Doktrin dan Kehidupan Rohani


Written by: R.C. Sproul

Doktrin tidak perlu, yang penting adalah hidup rohani. Inilah sikap sentimen yang kerapkali muncul dalam lingkungan orang Kristen. Idenya sederhana: Allah lebih mementingkan bagaimana kita hidup ketimbang apa yang kita percayai. Kredo dan dogma tidaklah penting. Yang terpenting bagaimana perilaku yang nampak. Kita lebih menyenangkan Allah dengan perilaku yang benar dibanding dengan pemikiran yang benar.

Ini adalah suatu dilema yang salah dan memberikan dampak berbahaya. Pemikiran yang benar dan hidup yang benar seharusnya berjalan seiring.

Banyak orang meremehkan doktrin karena melihat satu pola umum yaitu ada orang memiliki pengetahuan teologis yang benar namun hidupnya menjadi batu sandungan. Iblis dapat memperoleh nilai tinggi dalam ujian teologi. Iblis terlebih dahulu mengenal Yesus sebagai Anak Allah dibanding murid-murid-Nya, namun jelas sekali Iblis membenci kebenaran ini. Ada banyak orang yang mengenal kebenaran tentang Allah namun hidupnya tidak menyenangkan Allah.

PENGKHIANATAN PARA PEMIMPIN

Mengapa ada kecurigaan mendalam akan teologi oleh jemaat Kristen? Tentu ada alasan-alasan yang mendasarinya. Gereja mempunyai pengalaman yang oleh seorang sarjana disebut “pengkhianatan intelektual”. Banyaknya nada skeptis terhadap berita Alkitab justru datang dari dalam gereja sendiri. Teolog-teolog dalam gerejalah yang mengumumkan teologi “Allah mati”. Adalah seminari-seminari teologi yang justru menyerang kepercayaan kepada Alkitab. Pengalaman pribadi saya selama belajar di Seminari Teologi juga sangat mengejutkan mendengar adanya guru-guru besar yang menyerang ketuhanan Kristus. Dan tak terhitung jumlah mahasiswa lainnya yang mengalami pengalaman seperti ini.

Wajar kalau reaksi yang muncul terhadap luka dan syok yang ditimbulkan oleh skeptisisme ini akhirnya adalah pemutarbalikkan secara ekstrim kepada satu sandaran iman yang non-intelektual. Sehingga godaan berbahaya dapat timbul dengan pikiran: “Jika ini yang dihasilkan oleh akademi teologi, siapa yang membutuhkan hal itu? Lebih baik saya memelihara iman saya yang sederhana dan tidak mau terlibat dengan teologi.”

Kita jangan berasumsi karena seseorang adalah sarjana teologi berarti dia seorang Kristen. Kita jangan berasumsi karena seseorang ditahbiskan dalam pelayanan berarti dia pasti seorang Kristen. Yang menyedihkan, banyak orang melayani dengan motif yang keliru. Sebagian orang menjadikan skeptisisme teologis sebagai satu profesi. Ada orang yang terdorong mempelajari teologi Kristen karena satu keinginan yang membara untuk melawan atau mengubah kekristenan. Ada musuh di dalam gereja. Ada serigala yang menyamar dengan bulu domba di dalam kawanan domba Allah. Kita teringat akan kelompok yang begitu menentang Yesus semasa pelayanan-Nya adalah kaum imam zaman itu, ahli Taurat dan orang Farisi. Tetapi kita tidak boleh menggeneralisasikan semuanya demikian. Banyak dari mereka melayani lahir dari kerinduan yang tulus untuk melayani Tuhan.

KEBUTUHAN AKAN DOKTRIN

Gereja membutuhkan pendeta-pendeta yang berdedikasi. Gereja juga membutuhkan pengajar-pengajar teologi yang berdedikasi. Gereja akan selalu mendapatkan manfaat besar dari pelayan teolog-teolog yang solid. Kita semua membutuhkan pengajar yang baik. Kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa mereka. Tetapi bagaimana kita mendapatkannya? Apa tandanya bahwa seseorang adalah pengajar teologi yang baik?

Menemukan seorang guru yang baik sama hal seperti menemukan dokter yang baik. Kita membutuhkan seorang dokter yang mengerti apa yang ia lakukan dan kita dapat mempercayakan diri kita kepadanya. Jika dokter itu begitu lembut dan hangat namun tidak mengerti akan hal pengobatan, kita tentunya menghadapi kesulitan besar. Di pihak lain, ada seorang dokter yang begitu hebat namun kurang memberikan perhatian kepada pasiennya. Mereka mengerti bagaimana mengobati penyakit namun tidak tahu bagaimana memperhatikan manusia. Jika mungkin, saya ingin mendapatkan seorang dokter yang ahli mengerti obat-obatan dan juga yang menghargai saya sebagai satu pribadi.

Dalam teologi, kita membutuhkan pengajar-pengajar yang memperlihatkan ketrampilan dan pengetahuan yang baik dipadukan dengan kasih yang dalam kepada Tuhan. Mengasihi Tuhan bukanlah prasangka penghambat bagi pengertian yang benar tentang Allah. Justru sebaliknya, hanya dengan hati yang terarah kepada Allah, maka seorang teolog akan berlimpah pengetahuannya akan Allah.

G.C. Berkouwer pernah mengatakan satu kalimat, “Semua teolog yang agung memulai dan mengakhiri karya mereka dengan doxology!” Tulisan-tulisan mereka bernafaskan satu semangat doxology. Karyanya melampaui penganalisaan, yang hanya melahirkan pujian. Bacalah tulisan Rasul Paulus, teolog yang mula-mula dalam gereja. Di tengah-tengah pembahasan mengenai pemilihan (election), ia berhenti sejenak dan menuliskan, “Betapa dalam dan kaya anugerah-Mu!” (Rm. 11:33)

Kita menemukan semangat doxology yang sama dalam diri teolog-teolog yang agung dalam sepanjang sejarah gereja seperti Augustinus, Athanasius, Anselm, Aquinas, Luther, Calvin, dan Jonathan Edwards. Bukan berarti mereka tanpa cacat. Kita dapat menemukan perbedaan di antara mereka. Namun ada satu kesatuan yang begitu dalam dan menonjol berkenaan dengan doktrin iman mereka yang hakiki.

Banyak orang masih menghadapi dilema ketakutan akan teologi. Ada suatu masa di mana saya pernah kritis terhadap toko-toko buku Kristen. Banyak di antara mereka yang menjual buku-buku yang pengajaran teologisnya lemah. Buku-buku itu bukan saja terlalu sederhana, tetapi begitu naif. Di antaranya memiliki banyak doxology, namun teologinya dangkal. Sebagian buku yang ada di toko buku menunjukkan pengabaian yang serius terhadap teologi yang ortodoks dan pengajarannya buruk. Saya telah memohon kepada toko buku dan penerbit buku untuk mengeluarkan karya-karya penulis yang besar. Namun respon yang biasa saya terima adalah buku-buku ini tidak akan laku dijual. Saya terus memohon, saya yakin jika industri terus mempromosikan buku-buku klasik, maka buku itu akan terjual. Saya pernah memesan karya John Murray Principles of Conduct untuk bahan mata kuliah. Penerbit mengatakan buku itu sudah tidak dicetak lagi. Saya meminta penerbit untuk mencetak ulang bahkan menawarkan untuk mencari sponsor jika diperlukan. Buku itu terlalu penting untuk dibiarkan berdebu di gudang percetakan. Saya begitu sukacita ketika penerbit mengeluarkan edisi yang baru.

Kita membutuhkan doktrin yang solid. Roh Kudus juga Roh kebenaran. Kebenaran dan keadilan berjalan bersama. Hidup yang benar akan mengalir keluar dari pemikiran yang benar. Kehidupan kita dapat berubah secara lahiriah tanpa mengubah yang batiniah. Tetapi semua yang akan kita peroleh adalah kualitas seorang Farisi. Permasalahan yang mendalam adalah akarnya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Pikiran yang diperbarui akan menghasilkan suatu kehidupan yang diperbarui pula.

Kita harus menolak dikotomi antara doktrin dan kehidupan. Kita dapat mempunyai doktrin yang sulit tanpa satu kehidupan yang dikuduskan. Tetapi tentu sulit sekali untuk bertumbuh dalam pengudusan tanpa doktrin yang solid. Doktrin yang solid bukanlah satu kondisi yang cukup untuk menghasilkan satu kehidupan yang solid pula. Doktrin yang solid tidaklah menghasilkan pengudusan secara otomatis. Doktrin yang solid adalah kondisi yang mutlak bagi pengudusan, yang merupakan pra-syarat yang vital, seperti oksigen dan api. Memang, adanya oksigen tidak akan menjamin adanya api, tetapi Anda tidak dapat memiliki api tanpa oksigen.

KESADARAN, KEYAKINAN, HATI NURANI

Mengapa doktrin yang solid mutlak bagi pengudusan? Karena pengudusan sejati yang muncul dalam kehidupan orang Kristen paling sedikit harus mengubah tiga hal yang mutlak. Harus ada satu perubahan dalam kesadaran, keyakinan dan hati nurani kita, ketiga hal ini adalah hal yang vital bagi pengudusan kita.

Kesadaran meliputi pengetahuan. Sebelum kita dapat sepenuhnya melalukan apa yang Tuhan perintahkan dan apa yang menyenangkan Dia, pertama-tama kita harus mengerti apa yang Allah kehendaki. Dari hukum Taurat satu pengetahuan akan dosa. Juga melalui hukum Taurat keluar satu pengetahuan akan keadilan. Seseorang mungkin “secara kebetulan” mentaati hukum tanpa kesadaran bahwa ia melakukan. Tetapi tindakan demikian tidak memiliki kebajikan moral di dalamnya. Umpama seseorang suka mengendarai mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam, dan ini menyenangkan dia. Dia mengendarai mobilnya di daerah dengan batas kecepatan 60 km/jam dan di daerah 30 km/jam. Ketika ia mengendarai di daerah 60 km/jam, ia mentaati hukum. Namun tidak di wilayah 30 km/jam. Tapi ia tidak sadar akan hal itu. Jika seseorang ingin mencapai kebajikan moral sebagai seorang pengemudi dan senantiasa mengendarai dalam batasan kecepatan, pertama-tama ia harus memiliki kesadaran menuju keyakinan. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dan intens. Sadar bahwa perbuatan itu benar adalah hal yang berbeda dengan yakin akan hal tersebut. Keyakinan adalah pengetahuan yang sudah mapan, yang memenuhi pikiran kita dan menembusi hati nurani kita.

Hati nurani kita bertindak sebagai semacam pemimpin bagi tingkah laku kita. Ia adalah suara yang di dalam yang memberikan tuduhan atau memaafkan kita. Hati nurani kita memonitor tingkah laku kita dengan cara membenarkan atau menuduh. Tetapi problemnya adalah hati nurani kita tidak selalu memberitahukan kebenaran, karena kita sudah melatih dia dengan arahan pembenaran diri kita.

Sangat sulit untuk hidup dengan hati nurani yang merasa bersalah. Perasaan bersalah melumpuhkan kita dan dapat menghasilkan penyakit psikomatik. Ketika kita diserang oleh hati nurani yang bersalah, kita dapat mengubah perilaku kita atau mengubah hati nurani kita. Kita dapat menekan tuduhan dengan rasionalisasi. Dengan terus berulang-ulang melakukan dosa, kita dapat membungkamkan suara hati nurani. Kita akan jatuh kepada kemerosotan moral yang dilukiskan Paulus dalam Roma 1 di mana kita bukan hanya terus menerus berdosa, tetapi kita mendorong orang lain berdosa bersama kita.

Hati nurani dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka ia harus di bawah pengaruh keyakinan yang baik. Untuk memperoleh hati nurani yang baik, maka kesadaran kita akan hal yang baik dan salah harus dipertajam. Ini berarti meliputi pikiran kita, yang berarti berkenaan dengan masalah doktrin.

Doktrin berasal dari Firman Tuhan. Firman ditujukan kepada kesadaran kita dan bagi pengertian kita. Firman melibatkan pikiran dan bukan mengesampingkan pikiran. Dalam 1Kor. 2:10-11 Paulus berbicara mengenai pekerjaan iluminasi Roh Kudus kepada kita. Roh Kudus mendorong kita dalam penyelidikan akan Firman Tuhan untuk memperoleh pengertian karena  Roh Kudus diutus untuk mengajar dan meyakinkan kita. Yesus menjanjikan kita bahwa Roh Kudus akan menjadi Penolong yang akan meyakinkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:7-8). Kemajuan dari sebuah kesadaran yang berubah kepada sebuah keyakinan yang berubah menuju pada sebuah hati nurani yang berubah adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja dengan firman. Roh Kudus tidak bekerja berlawanan dengan Firman atau tanpa Firman. Firman dan Roh berjalan bersama. Doktrin dan hidup juga berjalan bersama. Kehendak dan pikiran berjalan bersama juga. Memisahkan mereka berarti mendukakan Roh Kudus dan menghentikan pekerjaan pengudusan dan menghilangkan kehidupan yang berintegritas untuk berkomitmen menyenangkan Allah.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 23 – Juli 1994

——————————–

Dr. Robert Charles Sproul (born 1939 in Pittsburgh, Pennsylvania) is an American, Calvinist theologian, and pastor. He is the founder and chairman of Ligonier Ministries (named after the Ligonier Valley just outside of Pittsburgh, where the ministry started as a study center for college and seminary students). Sproul holds degrees from Westminster College, Pennsylvania, Pittsburgh Theological Seminary, the Free University of Amsterdam, and Whitefield Theological Seminary, and he has taught at numerous colleges and seminaries, including Reformed Theological Seminary in Orlando and Knox Theological Seminary in Ft. Lauderdale. Currently, he is Senior Minister of Preaching and Teaching at Saint Andrew’s Chapel in Sanford, Florida.

Dr. Robert Charles Sproul (born 1939 in Pittsburgh, Pennsylvania) is an American, Calvinist theologian, and pastor. He is the founder and chairman of Ligonier Ministries (named after the Ligonier Valley just outside of Pittsburgh, where the ministry started as a study center for college and seminary students)
About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s