PERUBAHAN PARADIGMA TENTANG PENYANGKALAN DIRI


 Matius 16: 21-26

Oleh: Pdt. Sutjipto Subeno

Melanjutkan pembahasan dari kitab Matius 16, hari ini kita akan menekankan pada ayat ke 24. Tuhan Yesus bertanya, “Siapakah Aku ini menurut kamu?” Dan Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Ini merupakan pengakuan iman yang muncul dari anugerah Tuhan sehingga Petrus berani menerobos dan membuat suatu kesimpulan yang begitu tegas dan beresiko berat, karena saat itu, jika kalimat itu didengar oleh orang-orang Yahudi dan Mahkamah Agama, Petrus bisa mati karena dianggap menghujat Allah. Namun Tuhan Yesus mengaminkan ‘statement of faith’ dari Petrus, kemudian memberitahukan bahwa Mesias akan menderita, mati dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Salahkah Tuhan Yesus memberitahukan  hal ini? Apakah itu hal yang betul-betul akan terjadi?

Ya, itu bukan sekedar omong kosong. Saya percaya kalau kalimat itu dikatakan oleh Yesus dengan hati yang sangat berat, karena itulah yang harus Dia lakukan untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Tetapi justru kalimat itu ditanggapi oleh Petrus dengan cara yang unik dan ‘Humanis’, yaitu dia segera menarik Tuhan Yesus dan marah, “Tuhan, hal seperti itu tidak akan terjadi, kiranya Allah akan menjauhkan hal itu  daripadaMu!”. Sebuah kalimat teologis yang kelihatannya begitu hebat, lalu Tuhan Yesus langsung menghardik dengan sangat keras, “Enyahlah Iblis!”. Hardikan itu bukan diucapkan Yesus tanpa alasan, tetapi karena Petrus berpikir bukan yang dipikir Allah, tetapi pikiran manusia. Punya ‘statement of faith’? Ya! Apakah Petrus tahu siapakah Yesus? Ya! Tetapi apa yang dia ketahui secara ‘cognitive’ tidak mengubah paradigma pemikiran dia dan ini bukan terjadi hanya pada Petrus saja. Maka pada ayat ke 24, Yesus memanggil semua murid dan Dia mulai merombak konsep ini.

Menerima Yesus, mengikut Yesus, itu bukan sekedar ‘statement of faith’. “Engkau adalah Tuhan, Engkau adalah Juruselamat.”, kalimat ini bagi saya hanyalah fiktif, bersifat di luar dan belum mencapai iman yang sesungguhnya. Statement yang hanya bersifat di luar masih bisa menjadi alat Setan, dengan cara berpikir yang tidak beres dan tidak cocok. Banyak orang berpikir, kalau saya sudah menerima Yesus, maka saya sudah menjadi Kristen.

Mengapa kita kadang susah sekali untuk mengerti dalam mendengarkan suatu kotbah? Rasanya kotbah tsb sulit sekali. Menurut saya, yang paling inti adalah masalah paradigma. Mengapa susah? Karena yang diajarkan di dalam Firman Tuhan kontras terbalik dengan apa yang diajarkan oleh dunia, dan gereja yang tidak berbasiskan teologi Reformed yang kokoh pasti menggunakan struktur yang humanistik, hanya cocok dengan apa yang manusia inginkan. Alkitab mengatakan, jika ingin mengikut Yesus, maka harus menderita, menyangkal diri dan memikul salib! Orang lain berkata, jika mengikut Yesus, maka kamu akan senang, hidup lancar dan kaya. Berbeda bukan? Perbedaan ini bukan masalah mengerti atau tidak mengerti, tetapi cara berpikirnya yang kontras. Keduanya sama-sama mengikut Yesus, tetapi pikiran dasarnya berbeda. Kalau mengikut Yesus, maka saya akan hidup enak, tidak perlu berpikir susah-susah, langsung mengerti. “Berbahagialah kamu yang kaya, celakalah kamu yang miskin!” Semua orang akan mengerti hal ini tanpa perlu berpikir lagi. “Berbahagialah kamu yang miskin, celakalah kamu yang kaya!” Kalimat ini jadi susah. Apanya yang susah? Padahal tidak ada satu kata pun yang tidak dimengerti, tetapi mengapa setelah disusun menjadi kalimat jadi susah diterima? Ayat ini (Luk 6:20-26) jarang dikotbahkan karena tidak ada yang mau dengar, padahal itulah yang  dikotbahkan oleh Tuhan Yesus. Maka orang Yahudi pun sangat tidak suka mendengar kotbah Yesus ini. Ayat-ayat seperti ini harus sering dibaca, supaya cara berpikir kita diubah seperti cara pikir Tuhan.

Hari ini saya juga akan berkotbah tentang paradigma yang terbalik. Kamu tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi yang dipikirkan manusia. Bagaimanakah kita berpikir seperti yang dipikirkan Allah? Orang yang disebut ‘bertobat’, artinya berbalik arah 180°. Jika cara berpikir kita sebelum dan sesudah jadi Kristen masih tetap sama, maka itu namanya belum bertobat. Mengapa seseorang bisa mengalami kesulitan untuk mengerti Firman Tuhan? Karena filosofi di belakang kepalanya yang belum beres. Ini kesulitan yang terbesar, bukan tidak mengerti kotbahnya, tetapi pola pikirnya sudah total melawan apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan. Itulah yang terjadi pada Petrus. Ada yang tidak beres di dalam pikiran Petrus. Tidak heran kalau Yesus menghardik, “Enyahlah Iblis!” Sudah ada pengakuan iman? Sudah! Sudah mengerti siapakah Yesus? Sudah! Mengerti siapakah Yesus dengan mengubah hidup dia dengan apa yang dia kenal adalah 2 hal yang berbeda. Jika hal itu belum terjadi, maka itu belum bertobat namanya.

Tidak mungkin Kristus yang adalah Allah akan menderita dan mati. Yesus juga pemberi berkat, banyak memberikan kesembuhan. Masakah orang yang baik seperti ini dibunuh? Tidak mungkin! Ini logis, tetapi ada 2 jenis logis, yaitu logis versi humanis dan logis versinya Allah dan celakanya Petrus berpikir logis versi manusia. Petrus tidak bisa mengerti hal ini karena sudah ada logika tertentu di kepalanya. Ini merupakan suatu masalah yang paling serius yang ada di dalam diri manusia untuk kembali kepada Tuhan. Itu sebabnya teologia Reformed berkata, jika engkau bisa mengerti, bukan karena engkau hebat. Pengertianmu tidak bergantung pada rasiomu, berapa tinggi IQ-mu. Paulus bukan orang dengan IQ yang rendah, bahkan ia adalah murid dari Gamaliel. Sebelumnya ia tidak mengerti siapakah Kristus, sampai suatu saat Tuhan mengubah dia dan sejak itu konsepnya berubah total. Janganlah sombong jika kita mengerti Firman Tuhan.

Firman Tuhan mengisi, mengubah hidup kita untuk menunjang seluruh kehidupan kita di tengah dunia ini. Bagaimanakah Petrus berelasi dengan apa yang Kristus katakan sewaktu terjadi benturan yang keras itu? Saat itu Kristus tahu bahwa itu bukan Petrus! Ini merupakan problem umum, problem semua anak Tuhan, jadi sangat mungkin, problem saat itu dan hari ini adalah relevan! Itu bukan problema pribadi tertentu yang harus diselesaikan dengan konseling saja. Kadang kita ribut dengan hal-hal yang hanya kelihatan di depan saja, tetapi kita jarang memikirkan kenapa seseorang bisa mengeluarkan kalimat itu? Apakah yang ada di belakangnya? Kalau begitu, apakah akar permasalahan yang terjadi di dalam diri Petrus? Apakah inti problema yang Petrus alami? Yesus berkata, “Engkau berpikir bukan yang dipikirkan Allah, tetapi yang dipikirkan manusia”. Di dalam aspek apa? Di sini Tuhan Yesus membuka 3 masalah:


1. Siapa yang ingin mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku.


2. Barangsiapa ingin mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Ini logika yang membobol system yang normal. Ini yang namanya Parodoxical Thinking


3. Yang terakhir dan paling penting; apa artinya engkau mendapatkan seluruh isi dunia, tetapi kehilangan nyawamu? Apa yang bisa diberikan ganti sebuah nyawa?


Sistem yang paling penting yang memotivasi seluruh hidup kita disebut value system. Apa yang kita kerjakan adalah apa yang menurut kita paling berharga. Manusia biasanya mau mendapatkan seluruh isi dunia dan untuk itu dia rela kehilangan nyawanya.

Di dalam dunia filsafat dikenal istilah “Axiology”, yaitu cara penilaian. Setiap kita menilai segala sesuatu, cuma yang tidak pernah kita tanya adalah apakah cara penilaianku itu sudah benar atau belum? Kita mudah sekali mengatakan ini berharga, itu tidak. Mengapa kita tidak bertanya, mengapa itu berharga? Karena semua orang berkata itu berharga. Apakah  semua orang berkata itu berharga maka jadi berharga? Value system harus dipertanyakan dan harus dijawab. Kristus mendobrak seluruh sistem itu dan kita harus memikirkan ulang, bagaimana saya hidup? Apakah yang memotivasi saya hidup? Kenapa saya hidup? Untuk apa saya hidup? Ini semua harus dipertanyakan ulang. Jika semua sudah beres, baru kita mulai membahas bagaimana saya berpikir sesuai yang Allah pikir dan bukan yang manusia pikir.

Banyak orang menggambarkan ayat 24 sebagai suatu kecelakaan di dalam mengikut Yesus. Banyak orang takut mengikut Yesus karena takut susah. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Andaikata boleh, susah tidak? Andaikata kita boleh berbohong, susah tidak? Orang bilang hidup lebih enak jika boleh berbohong. Apa betul? Sekali kita berbohong, maka kita harus berbohong yang kedua untuk menutupi bohong yang pertama, bohong ketiga untuk menutupi bohong kedua, dst. Pikiran kita akan penuh dengan skenario untuk menutupi kebohongan sebelumnya, akhirnya hidup kita menjadi tegang, takut dan tidak pernah tenang. Orang yang banyak berbohong pasti celaka dan akhirnya pasti akan ketahuan. Saat semuanya terbongkar, rusaklah nama kita. Jika sudah demikian, apakah hidup seperti itu bisa dibilang lebih enak? Memori otak kita akan penuh dengan segala hal yang tidak perlu. Apakah itu cara terbaik? Tidak!

Di dalam ayat 24, Kristus tidak pernah bertujuan untuk merugikan kita. Dia ingin memberikan kepada kita suatu konsep yang paling tepat, bagaimana seharusnya kita hidup. Dan ketika Dia mengajarkan hal ini, seringkali manusia tidak bisa menerima karena cara berpikirnya berbeda. Tetapi jika kita mengerti apa yang Kristus katakan, itu jauh lebih indah dari apa pun yang manusia mampu pikirkan. Manakah yang lebih mudah dan lebih kita sukai, mengikut Yesus dengan ‘offer’ (penawaran) atau mengikut Yesus dengan ‘condition’ (syarat)? Seringkali kita tidak berani jujur, karena terjadi konflik di dalam diri kita, antara otak dengan hati. Ada ‘offer’, ada ‘condition’, manakah yang kita pilih? Otak kita kadang terlalu naïf. Jika kita diberi kaya, apakah itu menjamin akan lebih baik? Tidak! Tetapi otak kita sudah langsung berasumsi, kaya pasti lebih baik,  menyangkal diri pasti tidak enak. Justru terbalik! Sewaktu kita bisa menyangkal diri, itu paling enak. Sewaktu kita memikul salib, itu paling enak! Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal! Kenapa? Karena kepala kita sudah diplot oleh mitos yang  ditanamkan oleh filsafat dunia dan Firman Tuhan tidak mengisi kita. Mari kita bandingkan. Kristus berkata, syarat pertama adalah menyangkal diri, artinya berani mengatakan ‘tidak’ pada apa yang saya mau. Say ‘No’ to ourselves. Orang bilang, ‘This is not freedom’. Tetapi Alkitab katakan itulah freedom. Dalam dunia, kita akan melihat orang-orang pintar yang konsep kekristenannya masih sangat ambigu. Imannuel Kant, seorang filsuf yang moralis berkata, “Kebebasan sejati tidak berarti bebas melakukan apa saja yang mau kita lakukan, tetapi bisa tidak melakukan apa yang kita tidak mau lakukan”. Dunia mengajarkan, apa yang kau mau, engkau pasti mendapat. Itu versi perbudakan dunia. Menurut Kant, itu rendah. Itu bukan kebebasan sejati.

Seringkali  orang Kristen memakai dalih “roh memang penurut, tapi daging lemah”. Itu berarti kita masih ada di bawah perbudakan. Tetapi saat kita berkata ‘tidak’, tetap ‘tidak’ (sekali pun kita sangat menginginkannya), saat itulah kita benar-benar bebas, karena kita sudah mengalahkan perbudakan dalam bentuk apa pun. Mengapa? Karena bagi Kant, kalau saya harus melakukan apa yang saya tidak mau, itu namanya perbudakan. Satu-satunya jalan, kita harus kembalikan ‘tuan’ kita kepada TUHAN di dalam kebenaran FirmanNya. Jika kita bisa menyangkal diri, maka kita akan bebas dari 90% kesulitan yang kita alami akibat dari kita tidak bisa menyangkal diri. Siapakah yang membuat kita susah? Orang lainkah? Tidak! Diri sendirilah yang membuat kita susah karena kita tidak bisa bilang ‘tidak’ pada diri sendiri. Semakin banyak orang yang ingin memaksakan kehendaknya, seisi dunia menjadi susah. Masing-masing mempunyai keinginan dan tidak bias bilang ‘tidak’, akhirnya semuanya menjadi suatu sistem yang destruktif yang menghancurkan kita.


Banyak orang yang berpuasa untuk memaksa Tuhan mengikuti apa yang dia inginkan. Puasa sebenarnya adalah untuk menyangkal diri. Ketika kita berani berkata ‘tidak’ pada diri, itulah saatnya kita mulai mengerti kehendak Tuhan. Mengapa banyak orang yang sulit mengerti kehendak Tuhan? Karena kita maunya kehendak kita sendiri. Ketika kita bilang ‘tidak’ pada diri, itu memungkinkan apa yang Tuhan mau bisa digenapi. Tuhan Yesus bukannya tidak mempunyai kemauan. Ia berkata, “Jikalau boleh, lalukanlah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, kehendakMulah yang jadi”. Itulah penyangkalan diri.


Kita mengerti kehendak Tuhan saat kita berani berkata ‘tidak’. Bukannya kita tidak memiliki keinginan, tetapi kehendak Tuhanlah yang lebih penting. Kehendak Tuhan dengan kehendak kita berbeda kualitas. Apa yang kita mau berakibat destruktif untuk kita, tetapi apa yang Tuhan mau akan memuliakan Dia. Ini satu sistem yang Tuhan berikan, tetapi jika tidak kita jalankan, itu sama dengan bunuh diri. Saat kita mulai menekankan penyangkalan diri, di sisi lain dunia kita mulai mengajarkan aktualisasi diri.

Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan sebuah buku karya Kiyosaki, “Rich Dad, Poor Dad”. Didiklah anakmu bagaimana uang memenuhi keinginannya, didiklah anakmu menjadi humanis dan materialis. Ini yang membuat dunia kita hancur. Siapakah yang mau tahu? Orang Kristen pun tidak tahu. Ketika kita tidak bisa menyangkal diri, bebas mengumbar nafsu, maka kita akan menjadi orang yang paling celaka, karena ambisi yang tidak pernah terselesaikan. Ketika kita hidup seperti ini, apakah akibatnya bagi kita?

1. Pasti tidak mungkin kita mengerti kehendak Tuhan. Kita menjadi Kristen, tetapi cara pikir kita tidak Kristen sama sekali. Tanpa penyangkalan diri, kita akan menjadi orang Kristen yang humanis, yang hanya memikirkan diri sendiri, melayani nafsu yang tidak ada habis-habisnya.


2. Kita semakin hari akan digiring menuju kehancuran, karena ini menjadi suatu rentetan dan dorongan yang besar di dunia. Pdt. Stephen Tong pernah berkata, dosa dimulai dari ketidakmampuan penyangkalan diri yang pertama dan akan menghancurkan kita di tingkat maksimum dari pertanggungjawaban kita. Satu kali kita tidak bisa bilang ‘tidak’, itulah titik awal dari kehancuran kita.  Keberanian kita untuk menyangkal diri, di situlah yang membedakan kita dari siapa pun. Menyangkal diri, itu untuk kebaikan kita. Tuhan mau di tengah dunia yang penuh dengan tantangan nafsu, kita harus berani berkata ‘tidak’.


3. Di dalam diri kita ini, sekalipun sudah bertobat, kita masih memiliki daging dan darah yang mengandung bibit dosa, sehingga kita bukan melawan musuh di luar, tetapi musuh di dalam diri. Jika kita tidak bisa melawan diri sendiri, kita tidak bisa hidup sungguh-sungguh untuk Tuhan. Maka menyangkal diri menjadi satu instrumen yang Tuhan berikan untuk kita, supaya kita bias mengalahkan daging dan darah ini, dan itu merupakan kekuatan yang Tuhan berikan  supaya kita bisa lepas dari ikatan yang menjembatani kerusakan dosa masuk ke dalam diri kita.

Kita tidak percaya teori Somasema dari orang Yunani yang mengajarkan untuk menyiksa diri agar tubuh hancur dan rohnya bisa lepas. Alkitab tidak mengajarkan seperti itu. Kita juga tidak percaya ekstrem yang lain lagi, yaitu Hedonisme/ Epikurianisme, kebebasan menikmati segala sesuatu karena besok kita akan mati. Tuhan tidak mengajarkan kita untuk meliarkan diri, untuk menyiksa diri, tetapi untuk menyangkal diri, sehingga dalam hal ini ada cara proporsional untuk mengatasi darah dan daging yang masih mengandung bibit dosa ini. Jika kita memiliki kekuatan seperti ini, kita akan menjadi saksi Tuhan yang tidak pernah dikunci oleh apa yang dunia mau, tetapi kita akan dididik sesuai kebenaran Firman Tuhan. Sulitkah? Tidak, jika paradigma kita sudah berubah! Menjadi sangat sulit jika kita masih mau berkompromi dengan dunia kita. Marilah kita belajar untuk menyangkal diri, menjadi suatu latihan rohani yang baik untuk hidup kita.

Sebelumnya: Perubahan Paradigma Para Murid http://christianreformedink.wordpress.com/2009/10/03/perubahan-paradigma-pada-murid/


Melanjutkan pembahasan dari kitab Matius 16, hari ini kita akan menekankan pada ayat ke 24. Tuhan Yesus bertanya, “Siapakah Aku ini menurut kamu?” Dan Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Ini merupakan pengakuan iman yang muncul dari anugerah Tuhan sehingga Petrus berani menerobos dan membuat suatu kesimpulan yang begitu tegas dan beresiko berat, karena saat itu, jika kalimat itu didengar oleh orang-orang Yahudi dan Mahkamah Agama, Petrus bisa mati karena dianggap menghujat Allah. Namun Tuhan Yesus mengaminkan ‘statement of faith’ dari Petrus, kemudian memberitahukan bahwa Mesias akan menderita, mati dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Salahkah Tuhan Yesus memberitahukan  hal ini? Apakah itu hal yang betul-betul akan terjadi? Ya, itu bukan sekedar omong kosong. Saya percaya kalau kalimat itu dikatakan oleh Yesus dengan hati yang sangat berat, karena itulah yang harus Dia lakukan untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Tetapi justru kalimat itu ditanggapi oleh Petrus dengan cara yang unik dan ‘Humanis’, yaitu dia segera menarik Tuhan Yesus dan marah, “Tuhan, hal seperti itu tidak akan terjadi, kiranya Allah akan menjauhkan hal itu  daripadaMu!”. Sebuah kalimat teologis yang kelihatannya begitu hebat, lalu Tuhan Yesus langsung menghardik dengan sangat keras, “Enyahlah Iblis!”. Hardikan itu bukan diucapkan Yesus tanpa alasan, tetapi karena Petrus berpikir bukan yang dipikir Allah, tetapi pikiran manusia. Punya ‘statement of faith’? Ya! Apakah Petrus tahu siapakah Yesus? Ya! Tetapi apa yang dia ketahui secara ‘cognitive’ tidak mengubah paradigma pemikiran dia dan ini bukan terjadi hanya pada Petrus saja. Maka pada ayat ke 24, Yesus memanggil semua murid dan Dia mulai merombak konsep ini.

Menerima Yesus, mengikut Yesus, itu bukan sekedar ‘statement of faith’. “Engkau adalah Tuhan, Engkau adalah Juruselamat.”, kalimat ini bagi saya hanyalah fiktif, bersifat di luar dan belum mencapai iman yang sesungguhnya. Statement yang hanya bersifat di luar masih bisa menjadi alat Setan, dengan cara berpikir yang tidak beres dan tidak cocok. Banyak orang berpikir, kalau saya sudah menerima Yesus, maka saya sudah menjadi Kristen.

Mengapa kita kadang susah sekali untuk mengerti dalam mendengarkan suatu kotbah? Rasanya kotbah tsb sulit sekali. Menurut saya, yang paling inti adalah masalah paradigma. Mengapa susah? Karena yang diajarkan di dalam Firman Tuhan kontras terbalik dengan apa yang diajarkan oleh dunia, dan gereja yang tidak berbasiskan teologi Reformed yang kokoh pasti menggunakan struktur yang humanistik, hanya cocok dengan apa yang manusia inginkan. Alkitab mengatakan, jika ingin mengikut Yesus, maka harus menderita, menyangkal diri dan memikul salib! Orang lain berkata, jika mengikut Yesus, maka kamu akan senang, hidup lancar dan kaya. Berbeda bukan? Perbedaan ini bukan masalah mengerti atau tidak mengerti, tetapi cara berpikirnya yang kontras. Keduanya sama-sama mengikut Yesus, tetapi pikiran dasarnya berbeda. Kalau mengikut Yesus, maka saya akan hidup enak, tidak perlu berpikir susah-susah, langsung mengerti. “Berbahagialah kamu yang kaya, celakalah kamu yang miskin!” Semua orang akan mengerti hal ini tanpa perlu berpikir lagi. “Berbahagialah kamu yang miskin, celakalah kamu yang kaya!” Kalimat ini jadi susah. Apanya yang susah? Padahal tidak ada satu kata pun yang tidak dimengerti, tetapi mengapa setelah disusun menjadi kalimat jadi susah diterima? Ayat ini (Luk 6:20-26) jarang dikotbahkan karena tidak ada yang mau dengar, padahal itulah yang  dikotbahkan oleh Tuhan Yesus. Maka orang Yahudi pun sangat tidak suka mendengar kotbah Yesus ini. Ayat-ayat seperti ini harus sering dibaca, supaya cara berpikir kita diubah seperti cara pikir Tuhan.

Hari ini saya juga akan berkotbah tentang paradigma yang terbalik. Kamu tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi yang dipikirkan manusia. Bagaimanakah kita berpikir seperti yang dipikirkan Allah? Orang yang disebut ‘bertobat’, artinya berbalik arah 180°. Jika cara berpikir kita sebelum dan sesudah jadi Kristen masih tetap sama, maka itu namanya belum bertobat. Mengapa seseorang bisa mengalami kesulitan untuk mengerti Firman Tuhan? Karena filosofi di belakang kepalanya yang belum beres. Ini kesulitan yang terbesar, bukan tidak mengerti kotbahnya, tetapi pola pikirnya sudah total melawan apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan. Itulah yang terjadi pada Petrus. Ada yang tidak beres di dalam pikiran Petrus. Tidak heran kalau Yesus menghardik, “Enyahlah Iblis!” Sudah ada pengakuan iman? Sudah! Sudah mengerti siapakah Yesus? Sudah! Mengerti siapakah Yesus dengan mengubah hidup dia dengan apa yang dia kenal adalah 2 hal yang berbeda. Jika hal itu belum terjadi, maka itu belum bertobat namanya.

Tidak mungkin Kristus yang adalah Allah akan menderita dan mati. Yesus juga pemberi berkat, banyak memberikan kesembuhan. Masakah orang yang baik seperti ini dibunuh? Tidak mungkin! Ini logis, tetapi ada 2 jenis logis, yaitu logis versi humanis dan logis versinya Allah dan celakanya Petrus berpikir logis versi manusia. Petrus tidak bisa mengerti hal ini karena sudah ada logika tertentu di kepalanya. Ini merupakan suatu masalah yang paling serius yang ada di dalam diri manusia untuk kembali kepada Tuhan. Itu sebabnya teologia Reformed berkata, jika engkau bisa mengerti, bukan karena engkau hebat. Pengertianmu tidak bergantung pada rasiomu, berapa tinggi IQ-mu. Paulus bukan orang dengan IQ yang rendah, bahkan ia adalah murid dari Gamaliel. Sebelumnya ia tidak mengerti siapakah Kristus, sampai suatu saat Tuhan mengubah dia dan sejak itu konsepnya berubah total. Janganlah sombong jika kita mengerti Firman Tuhan.

Firman Tuhan mengisi, mengubah hidup kita untuk menunjang seluruh kehidupan kita di tengah dunia ini. Bagaimanakah Petrus berelasi dengan apa yang Kristus katakan sewaktu terjadi benturan yang keras itu? Saat itu Kristus tahu bahwa itu bukan Petrus! Ini merupakan problem umum, problem semua anak Tuhan, jadi sangat mungkin, problem saat itu dan hari ini adalah relevan! Itu bukan problema pribadi tertentu yang harus diselesaikan dengan konseling saja. Kadang kita ribut dengan hal-hal yang hanya kelihatan di depan saja, tetapi kita jarang memikirkan kenapa seseorang bisa mengeluarkan kalimat itu? Apakah yang ada di belakangnya? Kalau begitu, apakah akar permasalahan yang terjadi di dalam diri Petrus? Apakah inti problema yang Petrus alami? Yesus berkata, “Engkau berpikir bukan yang dipikirkan Allah, tetapi yang dipikirkan manusia”. Di dalam aspek apa? Di sini Tuhan Yesus membuka 3 masalah:

1. Siapa yang ingin mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku.

2. Barangsiapa ingin mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Ini logika yang membobol system yang normal. Ini yang namanya Parodoxical Thinking

3. Yang terakhir dan paling penting; apa artinya engkau mendapatkan seluruh isi dunia, tetapi kehilangan nyawamu? Apa yang bisa diberikan ganti sebuah nyawa?

Sistem yang paling penting yang memotivasi seluruh hidup kita disebut value system. Apa yang kita kerjakan adalah apa yang menurut kita paling berharga. Manusia biasanya mau mendapatkan seluruh isi dunia dan untuk itu dia rela kehilangan nyawanya.

Di dalam dunia filsafat dikenal istilah “Axiology”, yaitu cara penilaian. Setiap kita menilai segala sesuatu, cuma yang tidak pernah kita tanya adalah apakah cara penilaianku itu sudah benar atau belum? Kita mudah sekali mengatakan ini berharga, itu tidak. Mengapa kita tidak bertanya, mengapa itu berharga? Karena semua orang berkata itu berharga. Apakah  semua orang berkata itu berharga maka jadi berharga? Value system harus dipertanyakan dan harus dijawab. Kristus mendobrak seluruh sistem itu dan kita harus memikirkan ulang, bagaimana saya hidup? Apakah yang memotivasi saya hidup? Kenapa saya hidup? Untuk apa saya hidup? Ini semua harus dipertanyakan ulang. Jika semua sudah beres, baru kita mulai membahas bagaimana saya berpikir sesuai yang Allah pikir dan bukan yang manusia pikir.

Banyak orang menggambarkan ayat 24 sebagai suatu kecelakaan di dalam mengikut Yesus. Banyak orang takut mengikut Yesus karena takut susah. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Andaikata boleh, susah tidak? Andaikata kita boleh berbohong, susah tidak? Orang bilang hidup lebih enak jika boleh berbohong. Apa betul? Sekali kita berbohong, maka kita harus berbohong yang kedua untuk menutupi bohong yang pertama, bohong ketiga untuk menutupi bohong kedua, dst. Pikiran kita akan penuh dengan skenario untuk menutupi kebohongan sebelumnya, akhirnya hidup kita menjadi tegang, takut dan tidak pernah tenang. Orang yang banyak berbohong pasti celaka dan akhirnya pasti akan ketahuan. Saat semuanya terbongkar, rusaklah nama kita. Jika sudah demikian, apakah hidup seperti itu bisa dibilang lebih enak? Memori otak kita akan penuh dengan segala hal yang tidak perlu. Apakah itu cara terbaik? Tidak!

Di dalam ayat 24, Kristus tidak pernah bertujuan untuk merugikan kita. Dia ingin memberikan kepada kita suatu konsep yang paling tepat, bagaimana seharusnya kita hidup. Dan ketika Dia mengajarkan hal ini, seringkali manusia tidak bisa menerima karena cara berpikirnya berbeda. Tetapi jika kita mengerti apa yang Kristus katakan, itu jauh lebih indah dari apa pun yang manusia mampu pikirkan. Manakah yang lebih mudah dan lebih kita sukai, mengikut Yesus dengan ‘offer’ (penawaran) atau mengikut Yesus dengan ‘condition’ (syarat)? Seringkali kita tidak berani jujur, karena terjadi konflik di dalam diri kita, antara otak dengan hati. Ada ‘offer’, ada ‘condition’, manakah yang kita pilih? Otak kita kadang terlalu naïf. Jika kita diberi kaya, apakah itu menjamin akan lebih baik? Tidak! Tetapi otak kita sudah langsung berasumsi, kaya pasti lebih baik,  menyangkal diri pasti tidak enak. Justru terbalik! Sewaktu kita bisa menyangkal diri, itu paling enak. Sewaktu kita memikul salib, itu paling enak! Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal! Kenapa? Karena kepala kita sudah diplot oleh mitos yang  ditanamkan oleh filsafat dunia dan Firman Tuhan tidak mengisi kita. Mari kita bandingkan. Kristus berkata, syarat pertama adalah menyangkal diri, artinya berani mengatakan ‘tidak’ pada apa yang saya mau. Say ‘No’ to ourselves. Orang bilang, ‘This is not freedom’. Tetapi Alkitab katakan itulah freedom. Dalam dunia, kita akan melihat orang-orang pintar yang konsep kekristenannya masih sangat ambigu. Imannuel Kant, seorang filsuf yang moralis berkata, “Kebebasan sejati tidak berarti bebas melakukan apa saja yang mau kita lakukan, tetapi bisa tidak melakukan apa yang kita tidak mau lakukan”. Dunia mengajarkan, apa yang kau mau, engkau pasti mendapat. Itu versi perbudakan dunia. Menurut Kant, itu rendah. Itu bukan kebebasan sejati.

Seringkali  orang Kristen memakai dalih “roh memang penurut, tapi daging lemah”. Itu berarti kita masih ada di bawah perbudakan. Tetapi saat kita berkata ‘tidak’, tetap ‘tidak’ (sekali pun kita sangat menginginkannya), saat itulah kita benar-benar bebas, karena kita sudah mengalahkan perbudakan dalam bentuk apa pun. Mengapa? Karena bagi Kant, kalau saya harus melakukan apa yang saya tidak mau, itu namanya perbudakan. Satu-satunya jalan, kita harus kembalikan ‘tuan’ kita kepada TUHAN di dalam kebenaran FirmanNya. Jika kita bisa menyangkal diri, maka kita akan bebas dari 90% kesulitan yang kita alami akibat dari kita tidak bisa menyangkal diri. Siapakah yang membuat kita susah? Orang lainkah? Tidak! Diri sendirilah yang membuat kita susah karena kita tidak bisa bilang ‘tidak’ pada diri sendiri. Semakin banyak orang yang ingin memaksakan kehendaknya, seisi dunia menjadi susah. Masing-masing mempunyai keinginan dan tidak bias bilang ‘tidak’, akhirnya semuanya menjadi suatu sistem yang destruktif yang menghancurkan kita.

Banyak orang yang berpuasa untuk memaksa Tuhan mengikuti apa yang dia inginkan. Puasa sebenarnya adalah untuk menyangkal diri. Ketika kita berani berkata ‘tidak’ pada diri, itulah saatnya kita mulai mengerti kehendak Tuhan. Mengapa banyak orang yang sulit mengerti kehendak Tuhan? Karena kita maunya kehendak kita sendiri. Ketika kita bilang ‘tidak’ pada diri, itu memungkinkan apa yang Tuhan mau bisa digenapi. Tuhan Yesus bukannya tidak mempunyai kemauan. Ia berkata, “Jikalau boleh, lalukanlah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, kehendakMulah yang jadi”. Itulah penyangkalan diri.

Kita mengerti kehendak Tuhan saat kita berani berkata ‘tidak’. Bukannya kita tidak memiliki keinginan, tetapi kehendak Tuhanlah yang lebih penting. Kehendak Tuhan dengan kehendak kita berbeda kualitas. Apa yang kita mau berakibat destruktif untuk kita, tetapi apa yang Tuhan mau akan memuliakan Dia. Ini satu sistem yang Tuhan berikan, tetapi jika tidak kita jalankan, itu sama dengan bunuh diri. Saat kita mulai menekankan penyangkalan diri, di sisi lain dunia kita mulai mengajarkan aktualisasi diri.

Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan sebuah buku karya Kiyosaki, “Rich Dad, Poor Dad”. Didiklah anakmu bagaimana uang memenuhi keinginannya, didiklah anakmu menjadi humanis dan materialis. Ini yang membuat dunia kita hancur. Siapakah yang mau tahu? Orang Kristen pun tidak tahu. Ketika kita tidak bisa menyangkal diri, bebas mengumbar nafsu, maka kita akan menjadi orang yang paling celaka, karena ambisi yang tidak pernah terselesaikan. Ketika kita hidup seperti ini, apakah akibatnya bagi kita?

1. Pasti tidak mungkin kita mengerti kehendak Tuhan. Kita menjadi Kristen, tetapi cara pikir kita tidak Kristen sama sekali. Tanpa penyangkalan diri, kita akan menjadi orang Kristen yang humanis, yang hanya memikirkan diri sendiri, melayani nafsu yang tidak ada habis-habisnya.

2. Kita semakin hari akan digiring menuju kehancuran, karena ini menjadi suatu rentetan dan dorongan yang besar di dunia. Pdt. Stephen Tong pernah berkata, dosa dimulai dari ketidakmampuan penyangkalan diri yang pertama dan akan menghancurkan kita di tingkat maksimum dari pertanggungjawaban kita. Satu kali kita tidak bisa bilang ‘tidak’, itulah titik awal dari kehancuran kita.  Keberanian kita untuk menyangkal diri, di situlah yang membedakan kita dari siapa pun. Menyangkal diri, itu untuk kebaikan kita. Tuhan mau di tengah dunia yang penuh dengan tantangan nafsu, kita harus berani berkata ‘tidak’.

3. Di dalam diri kita ini, sekalipun sudah bertobat, kita masih memiliki daging dan darah yang mengandung bibit dosa, sehingga kita bukan melawan musuh di luar, tetapi musuh di dalam diri. Jika kita tidak bisa melawan diri sendiri, kita tidak bisa hidup sungguh-sungguh untuk Tuhan. Maka menyangkal diri menjadi satu instrumen yang Tuhan berikan untuk kita, supaya kita bias mengalahkan daging dan darah ini, dan itu merupakan kekuatan yang Tuhan berikan  supaya kita bisa lepas dari ikatan yang menjembatani kerusakan dosa masuk ke dalam diri kita.

Kita tidak percaya teori Somasema dari orang Yunani yang mengajarkan untuk menyiksa diri agar tubuh hancur dan rohnya bisa lepas. Alkitab tidak mengajarkan seperti itu. Kita juga tidak percaya ekstrem yang lain lagi, yaitu Hedonisme/ Epikurianisme, kebebasan menikmati segala sesuatu karena besok kita akan mati. Tuhan tidak mengajarkan kita untuk meliarkan diri, untuk menyiksa diri, tetapi untuk menyangkal diri, sehingga dalam hal ini ada cara proporsional untuk mengatasi darah dan daging yang masih mengandung bibit dosa ini. Jika kita memiliki kekuatan seperti ini, kita akan menjadi saksi Tuhan yang tidak pernah dikunci oleh apa yang dunia mau, tetapi kita akan dididik sesuai kebenaran Firman Tuhan. Sulitkah? Tidak, jika paradigma kita sudah berubah! Menjadi sangat sulit jika kita masih mau berkompromi dengan dunia kita. Marilah kita belajar untuk menyangkal diri, menjadi suatu latihan rohani yang baik untuk hidup kita.

About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.