintahkan semua manusia di mana pun harus bertobat.” (Kisah 17:30). Inilah khotbah para rasul. Setiap manusia harus bertobat. Pendeta tidak menggembalakan jemaat mereka ketika menyenangkan mereka dengan lelucon dan cerita pribadi. Manusia tidak membutuhkan atraksi seperti itu; mereka membutuhkan Firman Tuhan, dan kebutuhan ini sangat mendesak. Mereka harus tahu akan realita tidak menyenangkan mengenai dosa mereka. Mereka harus diubah secara drastis, dan pertobatan adalah inti untuk dapat berubah.

Pertobatan menyangkut suatu dukacita murni atas dosa. Westminster Katekismus mengemukakan demikian:

Bertobat kepada hidup adalah anugerah keselamatan, di mana seorang berdosa, keluar dengan pengertian yang benar atas dosanya dan menghampiri belas kasihan? Allah dalam Kristus, melakukannya dengan dukacita dan membenci dosanya, berbalik dari dosa kepada Allah, dengan tujuan penuh dan bertekun di dalamnya, yaitu ketaatan yang baru.

Ketika seseorang mengalami dukacita dan membenci dosanya, itu adalah hal yang serius. Lelucon dan pengalaman pribadi tidak mempunyai kekuatan untuk pertobatan semacam itu dan juga tidak layak untuk mengundang mereka.

Pertobatan menuntut pengakuan jujur atas kesalahan dan tanggungjawab seseorang atas dosa-dosanya. Sebuah penyesalan yang benar berhubungan dengan deklarasi Alkitabiah bahwa “hati lebih licik dari segala sesuatu.” (Yeremia 17:9). Ia tahu akan keadaan hatinya sendiri. Banyolan dari mimbar tidak akan memimpin seseorang kepada keyakinan tersebut. Khotbah yang serius, kenabian dan kerasulan sangat penting.

Dalam bidang nubuat, Yohanes memanggil untuk pertobatan. Banyak orang Farisi dan Saduki datang kepadanya untuk dibaptis, tetapi kita harus memperhatikan bagaimana Yohanes berespon atas permintaan mereka. Ia menolak aplikasi mereka. Ia berkata kepada mereka,” Kamu kawanan ular beludak! Siapa melepaskan kamu dari murka Allah yang akan datang? Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. (Matius 3:7-8). Tidak heran bila Yohanes menghadapi begitu banyak musuh. Ia mengatakan orang-orang terbaik di Israel dalam keadaan sangat membutuhkan pertobatan. Ia tidak sama dengan pengkhotbah modern yang pergi mengatakan kepada orang-orang, “Tersenyumlah! Allah mencintai kamu dan mempunyai rencana indah bagi hidupmu.” Yohanes memulai penginjilannya tidak dengan mengumumkan kasih Allah tetapi menekankan murka Allah. Ia menetapkan fakta dosa dan mengingatkan akan datangnya penghakiman. Tidak ada alasan bagi pendengarnya untuk tersenyum. Yohanes tahu mereka di bawah murka Allah, dan ia menetapkan bahwa mereka harus tahu itu. Bukan waktunya untuk menghiburkan mereka. Melainkan sekarang perlu untuk mengkonfrontasikan mereka dengan realita.

Yohanes Pembaptis mengatakan kepada pemimpin rohani orang Israel bahwa mereka harus bertobat. Ia mengingatkan mereka untuk tidak bersandar pada warisan sebagai keturunan Abraham, karena “dari batu-batu ini Allah dapat membangkitkan anak-anak bagi Abraham.” (Matius 3:9). Ada sebuah keganjilan dalam mitologi Yahudi yang berpendapat bahwa Abraham duduk di pintu gerbang neraka dan menghalangi jalan sehingga tidak ada seorang Yahudi pun dapat memasukinya. Tetapi Yohanes membuatnya jelas bahwa warisan agama seseorang dan nenek moyangnya tidak akan berarti apa-apa jika ia tidak bertobat. Ia memberi dua alternatif; dibaptiskan di atas dasar pertobatan yang benar atau berada dalam api penghakiman ilahi.

John Bunyan, dalam satu bukunya, menanyakan, “Akankah engkau meninggalkan dosamu dan pergi ke sorga, atau engkau mempertahankan dosamu dan pergi ke neraka?” Inilah khotbah alkitabiah. Inilah penginjilan nabi dan rasul. Elia, Yohanes Pembaptis, rasul Paulus, Yesus sendiri, John Bunyan dan sekelompok pemberita lain dari kebenaran selalu serius dalam berkhotbah. Mereka percaya bahwa gereja bukan teater, dan mimbar bukan panggung. Oleh sebab itu pengkhotbah harus tidak menjadi artis. Doa seorang pengkhotbah adalah: Kiranya perkataan dari mulutku dan renungan hatiku berkenan di hadapanMu, oh Tuhan, Gunung Batu dan Penebusku.” Mazmur 19:14

Diambil dari Banner of Truth edisi Juni 1989 Issue 309

About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Berkhotbah adalah Hal yang Serius

  1. Very nice. Yohanes memang sosok yg consen dgn misi pemberita akan datangx Kerajaan Allah in Yesus Kristus, ia tdk mencari nama, seperti beberapa pengkotbah yg justru sibuk menceritakan dirix, pengalamannya, dan kadang dibuat-buatkan cerita seolah benar terjadi padahal imajinasix. Yohanes mengingatkan kita utk konsisten dgn tugas Pemberitaan atau Kotbah adalah hal yg serius. ok, thank’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s