PERUBAHAN PARADIGMA PADA MURID


 Matius 16: 13-20, 21-28

Oleh: Pdt. Sutjipto Subeno

Di dalam Mat. 16:21 Tuhan Yesus pertama kalinya menyatakan misiNya sebagai Mesias. Ayat 21-23 dikatakan bahwa Anak Manusia akan mengalami penderitaan, dibunuh, mati dan akan bangkit pada hari yang ketiga. Ini berkaitan dengan teks sebelumnya tentang pengakuan Petrus akan siapakah Yesus? Petrus mewakili teman-temannya yang lain mengaku bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup. Urutan ini menjadi urutan yang penting yang juga ditulis berurutan dalam ketiga Injil Sinoptik (Mat, Mrk, Luk) lainnya. Urutan ini menjadi urutan yang sangat significant. Kenapa?

Karena tidak semua di dalam Injil Sinoptik semua urutan dipasang sama. Masing-masing dari penulis Injil mempunyai penekanan dan gaya penulisan yang berbeda. Tetapi jika ada satu hal yang sangat penting, maka urutan itu tidak boleh diputuskan, supaya konteks cerita tidak jadi pecah. LAI membagi bagian ini menjadi 2 perikop, seolah-olah tidak ada hubungannya satu sama lain, padahal hubungannya sangat erat. Pengakuan Petrus menjadi satu pengakuan yang sangat penting yang saya sebut sebagai ‘Pivotal Point’, titik putar dalam seluruh sejarah. Ketika sejarah Kristus hadir, maka orang mengerti bahwa Kristuslah nabi yang datang untuk mengajar, menyembuhkan, mengusir setan dan mengabarkan Injil. Semua orang tahu apa yang dikerjakan Kristus, dan celakanya banyak orang Kristen yang menekankan terlalu banyak akan hal ini. Kenapa? Karena Tuhan Yesus tidak pernah turun ke dunia hanya untuk melakukan hal ini. Semua nabi, bahkan orang-orang non-Kristen pun dalam beberapa aspek  bisa melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, dsb. Jika hanya untuk pekerjaan yang terlalu umum seperti itu, kenapa Anak Allah harus turun ke dalam dunia? Tidak ada signifikansinya. Tetapi justru dalam titik tertentu, Kristus baru membuka rahasia. Who am I? Saya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup dan inilah yang membedakan siapakah Kristus dengan ‘siapa’ yang lain. Inilah signifikansi yang perlu dimengerti oleh anak-anak Tuhan. Maka setelah Kristus mendapatkan pengakuan Petrus, Kristus langsung mengklarifikasi bahwa bukan Petrus yang hebat yang bisa mengatakan pengakuan itu, tetapi Allahlah yang membukakan-nya pada Petrus. Kalimat pengakuan Petrus tidak ada signifikansi apa-apa jika diucapkan pada jaman sekarang, tetapi pada jaman Petrus, kalimatnya itu bisa membuat ia mati dirajam. Kenapa? Karena itu penghujatan yang besar terhadap Allah. Kristus disalib bukan karena Ia berdosa, tetapi karena Ia mengaku sebagai Anak Allah. Kalimat itu adalah kalimat yang sangat beresiko, maka ketika Petrus mengatakan hal itu, Kristus begitu menghargainya dan berkata bahwa di atas batu karang itulah akan Kudirikan GerejaKu dan kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan sorga. Kemudian Tuhan Yesus melanjutkannya dengan menceritakan tentang tugas Mesianik, yaitu Anak Manusia harus pergi ke Yerusalem, akan menderita, dibunuh, mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Saat itulah yang disebut sebagai Pivotal Point. Tentulah Kristus mengatakan hal itu dengan hati yang begitu berat. Tetapi reaksi Petrus adalah begitu marah, dengan sikap yang keras dan kalimat yang otoritatif dan ‘teologis’ berkata, “Allah akan menjauhkan hal itu dan hal seperti itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau!” Jika sebelumnya Petrus berkata bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup, apakah Petrus tahu siapa yang berdiri di hadapannya? Jawabannya paradoks. Teorinya tahu, tetapi faktanya tidak tahu. Siapakah yang ada di hadapan Petrus? Masakah Mesias akan mengalami mati dibunuh? Yesus adalah Anak Allah, tidak mungkin hal itu akan terjadi.

Siapakah yang dihadapi oleh Petrus? Allah atau bukan? Kalau yang dihadapi adalah Anak Allah, maka Allah adalah Allah. Orang Yahudi menyebut ‘Anak Allah’ adalah ‘anak’ dalam pengertian esensial, sehingga menyebut Anak Allah akan mati. Anak dalam pengertian esensial berarti dalam nature yang sama. Kita seringkali mengkaburkan istilah ‘anak’, karena anak memiliki 2 makna; esensial dan ekstensial (perluasan). Esensial adalah pengertian yang sesungguhnya. Kita seringkali tidak bisa membedakan dan membuat cara berpikir kita menjadi kacau. Mis: anak ayam dan anak dokter. Istilah yang dipakai adalah sama-sama ‘anak’, tetapi artinya berbeda. Anak ayam pastilah ayam, tetapi anak dokter belum tentu dokter.

Anak Allah dalam pengertian Yahudi adalah arti esensial, berarti jika menyebut Anak Allah, maka sama dengan Allah. Sehingga ketika Petrus berkata, “Kiranya Allah akan menjauhkan hal itu!”, maka ada konflik teologis dalam benak Petrus. Kalau begitu, siapakah yang berdiri di depannya? Reaksi Petrus adalah reaksi yang spontan dan natural, suatu jawaban yang orisinil. Tetapi saat itu Kristus juga bereaksi begitu luar biasa. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi pada Petrus? Kemungkinan yang dipikirkan oleh Petrus adalah:

1. Dia tidak rela kalau Gurunya celaka. Mungkin Petrus begitu mengasihi Gurunya atau mungkin juga ia memiliki motivasi yang lain. Ini perlu digumuli, karena setiap aksi kita selalu ada latar belakangnya. Setiap masalah kita bukan di tindakan dan cara berpikir kita, tetapi sesuatu di belakang cara berpikir itu. Secara logika, tidak mungkin Mesias akan dianiaya.

2. Allah tidak mungkin akan membiarkan, karena Allah itu maha kuasa. Secara logika, tidak mungkin Anak Allah akan menderita. Waktu Petrus berpikir seperti ini, Tuhan Yesus menghardik dengan keras, “Enyahlah Iblis!” Mungkin jika kita ada pada saat itu, kita juga setuju pada apa yang Petrus katakan, tetapi nyatanya Yesus malah menghardik! Dalam hal ini, kenapa murid-murid bisa berpikir demikian? Jika kita mempelajari ay. 24, Tuhan Yesus tidak hanya mengcounter masalah itu  pada Petrus, tetapi juga pada murid-murid yang lain. Masalah itu bukan pada pribadi Petrus, tetapi pada seluruh murid dan mungkin juga menjadi masalah kita hari ini. Ketika Yesus menghardik, pasti ada alasan di belakang hardikan itu. Tuhan Yesus tahu bahwa Petrus jujur, tetapi jujur yang salah. Sewaktu manusia berpikir logis dan manusiawi, justru di hadapan Tuhan itu tidak wajar dan tidak manusiawi. Petrus telah menjadi batu sandungan bagi Kristus. “You think not what God thinks, but man thinks” Cara berpikir kita adalah cara berpikir manusiawi, bukan cara berpikir Allah. Berarti, problem apakah yang sedang terjadi?

Ini adalah problem cara berpikir kita. Petrus secara pengakuan iman sudah cukup. Sama seperti kita  dapat menghafal Pengakuan Iman Rasuli dengan baik, tetapi tingkah laku dan cara berpikir kita belum tentu sama. Itu dua hal yang berbeda. Bolehkah kita mengaku diri Kristen? Ketika kita mengaku diri Kristen, apakah cara berpikir kita otomatis berubah menjadi Kristen? Apakah orang Kristen boleh mengabaikan problematik pemikiran ini? Di sinilah celakanya! Sebagian besar anak Tuhan berpikir, tetapi cara berpikir kita jauh lebih ‘worldly’ (duniawi) daripada ‘Godly’ (spiritual). Cara berpikir kita sudah diracuni oleh system pendidikan dunia yang membuat kita tidak bisa kembali pada Alkitab dan tidak bisa mengerti konsep Firman Tuhan.

Di ay. 25 kita akan belajar cara berpikir yang Tuhan sodorkan, yaitu ‘Paradoxical Thinking’, cara berpikir paradoks. Waktu kita mau berpikir Kristen, cara berpikir kita masih diracuni oleh cara pikir dunia, akhirnya cara berpikir kita tidak pernah beres. Mis: berapa banyakkah di antara kita yang sejak lahir sudah dididik baik-baik secara Kristen oleh orang tua kita, sehingga sampai kita dewasa memiliki konsep iman yang kokoh? Mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar orang tua Kristen tidak bisa mendidik anak-nya dengan iman Kristen yang baik. Cara berpikir yang duniawi ini tidak hanya menjadi problem Petrus, tetapi juga menjadi problem kita hari ini. Cara berpikir kita bukanlah hal yang sederhana, tetapi akan mengekstensikan seluruh hidup kita. Seluruh struktur hidup kita dibagi menjadi:

1. Iman, hati yang paling dalam, yang hanya bisa diubah oleh Tuhan.

2. Mind, cara berpikir kita. Bahasa Yunani menggunakan kata ‘nous’, sama seperti yang dipakai dalam Roma 12:2, budi di sini bukan berarti karakter, tetapi akal budi (mind). Mind yang sudah diisi oleh filsafat dunia inilah yang harus diubah. Celakanya justru kita membawa filsafat dunia ini masuk ke dalam gereja, sehingga gereja menjadi rusak.

Efek lainnya adalah orang Kristen banyak yang mematikan konsep berpikir. Banyak gereja yang mengajarkan, kalau ke gereja pakai iman dan pengalaman, jangan pakai otak. Memakai pikiran berasal dari setan. Alkitab PB berulang kali mengajarkan agar kita memikirkan semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, .(Flp 4:8), yang di dunia dikenal dengan Positive Thinking, tetapi itu sesat. Allah mengajarkan Postive Thinking yang sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Napoleon Hill, dalam bukunya “Think Not What God Thinks but Man Thinks, Think and Grow Rich” Buku-buku positive thinking begitu banyak, sementara orang Kristen berkata, jangan pakai pikiran! Kekristenan sudah begitu rusak. Alkitab mengajarkan berpikir tunduk di bawah cara berpikir Tuhan. Inilah cara berpikir Kristen. Jadi, ujilah cara orang Kristen berpikir. Jika tidak, layakkah kita mengaku jadi orang Kristen? Siapakah kita? Berani memakai nama Kristen, tetapi cara berpikir duniawi. Maka Allah berkata, “Enyahlah Iblis!” Ini hal yang serius. Bukan sekedar pikiran yang manusiawi, tetapi ada setan di belakangnya. Jika orang berpikir duniawi, tidak mungkin ia bisa berpikir seperti yang Tuhan mau. Sementara apa yang Alkitab ajarkan begitu berkontradiksi dengan yang dunia ajarkan.

Kotbah Kristus yang pertama (Luk. 6:20-24) sangat kontroversial sekali untuk orang Yahudi. Jika kita merenungkan ayat-ayat tersebut, manakah yang benar? Tentunya apa yang Alkitab ajarkan adalah yang benar dan membuat kita untuk berpikir ‘Godly’. Terutama sewaktu kita mengalami kesulitan, aniaya, kita merasa Tuhan tidak adil pada kita. Kenapa orang Kristen harus mengalami penderitaan? Padahal menurut Alkitab itu adalah hal yang wajar. Banyak orang Kristen yang berteriak pada Tuhan saat mengalami kesulitan. Habakuk pun pernah berteriak hal yang sama sejak 2600 th yang lalu. Tetapi Allah menyuruh diam. Diam di hadapan Tuhan tidak berarti pasif. Habakuk merasa Allah tidak adil kepadanya. Tetapi Allah meminta agar Habakuk taat dan melihat cara Allah bekerja. Setelah itu baru Habakuk berubah total (psl 3) dan Tuhan mempersiapkan dia untuk menghadapi suatu kesulitan yang luar biasa berat. Perubahan konsep paradigma yang drastis terjadi dalam diri Habakuk.Tuhan sengaja mengijinkan Habakuk mengalami pergumulan yang begitu berat supaya kita mempunyai contoh dalam Alkitab, bagaimana orang yang salah konsep berpikirnya. Kalau saya ikut Tuhan, seharusnya saya lancar terus. Tetapi Tuhan berkata, jika engkau mengikut Aku di dalam dunia yang jahat, maka kejahatan dan penderitaan yang engkau alami adalah hal yang wajar. Yang perlu dirubah adalah cara berpikirmu, bagaimana engkau berpikir sesuai yang Tuhan pikirkan.

Kita bertanya pada diri kita, siapakah yang bisa merubah paradigma kita? Hanya kita sendiri. Tuhan hanya menolong kita untuk berjuang merubah cara berpikir kita. Justification dikerjakan dari Atas, tetapi Progressive Sanctification dikerja-kan di dalam diri kita. Tuhan mau kita berusaha keras untuk berubah, bukan dari penampilan, tetapi dari dalam, mulai dari perubahan paradigma. Mintalah Tuhan merubah kita, mungkin sakit. Tetapi jika Tuhan sudah mengubahkan, hidup kita akan terasa lebih ringan, karena apa yang kita pikirkan sudah sesuai dengan pikiran Tuhan. Sewaktu kita menggumuli hal ini, kita bisa menjadi berkat bagi orang lain karena cara berpikir kita berbeda dengan cara berpikir duniawi. Inilah signifikansi dari Gerakan Reformed.

Dari pasal 16:24, Yesus berkata, jika ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal diri dan memikul salib. Kalimat ini adalah kalimat yang berat, namun pasti, karena itulah yang terbaik untuk kita. Celakanya banyak orang Kristen yang tidak suka dengan kalimat ini. Tetapi jika paradigma kita sudah diubah oleh Tuhan, kita baru bisa melihat apa yang Tuhan ajarkan itu begitu indah. Marilah kita menggumulkan hal ini.

Bersambung ke: Perubahan Paradigma Tentang Penyangkalan Diri http://christianreformedink.wordpress.com/2009/10/03/perubahan-para…yangkalan-diri/

Di dalam Mat. 16:21 Tuhan Yesus pertama kalinya menyatakan misiNya sebagai Mesias. Ayat 21-23 dikatakan bahwa Anak Manusia akan mengalami penderitaan, dibunuh, mati dan akan bangkit pada hari yang ketiga. Ini berkaitan dengan teks sebelumnya tentang pengakuan Petrus akan siapakah Yesus? Petrus mewakili teman-temannya yang lain mengaku bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup. Urutan ini menjadi urutan yang penting yang juga ditulis berurutan dalam ketiga Injil Sinoptik (Mat, Mrk, Luk) lainnya. Urutan ini menjadi urutan yang sangat significant. Kenapa? Karena tidak semua di dalam Injil Sinoptik semua urutan dipasang sama. Masing-masing dari penulis Injil mempunyai penekanan dan gaya penulisan yang berbeda. Tetapi jika ada satu hal yang sangat penting, maka urutan itu tidak boleh diputuskan, supaya konteks cerita tidak jadi pecah. LAI membagi bagian ini menjadi 2 perikop, seolah-olah tidak ada hubungannya satu sama lain, padahal hubungannya sangat erat. Pengakuan Petrus menjadi satu pengakuan yang sangat penting yang saya sebut sebagai ‘Pivotal Point’, titik putar dalam seluruh sejarah. Ketika sejarah Kristus hadir, maka orang mengerti bahwa Kristuslah nabi yang datang untuk mengajar, menyembuhkan, mengusir setan dan mengabarkan Injil. Semua orang tahu apa yang dikerjakan Kristus, dan celakanya banyak orang Kristen yang menekankan terlalu banyak akan hal ini. Kenapa? Karena Tuhan Yesus tidak pernah turun ke dunia hanya untuk melakukan hal ini. Semua nabi, bahkan orang-orang non-Kristen pun dalam beberapa aspek  bisa melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, dsb. Jika hanya untuk pekerjaan yang terlalu umum seperti itu, kenapa Anak Allah harus turun ke dalam dunia? Tidak ada signifikansinya. Tetapi justru dalam titik tertentu, Kristus baru membuka rahasia. Who am I? Saya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup dan inilah yang membedakan siapakah Kristus dengan ‘siapa’ yang lain. Inilah signifikansi yang perlu dimengerti oleh anak-anak Tuhan. Maka setelah Kristus mendapatkan pengakuan Petrus, Kristus langsung mengklarifikasi bahwa bukan Petrus yang hebat yang bisa mengatakan pengakuan itu, tetapi Allahlah yang membukakan-nya pada Petrus. Kalimat pengakuan Petrus tidak ada signifikansi apa-apa jika diucapkan pada jaman sekarang, tetapi pada jaman Petrus, kalimatnya itu bisa membuat ia mati dirajam. Kenapa? Karena itu penghujatan yang besar terhadap Allah. Kristus disalib bukan karena Ia berdosa, tetapi karena Ia mengaku sebagai Anak Allah. Kalimat itu adalah kalimat yang sangat beresiko, maka ketika Petrus mengatakan hal itu, Kristus begitu menghargainya dan berkata bahwa di atas batu karang itulah akan Kudirikan GerejaKu dan kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan sorga. Kemudian Tuhan Yesus melanjutkannya dengan menceritakan tentang tugas Mesianik, yaitu Anak Manusia harus pergi ke Yerusalem, akan menderita, dibunuh, mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Saat itulah yang disebut sebagai Pivotal Point. Tentulah Kristus mengatakan hal itu dengan hati yang begitu berat. Tetapi reaksi Petrus adalah begitu marah, dengan sikap yang keras dan kalimat yang otoritatif dan ‘teologis’ berkata, “Allah akan menjauhkan hal itu dan hal seperti itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau!” Jika sebelumnya Petrus berkata bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup, apakah Petrus tahu siapa yang berdiri di hadapannya? Jawabannya paradoks. Teorinya tahu, tetapi faktanya tidak tahu. Siapakah yang ada di hadapan Petrus? Masakah Mesias akan mengalami mati dibunuh? Yesus adalah Anak Allah, tidak mungkin hal itu akan terjadi.

Siapakah yang dihadapi oleh Petrus? Allah atau bukan? Kalau yang dihadapi adalah Anak Allah, maka Allah adalah Allah. Orang Yahudi menyebut ‘Anak Allah’ adalah ‘anak’ dalam pengertian esensial, sehingga menyebut Anak Allah akan mati. Anak dalam pengertian esensial berarti dalam nature yang sama. Kita seringkali mengkaburkan istilah ‘anak’, karena anak memiliki 2 makna; esensial dan ekstensial (perluasan). Esensial adalah pengertian yang sesungguhnya. Kita seringkali tidak bisa membedakan dan membuat cara berpikir kita menjadi kacau. Mis: anak ayam dan anak dokter. Istilah yang dipakai adalah sama-sama ‘anak’, tetapi artinya berbeda. Anak ayam pastilah ayam, tetapi anak dokter belum tentu dokter.

Anak Allah dalam pengertian Yahudi adalah arti esensial, berarti jika menyebut Anak Allah, maka sama dengan Allah. Sehingga ketika Petrus berkata, “Kiranya Allah akan menjauhkan hal itu!”, maka ada konflik teologis dalam benak Petrus. Kalau begitu, siapakah yang berdiri di depannya? Reaksi Petrus adalah reaksi yang spontan dan natural, suatu jawaban yang orisinil. Tetapi saat itu Kristus juga bereaksi begitu luar biasa. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi pada Petrus? Kemungkinan yang dipikirkan oleh Petrus adalah:

1.       Dia tidak rela kalau Gurunya celaka. Mungkin Petrus begitu mengasihi Gurunya atau mungkin juga ia memiliki motivasi yang lain. Ini perlu digumuli, karena setiap aksi kita selalu ada latar belakangnya. Setiap masalah kita bukan di tindakan dan cara berpikir kita, tetapi sesuatu di belakang cara berpikir itu. Secara logika, tidak mungkin Mesias akan dianiaya.

2.       Allah tidak mungkin akan membiarkan, karena Allah itu maha kuasa. Secara logika, tidak mungkin Anak Allah akan menderita. Waktu Petrus berpikir seperti ini, Tuhan Yesus menghardik dengan keras, “Enyahlah Iblis!” Mungkin jika kita ada pada saat itu, kita juga setuju pada apa yang Petrus katakan, tetapi nyatanya Yesus malah menghardik! Dalam hal ini, kenapa murid-murid bisa berpikir demikian? Jika kita mempelajari ay. 24, Tuhan Yesus tidak hanya mengcounter masalah itu  pada Petrus, tetapi juga pada murid-murid yang lain. Masalah itu bukan pada pribadi Petrus, tetapi pada seluruh murid dan mungkin juga menjadi masalah kita hari ini. Ketika Yesus menghardik, pasti ada alasan di belakang hardikan itu. Tuhan Yesus tahu bahwa Petrus jujur, tetapi jujur yang salah. Sewaktu manusia berpikir logis dan manusiawi, justru di hadapan Tuhan itu tidak wajar dan tidak manusiawi. Petrus telah menjadi batu sandungan bagi Kristus. “You think not what God thinks, but man thinks” Cara berpikir kita adalah cara berpikir manusiawi, bukan cara berpikir Allah. Berarti, problem apakah yang sedang terjadi?

Ini adalah problem cara berpikir kita. Petrus secara pengakuan iman sudah cukup. Sama seperti kita  dapat menghafal Pengakuan Iman Rasuli dengan baik, tetapi tingkah laku dan cara berpikir kita belum tentu sama. Itu dua hal yang berbeda. Bolehkah kita mengaku diri Kristen? Ketika kita mengaku diri Kristen, apakah cara berpikir kita otomatis berubah menjadi Kristen? Apakah orang Kristen boleh mengabaikan problematik pemikiran ini? Di sinilah celakanya! Sebagian besar anak Tuhan berpikir, tetapi cara berpikir kita jauh lebih ‘worldly’ (duniawi) daripada ‘Godly’ (spiritual). Cara berpikir kita sudah diracuni oleh system pendidikan dunia yang membuat kita tidak bisa kembali pada Alkitab dan tidak bisa mengerti konsep Firman Tuhan.

Di ay. 25 kita akan belajar cara berpikir yang Tuhan sodorkan, yaitu ‘Paradoxical Thinking’, cara berpikir paradoks. Waktu kita mau berpikir Kristen, cara berpikir kita masih diracuni oleh cara pikir dunia, akhirnya cara berpikir kita tidak pernah beres. Mis: berapa banyakkah di antara kita yang sejak lahir sudah dididik baik-baik secara Kristen oleh orang tua kita, sehingga sampai kita dewasa memiliki konsep iman yang kokoh? Mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar orang tua Kristen tidak bisa mendidik anak-nya dengan iman Kristen yang baik. Cara berpikir yang duniawi ini tidak hanya menjadi problem Petrus, tetapi juga menjadi problem kita hari ini. Cara berpikir kita bukanlah hal yang sederhana, tetapi akan mengekstensikan seluruh hidup kita. Seluruh struktur hidup kita dibagi menjadi:

1. Iman, hati yang paling dalam, yang hanya bisa diubah oleh Tuhan.

2. Mind, cara berpikir kita. Bahasa Yunani menggunakan kata ‘nous’, sama seperti yang dipakai dalam Roma 12:2, budi di sini bukan berarti karakter, tetapi akal budi (mind). Mind yang sudah diisi oleh filsafat dunia inilah yang harus diubah. Celakanya justru kita membawa filsafat dunia ini masuk ke dalam gereja, sehingga gereja menjadi rusak.

Efek lainnya adalah orang Kristen banyak yang mematikan konsep berpikir. Banyak gereja yang mengajarkan, kalau ke gereja pakai iman dan pengalaman, jangan pakai otak. Memakai pikiran berasal dari setan. Alkitab PB berulang kali mengajarkan agar kita memikirkan semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, .(Flp 4:8), yang di dunia dikenal dengan Positive Thinking, tetapi itu sesat. Allah mengajarkan Postive Thinking yang sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Napoleon Hill, dalam bukunya “Think Not What God Thinks but Man Thinks, Think and Grow Rich” Buku-buku positive thinking begitu banyak, sementara orang Kristen berkata, jangan pakai pikiran! Kekristenan sudah begitu rusak. Alkitab mengajarkan berpikir tunduk di bawah cara berpikir Tuhan. Inilah cara berpikir Kristen. Jadi, ujilah cara orang Kristen berpikir. Jika tidak, layakkah kita mengaku jadi orang Kristen? Siapakah kita? Berani memakai nama Kristen, tetapi cara berpikir duniawi. Maka Allah berkata, “Enyahlah Iblis!” Ini hal yang serius. Bukan sekedar pikiran yang manusiawi, tetapi ada setan di belakangnya. Jika orang berpikir duniawi, tidak mungkin ia bisa berpikir seperti yang Tuhan mau. Sementara apa yang Alkitab ajarkan begitu berkontradiksi dengan yang dunia ajarkan.

Kotbah Kristus yang pertama (Luk. 6:20-24) sangat kontroversial sekali untuk orang Yahudi. Jika kita merenungkan ayat-ayat tersebut, manakah yang benar? Tentunya apa yang Alkitab ajarkan adalah yang benar dan membuat kita untuk berpikir ‘Godly’. Terutama sewaktu kita mengalami kesulitan, aniaya, kita merasa Tuhan tidak adil pada kita. Kenapa orang Kristen harus mengalami penderitaan? Padahal menurut Alkitab itu adalah hal yang wajar. Banyak orang Kristen yang berteriak pada Tuhan saat mengalami kesulitan. Habakuk pun pernah berteriak hal yang sama sejak 2600 th yang lalu. Tetapi Allah menyuruh diam. Diam di hadapan Tuhan tidak berarti pasif. Habakuk merasa Allah tidak adil kepadanya. Tetapi Allah meminta agar Habakuk taat dan melihat cara Allah bekerja. Setelah itu baru Habakuk berubah total (psl 3) dan Tuhan mempersiapkan dia untuk menghadapi suatu kesulitan yang luar biasa berat. Perubahan konsep paradigma yang drastis terjadi dalam diri Habakuk.Tuhan sengaja mengijinkan Habakuk mengalami pergumulan yang begitu berat supaya kita mempunyai contoh dalam Alkitab, bagaimana orang yang salah konsep berpikirnya. Kalau saya ikut Tuhan, seharusnya saya lancar terus. Tetapi Tuhan berkata, jika engkau mengikut Aku di dalam dunia yang jahat, maka kejahatan dan penderitaan yang engkau alami adalah hal yang wajar. Yang perlu dirubah adalah cara berpikirmu, bagaimana engkau berpikir sesuai yang Tuhan pikirkan.

Kita bertanya pada diri kita, siapakah yang bisa merubah paradigma kita? Hanya kita sendiri. Tuhan hanya menolong kita untuk berjuang merubah cara berpikir kita. Justification dikerjakan dari Atas, tetapi Progressive Sanctification dikerja-kan di dalam diri kita. Tuhan mau kita berusaha keras untuk berubah, bukan dari penampilan, tetapi dari dalam, mulai dari perubahan paradigma. Mintalah Tuhan merubah kita, mungkin sakit. Tetapi jika Tuhan sudah mengubahkan, hidup kita akan terasa lebih ringan, karena apa yang kita pikirkan sudah sesuai dengan pikiran Tuhan. Sewaktu kita menggumuli hal ini, kita bisa menjadi berkat bagi orang lain karena cara berpikir kita berbeda dengan cara berpikir duniawi. Inilah signifikansi dari Gerakan Reformed.

Dari pasal 16:24, Yesus berkata, jika ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal diri dan memikul salib. Kalimat ini adalah kalimat yang berat, namun pasti, karena itulah yang terbaik untuk kita. Celakanya banyak orang Kristen yang tidak suka dengan kalimat ini. Tetapi jika paradigma kita sudah diubah oleh Tuhan, kita baru bisa melihat apa yang Tuhan ajarkan itu begitu indah. Marilah kita menggumulkan hal ini.

About these ads

About Jian Ming Zhong

In short, I am a five point calvinist, amillennial, post-trib rapture, paeudobaptistic (not for salvation), classical cessationism , and covenantal. I embrace Reformed Theology and subscribe to the WCF 1647. I do not break fellowship with anyone who holds to the essentials of the faith (i.e., the Trinity, the Deity of Christ, Jesus' Physical Resurrection, Virgin Birth, Salvation by Grace through Faith alone, Monotheism, and the Gospel being the death, burial, and resurrection of Jesus) but does not affirm Calvinist Theology in the non-essentials. I strongly believe that God's grace and mercy are so extensive that within the Christian community there is a wide range of beliefs and as long as the essentials are not violated, then anyone who holds to those essentials but differs in the non-essentials is my brother or sister in Christ. Romans 11:36 "For of Him and through Him and to Him are all things. To whom be Glory forever. Amen!"
This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s